Search This Blog

Showing posts with label travel. Show all posts
Showing posts with label travel. Show all posts

Wednesday, November 04, 2015

Bertandang ke Rumah Niang

Diam-diam saya merengut setiap mendengar pertanyaan berbalut keluhan: “Uh, Ubud kok semakin ramai?”
Merengut pertama akibat merasa bersalah. Sebagai pendatang, saya ikut serta meramaikan Ubud. Merengut kedua karena justru 'ramai'nya Ubud itulah yang membuat saya betah; ramai dengan orang-orang hangat.

Kalau sudah berkumpul dengan mereka yang hangat di akhir minggu, kami hobi mencari tempat yang nyaman, sejuk, hening, entah itu sekadar bercengkerama atau rebah-rebah manja di rerumputan.



Salah satu tempat nyaman yang kami tinggali kali ini bernama Rumah Niang; berbentuk bungalow dengan gaya khas Jepang; lapang, bersih dan dekat dengan alam. Dekatnya tuh, deket bener!

Memasuki halaman Rumah Niang, kami disambut rerumputan luas dan aneka tanaman jelita. Dapur lega dan tempat makan terbukanya membuat hasrat masak dan makan menggelora!







Kamar tidurnya juga tak kalah nyaman. Kasur dan bantal empuk, berkelambu romantis.



Saat pagi tiba, sinar matahari menjelajah berbagai sudut ruangan. Pemandangan hijau asri melegakan hati.







Kami tak pernah bosan leyeh-leyeh menikmati langit biru. Kalau ingin sedikit bertualang,  mari langkahkan kaki menuruni tangga rahasia sebelah bungalow, menelusuri mata air atau sekadar kecipak kecibung di sungai!





Yang lebih menyenangkan, bungalow ini sangat dekat dari jalan utama Ubud Raya! Kalau jogging dari Pasar Ubud, butuh 1-2 lagu untuk menemukan Rumah Niang.
Untuk cari tahu lokasi dan booking Rumah Niang, mari ke mari!

Selamat bersantai sejuk di Rumah Niang!

Saturday, January 31, 2015

Biar Bisa Punya Visa Amerika

“Kenapa telat, Pak? Saya kan kemarin sudah bilang, kita bakal pergi 4 pagi—teng. Yang antri visa itu sudah bejibun dari subuh,” Ceracau saya; ngomelin pak sopir yang datang terlambat ½ jam. Ia cuma manggut-manggut dengan sorot mata kebingungan. Kayaknya dia heran kenapa sepagi buta ini saya sudah punya energi misuh-misuh. Padahal malam sebelumnya baru terbang dari Bali ke rumah ortu di Bandung. 

Yah, abis kalau dengar dan baca pengalaman teman-teman yang wawancara visa Amerika bikin jiper! Masa ada yang sampai ditolak empat kali, padahal ada yang dapat beasiswa atau menang undian. Dengan biaya $160 dan akan hangus bila ditolak, sulit rasanya membayangkan diri akan sesetia itu apply visa yang sama berulang-ulang. Mending buat beli tiket pesawat ke negara lain. 

Tapi kalau permohonan disetujui, visa turis Amerika ini berlaku untuk 5 tahun! Jadi jauh lebih ekonomis ketimbang visa lainnya.

Sebelum ceracau semakin berkilau, berikut tahapan permohonan visa US: 
1. Isi formulir Aplikasi Visa Elektronik Non-Immigrant DS-160 di sini.
Setelah kelar, sebuah konfirmasi dalam file PDF akan bertandang ke e-mail, siap di-print di kertas A4. 
Kiat: dalam setiap mengisi halaman visa, selalu screenshot. Berbeda dengan permohonan visa UK, setelah tekan 'submit' jawaban-jawaban kita gak bisa diintip lagi. Ya, memang sih, kalau jujur ngapain mesti ngapalin jawaban. Tapi percayalah, ini bisa berguna. Siapa tau typo nulis tahun lulus kuliah keburu submitted, jadi hapalkanlah kekeliruannya!

