Search This Blog

Showing posts with label london. Show all posts
Showing posts with label london. Show all posts

Sunday, April 20, 2014

Pejabat Inggris VS Pejabat Indonesia

Seharian ini saya sedikit tergelitik dengan hilir mudiknya potretan postingan di media sosial tentang kehadiran seseorang di sebuah kereta. Bukan, bukan lagi Dinda vs Ibu Hamil itu, tapi yang entah kenapa menjadi tentang Pejabat Inggris VS Pejabat Indonesia.

Begini rupa bunyinya:


Apa yang sedikit menggelitik saya itu?
Pertama, ini bukan 'trem' tapi Tube / London Underground / kereta bawah tanah.
Transportasi publik ini jadi salah satu andalan setiap umat penghuni London karena relatif nyaman (selama bukan jam sibuk, mendadak ditutup atau ada demo) dan jauh lebih cepat dibanding laju kendaraan di atas tanah. 

Kedua, Om David naek Tube ini juga sempet jadi berita di koran-koran lokal, jadi ya masih ada yang merasa aneh juga. Kalau orang-orang di sekitarnya tampak tidak peduli, bisa jadi karena memang gak 'terlalu nyimak' atau sok sok cuek tapi ngomongin juga

Buktinya pas tau itu doi, pada foto bareng.

Selain pejabat, para selebritas juga gak malu-malu pake Tube, termasuk artis dari USA. Boleh tanya Rihanna yang entah kepepet atau hobi banget kelayapan underground.


Karena ternyata gak cuma tertangkap basah sesekali saja...



Bahkan lebih dari dua kali!



Gak cuma David Cameron, Rihanna, pejabat atau artis lainnya, saya juga hobi pake Tube, loh.

SIAP DIGEBUK
JADI INTINYA APA selain cuma mau pamer saya pernah naik Tube ini?

Iya, saya setuju kalau ada beberapa pejabat Indonesia yang bertingkah laku bagai firaun, walau saya pribadi dan beberapa orang yang saya kenal belum pernah mendewakan mereka.

Iya, bisa jadi mental pejabat kita dan pejabat Inggris berbeda.

Tapi sayangnya transportasi umum Jakarta juga berbeda; belum senyaman London. Jadi kalau tetap harus pakai materi foto postingan tadi, lebih enak membicarakan Transportasi London VS Transportasi Jakarta ketimbang membandingkan Pejabat Inggris VS Pejabat Indonesia.

Kecuali kalau David Cameron atau Rihanna tertangkap basah pakai busway Jakarta, boleh lah pakai materi kata postingan di atas. 
Atau kalau mau tetap keukeuh, ya sekalian bandingkan pula mental artis internasional kita dan siap-siap dibantai penggemar fanatik Agnez Mo. 
Dan jangan tanggung-tanggung, coba tanya mental diri sendiri, kalau sekiranya jadi orang penting, janji bakal gak jumawa ya? 

Segitu saja, kok.


Eh Eh belum puas?
Baiklah, siap-siap ya!

London Tube presents...

JAY Z!


BABY SPICE!


THE QUEEN!


HARRY STYLES!


....................



SEKIAN!

Foto-foto artis di atas diambil dari sini.

Sunday, April 06, 2014

Berkelana ke Skotlandia (Part 1)

Salah sangka itu sepupuan sama si sok tahu.

Sama seperti saat saya mengira visa UK itu cuma untuk bebas melanglang buana di Inggris raya. Ih, ternyata sok tahu, karena selain ke Inggris, kita bisa singgah ke Wales, Irlandia Utara, dan Skotlandia.
Tapi ada kemungkinan untuk negara terakhir ini cuma berlaku sampai bulan September 2014, karena Skotlandia bisa jadi melepaskan diri dari United Kingdom. Kalau jadi berpisah, berarti bila berkunjung ke sana mesti pakai visa Skotlandia, dong?
Untuk lebih jelasnya, boleh baca-baca tentang Scotland's Referendum 2014. 

Referendum ini membuat saya merasa harus ke Skotlandia sesegera mungkin, mumpung masih bisa mampir!

