Search This Blog

Showing posts with label cafe. Show all posts
Showing posts with label cafe. Show all posts

Monday, January 12, 2015

Makan Enak Diskon Banyak

Ini adalah pertanyaan terpopuler dalam hidup saya, 6 bulan belakangan ini: “Apa yang bikin betah di Ubud?”

Salah satunya: tempat makan! Gak sekadar bikin perut kenyang, tapi hati riang. Kan kalau mood asyik, mau ngapain aja jadi seru. Kerjaan banyak juga hajar!

Asyiknya Ubud, banyak tempat nongkrong standar internasional dengan harga relatif terjangkau. Ya, yang mahal gila juga ada, pilah pilih saja sesuai kesanggupan dan kenyamanan.

Serunya Ubud, selain banyak tempat nongkrong, bisa dapet diskon pula dengan satu kartu VIP dari Best Trip Advice. Sejujurnya saya jarang-jarang naksir kartu diskon, karena seringkali yang didiskon bukan toko-toko favorit. Misalnya diskon 20% beli gayung di toko besi X. Ya kali, bakal beli gayung tiap minggu. Atau diskon 10% setiap beli susu kuda liar di pulau seberang setiap Rabu malam. Udah mah gak doyan susu kuda, ya masa harus nyeberang pulau dengan syarat hari tertentu pula.

Nah, kalau VIP card ini ngasih diskon di tempat-tempat yang kebetulan sering saya kunjungin selama tinggal di Ubud!
Beberapa di antaranya:
- Bali Buda Cafe
- Cafe Des Artistes
- Clear Cafe
- Kafe
- Cafe Vespa
- XL Sisha Lounge
- Sari Organik
- Kebun Bistro
- Seniman
- Warung Citta Pizza
- Bintang Supermarket (lt 2)

Dan masih BANYAK lagi!

Berhubung sedang tinggal untuk jangka lama di Ubud, saya pilih kartu pemakaian setahun seharga $89.00. Sebelum teriak “kok mahal”, bayangkan, dalam sehari saja ternyata VIP card ini sudah bikin saya berhemat > $100, karena diskonnya gak cuma di tempat makan doang.
Nih, catet bocorannya, pasti berguna kalau suatu hari ke Ubud:

- Makan malam di Fivelements with 20% off – Hemat Rp.280.000
- Gratis raw or cooked sweet treat of the day pas belanja di Buda Mart
- Gratis smoothie pas makan di Clear Cafe
- Dua jam hot stone massage + Tea + Lunch & Dinner + Dessert + all day swimming pool, cukup bayar Rp 425.000 = hemat 70% dari harga asli Rp 1.600.000
- Pita Maha Spa, dapet: 1 jam Balancing Balinese Massage + Afternoon Tea & Balinese Cake (3-5PM) + all day swimming pool,  cukup bayar Rp 250.000 = hemat 60 % dari harga asli Rp 631.350 - Tjampuhan Spa:  facial + 1 hour Balinese massage + natural hot & cold inside gratto swimming pool + sauna + steamer all day, cukup bayar Rp. 350.000 = hemat 45% dari harga asli Rp 633.937 *plus 20% off for F & B at the restaurant
- Tjampuhan Spa Half Day, cuma Rp 60.000 bisa dapet:  natural hot & cold inside gratto swimming pool + sauna + steamer all day!

Hey, hematnya ini juga berlaku buat beli kartu untuk pilihan 1/15/30 hari, loh! Cocok buat yang mau liburan di Ubud. Kartunya bakal diantar langsung ke tempat kita menginap!

Asyiknya lagi, VIP card ini bisa dipakai di restoran untuk 2-4 orang. Bisa bikin happy satu geng, tuh!
Nah, khusus buat kamu yang sudah menyempatkan baca ini bisa beli kartu VIP card dengan kode kupon VABYO, langsung dapet diskon 10%! Woaw, diskon berganda!

Kalau sudah beli bolehlah kabar-kabari, siapa tau bisa ngopi bareng di Ubud!


Friday, October 24, 2014

10 writer-friendly cafes in Ubud


Supposedly, being a writer is about being mentally prepared for rejection. Either by publishers, readers or waiters.