2. Print halaman untuk bekal bayar visa di sana untuk mengetahui kurs yang sedang berlaku. Perhatikan tanggal kedaluwarsanya. Memang sih, kalau kelewat bisa cetak lagi. Tapi kalau dolar dalam semalam mendadak naik bisa dongkol juga, kan! 
Bayar visa US cuma bisa di bank Permata atau Standard Chartered. Jangan lupa bawa fotokopi paspor. Lalu mari jaga baik-baik bukti pembayarannya! 

3. Minimal 4 jam dalam hitungan hari kerja setelah pembayaran, bikin jadwal wawancara di sono. Jadi kalau bayarnya Jum'at sore, baru bisa bikin jadwal Senin siang. Karena pada saat penjadwalan, mereka butuh 8 digit terakhir nomor resit (setelah abjad "US") untuk memastikan pembayaran sudah masuk database mereka. 

Sebetulnya pengisian formulir online visa US ini lebih ringkas dibanding permohonan visa UK. Kalau visa UK, dalam menjawab pertanyaan kita sudah ke mana saja, perlu dicantumkan juga tanggal-tanggalnya. Kalau visa US cukup nama negaranya saja. 

Tapi visa US butuh wawancara dan bisa langsung dapat kepastian saat itu juga. Keunikan lainnya, sebelum masuk gedung, mesti antri di luar pagar dulu. Ada polisi di bawah fly over yang siap mengawasi kita antri di atas trotoar. 
Kiat: Yang gampang pegel tapi waswas kena taik kering, bolehlah bawa alas pantat biar nyaman. 

Untungnya, sesampainya saya di halaman Kedutaan Amerika, antrian baru terisi 3 orang! Wah, beruntung sekali! 

"Kok udah pukul ½ 7, yang antri cuma kita doang ya?” Tanya saya ke dua orang itu. 
“Lah, ini masih jam ½ 6, Mas?” Jawab salah satu dari mereka, sambil lirik jam tangan.

YA AMPUN. Saya khilaf! Jam tangan masih setelan zona GMT +8. Aduh, selesai wawancara mesti minta maaf sama pak sopir, nih! Ternyata saya termasuk golongan orang yang marah-marah tau tau salah! Tapi ini kesalahan yang menyenangkan; terbukti saat pukul 6 pagi antrian mulai memanjang sampai tak terlihat ekornya. 
Kiat: malam sebelum tidur, aturlah jam 60 menit lebih cepat! 

Pukul 06.45 kami digiring ke depan pintu masuk, antrian dibagi dua, sang petugas memeriksa formulir jadwal konfirmasi kedatangan “Appointment Confirmation” dan paspor. Yang lupa bawa formulir, diharapkan tunggang langgang ke warnet terdekat buat nge-print. 
Kiat: bawalah print portable yang terhubung wifi untuk jaga-jaga! 

Di ruangan pertama, badan dan bawaan diperiksa; kayak di bandara. Benda tajam, gadget, perkabelan termasuk earphone, makanan, gak boleh masuk ruangan kedua. Tapi tenang, mereka membolehkan kami menghabiskan makanan dulu. Tapi saya sudah kebelet mau visa! Dadah roti gandum isi selai cokelat 2 cm! 

Masuk ruangan kedua, sang petugas memilah dokumen utama: 
→ Paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan 
→ Paspor lama 
→ Formulir konfirmasi pengisian Aplikasi Visa Elektronik Non-Immigrant DS-160 
→ Formulir konfirmasi jadwal wawancara “Appointment Confirmation” 
→ Foto 5×5 latar belakang putih 
→ Resit pembayaran visa. 

Lalu kami memijit tombol untuk nomor antrian. Ada 4 loket yang bersiap memanggil. Saya sudah menyiapkan segala macam jawaban atas kemungkinan pertanyaan. Ternyata di sini cuma ditanya 2 hal: 
1. Apakah pernah ganti nama? 
2. SMA di mana? 
Kiat: Saya sering baca testimoni kalau petugas kedutaan US jutek-jutek. Tapi setelah saya sapa-sapa gembira bonus senyum manja, mereka membalas dengan hangat kok. 
Yang mau pipis, di sinilah toilet berada! 
Dokumen utama pun diambil, lalu kami masuk ruangan ketiga. Oh, kirain tadi itu wawancara final! 