Jadilah benak saya dipenuhi berbagai pertanyaan standar khas sebelum bepergian: 
Ke Skotlandianya mau ke kota mana? Naek apa? Dari mana? Butuh duit berapa?

Untuk kunjungan pertama ke sebuah negara, saya hobi menjelajahi ibu kotanya terlebih dulu; ibarat masuk rumah, berbincang-bincang mesra dulu dengan sang ibunda sebelum bertemu anggota keluarga lainnya—yang berarti pilihan kota pertama saya untuk Skotlandia adalah Edinburgh. (Yang ternyata dibacanya “E-din-bra”)

Berhubung waktu berlimpah dan saya menyukai pemandangan darat, saya memilih naik kereta api, berangkat dari stasiun King's Cross – London.  Waktu yang ditempuh sekitar 4 jam. Hhm, kalau mau bolak-balik dalam sehari, cape gak ya?
Ah, berhubung sudah terbiasa nyetir pp Bandung Jakarta plus macet dalam kota sampai total belasan jam per hari, cuma duduk-duduk ganteng doang 4 jam mah cingcai lah!

Kini tibalah saat yang menegangkan! Harga tiketnya berapa?

Kalau pesan online, bisa dapet tiket murah pp mulai £48. Dengan catatan: tentu saja selama kursi tersedia. 



Tapi sayangnya saya lagi kurang beruntung, karena tiket kereta pp yang saya dapatkan senilai £ 148. Ugh! 
Akhirnya saya memutuskan membeli tiket langsung di Evan Evans Tours (17-19 Cockspur Street, Trafalgar Square) seharga £159. LOH KOK LEBIH MAHAL?!

Tenang, harga segitu itu—selain dapet tiket PP London-Edinburgh, juga dapet tiket bus keliling kota seharian seharga £13 dan tiket masuk Edinburgh Castle seharga £16. Masih untung lah!

Tiket udah dapet, camilan udah siap, mari berangkat ke Edinburgh memakai kereta East Cost!

Please pardon my 'pura-pura gak tahu ada kamera' face!

Jalur kereta yang berfasilitas wifi ini melewati  Stevenage, Peterborough, Doncaster, York, Darlington, Newcastle, Berwick, dan Dunbar. Sepanjang perjalanan saya tidak bisa mengalihkan pandangan dari jendela, menikmati pemandangan padang rerumputan, perumahan pedesaan, perbukitan, pantai, gerombolan sapi, dan anak-anak kecil yang berlarian mengejar orang tuanya yang tampak riang gembira.

“Hello, kamu sendirian?” Sapa seorang ibu yang duduk di seberang, saat saya tak sengaja bertatap mata dengannya. Di sebelahnya duduk seorang pemuda—yang kalau boleh menuduh dari bentuk wajahnya adalah anak Ibu itu.
“Iya,” jawabku singkat, agak waswas. Jangan sampai nawarin MLM.
“Oh, tenang. Kamu tidak sendirian. Karena mulai sekarang, ada kami yang akan menemanimu!” Ujar Ibu itu sambil menawari saya berbagai makanan dan minuman asyik.


Wow! Tuh kan, salah sangka mulu, jadi malu! Tapi ternyata 'tuduhan' saya benar, mereka ibu dan anak berasal dari California, sedang asyik liburan berdua keliling UK.

Perjalanan pun semakin menyenangkan dan mengenyangkan, karena sang Ibu tak henti-hentinya mengeluarkan bekal yang wajib saya cicipi. Bahagianya!

Sampai tak terasa kereta pun melambatkan lajunya, karena ternyata kami telah tiba di stasiun Waverley, Edinburgh!

At Waverley station. Is that the famous light at the end of the tunnel?

Begitu keluar stasiun, langkah tercegat pemandangan The Scott Monument yang tinggi menjulang. Sepintas monumen ini menyerupai candi, yang membuat pikiran saya berkelana, andai Indonesia bebas gempa, mungkin akan banyak peninggalan candi indah yang masih berdiri kokoh sampai di tengah kota besar.
The Scott Monument,  a memorial to an author Sir Walter Scott
Suasana ala Skotlandia semakin terasa, seiring alunan khas seruling bagpipe yang ditiup seorang lelaki yang memakai kilt; pakaian tradisional Skotlandia.


