Search This Blog

Showing posts with label resep. Show all posts
Showing posts with label resep. Show all posts

Friday, December 27, 2013

Camilan Senja



Beberapa senja terakhir di penghujung tahun ini, mata dimanjakan arakan awan menggemaskan. Hiasan angkasa sang penghapus lelah, membuat saya rela merebahkan tubuh di rerumputan.

Andai senja menguasai hari, ia akan tetap istimewa dan dinanti gak ya? Seperti menikmati wajah sang idaman yang hanya muncul sesaat.

Ah, nikmati saja dan mari membuat camilan senja!

   

Biskuit rumput laut + keju iris, hangatkan dalam microwave sekitar 3-4 menit. Hidangkan dengan secangkir teh hitam. Renyah, gurih, lumer di lidah!

Selamat menikmati senja!


Friday, November 15, 2013

Racikan Musim Dingin: BALTION!

Ada dua hal yang ternyata buat saya cuma seru kalau di film doang:
  1. Percintaan
  2. Salju
Untuk yang pertama, mari pura-pura lupa saja. Untuk yang kedua, berhubung besar di negara tropis, jadi suka iri nonton adegan membuat boneka salju atau sekadar petantang petenteng bawa kopi panas pake kupluk berbulu, syal beludru, dan jas korduroi.

Ketika kesempatan bermain salju itu datang, lah kok ternyata mendadak bengek, migren, bonus diare. Kulit juga jadi ekstra kering dan pecah-pecah, berasa ada yang iseng naro lem uhu di sekujur kulit. Yang ada boro-boro petantang petenteng sok tampan, cuma bisa meringkuk deket pemanas sambil lahap mie rebus yang harganya jadi seratus ribuan.

Mount Titlis, Urner Alps of Switzerland

Dan sialnya kalo diam terlalu lama—termasuk tidurdalam suhu dingin, malah berasa gak enak otot. 

TAPI TENANG, itu kan pengalaman pertama kali, karena kini saya punya olesan mujarab yang sampai di Bandung pun tetap saya colak colek!

Terinspirasi dari percampuran biji kopi seperti Celebes Kalossi yang bisa mendongkrak kualitas kopi Afrika atau pun Amerika Tengah, saya mencoba mengawinkan beberapa balsem dan body lotion, sampai akhirnya menemukan formula yang sesuai selera—dan wanginya gak bikin orang asing nyangka kita dukun!
(Pernah pakai minyak kayu putih di pesawat, ditanyain penumpang bule “Apakah anda memakai ramuan penyihir?!”)

Bisa dicoba, siapa tau sama, atau silahkeun atur merek & kadarnya sesuai keperluan dan ketahanan.

Mari membuat BALTION!


Untuk balsem, saya pilih balsem otot Geliga; karena panas-dinginnya ampuh meredakan sakit otot. Kalau belum tega sama panasnya, bisa Vicks Vaporub.
Untuk body lotion, saya cocok sama aroma Vaseline Aloe Fresh (buat habis mandi jalan pagi-pagi), Vaseline Cocoa Glow (buat nongkrong sore di musim semi), dan Body Shop White Musk (buat makan malem yang berakhir kencan asoy).

Cara nyampurnya simpel, bisa dicoba dari seujung jari balsem geliga colak colek mesra dengan 1 pump body lotion.


Atau buat persediaan, campur 1/4 balsem + 3/4 lotion.



Buat cek cek tingkat kepanasan, saya biasanya coba colek di betis dan perut dulu. Kalau sudah nyaman, baru ke dada, leher, dan jadi over acting kayak gini:


Semoga cocok & membantu!

Friday, October 11, 2013

Oleh-oleh dari Timur Tengah: resep Hummus versi Anti Drakula!

Berhubung gak ada bioskop, karaoke, apalagi diskotik di Arab Saudi, hiburan pulang kerja tengah malem adalah makan. Satu-satunya tempat makan yang buka sampai pukul 2 pagi deket flat (tahun 2009) adalah Shrinp di Prince Turkey Road – Corniche, Alkhobar.