Masuk ruangan tiga dikasih nomor grup. Saya kebagian grup 1 dong—terima kasih GMT +8! Di ruangan ini kami menunggu giliran untuk scan semua jari. Kelar tempel-tempel jemari, kami bergeser ke ruang sebelah alias RUANG PENENTUAN! Rasanya kayak mau sidang skripsi, deh. Menebak-nebak apa yang akan ditanyakan, mengulang-ulang apa yang akan dijawab. 

“For group 1, please come to window 8!” 

Kami pun berbaris menuju loket 8, yang menyerupai tempat pembayaran tiket kereta. Tanpa kursi dan terhalang kaca, ada wanita kaukasia berwajah dingin siap mewawancarai kami. Saya kebagian nomor dua! 
Ah, tenang-tenang. Saya mengingat pengalaman birokrasi rumit selama tinggal di Saudi, berusaha meyakinkan diri kalau wawancara ini masih level biasa saja. Tapi tetap dongkol kan, kalau ditolak. Ah, kamu bisa! Bisa e-ek di celana! AH, DIAM! 

Pemohon pertama, seorang pria parlente, menjawab pertanyaan dengan tenang. Saya tentu saja nguping demi bocoran! 
“Mau apa ke Amerika?” 
“Liburan.” 
“Ke mana saja?” 
“West Coast.” 
“Sama siapa?” 
“Tunangan dan calon mertua.” 
“Kerja di mana? Boleh lihat buku tabungannya?” 

Seakan latah, saya ikut melantunkan setiap jawaban pribadi dalam hati, plus buru-buru melihat isi map yang saya peluk segenap grogi, memastikan semua dokumen pelengkap ada di sana. 

“Maaf, anda belum bisa ke Amerika sekarang.” Wanita itu memberikan selembar kertas berwarna merah ke pria parlente itu! 
Ya ampun, serius? Obrolan yang tampak tenang dan meyakinkan itu ternyata berakhir sedih. Saya mengharapkan adanya konflik sebelum penolakan, agar bisa menerka-nerka apa yang tidak boleh saya katakan. 

Rasanya ingin bertukar tempat dengan dua orang di belakang saya, ingin menguping lebih banyak pertanyaan lagi. Tapi wanita itu keburu menatap mata saya. Ya udah deh, ayo tancap, Cuy! 

“Good morning!” Sapa saya mencoba ringan tanpa beban. 

“Good morning. What's your name? Why do you want to travel to the USA?” 

Saya ingat petuah sahabat saya yang selalu lolos saat memohon visa; Bang Ben, untuk langsung menjawab detil pertanyaan ini, jangan cuma “mau liburan” saja. 
Jadilah saya menjawab seperti ini: “Saya berencana nonton konser band di Los Angeles akhir Mei. Selain itu, saya juga ingin menulis tentang Los Angeles, San Francisco, New York; mulai dari pagelaran seni sampai kuliner, karena saya suka makan.” 

“Jadi, anda penulis? Sudah berapa buku yang diterbitkan?” Tanyanya lagi, dengan kelopak mata yang  menyipit.

Aha, untungnya saya mengikuti kiat teman baik saya, Wine; yang sampai harus mengajukan permohonan visa US ini tiga kali; bawa hasil karya kita untuk menguatkan bukti pekerjaan / hobi! 

“Ini buku terbaru saya, salah satu setting-nya di London,” Saya menempelkan Kedai 1002 Mimpi ke kaca, agar wanita itu bisa melihat jelas, “Nah untuk setting buku berikutnya, saya akan menulis tentang kota-kota di Amerika.” 

Hey, sebuah senyum manis tersungging di bibirnya! Aih, semoga pertanda baik! 

“Apakah buku kamu yang terbaru nanti sudah pasti akan diterbitkan? Apakah sudah menandatangani kontrak untuk buku selanjutnya?” O-ow, terdengar seperti pertanyaan jebakan. Semoga gak salah jawab! 

“Not yet. I work as an editor, but I write books for my pleasure.” 