Tak berapa lama, bus untuk keliling kota pun berhenti tepat di depan monumen. Saya pun menyiapkan tiket sakti yang memungkinkan saya bisa naik dan turun bus sesuka hati sepanjang hari!

Yuk, siap keliling Edinburgh?




Duh, kota Edinburgh ini seperti sebuah museum raksasa yang menawarkan karya seni bersejarah yang menawan hati saya.

Princes Street, salah satu jalan utama di tengah kota
Statue of David Livingstone. Saya selalu curiga dengan patung yang sedang menunjuk.
Jadi ada apa di pohon itu, Om David?


The statue of David Hume
A black dog is a campaign to promote understanding of depression and anxiety in the workplace. 
"Black dog" has been a metaphor for depression since Roman times. 

Yang paling menyenangkan, banyak pemandu berbaik budi yang menawarkan Free Walking Tour dan memotret kita dengan senang hati.
Ah, jalan-jalan sendirian ke Edinburgh ternyata gak perlu tongsis!



Hei, jalan-jalan belum berakhir!
Di postingan berikutnya, saya mau mengajakmu menelusuri sebuah kastil legendaris yang menjadi situs warisan dunia: Edinburgh Castle!



Sampai jumpa!

PS:
Kalau berencana ke Edinburgh naik pesawat, bisa coba ke sini atau ke sana. Tiket promonya juga seru-seru!
Kalau lebih senang naik bus (sekitar 10 jam dari London), bisa coba naik ini atau itu.
Nanti bagi-bagi cerita ya!

Thursday, March 27, 2014

Keliling London mending naik bus atau kereta bawah tanah?

Itu pertanyaan saya saat masih buta London. Rata-rata teman yang sudah pernah ke sana menjawab;
“Mesti coba dua-duanya, dong!” Lalu pertanyaan berikutnya, “Tiketnya semahal apa ya?”

Maklum, nilai tukar poundsterling yang tinggi bikin hati ketar-ketir, jangan-jangan duit habis di ongkos doang. Kan ogah juga kalau selama di London makan mi instan mulu. Atau mungkin sanggup lah ya sepiring-tiga piring fish & chips, tapi jangan sampai juga seporsi untuk pagi siang malam.

Ternyata jawaban asyiknya: “Semahal salah pilih cara bayarnya!”

Setelah ditilik-tilik, harga tiket ini pengaruh banget dengan pilihan kita; akan keliling di zona berapa saja? Apakah akan keliling London sehari-semalaman selama seminggu penuh atau cuma 3 hari saja? 

Sebelum hitung-hitungan, mari beli salah satu travel kit wajib selama di London: kartu sakti Oyster!
Kenapa sakti? Karena Oyster Card ini kartu prabayar tap-and-go yang bisa dipakai di berbagai alat transportasi di London: kereta bawah & atas tanah (London Underground / Tube Station & London Overground), si bus merah double decker yang legendaris itu, juga DLR (Docklands Light Railway). Kartu ini juga bisa digunakan untuk diskon kereta ke luar kota. Plus bisa dipake di beberapa cafe tertentu; kembalian koin-koin bisa ditukar kredit kartu.

Dari semua alasan sakti itu, yang paling menyenangkan karena kartu Oyster memberikan pilihan diskon lebih dari 50% dibanding membeli tiket transportasi secara tunai.

Di mana membeli kartu Oyster?
Ada di semua loket Tube Station! Begitu sampai di Heathrow Airport misalnya, ikuti petunjuk keberadaan London Underground (ada di semua terminal), cari loket atau hubungi petugas terdekat.
Harga 1 kartu Oyster: £5 sebagai deposit. Jadi kalau kelak kartunya dikembalikan, uangnya ya balik lagi. Tapi lucu juga kan koleksi kartu Oyster limited edition?

Nah, sekarang hitung-hitungannya gimana ya?
Ini contoh perhitungan dari situs Transport For London:

How much credit do I need?
Sample Tube fares:

Zones 1 to 2
Oyster £2.80 peak, £2.20 off-peak

Zones 1 to 6
Oyster £5.00 peak, £3.00 off-peak

Single bus journey
£1.45


Pusing? Tenang, cukup inget ini aja kalau gitu:

Unlimited journeys in one day in zones 1 and 2: £7.00 

Jadi kalau mau jalan-jalan kenyang - bolak balik - ke sana kemari di Zona 1 & 2: sisihkan £7 perhari.

