Search This Blog

Showing posts with label video. Show all posts
Showing posts with label video. Show all posts

Thursday, April 10, 2014

Berkelana ke Skotlandia (Part 2): Menggentayangi Kastil Edinburgh!

Kapan terakhir kali berandai-andai?

Kalau gak inget, sekarang saja, yuk:
Seandainya punya waktu luang dan uang untuk belanja sesuatu—yang belum terbayang wujudnya, bakal menjelajahi seisi toko dulu atau langsung beli begitu ada yang lucu?

Kalau saya golongan yang pertama, karena yang lucu itu kadang tak sekeren yang kita temukan setelahnya. Jadinya keranjang malah penuh dengan yang lucu-lucu gak perlu.

Pilihan ini juga saya terapkan pas mengelilingi kota Edinburgh dengan bus. Malahan sampai memutari kota 2 kali, demi menikmati sisi kiri dan sisi kanan kota secara utuh.

Segitunya! Apa gak sayang uangnya?
Justru karena pake bus City Sightseeing yang memungkinkan kita turun naik di pemberhentian mana pun (yang telah ditentukan) dan bolak balik dalam periode 24 jam (selama jam operasional bus), jadinya malah ngerasa rugi kalo gak muter-muter.
Dan, ouw! Jangan bimbang turun naik, karena setiap penumpang akan diberi peta ini:

Yang dibawah peta adalah daftar berbagai keseruan potongan harga untuk pemegang tiket bus!

Duduk di lantai 2 bus melintasi kota tua Edinburgh di antara bangunan bersejarah gothic dan bukit bebatuan cantik membuat saya... masuk angin! Matahari di musim semi ini memang cukup hangat, tapi deru angin dinginnya lumayan bikin nampar-nampar pipi. Kiat pertama: Siapkan syal tebal! Atau ya, gak perlu centil nongkrong di lantai atas bus yang terbuka itu, sih.

Bus kemudian melewati bukit bebatuan tinggi menjulang yang konon terbentuk dari magma yang mengeras ratusan juta tahun lalu. Tapi ada yang lebih menarik di atas bukit gunung berapi itu. Menarik secara misterius!

Dengan hati penuh keyakinan, saya memutuskan turun di bus stop nomor 6.
Mari kita menjelajahi kastil yang dibangun awal abad 12: Kastil Edinburgh!


Harga tiket kastil Edinburgh:
Anak-anak (5-15 tahun): £9.6
Dewasa (16-59 tahun) : £16
Jam buka musim panas: 9.30 am - 6 pm. Non musim panas, tutup sejam lebih awal.


Kastil Edinburgh ini dibangun Raja David I untuk mengenang sang ibunda; Ratu Margareth.
Duh, saya selalu terharu dengan bangunan yang berdiri karena cinta. Saya sendiri belum bisa bangun apa-apa untuk orang tua. Boro-boro kastil, ngebangun pagar rumah saja masih mikir-mikir.

Tapi sejarah tidak berhenti merekam sampai tahap pengenangan cinta, karena kastil ini juga hobi beralih fungsi, salah satunya sebagai benteng militer, yang tentu saja tidak mungkin kegiatannya hanya menjemur pakaian dan minum teh sore-sore.

Berbagai peristiwa berdarah nan misterius pun terjadi di kastil ini. Salah satu aksi horor yang sering tersebut dalam sejarah kastil Edinburgh adalah kisah pilu Janet Douglas yang dibakar hidup-hidup karena dituduh sebagai penyihir.



Kisah-kisah prajurit yang hilang secara misterius di ruang bawah tanah kastil pun kerap jadi penambah aura seram kastil Edinburgh. Ah, tapi sehoror-horonya kastil ini, banyak orang berkunjung, kok! Kalau mendadak ada arwah gentayangan pun bisa teriak ramai-ramai.



Saya lalu menaiki undakan tangga dengan hati berdebar dan jambul berkobar.
Ketika mendongakkan kepala di puncak kastil, terlihat sebuah balkon kecil yang memiliki taman indah, dipenuhi bebatuan yang ternyata... nisan kuburan anjing para tentara masa lampau. Seram-seram manis ya?



Di puncak kastil juga terdapat beberapa bangku kosong yang minta didudukin banget. Saatnya nyemil-nyemil asoy sambil menikmati angin sepoi!

Tapi acara duduk duduk ganteng tidak begitu lama, karena saya terpikat dengan meriam hitam raksasa yang berbaris elegan, seakan siap menggempur sekeliling kota.