“Bagus, karena kalau sudah ada kontraknya, anda membutuhkan visa yang lain. Congratulations, your visa is approved!” 

Haa, serius? Segitu aja? Tabungan, surat referensi bank, ijazah kuliah, surat rekomendasi kantor, bookingan pesawat dan hotel gak dilihat?!! Ih jadi ngapain kemaren nyusahin orang banyak? Eh, Alhamdulillah kali! Kok tetep protes udah dikasih kemudahan, ya! 
Alhasil saya keluar ruangan membawa kertas putih dengan hati tenang dan bahagia!


Di luar gedung, saya mengintip orang-orang yang mendapatkan kertas merah, rata-rata alasan visa tidak disetujui karena “Anda belum dapat menunjukkan bukti ikatan keluarga yang kuat, ikatan sosial atau ekonomi yang cukup untuk menunjang kehidupan di luar AS.” 

Alasan lain ditolak adalah: 
“Anda tidak dapat menunjukkan bahwa anda memenuhi syarat atau dan/atau rencana pendidikan anda memenuhi syarat untuk mendapakan visa non imigran sesuai dengan yang anda ajukan."   

“Anda telah menyalahgunakan penggunaan visa non imigran sebelumnya.” 

Oh ya, selain lembar merah dan putih, ada juga lembar hijau apabila mereka butuh informasi tambahan dan kuning kalau permohonan dikenakan proses tambahan. 

Nah, kalau mengambil intisari semua kiat teman-teman yang telah saya buktikan, yakinkan pewawancara kalau kita akan 'berfoya-foya' di sebuah tempat di Amerika tapi pasti akan kembali ke tanah air karena kita punya & bangga dengan pekerjaan di Indonesia! Kecuali kalau lamar visa kerja ya, tentu beda perkara. 

Misalnya: “Karena saya seorang arsitek, jadinya ingin berkelana ke Washington, Philadelphia, Denver, karena kota-kota itu termasuk Top 10 Cities for Design in America.” Jangan lupa sambil pamerin blue print arsitektur terkece yang pernah dibuat!

Atau, "Saya pengin jalan-jalan ke San Francisco, Boston, Nashville, Austin dan kota-kota yang dinobatkan Forbes sebagai America's most creative cities. Jadi pulang-pulang saya bawa banyak inspirasi dan bisa kembali kerja dengan menyenangkan di kantor advertising agency saya," sambil pamerin print-ad terinovatifnya!

Bila perlu, googling jadwal konser band dan restoran terbaik di kota yang akan kita datangi buat bahan obrolan kalau terasa ada jeda. Anggap saja ini kencan menuju jadian! 

Oh ya, kalau merasa nyaman jawab pakai bahasa Indonesia juga mereka gak masalah, kok. Kita kan mau jadi turis, bukan lamar jadi warga negara!

Agar hati lebih terang benderang, berikut ada pertanyaan-pertanyaan yang sempat menggelayuti hati dan diberikan langsung jawabannya oleh Kedutaan Amerika





Yang masih misterius adalah jawaban untuk pertanyaan "Berapa minimal uang di rekening?" 
Ada yang menyarankan $5000, ada yang bilang $10000, ada juga yang cukup menenangkan; “Yang penting bisa bikin yakin si pewawancara kalau elo gak akan jadi gelandangan di Amerika.” 
Jadi siapkan jumlah tabungan minimal bisa buat bayar tiket pp pesawat + hotel + makan + transportasi selama di Amerika. 

Ah, semoga yang baca postingan ini dikasih rezeki berlimpah dan kemudahan wawancara visa, AMIN!



Monday, January 12, 2015

Makan Enak Diskon Banyak

Ini adalah pertanyaan terpopuler dalam hidup saya, 6 bulan belakangan ini: “Apa yang bikin betah di Ubud?”

Salah satunya: tempat makan! Gak sekadar bikin perut kenyang, tapi hati riang. Kan kalau mood asyik, mau ngapain aja jadi seru. Kerjaan banyak juga hajar!