Here's the case.
You're on vacation in Ubud, but you still have deadlines that can't be missed. As you open your laptop in public, people around you start giving you that bitchy stare like those “it” girls at school. You probably act like you don't care, but what you need is “workcation” amenities.

So, before rejection kills you, these writer-friendly cafes will help you relax to get down with your laptop and a cup of coffee to writing the first draft of a novel, sexy lyrics, a dirty diary or whatever you want to write.

But before we walk down the streets, let me give you my definition of a “writer-friendly café”: varied prices ranging from cheapy to pricey in one location, relaxed waiters that still smile if you only order a single cup of coffee, comfortable seats and cozy from the couch to the gazebo and, of course, free WiFi -- hey, in the end we still need the Internet to send in our work, right?

If your head kept nodding while you read the above list, join me as I explore Ubud from the west.

( I wrote this article for The Jakarta Post Travel. So please continue reading here)

Wednesday, October 01, 2014

Keliling Ubud: 10 Tempat Makan Ramah Penulis


Memangnya ada tempat makan yang judes sama penulis? Belum pernah nemu, sih.Tapi tempat yang akan saya koar-koarkan berikut ini bisa jadi pilihan asyik bagi penulis untuk bekerja; Entah menulis buku, lagu, blog, naskah, resep masakan atau malah diari. Hei, apa pun kini bisa jadi sebuah karya, bukan?

Nah, kalau tempat makan menyenangkan bagimu adalah:
Harga variatif (mau makan kenyang, ayo. Mau ngopi doang mulai 20 ribuan, bisa!)
Pelayan ramah (gak dijutekin kalau kerja kelamaan—padahal ngeteh doang)
Tempat nyaman (bisa leyeh-leyeh di sofa, duduk manja di kursi atau selonjoran ngampar!)
Tentu saja penting: ber-WIFI kencang (walau kadang penuh ujian)

Kalau setuju, mari ikut saya menelusuri Ubud mulai dari arah barat!

1. Bambu Indah
Lokasi: Jl. Sayan


Pertama kali mampir ke Bambu Indah, saya kira ini 'cuma' hotel butik yang restaurannya tak bisa didatangi tamu luar. Eh, ternyata bisa! Dan menyenangkan!
Paling asyik nongkrong di sini sore-sore, menjadi saksi matahari terbenam. Sambil menikmati secangkir kopi, semangkuk es krim, atau segelas wine chardonnay.
Coba juga minta izin sama sang pelayan buat keliling kompleks, bersiaplah menemukan banyak tempat memukau!



Spot nulis asyik: Bale-bale menghadap Sungai Ayung!
Boleh coba: Sate Tempe & Ayam Bumbu.

2. Cafe Vespa
Lokasi: Jl. Penestanan


Menunya beragam, dari japanese sampai lebanese; dari sushi set sampai saus hummus! Menunya juga bisa mendua; berdaging atau vegetarian.
Teh herbalnya juga juara menyembuhkan rada tenggorokan dan migren.

Spot nulis asyik: Meja panjang ujung ruangan; bisa gabung sama pengunjung lain, kali aja kan jodoh.
Boleh coba: Cheese Platter & Vegetable Stack. Coba juga roti Ciabatta yang dibuat setiap hari, colek pakai mentega hangat. Pilihan teh herbal: lemongrass herb + spices & rooibos

3. Kopi Desa
Lokasi: Masih di Jl. Penestanan


Setiap cafe pasti berlomba menawarkan kenyamanan. Kopi Desa menawarkan kenyamanan bertandang ke rumah saudara di desa; dimulai dengan lepas sandal saat masuk ruangan.
Ruangan dihangatkan rak buku dan hiburan instan; entah dari pengunjung yang sekadar bermain gitar atau nonton film bareng lewat proyektor.

Boleh coba: mixed vegetable omelette, mocha coffee.
Meja nulis asyik: Di sofa bagian kanan teras. Bisa sekalian ngecengin yang numpang lewat.

Yang kocak, di depan Kopi Desa hampir selalu bertengger motor Vespa, yang sering membuat orang terkecoh nyangka mereka Cafe Vespa. Ide pembalasan: Cafe Vespa mungkin bisa pasang papan menu dengan tulisan “jual KOPI dari DESA”.