Wah, ternyata setelah ngobrol-ngobrol dengan penjaga kastil, meriam yang bernama Mons Meg Cannon ini dibuat tahun 1449 dan bisa menembakkan peluru sebesar 200 kg sampai sejauh 3.2 km. Yang menakutkan, mereka masih menjalankan tradisi The One o'clock Gun sejak 1861; menembakkan peluru setiap pukul 1 siang setiap hari (kecuali Minggu).
Alamak, apa gak ada korban tewas ketimpuk peluru batu yang besarnya 3 kali lipat kepala kita itu?

Oh, tenang. Ternyata meriamnya beda sendiri. Semoga gak ada burung kesambit, deh!

Puas meraba-raba meriam, jiwa mulai terpancing menggentayangi berbagai ruangan kastil. Ada apa di balik jendela-jendela itu?  Siapa yang sedang melihat saya dari balik kaca itu?



Sebuah lorong berliku mengundang hasrat untuk masuk lebih dalam. Entah kenapa jantung berdegup kencang, sampai-sampai langkah melambat. Maklum, kastil ini kan sering dinobatkan sebagai tempat perkumpulan geng hantu terwahid se-Skotlandia raya!
Desas-desusnya lagi, di sini banyak terowongan rahasia bawah tanah yang bisa membuat kita tersesat selamanya. Hiih! Dan... dan di terowongan rahasia itu juga sering terdengar suara-suara seruling khas Skotlandia mengalun yang sungguh menyayat hati.

Ah, apaan sih.
Toh, kalau pun di dalam ternyata mencekam, tinggal berbalik mundur kan?
Saya kembali melangkah tanpa gentar. Tapi kok, orang-orang gak ada yang masuk ya?




Ah, syukurlah, di dalam ruangan ini ternyata banyak orang.
Ruangan ini merupakan Great Hall, dibangun tahun 1488-1513, dipersembahkan untuk King James IV berseremonial ria. Great Hall ini dipercantik beberapa chandelier, yang membuat saya seketika ingin berdansa!



Di antara berbagai dekorasi di dinding ruangan, ada semacam ventilasi berterali besi bernama Laird's Lug, yang ternyata dahulu kala dipakai raja untuk memantau para tamu kastil. Andai sang raja hari ini bangkit dari kubur, pasti bahagia lihat teknologi CCTV.

Ugh! Kok bulu kuduk ini berdiri ya? Padahal (masih) banyak orang. Mungkin karena ada sesepoi angin dingin menyapa leher. Atau jangan-jangan sebenarnya ruangan ini kosong?! Hiiii!

Saya lalu menelusuri berbagai ruang lain; dari bangunan tertua di kastil sekaligus di Edinburgh: St. Margaret's Chapel, sampai ruangan yang entah kenapa membangkitkan berbagai emosi: Queen Mary's room.
Di ruangan ini Ratu Mary melahirkan James VI  tanggal 19 Juni 1566.
Kok tau, sih? Tertulis di atap ruangan soalnya!



Saya kemudian memasuki lorong-lorong bertangga melingkar, membuka pintu—yang entah ruang terlarang atau bukan. Karena kok ....


...sepi ya?!

Saya mulai celingukan, memutuskan untuk kembali ke ruangan sebelumnya, atau berjalan semakin dalam.




Saya memang pecinta chandelier sih, tapi kalau di ruangan sepi sunyi begini, agak pengen lompat jendela. Tapi ternyata uji nyali belum selesai!


Entah kenapa, di depan lukisan ini punggung saya mendadak terasa beku. Seperti ada kantong es yang menggerayangi pori-pori leher yang secara perlahan menjalar ke bawah. Rasanya seperti ada beberapa pasang mata sedang mengawasi dari balik Laird's Lug.

Pikiran pun meliak liuk di antara bayangan seram. Ah, tapi seseramnya hantu di sini, masih lebih seram kuntilanak kan?
Sambil sok tenang sok menawan, saya memutuskan ke luar ruangan.
Yang ternyata gak selancar itu. Kok, perasaan tadi gak lewat sini ya?


Bentar-bentar, ini mana patung mana pengunjung, ya?
Duh, kenapa beberapa tangan patung itu mesti gerak-gerak segala, sih? Rasanya seperti memasuki dunia lukisan.