Asyiknya Ubud, banyak tempat nongkrong standar internasional dengan harga relatif terjangkau. Ya, yang mahal gila juga ada, pilah pilih saja sesuai kesanggupan dan kenyamanan.

Serunya Ubud, selain banyak tempat nongkrong, bisa dapet diskon pula dengan satu kartu VIP dari Best Trip Advice. Sejujurnya saya jarang-jarang naksir kartu diskon, karena seringkali yang didiskon bukan toko-toko favorit. Misalnya diskon 20% beli gayung di toko besi X. Ya kali, bakal beli gayung tiap minggu. Atau diskon 10% setiap beli susu kuda liar di pulau seberang setiap Rabu malam. Udah mah gak doyan susu kuda, ya masa harus nyeberang pulau dengan syarat hari tertentu pula.

Nah, kalau VIP card ini ngasih diskon di tempat-tempat yang kebetulan sering saya kunjungin selama tinggal di Ubud!
Beberapa di antaranya:
- Bali Buda Cafe
- Cafe Des Artistes
- Clear Cafe
- Kafe
- Cafe Vespa
- XL Sisha Lounge
- Sari Organik
- Kebun Bistro
- Seniman
- Warung Citta Pizza
- Bintang Supermarket (lt 2)

Dan masih BANYAK lagi!

Berhubung sedang tinggal untuk jangka lama di Ubud, saya pilih kartu pemakaian setahun seharga $89.00. Sebelum teriak “kok mahal”, bayangkan, dalam sehari saja ternyata VIP card ini sudah bikin saya berhemat > $100, karena diskonnya gak cuma di tempat makan doang.
Nih, catet bocorannya, pasti berguna kalau suatu hari ke Ubud:

- Makan malam di Fivelements with 20% off – Hemat Rp.280.000
- Gratis raw or cooked sweet treat of the day pas belanja di Buda Mart
- Gratis smoothie pas makan di Clear Cafe
- Dua jam hot stone massage + Tea + Lunch & Dinner + Dessert + all day swimming pool, cukup bayar Rp 425.000 = hemat 70% dari harga asli Rp 1.600.000
- Pita Maha Spa, dapet: 1 jam Balancing Balinese Massage + Afternoon Tea & Balinese Cake (3-5PM) + all day swimming pool,  cukup bayar Rp 250.000 = hemat 60 % dari harga asli Rp 631.350 - Tjampuhan Spa:  facial + 1 hour Balinese massage + natural hot & cold inside gratto swimming pool + sauna + steamer all day, cukup bayar Rp. 350.000 = hemat 45% dari harga asli Rp 633.937 *plus 20% off for F & B at the restaurant
- Tjampuhan Spa Half Day, cuma Rp 60.000 bisa dapet:  natural hot & cold inside gratto swimming pool + sauna + steamer all day!

Hey, hematnya ini juga berlaku buat beli kartu untuk pilihan 1/15/30 hari, loh! Cocok buat yang mau liburan di Ubud. Kartunya bakal diantar langsung ke tempat kita menginap!

Asyiknya lagi, VIP card ini bisa dipakai di restoran untuk 2-4 orang. Bisa bikin happy satu geng, tuh!
Nah, khusus buat kamu yang sudah menyempatkan baca ini bisa beli kartu VIP card dengan kode kupon VABYO, langsung dapet diskon 10%! Woaw, diskon berganda!

Kalau sudah beli bolehlah kabar-kabari, siapa tau bisa ngopi bareng di Ubud!


Tuesday, January 06, 2015

Berburu Lezat di Seoul: Si Wha Dam—Korean Fine Dining

Apa saat paling menghibur saat naik pesawat terbang?
Ah, tentu saja: makan!

Tak terkecuali saat di Korean Air, menu makan malam yang disajikan adalah Bibimbap, terdiri dari cincang sapi, berbagai sayuran segar, minyak wijen dan gochujang; pasta pedas. Mangkuk sebelahnya berisi cauliflower cream soup & nasi.



Tanpa pikir panjang, saya memasukkan daging & sayuran ke dalam sup, lalu makan dengan lahap. Ternyata salah langkah.