Untungnya, si satu-satunya restoran ini punya pilihan menu beragam yang tampak gak abis-abis, dari berbagai appetizer dan shawarma berbagai isi.

Kalo saya icip-icip ya, sebenarnya appetizer dan menu utama mereka saling melengkapi, contohnya hummus (mirip saos kacang buat bumbu sate dengan tekstur lebih padat dan rasa lebih 'dingin') yang cucok campur atau cocol ke berbagai shawarma dan salad.
Gak setuju? Tunggu tunggu! Kalau lagi cari bahan perdebatan, gimana kalo diskusi tentang hummus ini masuk kategori appetizer atau dessert?

Bingung? Jangan dulu. Soalnya lebih bingung mikirin hummus ini asli dari mana!
Kalo nanya ke pegawai restoran lebanese cuisine, dijawab “Hummus itu asli Lebanon.”
Nanya ke rekan kerja asal Damascus, “Asli Syria, kali!”
Nanya ke penjual karpet asal Istanbul, “Ya, jelas dari Turkey, lah!”
Nanya ke temen kampung halaman, malah disangka nyari pupuk tanah.
Ya udah, akhirnya nanya ke Google, dan nemu artikel ini: “Is Hummus Greek or Middle Eastern?

The Greeks like to claim it as their own, but so do the Arabs. Even the Israeli's claim it..”

Wow, ternyata Hummus ini kayak Batik ya; banyak yang memperebutkan ke-asal usul-annya.
Atau memang jangan-jangan sang peracik Hummus ini memang geng pertemanan dari berbagai negara?
Bisa jadi, mengingat para leluhur Yunani dan Mesir sudah menjalin kerja sama perdagangan berabad-abad.

Kini ada berbagai macam varian menu Hummus di berbagai restoran dunia: dari hummus bubuk cabe, hummus selai kacang, sampai hummus mentega almond.

Kalau hummus versi saya sih gak jauh beda sama resep asli, cuma ekstra bawang putih. Ekstranya ekstra banget. Ngerti kan sekarang kenapa judul postingan ini begitu  \(T∇T)/ 

Ketimbang debat dan bingung, yuk kumpulin bahan-bahannya:


Kacang arab / chick peas (400 gr / 265 gr setelah ditiriskan)
4 sdm saos tahini (pasta wijen)
20 siung bawang putih—kupas & iris.
Peresan 1 buah lemon.
2 sdm extra virgin olive oil.
Garam-secukupnya.

Cara bikinnya lebih gampang daripada pdkt-an!
Campurkan chick peas yang telah ditiriskan dengan semua bahan di food processor / blender. 
Kalau susah nyampur (terutama yang pake blender), tambahkan saja air tirisan chick peas tadi biar gak seret.

Setelah teraduk rata, sajikan di atas piring, percikkan olive oil bila perlu, dan taburi dengan potongan tomat, peterseli, atau buah zaitun.
Siap disantap!

Terlalu lembek? Jangan waswas, simpen di kulkas!

Oh ya, kalo saya paling suka hummus yang udah dicuekin semaleman di lemari es. Campur dengan potongan roti gandum, suir daging ayam, telur goreng, dan peterseli. Lezat banget buat sarapan!

Buat diolesin ke telur goreng juga enak!


Selamat cocol cocol gembira!

Sunday, December 23, 2012

Kejutan makan malam untuk Mamah.

Ada rasa bersalah ketika begitu syahdu merayakan hari ibu di twitter, tapi pas papasan dengan mamah di dapur, saya cuma melengos planga plongo.

Tersadar ada yang tidak benar, maka saat sore menjelang malam, saya memutuskan ngibrit ke Setia Budi supermarket (Bandung) untuk membeli bahan-bahan berikut ini.