Bilang saja sama petugas loketnya: “Please top up my oyster card for 3 days unlimited journeys,” sambil senyum manja.

Kalau udah gak canggung, bisa langsung top up juga di mesin tiket otomatis, bahkan online.

Buat yang pengin unlimited journeys untuk seminggu di zona 1-2, bakal lebih seru lagi, karena harganya lebih irit dari £7 X 7 = £ 31.40.

Buat sebulan juga gak kalah hemat = £120.60

Kalau ternyata mau menggila di tujuh Zona London dalam seminggu juga silahkeun, siapkan £55.60. Pasti kenyangnya kebangetan.

Jangan lupa sesekali cek sisa kredit di mesin tiket otomatis. Kalau kartu tidak bisa digunakan, bisa jadi sempet gak sadar keasyikan melipir ke luar zona, jadinya ngutang. Kalau kayak gini, cek aja ada berapa negative balance-nya di loket, dan siapkan koin koin penny-nya.

Oh ya, ini sih sekedar gambaran saja kalau datang ke London via Heathrow Airport.
Bandara ini kan ada di zona 6, sedangkan tempat bobo saya ada di zona 2, lalu niat jalan-jalan pake undergroundnya akan ada di seputar zona 1 & 2. 
Jadi dari Heathrow saya bayar tiket sekali jalan / single fare: antara £3 - £5 tergantung jam sibuk atau sepi sepi asoy. Pas nyampe di zona 2, baru deh top up sesuai kebutuhan—mau 3 hari atau seminggu misalnya.

Sekarang, saatnya memberikan kabar gembira! Kalau naik si double decker, oyster card unlimited journeys ini bisa dipakai lintas zona mana pun!

Kalau gak ngerasa pinter baca peta kota, gimana? Jangan waswas, download aja citymapper  di ponsel pintarmu. Panduannya ekstra lengkap, dari nomor rute bus / stasiun bus yang bisa diambil, sampai waktu kedatangan yang cukup akurat.

Sekarang, gimana cara pake kartunya ya?
Tenang, saya sudah bikin video panduannya!


Intinya sih, tempelin aja bagian belakang Oyster ke si bulet kuning di mesin pembaca kedatangan (Tap in!). 
Bisa dilihat di detik 0.10 video di atas, palangnya sempet gak mau kebuka, itu karena kredit saya habis! Dengan penuh rasa malu, maafkan ya!

Setelah tap in, pilih deh platform keretanya, mau turun di mana?
Di dalam kereta, bakal ada pengumuman kok stasiun yang akan dilewati berikutnya, dan yang akan menjadi tujuan terakhir.

Kalau ternyata salah kereta, keluar saja di stasiun berikutnya, langsung naik kereta yang berbalik arah tanpa harus “tap in” lagi. Tapi kalau waktumu melimpah, sekalian saja menyesatkan diri, yuk!


Setelah sampai di stasiun tujuan, jangan lupa menempelkan kartu kembali ke mesin pembaca (Tap Out) saat hendak ke luar (Way Out), karena kalau kelupaan, jumlah kredit bakal berkurang dengan biaya perjalanan terjauh.



Sekarang, gimana kalau naik si double decker?
Prinsipnya hampir sama, cuma kalo di bus cuma perlu “tap in”, gak perlu “tap out”. Mesin pembacanya ada di kaca dekat sopir, masuk dari pintu paling depan.

Nah, kalo di double decker edisi terbaru, mesin pembacanya ada di 3 pintu masuk. Yang di pintu tengah & belakang malah gak perlu ditempel lagi, tinggal lambai-lambai manja aja depan mesin pembaca.

Ini penampakan double decker yang futuristik itu. Yuk siap-siap naik!



Gimana, sudah siap keliling London dong ya?

Untuk postingan berikutnya, saya mau bagi-bagi tempat tongkrongan seru! Salah satunya toko ini:


Cherioo!