“Oh, maaf, saya tadi tidak bilang cara makan Bibimbap ini, ya! Tunggu akan saya ambilkan menu baru!” Sang pramugari yang melewati kursi tampak panik melihat isi mangkuk saya.

“Gak masalah, kok. Lagian sudah mau habis,” Saya lantas menelaah mangkuk, menerka apa yang salah. Tapi dia secepat kilat melengos ke balik gorden.

“Jadi begini, campurkan daging sayuran ini dengan nasi, lalu bubuhkan gochujang sebanyak anda suka,” Sang pramugrasi berparas cantik itu kembali memberikan saya menu utuh, alhasil makan 1.5 porsi deh!

Kiat sesat: jadi kalau mau nambah makan bibimbap di Korean Air, pura-pura salah campur saja, yuk!



Semendaratnya di Seoul, saya tidak berharap banyak, alhasil sering terhenyak!
Mulai dari para nona aduhai yang jajan-jajan cantik tengah malam, sepasang romantis yang saling bergenggaman dalam gerimis manis, atau sekadar bos muda yang sedang sengit mempertaruhkan karir di telepon. Berasa terjun langsung ke layar drama korea.











Lalu, apa saat paling menghibur saat kaki memijak daratan?
Ah, masih sama, kok: makan!



Di darat pun saya berkesempatan mencoba beberapa versi bibimbap; yang ternyata masuk jajaran makanan terlezat dunia versi CNN travel!
Jadi ya, setelah ngobrol sama tukang masak andal di Seoul, bibim berarti campur, bap berarti nasi. Oh, jadi nasi campur!



Bibimbap ini fleksibel banget; bisa disajikan dingin saat musim panas dan disajikan panas saat musim dingin. Dalam satu porsi bibimbap setidaknya bakal punya 5 sajian warna yang masing-masing berbeda nutrisi dan punya lambang arah mata angin & bagian tubuh; hitam untuk utara & ginjal (contoh: jamur shitake), merah untuk selatan & jantung (contoh: cabai), hijau untuk timur & hati (contoh: bayam), putih untuk barat & tenggorokan (nasi), kuning untuk pusat & perut (contoh: telur).

Berhubung jadi penasaran nyicip sajian ala Korea lainnya. akhirnya nanya sana sini restoran paling enak di Seoul. Terlontarlah nama paling sering disebut: Si Wha Dam.

Si Wha Dam berkonsep fine dining; jadi menawarkan menu Korea bergaya barat. Karena kalau menu 'korea beneran' kan konon 'sekali dateng langsung banyak mangkuk'. Ya udah gak perlu ribet, karena Si Wha Dam mengenalkan diri sebagai Modern Korean Restaurant.

Oh ya, tenang, ke sini gak perlu dandan ala kawinan, kok. Saya pakai kemeja flanel, celana jeans dan sepatu keds, bisa melenggang memasuki ruangan berdinding pastel dan berpenerangan nyaman.

Terus, setiap meja tertutup sekat, jadi bisa heboh melototin racikan cantik (baca:  “aduh sayang banget dimakan”) mereka secara saksama.
Tapi kalau ditilik-tilik dari arti Si = puisi, Hwa = bunga, Dam = cerita, jadi mengerti kenapa mereka menyajikan berbagai menu Korea secara artistik.

Dimulai dari tatakan piring dari tembikar pedesaan sampai bentuk sayuran bermotif bunga yang dikemas menawan, jadi berasa melahap bulat bulat galeri seni! Sudah gitu ya, kita makan diiringi musik petikan gayageum, semua panca indera dimanjain!







Nama menu-menunya sungguh puitis, salah satunya: 'bowls of blowing wind from salt ponds, the flower of salt’.  Efek pitanya berhasil bikin berasa berangin-angin, sih.



Ada juga menu yang kalau ditelaah mirip taman. Sungguh ya, daging dan jamur di atas batu panas itu beradu pamer kenikmatan di lidah!




Nah, ini menu favorit saya: Kimchi Meets Pasta: tart kimchi lembut berpadu dengan spaghetti tinta cumi!