4. Round Bar
Lokasi: Masih di Jl. Penestanan juga. Tapi tenang, cafe berikutnya akan beda jalan, kok.


Dari Kopi Desa menuju Round Bar akan melewati liukan curam nan gelap, bikin deg-degan buat yang masih belajar motor dan bikin gelap linglung kalau siang-siang pakai kacamata hitam. Tapi kelamaan, penestanan jadi trayek menyenangkan buat ugal-ugalan. Hush!

Boleh coba: Aneka pizza, burger, dan uh... pukul 5-7 sore ada Happy Hours, 30% off buat cocktails.
Meja nulis asyik: di meja depan yang nyatu sama tiang. Musik raggae yang mereka putar bikin berasa di pinggir pantai!

5. Dapurku
Lokasi: Jl. Raya Ubud


Begitu masuk ke Raya Ubud dari Penestanan, lurus terus sampai nemu umbul-umbul & lampion berwarna-warni. Patokannya ada di antara apotek Guardian dan belokan ke Tirta Tawar.

Dapurku menyediakan menu parasmanan beragam yang menyenangkan lidah sunda saya. Yang seru, menu gonta-ganti setiap hari dan bisa request pula!Pernah suatu hari saya ngidam petai bakar, yang langsung dikabulkan mereka. HUAHH!!
Harganya pun murah memukau. Untuk gambaran: sepiring nasi uduk, perkedel 3 buah, sayur bayam, balado ayam, bakwan, telur rebus dan es teh manis dingin hanya 25 ribu rupiah! Psst, kerupuk gratis!
Setiap sore, mereka juga menyediakan menu bubur ayam dan berbagai sup hangat.

Boleh coba: Sup Iga, bahkan tulangnya pun enak dan lunak!
Meja nulis asyik: Lesehan paling depan yang menghadap jalan. Tapi kalau sekiranya lagi lapar berat, duduklah di meja paling belakang dekat meja buffet.


6. Abe Do
Lokasi: Jl. Tirta Tawar
Dari Dapurku tinggal lurus dikit dan belok kiri!
Saya hobi jalan-jalan sore naik motor di Tirta Tawar atau Desa Kutuh ini, aspalnya mulus sekali dan relatif sepi. Pemandangan sawah hijau segar bikin hati bugar!
Eits, hati-hati warung organik Abe Do-nya malah kelewatan! Tempatnya mini, jadi datanglah di jam-jam non-orang-kebanyakan-laper.



Boleh coba: aneka jus sayur buah organik & grilled chicken.
Meja nulis asyik: meja paling belakang menghadap pintu.

7. Kebun Bistro
Lokasi: Jl. Hanoman


Dari Tirta Tawar, kita ke Raya Ubud lagi, belok ke Hanoman!
Dekorasi Kebun Bistro membuat kita berasa tiba-tiba ada di sebuah cafe pinggir jalan Prancis. Perhatikan saja tempat lilin atau lampu chandelier mereka, membuat siapapun yang kita temui ingin bilang J'aime beaucoup ce que vous faites!

Boleh coba: French onion soup, tenderloin beef steak.
Kopi italian dark roast pakai french press.
Meja nulis asyik: Di bangku paling luar. Di Kebun Bistro paling asyik nulis pakai pulpen! Mari kembali ke notebook yang sesungguhnya.


8. Kafe
Lokasi: Jl. Hanoman


Masih sejajaran dengan Kebun Bistro, tinggal jalan dikit, menclok ke Kafe!
Iya, namanya memang Kafe. Jadi kalau diajak “Ke Kafe, yuk!” lalu kita tanya “Cafe mana?” dan alisnya mengerut, bisa dipastikan cafe yang ia maksud adalah Kafe!


Meja nulis asyik: Di mana pun di lantai 2. Kalau lagi adem, pilih area balkoni.
Boleh coba: Pesto & Herb Feta Cheese. Minta ekstra Olive Oil. Aih sedapnya!


9. Pizza Bagus
Lokasi: Jl. Raya Pengosekan
Dari Hanoman mari lurus terus sambil curi-curi pandang sebelah kanan, siap-siap belok ke Pizza Bagus! Dan saya setuju, pizzanya memang bagus, baik dari tampilan, harga dan rasa.
Selain makan, di sini juga bisa belanja keperluan pangan. Kapsul kapsul kopi untuk mesin pun tersedia dengan menawan. Bumbu-bumbu rempah pun bertebaran penuh pesona.