Eits, ada bonus! 
Dapet link kuis ini dari Claudia Lengkey
Do You Know How To Take The Underground Like A Londoner?
Dan hasil ujian saya sungguh membanggakan, haha!

Lumayan, jadi merasa terakreditasi menulis postingan ini! Nanti kamu coba isi juga ya!

Cheers,


Vabyo

Saturday, March 22, 2014

Pasca Senja di London

I see London's always beautiful, even on cloudy days.
But then I find it prettiest at twilight.
Well, probably.


Location: Victoria Embankment
Tube Station: Westminster

Wednesday, November 13, 2013

Kejutan Di Trafalgar Square

April 2013
Dartmouth Rd, London


Ada yang meniup-niup kelopak mataku dengan buasnya, sampai-sampai aku terbangun. 
Kirain setan, ternyata aku lupa merapatkan jendela kamar sebelum tidur, bahkan laptop pun masih menyala.
Alih-alih menutup, kubiarkan jendela terbuka lebar, menyambut semilir angin sejuk di penghujung musim semi.
Setelah menggeliat kiri-kanan, kuambil laptop, menuju ke lantai bawah, ke ruang makan demi sarapan.
Ternyata di sana sudah ada Mas Khanif, pengurus Wisma Siswa Merdeka—tempatku menginap saat ini.
Pagi Mas Valiant, oh ya, jadi mau extend gak? Saya sudah cek ke KBRI, bisa kok.” Mas Khanif menghadang pagiku dengan kabar gembira. Aku memang berniat untuk tinggal seminggu—dan mungkin sebulan—bahkan terpikir untuk bekerja di London—lebih lama, yang hore ternyata bisa!
Wah, jadi! Terima kasih banyak!” Aku semringah sekali, sampai-sampai selai cokelat yang kuoleskan pada roti menjadi supertebal. Bahagia dan tamak ternyata sepupuan. Aku kemudian mengirimkan draft e-mail untuk perubahan tanggal tiket pesawat.
Sebenarnya aku agak waswas dengan keputusanku ini, mengingat ayah yang sudah 8 bulan ini sakit akibat terserang stroke. Tapi ia sudah jauh membaik dan lagian di minggu-minggu pertama ia terjatuh aku setia menemaninya. Iya, aku sibuk menyiapkan pembelaan diri.
Hari ini mau jalan-jalan ke mana?” Tanya Mas Khanif sambil wara-wiri di dapur sebelah.
Ke mana-mana, Mas. Saya mau pasrah ke mana pun bis membawa saya.'
Iya, berhubung semua wilayah wajib kunjung kota telah kujelajah, akan kubebaskan saja langkah untuk hari ini; entah ke tempat yang sama, atau pelosok penuh rahasia.
Sekejap kemudian, dua tangkup roti, sebotol air mineral, dua buku, dan notebook kini memenuhi isi ransel. Aku menaiki bus merah yang pertama kali muncul di halte Walm Lane—Willesden Green, kemudian duduk di lantai dua, dan mulai mengunyah roti sambil menikmati pemandangan kota.
**
Hasil penjelajahan hari ini, aku menemukan pasar kaget di Church St, toko vintage di Hanbury St, toko buku antik serba £1 di Greenwich South St, dan berbagai bar seru di... hampir setiap jalan yang kulewati.

Sinar angkasa mulai meredup, aku kini menunggu bus rute favoritku di seberang Elizabeth Tower sambil menyantap Carrot Cake murah meriah dari mini market Tesco. Mmh, aku tahu akan menikmati penghujung soreku di mana!


Bus berhenti di antara keramaian manusia berbagai warna, karena ini memang wilayah alun-alun kota yang bergelar resmi Trafalgar Square sejak tahun 1830.
Hasil mengintip dari situs pemerintah, ternyata wilayah ini sudah dibangun sejak abad 14, sampai kemudian tahun 1812 seorang arsitek bernama John Nash ingin membangun jalan dan ruang terbuka untuk warga menggelar seni budaya atau sekadar bertegur sapa.



