Search This Blog

Monday, January 22, 2018

Ayah Ibu, I Just Wanna Love You!

Papah dari subuh menggigil terus. Kayaknya gula darahnya nge-drop lagi. Matanya nutup terus. Mamah ngajak ngobrol nggak dijawab-jawab.

Walau ini bukan pertama kalinya, hati saya selalu waswas membaca pesan dari Ibu seputar perkembangan kesehatan ayah—yang tak terhitung sudah berapa kali bolak-balik ke rumah sakit. Mengingat saat ini saya tinggal 1175 KM dari rumah di Bandung, pesan-pesan seperti itu membuat hati gamang.

Tapi kamu nggak perlu pulang dulu, semua masih terkontrol, kok. Lagian kemarin, kan, kamu baru dari Bandung. 

Dari hari pertama Ayah terserang strok empat tahun lalu, Ibu selalu meyakinkan kami bahwa keadaan akan baik-baik saja. Walau perangai ayah berubah; lebih sering marah-marah, Ibu selalu sabar, sigap mendampingi ayah. Tak peduli betapa pun kurangnya jam tidur semalam, Ibu rajin tersenyum—setidaknya saat kami saling bertatapan.

Walau pernah suatu malam, saat lagi mudik, saya memergoki Ibu berlinang air mata di ruang tamu. Tangannya memeluk radio yang sedang mengumandangkan lagu-lagu klasik. Saat tahu saya ada di situ, Ibu buru-buru menghapus air matanya seraya kembali mengembangkan senyum. Itu kebiasaan Ibu; tidak mau terlihat sedih.

“Kenapa, Mah? Sakit?” Saya khawatir melihat Ibu yang semakin lama semakin kurus.

“Nggak, kok. Ini mamah lagi nostalgia ke tahun 60-an! Kalau lagi cape dan kesel sama Papah, Mamah inget-inget masa-masa awal pacaran,” ujar Ibu sambil nyengir.

“Biasa, hari ini Papah lagi bawel. Mamah ke pasar sebentar saja, diteleponin terus. Makanya sekarang menghibur diri denger lagu-lagu kenangan!”

Saya lalu duduk di samping Ibu, memijat-mijat kakinya, bersiap-siap mendengarkan kisah nostalgia Ibu dan Ayah.

“Pertama kali ketemu Papah, kapan? Di mana?” Saya jadi penasaran. Seumur-umur kenal Ayah-Ibu, nggak pernah tahu kapan mereka bertemu!

“Waktu SD, Mamah anter teman yang pengin tahu rumah Papah. Terus Papah lagi nongkrong di depan rumahnya, sambil main gitar. Cakep banget, deh, kayak Elvis Presley!” Ibu membuka cerita dengan mata berbinar-binar.

“Mamah lihatin Papah, lamaaaa banget, eh Papah mergokin! Mamah langsung malu tersipu-sipu,” Ibu tertawa renyah. “Sejak itu Mamah kalau pergi jadi sering lewat rumah Papah, deh! Rumah kami, kan, nggak terlalu jauh.”

Mendengar cerita Ibu, saya jadi mikir, dulu, kalau naksir, usaha buat mencuri perhatikan ternyata makan energi.

“Terus, pas Mamah kelas 3 SMP, Papah datang ke rumah. Sejak itu, Papah rajin malam Minggu-an di rumah.” Ciyeee, stalking-nya membuahkan hasil!

“Dulu ada kata 'jadian yuk' gitu nggak, Mah?”

“28 Desember 1963, Papah ngajak jalan Mamah ke Dago atas. Di sebelah bukit Dago, ada belokan yang sekarang jadi pom bensin. Pas jalan di bawah pohon besar, Mamah ketakutan, habis pohonnya serem banget, sih! Terus, Papah meluk, lalu... nyium! Mungkin itu yang zaman sekarang dikatain jadian ya?”
Aih, Ibu! Saya jadi terkekeh malu sendiri. Tapi senang sekali, Ibu cerita ke saya seperti ke sahabat karib. Kisah-kisah kenangan manis pun bergulir dari mulut Ibu.

“Setahun kemudian, kami nge-band bawain lagu Untuk Dikau milik Lilis Suryani di panggung 17-an. Mamah nyanyi, Papah main gitar, Uwak (kakak Papah) main drum. Lalu Nenek (ibunya Papah) ikut menonton di barisan depan. Papah jadi grogi, pengin cepat selesai, main gitarnya mendadak keburu-buru,” Ibu tersenyum, terbuai perasaan silam. ”Ya, udah Mamah berusaha nyanyi cepat menyeimbangi kecepatan Papah, eh tapi jadinya malah balapan. Gak singkron antara suara, gitar, dan drum. Akhirnya lagu pun kacau!”

Ternyata, dulu Nenek Mertua (alm.) tidak menyetujui kalau Ayah memacari Ibu. Nenek saat itu sudah punya calon istri pilihan sendiri buat Ayah.

Tapi siapa yang bisa mengalahkan cinta yang semakin bergelora?

“Ya akhirnya kami direstui. Setelah tujuh tahun pacaran, kami menikah.” Ibu tersenyum sambil kembali berurai air mata saat menutup cerita ini.



Saya berharap, itu air mata bahagia—walaupun itu terdengar konyol; karena kalau benar berbahagia, kenapa menangis segala.
Semua akan baik-baik saja, insya Allah, Mah!

Mengenal Ibu semakin dekat, saya diam-diam berharap bisa mengenal cinta yang bisa membuat berdiri tangguh, bukan jatuh bergemuruh. Cinta yang menggelembungkan rindu, cinta yang tak membuat bola mata mendelik saat mendengar kalimat klise seputar asmara. Sekarang giliran mata saya yang becek, melihat video musik Gloria Jessica ini.



Ada cinta yang memanggil-manggil hati untuk segera pulang ke rumah dan menghabiskan waktu mendengar cerita-cerita Ibu-Ayah, atau sekadar ada di dekat mereka secara jarak.

Kalau kamu lihat video ini tiba-tiba teringat sosok yang menghadirkan kenangan indah, entah itu orangtua, nenek/kakek, saudara, sahabat, ataupun kerabat, saatnya kamu bercerita di Mini Story & Photo Competition: baca ini atau itu.

Siapa tahu kamu dan sang tersayang bisa mengukir kenangan baru di Bali!



No comments:

Post a Comment

Bebas komentar apa saja, asal damai. Terima kasih banyak :*