Boleh coba: Pizza apa pun dengan ekstra mozarella!
Meja nulis asyik: Di meja tinggi kanan dekat pintu masuk.


10. Warung Sopa
Lokasi: Jl. Nyuh Kuning


Dari Raya Pengosekan, lurus terus ke arah selatan (sudah seperti orang Bali gak sih; pakai arah mata angin), siap-siap belok kanan ke Jl. Nyuh Kuning. Perlambat langkah atau kendaraanmu, Warung Sopa ada di sebelah kanan, tidak jauh dari persimpangan.
Setiap ke Warung Sopa, saya mendadak rela kalau ditakdirkan jadi vegetarian selamanya!


Boleh coba: lumpia pakai sambal matah. Setiap Rabu dari 9 pagi sampai 1 siang ada Ubud Organic Market.
Meja nulis asyik: Di lesehan sambil disapa angin sepoi-sepoi.

Berakhir sudah tur Ubud edisi ngafe-ngafe ala penulis ini. Kalau kaki pegal, di sebelah Warung Sopa ada pijat refleksi, loh!

Selamat berkeliling ria & menulis sadis!


Sunday, September 14, 2014

Bersepeda Ria Menguak Rahasia Melbourne

Click here for English language

Kalau London punya sungai Thames, Melbourne pun boleh bangga dengan sungai Yarra. Sejenak duduk manis di pesisir sungai Yarra mampu memecah gundah.
Namun kali ini duduk tidak akan lama-lama, karena kami akan bersepeda ria keliling kota bareng Real Melbourne Bicycle Tours!


Kenapa bersepeda keliling kota? Karena jalan kaki pegel, naik kendaraan bermotor sering ribet kalau sering-sering parkir.
Kan, keliling kotanya sambil lihat jalanan bebatuan biru berkilauan ala Melbourne atau sambil raba-raba daun merah berkemilauan di taman Fritzroy!

Yang mengasyikkan, kami bersepeda dipandu oleh Murray Johnson, seorang jurnalis & fotografer. Jadinya selain berhenti di sudut-sudut asyik yang fotojenik, Mas Murray seringkali menceritakan kisah-kisah sejarah tempat yang kita hinggapi, seperti kenapa dahulu Melbourne sempat dinamakan Batmania (diambil dari salah satu nama penemu: John Batman) atau kenapa Lygon St dinobatkan sebagai little Italy (mari jelajahi sendiri saja :p).

Saya sering curi-curi jajan saat rehat kilat. Abis bayangkan, sepanjang jalan Brunswick, Smith & Gertrude dipenuhi perumahan bohemian, seni lukis jalanan, toko buku, kios vintage, kedai es krim, cafe dan bahkan barbershop yang memberikan Aussie beer gratis setiap potong rambut. Sayang rambut saya masih cepak.

Ini sedikit dari banyak penemuan asyik yang sempat saya potret saat bersepeda gembira.

Books for Cooks di Gertrude St. Bekal buat bisnis kuliner, nih!
Ada cafe eklektik menggemaskan di Moor St: Grub Food Van!
Gimana gak gemes, tiba-tiba di dalem ada pohon pisang!

Pasti ada yang istimewa kalau di hari yang dingin toko es krim masih dikerubutin. 
Gelato Messina ini memang lezat!


The Royal Exhibition, dibangun 1879, merupakan UNESCO world heritage.
Carlton Gardens seluas 26 hektar. Puas berputar-putar!

Kiat kilat bersepeda di Melbourne dari Mas Murray:



- Walau ada lajur khusus sepeda, awasi mobil yang sedang parkir. Ada beberapa kasus penyepeda jatuh terpelanting karena terdorong pengendara yang membuka pintu mobil dengan kencang.
- Bersepedalah dengan berbaris, terutama di jalanan padat. Tapi saya sering lupa diri jadi bersepeda berendengan demi asyik ngobrol atau minta difoto. Haha, maaf!
- Kadang saking asyiknya lihat pemandangan, bersepeda jadi lambat. Kasihan yang di belakang jadi terhambat, apalagi saat di persimpangan jalan saat lampu hijau segera berakhir. Suka lupa, yang bersepeda di kota ini kan gak cuma turis ya.
- Hati-hati saat melalui lajur tram, karena bisa bikin roda sepeda nyelip. Dan saya sudah membuktikannya! Malu deh, soalnya saat roda sepeda bersinggungan tramline, bunyinya keras banget dan bikin oleng. Untung sigap lompat!