- olive oil 500 ml = 46500 (kepake 1/2 botol)
- whipping cream 500 ml = 47000
- bawang putih 500gr = 9750 (isi 12 siung, kepake 2 siung)
- keju parmesan (lupa ukurannya, tingginya 1/2 botol olive oil) = 52000
- pasta 1 kg = 21950
- daun Kemangi 1 iket = 3000
- kacang pinus 50gr = 29500

Oh ya, itu ada harga tercantum bukan mau pamer kekayaan, kok. Tapi buat siap siaga aja karena biasanya kalo nulis bahan suka pada nanya harga. Yah, kalo nemuin yang lebih murah, jangan marah.

Diitung-itung total belanja nyampe 200 ribu, tapi jangan sedih; kita bisa membahagiakan 7 orang gembul yang masing-masing dapet 2 piring atau 14 orang dalam keadaan lapar normal atau 28 orang yang lagi diet atau ... *gak abis abis*

"Hey tunggu!" Sebuah suara cempreng menghantam jiwa. "Kita mau dibikin apa?" Tanya si daun kemangi memelototi saya penuh dendam. Hih, daun kok belagu amat.
"Saos Alfredo," jawab saya singkat.
"Hah, pesto kali?" Ujar si botol olive oil dengan nada suara mengejek.
"Iya, pesto Alfredo," hardik saya sambil memutar-mutar bola mata.
"Loh, Alfredo itu pasta dingin, bukan saos!" Bentak bawang putih, tak ingin kalah tampil.
"Lah, itu di internet ada resep saos alfredo?" Tangkisku begitu sengit,
"Yah, itu maksudnya saos pesto buat pasta alfredo," kali ini kacang pinus menjegal tangkisanku. "Sama saja kayak saos tomat versus saos barbekyu," sambungnya dengan nada intimidatif.
"Loh, tapi bukannya alfredo itu versi creamy-nya pesto?" Saya mulai menggulung lengan baju dengan tangan bergemetaran.
"Sudah sudah, ini hanya perbedaan istilah saja," Tiba-tiba si keju parmesan melerai kami dengan suara halus lembut. "Di Italia sendiri gak ada istilah 'saos Alfredo', ini sih resep buatan Amerika."
"Hah? Tapi perasaan pas saya ke Roma pernah nemu saos ini di salah satu cafe?" Tanya saya dengan suara tenang tapi tentu tetap angkuh, dong.
"Itu pasti restoran khusus turis! Mungkin juga yang punyanya keturunan Amerika!" timpal si bawang putih kembali menggusarkan suasana.

AH SUDAH SUDAH! Mau masak aja kok migren gini!

Tanpa basa basi busuk langsung saja saya masukkan 1 iket daun kemangi tanpa batang +  kacang pinus + 2 siung bawang putih ke blender + 1/2 botol olive oil sampai melebur penuh cinta.. diikuti 1/2 batang keju parmesan, dan 2 kotak whipping cream.
Ooops, kalo ngintip resep orang (Amerika) sih, cream ini harusnya dipake pas masak pasta. Tapi saya khilaf.
Jadi ya maaf, kalo pesto yang biasanya berwarna kayak sambel ijo jadi tampak bagai jus alpukat.
 
 

Lalu guyur saos creamy yang sungguh lezat aduhai ini ke pasta dan perangkat penggembira seperti baso, daging asap, sosis, atau apa pun yang kausuka. Jangan lupa taburi dengan serutan keju parmesan!

 

Saya pribadi sih lebih suka saosnya membanjiri piring dan mengguyur dada kalo tidak ada yang jijik. Tapi buat yang gampang eneg, masaknya ampe agak kering-lembab dikit lah ya. (?)

Untuk kejutan tambahan setelah makan, belah alpukat mentega dan serut gula merah di atasnya.
(Kalo ini sih gak perlu diperdebatkan apakah resep Italia atau Amerika; udah dapet turun temurun dari uyut di Garut) 



SELAMAT MAKAN, MAMAH!
Suka gak suka, semoga tetep sayang ya!

XOXO
vabyo! 
budi!

Eh, dan ini bonus video buat kamu, semoga bermanfaat.


Cerita lebih lanjut tentang Misteri Saos Alfredo, bisa baca di sini.