Alhamdulillah, akhirnya saya berada di sebuah ruangan hangat dan menemukan manusia-manusia sejati. Mereka tampak asyik ngopi-ngopi dan makan di ruangan merah yang ternyata bernama Redcoat Cafe.

Ah, leganya!
Ternyata memang sebaiknya sebelum menjelajahi kastil lebih baik kenyangin perut dulu ya.
Menu Redcoat ini beragam, dari roti, sup hangat, salad, pasta, kue, dan berbagai minuman. Harganya juga gak nyekik nyekik amat. Untuk secangkir latte lezat & 1 pot teh hangat, diberi harga £5. Pilihan sandwich dan soda pun rata-rata di bawah £10. Plus ada toilet bersih di bawah cafe.

Tapi yang paling menyenangkan di cafe ini adalah....



... pemandangan menawan kota Edinburgh.

Acara menggentayangi kastil pun berakhir di sini, sambil sesekali melihat foto-foto hasil jepretan tadi. Ternyata diam-diam berharap ada penampakan! Kalau ada yang lihat, lapor ya!

Tapi mohon kali ini jangan berandai-andai ya.

Hiiiiii!


Thursday, March 27, 2014

Keliling London mending naik bus atau kereta bawah tanah?

Itu pertanyaan saya saat masih buta London. Rata-rata teman yang sudah pernah ke sana menjawab;
“Mesti coba dua-duanya, dong!” Lalu pertanyaan berikutnya, “Tiketnya semahal apa ya?”

Maklum, nilai tukar poundsterling yang tinggi bikin hati ketar-ketir, jangan-jangan duit habis di ongkos doang. Kan ogah juga kalau selama di London makan mi instan mulu. Atau mungkin sanggup lah ya sepiring-tiga piring fish & chips, tapi jangan sampai juga seporsi untuk pagi siang malam.

Ternyata jawaban asyiknya: “Semahal salah pilih cara bayarnya!”

Setelah ditilik-tilik, harga tiket ini pengaruh banget dengan pilihan kita; akan keliling di zona berapa saja? Apakah akan keliling London sehari-semalaman selama seminggu penuh atau cuma 3 hari saja? 

Sebelum hitung-hitungan, mari beli salah satu travel kit wajib selama di London: kartu sakti Oyster!
Kenapa sakti? Karena Oyster Card ini kartu prabayar tap-and-go yang bisa dipakai di berbagai alat transportasi di London: kereta bawah & atas tanah (London Underground / Tube Station & London Overground), si bus merah double decker yang legendaris itu, juga DLR (Docklands Light Railway). Kartu ini juga bisa digunakan untuk diskon kereta ke luar kota. Plus bisa dipake di beberapa cafe tertentu; kembalian koin-koin bisa ditukar kredit kartu.

Dari semua alasan sakti itu, yang paling menyenangkan karena kartu Oyster memberikan pilihan diskon lebih dari 50% dibanding membeli tiket transportasi secara tunai.

Di mana membeli kartu Oyster?
Ada di semua loket Tube Station! Begitu sampai di Heathrow Airport misalnya, ikuti petunjuk keberadaan London Underground (ada di semua terminal), cari loket atau hubungi petugas terdekat.
Harga 1 kartu Oyster: £5 sebagai deposit. Jadi kalau kelak kartunya dikembalikan, uangnya ya balik lagi. Tapi lucu juga kan koleksi kartu Oyster limited edition?

Nah, sekarang hitung-hitungannya gimana ya?
Ini contoh perhitungan dari situs Transport For London:

How much credit do I need?
Sample Tube fares:

Zones 1 to 2
Oyster £2.80 peak, £2.20 off-peak

Zones 1 to 6
Oyster £5.00 peak, £3.00 off-peak

Single bus journey
£1.45


Pusing? Tenang, cukup inget ini aja kalau gitu:

Unlimited journeys in one day in zones 1 and 2: £7.00 

Jadi kalau mau jalan-jalan kenyang - bolak balik - ke sana kemari di Zona 1 & 2: sisihkan £7 perhari.

Bilang saja sama petugas loketnya: “Please top up my oyster card for 3 days unlimited journeys,” sambil senyum manja.

Kalau udah gak canggung, bisa langsung top up juga di mesin tiket otomatis, bahkan online.

Buat yang pengin unlimited journeys untuk seminggu di zona 1-2, bakal lebih seru lagi, karena harganya lebih irit dari £7 X 7 = £ 31.40.