Me & Mr. Murray Johnson
Nah, nanti jalan-jalan di Melbourne pakai sepeda saja, yuk! Telepon saja +61 417 339 203 atau e-mail biketours@rentabike.net.au
Jangan lupa bagi-bagi penemuan asyik versimu ya!

Friday, September 12, 2014

Jelajah Perkebunan Anggur di Rochford Winery Australia


Pagi itu kami dikawal angin dingin menembus jantung Yarra Valley, sekitar 50 km dari Melbourne. Sepanjang jalan dedaunan berhamparan di tanah seakan menegaskan bahwa musim gugur sedang bergegap gempita.

Beruntung dingin tidak merajarela, karena kami kemudian menempati sebuah ruangan hangat di Rochford, walaupun ada yang membuat mata saya terbelalak.



Agenda kami adalah pelatihan kilat khusus mengendarai Segway, kendaraan roda dua yang sekilas mirip otopet, tapi bermotor. Yang membuat terbelalak, sebuah layar menampilkan demonstrasi cara pemakaian Segway yang tak diperkenankan; seperti badan yang terlalu mendongak ke belakang atau saat terlalu bungkuk saat melewati lobang. Akibatnya fatal, bisa terpelanting. Yah, sama seperti naik motor, kalau terjerembab ke daratan keras kan bisa-bisa hilang nyawa. 

“Santai saja! Saya di sini akan memastikan kalau kita akan bersenang-senang!” Kelakar sang pemandu bernama Beck, menyadari raut wajah kami yang berubah horor.

Kami lantas digiring ke sebuah tenda besar di samping rerumputan, tempat para Segway berjajar rapi.


“Segway adalah kendaraan superpintar, ia bisa mengerti ke mana arah tubuh kita ingin melaju,” Beck mencontohkan cara menaiki Segway. Tampak mudah, “Hati-hati bila ingin turun, pastikan Segway telah berhenti sempurna, turunkan satu kaki dahulu,” kini ia mencontohkan cara turun. Ah, gampang! 

Tak sabar, Saya lantas menjejakkan kaki ke pijakan Segway. Tapi begitu kedua kaki sama-sama berada di pijakan dan tangan mencengkeram setang, kok terasa oleng dan gemeteran ya? Mendadak kalut.

“Tegakkan badan, perlahan condongkan ke depan,” Becky memperingatkan.

Pelan-pelan, ketika badan tegak sempurna, Segway pun ikut stabil. Saat condong ke depan, Segway pun perlahan maju. Wow, mendebarkan! Kapan coba terakhir kali mengendarai kendaraan bermotor dengan cara berdiri?

“Wah, bagaimana menghentikannya?” Teriak saya mendadak lupa pada ajaran teori di ruangan hangat tadi.

“Kembali tegakkan badan dan lemaskan genggaman pada setang!” Teriak Becky dari arah belakang.

Benar, saat poros setang menegak, Segway perlahan berhenti. 

Setelah Becky membiarkan kami bersuka ria mengelilingi padang rumput, ia mengajak kami menuju kesenangan yang sesungguhnya; menjelajah perkebunan anggur!




Di perkebunan ini chardonnay (anggur hijau) tumbuh terlindungi dari angin dan es oleh bukit. Biasanya mereka panen di minggu ketiga Februari. Anggur dihancurkan dan dipadatkan, disimpan di barel-barel sampai belasan bulan untuk proses fermentasi. 



Langit mendung dan rintik hujan tidak menghentikan ambisi kami menjelajah segala medan, walau agak ngeri juga saat Beck menantang kami melewati jembatan kecil yang menyeberangi kolam.

“Hati-hati jangan tercebur. Kolam ini agak dalam. Kuharap kalian semua bisa berenang!”

Oops, saking groginya, segway saya terantuk batu berlumpur! Untung kaki sempat refleks melompat, hingga akhirnya cukup terperosok manja saja ke dalam kubangan lumpur. 