Pembangunan pun gak mentok sampai penamaan Trafalgar Square berkumandang. Sepanjang abad 19, banyak perubahan dan penambahan yang signifikan. Dimulai dari pembangunan National Gallery tahun 1832 yang didesain oleh William Wilkins, disempurnakan oleh Sir Charles Barry di tahun 1838 dengan membangun patung memorial The Nelson dan dua air mancur yang menyegarkan mata dan membuat diri sekonyong-konyong ingin bugil nyebur itu.
Lalu seperti lagu riang di musim panas, monumen dan patung pun bermunculan. Tahun 1843 berdiri tegak monumen Nelson's Column didesain William Railton, 1845 ada penyempurnaan air mancur, 1867 'mendadak' beberapa patung singa perunggu yang didesain Sir Edwin Landseer pun membentengi Nelson's Column.
Manusia hari gini pun tak kalah berkontribusi; merawat area dan membangun berbagai fasilitas umum seperti cafe, toilet umum, dan lift khusus kaum difabel.
Walau tampak ramai, selalu ada bangku kosong yang bisa kukuasai sambil tiduran atau ketak-ketik ganteng.
Sayangnya perut mulai keroncongan dan aku mendambakan kebab hangat lezat dan saos humus sedap di dekat pintu keluar tube station West Hampstead. Duh, udah jauh-jauh melipir ke London, kok nyari makanannya tetep ala timur tengah juga ya?
Sambil menunggu bus datang di Northumberland Avenue; depan Trafalgar Square, aku mengamati sekeliling sambil diam-diam iri dengan kebersihan dan keteraturan yang mereka jaga. 

Sampai salah satu tiang lampu jalan menarik perhatian dan langkah kakiku.
Bukan tiangnya yang mencuri hatiku, tapi rangkaian bunga yang tertempel padanya. Dan ternyata bukan rangkaian bunga yang menghipnotis langkahku, tapi kata pertama yang tercetak di kartu ucapan yang tertera padanya.



Ayah, ini hari yang berat, karena aku hanya bisa meratapi kehilangan.
Ini hari saat aku kehilanganmu.
Aku tahu, harusnya aku tidak tenggelam dalam kesedihan dan semestinya bersyukur atas betapa beruntungnya aku memilikimu sebagai ayahku.
 
Aku benar-benar merindukan keberadaan ayah, aku rindu mendengar segala nasihat baik, pertolonganmu, dan melihat senyummu yang menawan. 
Maaf Ayah, aku tahu ayah tidak akan tenang melihatku sesedih ini.
Aku akan tersenyum untukmu, Ayah.
 
Aku tidak pernah akan melupakanmu!

Kaki mendadak lemas, teriringi mata panas.
Ternyata di antara bangunan megah, patung singa kokoh, dan air mancur indah, yang membuatku lunglai adalah cukup secarik kartu terhiasi rindu.

Sebuah bus berhenti di depan halte, para penumpang masuk secara teratur.
Sesaat, aku tak bergeming. Lalu kudatangi bangku sepi, siap mengirimkan surat penggagalan pengunduran tiket dan sebait pesan sayang untuk rumah Bandung.

Thursday, August 29, 2013

Tersesat di Kota Bath (Inggris)



Peta kuno kota Bath (Wikipedia)

Indah itu sedap dipandang, nyaman digerayang.

Bagi saya, ketentuan ini berlaku untuk manusia dan kota.
Tapi “sedap dipandang” tiap orang tentu berbeda-beda. Tidak semua suka hidung bangir dan mata belo. Tidak semua juga kerasan memandangi barisan gedung pencakar langit di antara liak liuk jalan layang.

Kalo keindahan kota menurutmu adalah trotoar bebatuan, sungai yang mengalir tenang, kastil menawan, jembatan tua dan bangunan romawi penuh sejarah, pasti bakal betah berjalan-jalan di kota Bath, Inggris.

Kota ini terletak di sebelah barat daya Inggris, sekitar 156 km dari London, kurang lebih seperti perjalanan Bandung – Jakarta ke tengah kota sedikit.
Setelah membeli tiket seharga £ 21, saya naik kereta dari stasiun Paddington-London, siap menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam.