Buat sebulan juga gak kalah hemat = £120.60

Kalau ternyata mau menggila di tujuh Zona London dalam seminggu juga silahkeun, siapkan £55.60. Pasti kenyangnya kebangetan.

Jangan lupa sesekali cek sisa kredit di mesin tiket otomatis. Kalau kartu tidak bisa digunakan, bisa jadi sempet gak sadar keasyikan melipir ke luar zona, jadinya ngutang. Kalau kayak gini, cek aja ada berapa negative balance-nya di loket, dan siapkan koin koin penny-nya.

Oh ya, ini sih sekedar gambaran saja kalau datang ke London via Heathrow Airport.
Bandara ini kan ada di zona 6, sedangkan tempat bobo saya ada di zona 2, lalu niat jalan-jalan pake undergroundnya akan ada di seputar zona 1 & 2. 
Jadi dari Heathrow saya bayar tiket sekali jalan / single fare: antara £3 - £5 tergantung jam sibuk atau sepi sepi asoy. Pas nyampe di zona 2, baru deh top up sesuai kebutuhan—mau 3 hari atau seminggu misalnya.

Sekarang, saatnya memberikan kabar gembira! Kalau naik si double decker, oyster card unlimited journeys ini bisa dipakai lintas zona mana pun!

Kalau gak ngerasa pinter baca peta kota, gimana? Jangan waswas, download aja citymapper  di ponsel pintarmu. Panduannya ekstra lengkap, dari nomor rute bus / stasiun bus yang bisa diambil, sampai waktu kedatangan yang cukup akurat.

Sekarang, gimana cara pake kartunya ya?
Tenang, saya sudah bikin video panduannya!


Intinya sih, tempelin aja bagian belakang Oyster ke si bulet kuning di mesin pembaca kedatangan (Tap in!). 
Bisa dilihat di detik 0.10 video di atas, palangnya sempet gak mau kebuka, itu karena kredit saya habis! Dengan penuh rasa malu, maafkan ya!

Setelah tap in, pilih deh platform keretanya, mau turun di mana?
Di dalam kereta, bakal ada pengumuman kok stasiun yang akan dilewati berikutnya, dan yang akan menjadi tujuan terakhir.

Kalau ternyata salah kereta, keluar saja di stasiun berikutnya, langsung naik kereta yang berbalik arah tanpa harus “tap in” lagi. Tapi kalau waktumu melimpah, sekalian saja menyesatkan diri, yuk!


Setelah sampai di stasiun tujuan, jangan lupa menempelkan kartu kembali ke mesin pembaca (Tap Out) saat hendak ke luar (Way Out), karena kalau kelupaan, jumlah kredit bakal berkurang dengan biaya perjalanan terjauh.



Sekarang, gimana kalau naik si double decker?
Prinsipnya hampir sama, cuma kalo di bus cuma perlu “tap in”, gak perlu “tap out”. Mesin pembacanya ada di kaca dekat sopir, masuk dari pintu paling depan.

Nah, kalo di double decker edisi terbaru, mesin pembacanya ada di 3 pintu masuk. Yang di pintu tengah & belakang malah gak perlu ditempel lagi, tinggal lambai-lambai manja aja depan mesin pembaca.

Ini penampakan double decker yang futuristik itu. Yuk siap-siap naik!



Gimana, sudah siap keliling London dong ya?

Untuk postingan berikutnya, saya mau bagi-bagi tempat tongkrongan seru! Salah satunya toko ini:


Cherioo!



Eits, ada bonus! 
Dapet link kuis ini dari Claudia Lengkey
Do You Know How To Take The Underground Like A Londoner?
Dan hasil ujian saya sungguh membanggakan, haha!

Lumayan, jadi merasa terakreditasi menulis postingan ini! Nanti kamu coba isi juga ya!

Cheers,


Vabyo

Saturday, March 22, 2014

Pasca Senja di London

I see London's always beautiful, even on cloudy days.
But then I find it prettiest at twilight.
Well, probably.


Location: Victoria Embankment
Tube Station: Westminster

Monday, September 16, 2013

Pengakuan Mantan Penyiar

Pssst.
Ini salah satu pengakuan terbesar saya, yang sebenernya sih, gak besar-besar amat buat teman-teman terdekat.

Pengakuan ini saya putuskan untuk digembar-gemborkan setelah beberapa orang kerap menanyakan dan bahkan menawarkan kembali ke profesi lama saya di awal karir: penyiar radio.