1,5  jam yang diberikan kepada kami untuk menjelajah kebun anggur usai sudah. Rasanya cuma 15 menit. Ah, saya ingin mengendarainya seharian! Mengendarai Segway ini dari ragu sampai menggebu-gebu, ibarat bercinta dengan pasangan yang mengerti tubuhmu. Ketagihan!

“Harga Segway ini berapa ya?” Tanya saya iseng, membayangkan bisa memakainya di sekitar kompleks rumah.

“Sekitar 200 juta.”

Oh, bayangan itu mendadak pudar! 

“Mau beli?” Goda Beck.

“Mmh, kayaknya mau beli edisi yang ada kursi dengan roda menyamping deh, alias sepeda motor!” Kelakar saya. 

Usai berjelajah ria, kami dimanjakan berbagai hidangan istimewa ala Rochford. Salah satu favorit saya: slow cooked wagyu beef cheek yang lama masaknya hingga 24 jam! 




Diam-diam saat mengunyah daging empuk supernikmat itu, saya masih berharap menemukan Segway dengan harga lebih murah. Pasti ada versi made in China-nya, deh!

Tapi kalau dipikir-pikir ulang, kalau punya Segway, saya pun harus punya perkebunan anggur ini agar penjelajahan selalu menyenangkan!

Kalau gitu, ngider lagi, ah! 
Dadah!





Psst!
  • Klik sini untuk rute nyetir ke Yara Valley dari Melbourne & bandara atau klik sana kalau mau pilah pilih bus tur.
  • Untuk info lebih memukau seputar Segway Tour, intip sini  untuk intip intim Rochford intip sana.




Wednesday, May 21, 2014

Jelajah Manis Melbourne: Berburu Kue Lezat!

 Click here for English version

Diwajibkan puasa sehari sebelum mengikuti Queenie's Food Tour!
 
Sayangnya peringatan dalam brosur itu saya baca sesaat sebelum tur dimulai.
Jadi waswas, karena semalam baru saja pesta pasta di DOC Lygon St, paginya sarapan 3 croissant dan 2 chocolate muffin di Somerset.

Ah, tapi sebagai penggila manis, saya tak gentar! Bawa saya segera ke kerajaanmu, Mr Andrew Prior!


Eh, siapakah Andrew Prior? 
Dia adalah bos sekaligus pemandu tur berburu kue pagi ini. Kalau lihat potongannya, membuat saya 'Kok kayak pernah lihat di mana, ya?'

Setelah tilik punya tilik dan diam-diam googling, ternyata dia pernah nongol di kamar saya via saluran TV kabel, melalui acara Masterchef Australia 2013.

Foto dari website Masterchef Australia
"Selamat datang di Tur Mimpi Indah ala South Yarra! Saya telah menyisihkan waktu berbulan-bulan mencari kue-kue terlezat di Melbourne, dimulai dari toko yang akan kita datangi ini!

Diantara dedaunan cokelat kemerahan terombang-ambing dingin, saya diam-diam memerhatikan langkah Andrew, karena dari salah satu berita yang diam-diam saya baca, dia mengundurkan diri dari Masterchef karena cedera tulang lutut setelah syuting adegan lompat-lompat bahagia.


Langkah kami terhenti di sebuah cafe mungil di Toorak Rd bernama LuxBites. 

Wuih pandangan ini terampas oleh kue-kue yang terpampang di etalase.



Baby Let Me Love You Let Me LOVE YOU LONG TIME!

Hey, ada yang lagi berkonsentrasi penuh di dapur! Colak colek, ah!



Eits, setelah berkenalan dengan sang kreator LuxBites; Bernard Chu, ternyata ia berasal dari Malaysia. Reputasi Chu meroket saat dia berhasil menjawab tantangan produser MasterChef untuk membuat kue yang menggabungkan 6 cita rasa klasik loli khas Australia: daun mint, pisang, jaffa (aroma cokelat-jeruk), red skins, freckles dan musk sticks.

Psst, Bernard juga menceritakan rahasianya resep kuenya; contohnya saat mengganti daun spearmint (yang menggumpal kala panas) dengan krim bercita rasa mint yang terbuat dari minyak...kayu..putih! Wah, minyak tubuh favorit saya dijadiin kue!