Banyak pemandangan menarik di perjalanan, yang sayangnya tak sempat saya abadikan karena laju kereta yang cepat.
Baru turn on, eh udah move on.
Tapi lumayan lah, bisa intip dikit.
Maaf videonya vertikal ya =)



Kenapa kota ini dinamakan 'mandi'?
Mengutip dari Unesco yang menobatkan kota ini sebagai situs warisan dunia, Bath didirikan bangsa Romawi sebagai thermal spa, tempat berendam karena mempunyai mata air panas alami—satu-satunya di Britania Raya.
Ternyata gempuran air tidak hanya datang dari bumi, karena begitu turun di stasiun Bath Spa, saya pun disambut air langit alias hujan rintik. Bathing in Bath!

Sambil menelusuri trotoar jalan, pandangan menyapu langit kota yang menyerupai kue lapis tiga warna; abu, biru, dan putih.


Seiring langkah di persimpangan jalan, rintik berakhir.
Sebuah papan penunjuk kota menghadang, tapi kali ini saya abaikan.
Saya ingin menyesatkan diri, menanti kejutan. Toh, saya sendirian dan tidak ada deadline.

Berminat?
Banyak cafe menggoda sepanjang trotoar
Patung burung hantu di atap rumah; pelindung keburukan.
Rumah tertua yang dibangun tahun 1482, menyajikan roti tersohor: the Original 'Sally Lunn' Bun.
Jembatan kota di atas sungai Avon

Setelah asyik mengitari kastil-kastil misterius dan menggelinjangi taman kota di pinggir sungai Avon, terdengar sayup-sayup petikan gitar yang mengalun syahdu, seperti dedaunan musim semi yang siap merekah mewah. Makin lama, makin terdengar jelas. Rupanya langkah kaki tidak salah.

Beberapa orang duduk di bangku yang mengelilingi seorang seniman jalanan. Ia meliak liuk bagai terhipnotis nada alunan gitar yang ia mainkan. Pandangan saya mendadak terampas bangunan gereja di belakang sang penghibur: Bath Abbey.

Namun, orang-orang tampak berlalu lalang ke bangunan di samping gereja yang dibangun pada abad 16 ini. Sebuah celah di dinding bebatuan terbentuk menyerupai jendela mengizinkan saya mengintip ke dalam.
Oh, tampaklah sebuah kolam kehijauan, dikelilingi pilar batu megah. Di atasnya berjajar patung kaisar Romawi nan gagah.

Oh, ini dia lokasi pemandian Romawi yang termasyur itu!
Tanpa tunggu waktu, kaki segera melaju di pijakan batu menuju Roman Baths melalui pintu masuk museum.

Saya mulai menyalakan fitur video rekam di ponsel, mulai mengambil gambar dari bangunan di bawah.
Dan... eh. tampak seorang lelaki berlilitkan kain cokelat ala kaisar Romawi berjalan di sekitar pilar (menit 0.15)



Sang kaisar jadi-jadian di tengah pilar. Eh itu batu kok bermata satu ya =D


Mungkin wujud kaisar itu salah satu atraksi dari museum untuk menarik perhatian pengunjung. Saya pun sok cuek, merekam pemandangan lain, sambil kembali curi curi pandang mengamati pilar di bawah.
Hei, sang kaisar sudah menghilang!

Sayangnya ketika turun ke bawah dan mengitari bangunan, wujud sang kaisar tak juga saya temukan. 
Menelusuri lorong kuno
Kolam uang! Saya mau berendam di sini saja!
“Orang yang berdandan ala kaisar ini di mana ya? Kalo boleh, mau foto bareng,” akhirnya saya memutuskan bertanya pada seorang staff museum.
“Tidak ada yang seperti itu,” jawabnya singkat.
“Loh, bukan dari museum?” Saya pun memamerkan video tadi.
Ia menggeleng sambil tersenyum tipis.
Saya mendadak kebelet pipis.

Jangan-jangan patung ini hidup!
Jadi siapa si kaisar Romawi itu, ya? Pengunjung iseng? Calon pengantin lagi foto pre-wed? Atau—kalau mau melilih genre horor—jiwa masa lampau yang bergentayangan?
Atau jangan-jangan justru staff museum itu yang merupakan arwah penasaran?!


Ah, terka saja dengan keinginan masing-masing, selamat berimajinasi!

[[ BERSAMBUNG ]]

Kita menyesatkan diri ke arah mana lagi, nih?