Kalau mau booking Si Wha Dam, bolehlah telepon ke 02-738-8855. Buka 11am–3pm & 6pm–10pm.
 Alamatnya di 152 Insa-dong, Jongno-gu, Seoul. Kalau naek subway bisa ngincer Jongno 3-ga Station (Line 1, 3, 5) + exit 5.


Laporan makan belum kelar, ngider dulu ya!

Monday, November 24, 2014

Stay Smart When On Holiday!

“Kalau memang sesenang ini sama pantai, kenapa milih tinggal di Ubud?”

Begitu biasanya pertanyaan mereka setelah mendengar jati diri saya saat kami bermain-main di berbagai pantai pulau Bali. Kalau memang benar-benar ingin tahu jawabannya; “Saya masih butuh merasakan sedikit perjuangan untuk mendapatkan apa yang saya mau.”

Lagian jarak Ubud ke pantai terasa relatif dekat, apalagi bila terbiasa macet-macetan di Jakarta.
Dalam sebulan, saya pastikan akan selalu ada acara kabur ke 'selatan', terserah saja mau di pantai mana, yang penting tempat bobo-nya nyaman buat kerja dan istirahat.

Nyaman versi saya gak bikin repot kok, cukup ada sofa dan bantal empuk, temperatur sejuk, dan tentu wi-fi kencang!

Nah, untuk akomodasi setiap kabur, saya bobo di Holiday Inn Express. Selain lokasinya strategis (baca: dekat dari pantai), harganya terjangkau. terlebih bisa memberikan kenyamanan yang benar-benar saya butuhkan, bahkan lebih.





Lebihnya adalah pas sarapan pagi, mereka punya layanan Grab & Go. Jadi buat yang lapar dan buru-buru, bisa bawa sarapan keluar hotel.



Mmh, saya sebenarnya punya banyak waktu sih, jadi selain makan di hotel, diam-diam tetap ngerampok croissant buat camilan teman nulis tepi pantai!
Terus gak perlu waswas kalau bawa baju dikit, ada laundry room sekaligus bisa setrika-setrika lucu!



Pas giliran mau pemanasan di ruang dingin sebelum jogging tepi pantai, eh ada fitness room!



Kala kolega datang untuk rapat proyek-proyek asyik pun, Holiday Inn Express sigap dengan meeting room-nya!



Jadinya selama bobo di Holiday Inn Express bebas waswas dan sesuai dengan brand value mereka yang “Wow Smart Banget” ini. Bahkan kampanye ini juga menampilkan Comedy Night di Eatology Jakarta, 19 November kemarin dengan tema ‘Gak Smart Banget!’, menampilkan enam komika Indonesia yang berbagi guyonan kocak yang Gak Smart Banget!’ saat berpergian & perbandingannya yang Wow Smart Banget!’

  

Kalau masih penasaran bisa intip video kompilasinya di sini.

Wah, bakal makin seru tuh kalau acara ini digelar di berbagai kota Indonesia ya! Saya pasti gak akan berkeberatan buat menggelinding bobo-bobo ganteng di Holiday Inn Express terdekat! Abisnya mereka punya semua yang benar-benar saya butuhkan.

Misi ah, mau nyebur dulu!



Monday, November 03, 2014

Ke India & Afrika via Bali Safari!

Kalau jalan-jalan di Bali mergokin anjing liar atau ular, saya sih udah bisa woles. Tapi kalau ketemu singa, mending lari!!



Untungnya ketemu doi cuma di Bali Safari!

Sejujurnya saya baru tahu keberadaan Bali Safari ini dari sohib yahud; Indra, yang kebetulan lagi liburan di Bali. Pas intip peta lokasi Bali Safari & Marine Park ini, ternyata masih terletak di Gianyar. Gak jauhlah dari tempat tinggal saya sekarang, Ubud: naik motor cuma 1/2 jam. Kalau mau pakai shuttle bus mereka juga bisa!

Begitu sampai di gerbang utama, saya diantar mas bli mengendarai mobil terbuka. Wuih, berasa di lokasi film Jurassic Park!