Dan ini salah satu kue favorit saya,” Andrew menunjuk kue cokelat bernama Be My Love, berbahan mousse susu cokelat, krim rasberi, remah dark chocolate, chocolate glaze, freeze dried raspberry.

 


Setelah merem melek merasakan kenikmatan Be My Love yang hilir mudik di lidah, saya akhirnya memberanikan diri menanyakan sesuatu pada Andrew.
“Jadi gini,  saya barusan baca artikel tentang cedera lututmu,” Matanya berbinar, tampaknya ia tidak akan keberatan dengan topik ini, “Sekarang gimana keadaannya?”

Sudah membaik. Kadang-kadang masih kerasa sakit, tapi gak akan bikin saya berhenti melakukan tur ini!”


Jadi gimana sih, awalnya jadi koki dan gabung di Masterchef?”
Sebenernya, saya masih sebatas koki rumahan yang kebetulan punya hasrat besar pada makanan. Nah, kalau awal gabung dengan Masterchef, saat itu saya baru balik dari Paris dan males banget balik kerja di perusahaan asuransi. Saya pengin mengejar mimpi yang sesuai gairah saya. Saat itu saya pikir bergabung di Masterchef bisa memberikan banyak kesempatan baru, dan ternyata benar!”

Kami lantas berpamitan dengan Bernard dan segenap karyawannya, untuk kemudian menjelajahi toko berikutnya, masih di jalan yang sama; Toorak Rd, nomor 15: French Fantasies. Beberapa kursi di trotoar dipenuhi manusia penggemar sarapan. 


Begitu masuk ruangan, aroma roti menguar liar. “Selayaknya orang Prancis, kami membuat roti begitu serius,” kelakar salah seorang pegawai French Fantasies sambil menawarkan kami berbagai kue nikmat.


Selesai ngobrol-ngobrol sekejap dengan pemilik cafe, saya meneruskan rangkaian keingintahuan. 
"Kalau buat anda pribadi, seberat apa tantangan di Masterchef? Mereka ngasih petunjuk atau resep sebelum acara gak, sih?” 
"Nggak sama sekali, kita tidak mendapat kisi-kisi apapun, dan seperti kamu lihat, beberapa tantangan mereka sungguh gila. Tapi sekaligus menyenangkan!” 

"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, apa yang terjadi ketika kamera mati? Kelakuan orang-orang (seperti juri & kontestan) sama pas di TV, gak?”
"Sama saja, kok. Bisa jadi mereka tidak seliar di balik layar, tapi tidak ada yang dibuat-buat.”


Dari Toorak Rd, kami menelusuri jejalanan yang diseraki daun mapple yang terkenal dengan 5 sudutnya itu: kekuatan, kesederhanaan, kehangatan, keromantisan, dan kesetiaan. Dan saya mendadak ingin menanyakan kesetiaan Andrew pada acara yang membesarkan namanya.

Bakal balik lagi ke acara Masterchef gak sih, atau mungkin mau ikut audisi di acara lain?"Gak, gak akan sekarang. Selain sibuk mengurus bisnis tur makanan ini, saya juga lagi bahagia-bahagianya menikmati perubahan hidup. Tapi kalau mereka menginginkan saya kembali untuk peran khusus—seperti amal atau bantuan tantangan untuk para kontestan, saya tentu akan mempertimbangkannya. Saya rindu dapur mereka yang keren itu!"

Tepat saat Andrew menyebutkan dapur keren, tibalah kami di sebuah dapur yang memukau, beralamat di Claremont St; Zumbo. Neonnya mengingatkan saya pada sampul album Miley Cyrus.




Andrew menceritakan, Adriano Zumbo adalah seorang patissier dan koki yang hobi menantang para kontestan Masterchef dengan kreasi gilanya seperti: croquembouche tower ( semacam bola-bola sus tersusun dalam bentuk kerucut dan terikat benang dari sous karamel), V8 cake (kue yang mempunyai 8 lapisan vanilla lezat: Vanilla macaron, vanilla chantilly, toasted vanilla brulee, vanilla water gel, vanilla almond crunch, vanilla dacquoise, vanilla glaze, vanilla ganache), dan fairytale gingerbread house.

Foto dari website Zumbo



Aduh, kalau saya yang jadi kontestannya, tampak sudah mundur teratur dan mari kita santap kue carrot ini saja.