Sejujurnya, saya dulu tertarik menjadi penyiar radio karena saya kira kita gak perlu tampil di publik. Kan, dulu ada desas desus: penyiar itu tempatnya orang-orang jelek.

Tapi ternyata pas masuk radio tahun 2001, oalah, orangnya kok cakep-cakep?! Kita benar-benar diasah agar siap menjadi bintang, walau terkadang salah sinar.

Dan saya mendadak salah tingkah, karena ketika menandatangani kontrak sebagai penyiar, ternyata otomatis harus siap jadi MC dan mengikuti berbagai casting.
Memang sih, yang terakhir adalah pilihan. Pilihan yang tampak menjadi kewajiban.

Ketika beberapa penyiar yang saya temui selalu memberikan kesan bahwa, “Gue sih siaran sebagai batu loncatan aja”, saya terpaksa menunduk malu, karena siaran bagi saya saat itu bagai pulau terakhir untuk berlabuh; ogah loncat kemana-mana lagi.

Tawaran MC membanjir, dan seketika itu pula saya pura-pura sibuk nyirem taneman, dan meneruskan tawaran itu ke teman-teman penyiar lain.  Beban mental bertambah ketika saya terhakimi pandangan "Kok, nolak rezeki?" dan "Ngapain jadi penyiar, kalo gitu?"

Saya memang senang menghibur, tapi untuk menjadi pusat perhatian di atas panggung membuat saya grogi setengah mati, keringat dingin, basah ketek, plus jemari tremor.

Terus, nyesel dong jadi penyiar? Nggak banget.
Setelah menyadari tidak bisa menikmati totalitas sebagai penyiar, akhirnya saya berbelok menjadi copy writer & produser.

Saat itu pulalah, hobi lama yang telah terbengkalai, kembali meranggas liar: menulis.
Beberapa skrip radio yang tertolak, akhirnya tampil di novel perdana saya.

Selain belajar membulatkan suara dari pernapasan diafragma, selama menjadi penyiar, saya juga belajar dasar-dasar jurnalisme, seni menggali informasi dan mengemasnya menjadi informasi yang menarik, seni mendengarkan dan memberikan pertanyaan untuk partner siaran atau narasumber. Saya gak ingin narasumber / bintang tamu mendadak jemu dengan pertanyaan membosankan semacam, “Kenapa judul album anda itu Pantat Babon Berbulu Angsa?”

Saya juga belajar cara mengelola stres, bagaimana ketika komputer siaran tiba-tiba ngeheng, lagu terhenti kemudian sekejap sunyi, sementara sudah saatnya masuk insert sponsor, dan tetap harus terlihat tenang agar narasumber yang masih duduk manyun di depan kita tetap merasa nyaman.

Belajar dari pengalaman masa lampau, kini saya jadi meyakini, se(merasa)salah-salahnya pilihan karir saat ini, bakal ada warisan berharga yang bisa jadi bekal berlian di masa depan.

Dan sebagai penutup, ada warisan siaran yang sungguh sangat berharga dan berguna hingga kini. Biasanya aksi ini saya lakukan kala abis begadang, siaran pagi, dan dapet partner siaran superjayus. Oops!



Bonus!!
Ini beberapa iklan radio featuring suara saya. Kali ada yang niat nawarin kerjaan dubber :p

Sunday, September 01, 2013

Thursday, August 29, 2013

Tersesat di Kota Bath (Inggris)



Peta kuno kota Bath (Wikipedia)

Indah itu sedap dipandang, nyaman digerayang.

Bagi saya, ketentuan ini berlaku untuk manusia dan kota.
Tapi “sedap dipandang” tiap orang tentu berbeda-beda. Tidak semua suka hidung bangir dan mata belo. Tidak semua juga kerasan memandangi barisan gedung pencakar langit di antara liak liuk jalan layang.

Kalo keindahan kota menurutmu adalah trotoar bebatuan, sungai yang mengalir tenang, kastil menawan, jembatan tua dan bangunan romawi penuh sejarah, pasti bakal betah berjalan-jalan di kota Bath, Inggris.

Kota ini terletak di sebelah barat daya Inggris, sekitar 156 km dari London, kurang lebih seperti perjalanan Bandung – Jakarta ke tengah kota sedikit.
Setelah membeli tiket seharga £ 21, saya naik kereta dari stasiun Paddington-London, siap menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam.