"Kebun binatangnya di mana, Pak?"
"Ya ini."
"Loh, tapi satwa semacam harimau, macan, dan sebangsa karnivora yang pandai meloncat itu beda hutan kan?" Mendadak tegang membayangkan kalau hewan hewan itu ikut duduk hore di kursi sebelah! Belum juga makan siang masa sudah jadi umpan hewan.



Untunglah, hewan terliar yang kami lewati hanya buaya, itu pun terlindungi pagar. Fyuh!
Mobil tiba di lobby Mara River Safari Lodge, tempat Indra menginap.

"Lo mesti lihat kamar gue semalem; dikelilingin badak, singa dan zebra."
 Ya ampun, dari tempat cuci tangan restauran saja, hewan-hewan yang disebutkan Indra tadi sudah terlihat melalangbuana!




Dan bahkan perjalanan keliling hutan ini belum resmi dimulai!
Wah, kita kemana dulu ya?
Apa ke Kampung Gajah dulu biar bisa jalan-jalan keliling hutan naik gajah Sumatra?



Atau mau intip Fresh Water Aquarium? Ada koleksi berbagai ikan lucu dari Indonesia, Amerika Selatan dan Afrika. Kalau mau lihat Piranha dikasih makan, bisa intip jam 1/2 11 pagi dan 4 sore. Jangan iseng nyebur ya!




Nah, ini favorit saya: Safari Journey! Naik mobil ber-AC keliling hutan yang dibagi tiga habitat: Indonesia, India dan Afrika sambil berkenalan dengan para makhluk seksi yang sedang asyik ngobrol, mandi, atau sekedar goler asoy di tepi jalan. Sambil jalan-jalan, ada guide yang asyik ngegosipin kelakuan para hewan safari ini.



"Kalau anda lihat buaya membuka mulutnya, itu bukan pertanda dia lapar. Tapi dia lagi asyik mendinginkan suhu tubuhnya."
Ups, saya pun segera mengatupkan bibir rapat-rapat, takut disangka buaya.



























Buat yang demen ngider malem-malem, bisa juga ikut Night Safari. Jadi keliling hutannya malem-malem, naik mobil yang didesain ala kandang raksasa. Sekalian bisa ngasih makan mereka juga.



Untuk yang tertarik pertunjukan teater tentang kultur Bali, bisa nonton Bali Agung Theatre Show, menceritakan legenda King Sri Jaya Pangus. Buat yang mau belajar tari Bali, ada juga kursusnya tiap hari, loh!

Eh, sebentar. Kok ada yang jejeritan ya? Jangan-jangan ada yang nekad flirtingin macan tutul?!
Oh, bukan! Teriakan tadi terdengar dari area fun zone & waterpark!
Wuih, asyik banget naik Spinning Coaster bisa menikmati pemandangan laut dan pegunungan saat di rel teratas!
Izinkan saya ikut jejeritan macho, karena kursi pun diputar-putar dengan semena-semena di saat tak terduga!


Yang gak kalah jerit, kami juga naik Go Go Bouncer; bentuknya menyerupai cumi-cumi ber-12 tentakel. Mesin ini membawa kami melayang ke udara, lalu dihempaskan ke atas bawah berkali-kali, berasa lagi kena turbulence dahsyat di pesawat! Saat mesin berhenti dan saya kira sudah boleh turun, taunya si cumi berjalan mundur, dan kami pun disiksa asyik kembali!

Kesenangan ditutup dengan naik perahu di Jungle Cruise. Musik dan suara air terjunnya bikin pengin bobo siang.



Wah, sungguh menyegarkan jiwa raga jalan-jalan di Bali Safari seluas 40 hektar ini! Ternyata hati bahagia sekali berinteraksi langsung dengan sesama makhluk hidup lain penduduk bumi. Semoga para bintang hutan betah, sehat dan bahagia selalu!





Ngomong-ngomong saya curiga, jangan-jangan mereka pun diam-diam asyik membahas kelakuan para manusia yang setiap hari berdatangan, ya?
"Kamu perhatiin gak, Pir. Kok manusia kalau foto-foto kita pun tetep harus ada wajah mereka ya?" Tanya babirusa pada sahabat tapirnya.

"Bodo amat, ah."

"Kok gak ada yang mau selfie bareng gue?"