Banyak pemandangan menarik di perjalanan, yang sayangnya tak sempat saya abadikan karena laju kereta yang cepat.
Baru turn on, eh udah move on.
Tapi lumayan lah, bisa intip dikit.
Maaf videonya vertikal ya =)



Kenapa kota ini dinamakan 'mandi'?
Mengutip dari Unesco yang menobatkan kota ini sebagai situs warisan dunia, Bath didirikan bangsa Romawi sebagai thermal spa, tempat berendam karena mempunyai mata air panas alami—satu-satunya di Britania Raya.
Ternyata gempuran air tidak hanya datang dari bumi, karena begitu turun di stasiun Bath Spa, saya pun disambut air langit alias hujan rintik. Bathing in Bath!

Sambil menelusuri trotoar jalan, pandangan menyapu langit kota yang menyerupai kue lapis tiga warna; abu, biru, dan putih.


Seiring langkah di persimpangan jalan, rintik berakhir.
Sebuah papan penunjuk kota menghadang, tapi kali ini saya abaikan.
Saya ingin menyesatkan diri, menanti kejutan. Toh, saya sendirian dan tidak ada deadline.

Berminat?
Banyak cafe menggoda sepanjang trotoar
Patung burung hantu di atap rumah; pelindung keburukan.
Rumah tertua yang dibangun tahun 1482, menyajikan roti tersohor: the Original 'Sally Lunn' Bun.
Jembatan kota di atas sungai Avon

Setelah asyik mengitari kastil-kastil misterius dan menggelinjangi taman kota di pinggir sungai Avon, terdengar sayup-sayup petikan gitar yang mengalun syahdu, seperti dedaunan musim semi yang siap merekah mewah. Makin lama, makin terdengar jelas. Rupanya langkah kaki tidak salah.

Beberapa orang duduk di bangku yang mengelilingi seorang seniman jalanan. Ia meliak liuk bagai terhipnotis nada alunan gitar yang ia mainkan. Pandangan saya mendadak terampas bangunan gereja di belakang sang penghibur: Bath Abbey.

Namun, orang-orang tampak berlalu lalang ke bangunan di samping gereja yang dibangun pada abad 16 ini. Sebuah celah di dinding bebatuan terbentuk menyerupai jendela mengizinkan saya mengintip ke dalam.
Oh, tampaklah sebuah kolam kehijauan, dikelilingi pilar batu megah. Di atasnya berjajar patung kaisar Romawi nan gagah.

Oh, ini dia lokasi pemandian Romawi yang termasyur itu!
Tanpa tunggu waktu, kaki segera melaju di pijakan batu menuju Roman Baths melalui pintu masuk museum.

Saya mulai menyalakan fitur video rekam di ponsel, mulai mengambil gambar dari bangunan di bawah.
Dan... eh. tampak seorang lelaki berlilitkan kain cokelat ala kaisar Romawi berjalan di sekitar pilar (menit 0.15)



Sang kaisar jadi-jadian di tengah pilar. Eh itu batu kok bermata satu ya =D


Mungkin wujud kaisar itu salah satu atraksi dari museum untuk menarik perhatian pengunjung. Saya pun sok cuek, merekam pemandangan lain, sambil kembali curi curi pandang mengamati pilar di bawah.
Hei, sang kaisar sudah menghilang!

Sayangnya ketika turun ke bawah dan mengitari bangunan, wujud sang kaisar tak juga saya temukan. 
Menelusuri lorong kuno
Kolam uang! Saya mau berendam di sini saja!
“Orang yang berdandan ala kaisar ini di mana ya? Kalo boleh, mau foto bareng,” akhirnya saya memutuskan bertanya pada seorang staff museum.
“Tidak ada yang seperti itu,” jawabnya singkat.
“Loh, bukan dari museum?” Saya pun memamerkan video tadi.
Ia menggeleng sambil tersenyum tipis.
Saya mendadak kebelet pipis.

Jangan-jangan patung ini hidup!
Jadi siapa si kaisar Romawi itu, ya? Pengunjung iseng? Calon pengantin lagi foto pre-wed? Atau—kalau mau melilih genre horor—jiwa masa lampau yang bergentayangan?
Atau jangan-jangan justru staff museum itu yang merupakan arwah penasaran?!


Ah, terka saja dengan keinginan masing-masing, selamat berimajinasi!

[[ BERSAMBUNG ]]

Kita menyesatkan diri ke arah mana lagi, nih?