Secret Carrot's Business Cake!

 
Setiap melihat sesuatu yang berhubungan dengan wortel, saya selalu teringat masa kecil. Mungkin karena ibu gemar menyambut saya selepas pulang sekolah dengan semangkuk sayur sop yang penuh dengan potongan wortel, atau karena bacaan masa kecil saya: si Bobo yang gemar ngunyah wortel.


Eh, punya makanan tak terlupakan pas masa kecil, gak sih?”
Daging domba panggang buatan nenek dengan kacang yang ia tanam di halaman belakang rumahnya.”

Wah, sejenak saya rasakan kehangatan masakan dan senyum seorang nenek yang ingin membahagiakan cucu.


Jadi penasaran, ada makanan yang anda benci gak, sih?”
Saya akan mencoba semua makanan setidaknya sekali waktu, kecuali makanan yang melibatkan hewan-hewan yang tidak diperlakukan layak.”


Menurutmu, apa makanan yang saking nikmatnya harusnya diharamkan?”
Cokelat & custard!”

Uh, apalagi custard berlumuran cokelat meleleh ya, membayangkannya saja membuatku menelan air liur!


Tur kami lanjutkan dengan menembus angin yang kian dingin. Jangan-jangan matahari juga lagi asyik jelajah galaksi lain.

Andrew melambatkan langkah di Chapel St, membelok ke Burch and Purchese.




Memasuki toko ini membuat tangan gatal sekaligus waswas. Gimana gak gatal, bawaannya pengen nyomot dekorasi dinding yang terbuat dari cokelat. Waswas takut gak sengaja nyenggol toples-toples selai lezat.
 
Di antara toples lezat itu, saya tergoda membawa pulang salted caramel, sudah terbayang akan mengoleskannya pada setangkup roti gandum, memakannya bersama secangkir kopi panas.



Sang pemilik, Darren Purchese rupanya juga sering tampil di berbagai episode acara memasak TV Australia seperti Masterchef, The Circle, dan berbagai acara lainnya. Tiba-tiba saya merasa beruntung, bisa bertemu langsung para pemilik supersibuk ini!


Diam-diam, saya jadi iri dengan pekerjaan Andrew. Dan saya ingin mengetahui apakah Andrew menyadarinya, “Apa yang paling nikmat dari menjalankan bisnis tur ini?”

Yang pasti, saya menikmati jadi bos untuk diri sendiri, bekerja dengan partner, dan bertemu para pebisnis makanan hebat di Victoria!”
Ah, iya. Tentu saja Andrew tahu bahwa ia sedang berjalan di atas roda impian. Siapa yang tidak ingin tergila-gila dengan pekerjaannya sendiri?


Kalau orang Prancis bilang; A La Foile! Sebuah ekspresi yang menyatakan kegilaan dalam rasa jatuh cinta. Mabuk cinta. Cinta mati. Cinta bingits. Seperti kecintaan Mercédé Coubard—pemilik cafe berikutnya yang kami tandangi, untuk berbagai kreasi penganan dan kue ala Prancis yang ia buat sendiri.
 

Jadi, kalau siap tergila-gila dengan macaron & petits choux, mari bertandang ke A La Foile di 589 Chapel St dan siap-siap disergap suasana Paris, dari lagu dan wallpaper.
Dan—ow, pegawainya pun asli Prancis!






Mercédé Coubard tersenyum sumringah menyambut kami sambil menyuguhkan berbagai macaron warna warni. Dengan mata berbinar, ia menceritakan sepak terjangnya membuka usaha A La Foile, dari sekadar bikin kue yang disukai keluarga, sampai akhirnya nekat menjualnya pada orang lain.
Dan yang mengejutkan, tak jarang 'orang lain'nya itu adalah pesohor yang begitu ia kagumi, salah satunya:


Diambil dari instagram A La Foile

ichael Buble sudah datang dua kali ke sini, terakhir kemarin sore!” MMata Mercédé berbinar ceria saat mengucapkan nama idolanya, sedangkan saya diam-diam mengawasi pintu masuk. Siap siaga kalau Buble datang lagi!


Sambil mendengarkan obrolan renyah, jemari sibuk mengambil macaron Pistachio; yang ternyata berbahan kacang berkualitas tinggi dari Iran. Rasa kacangnya begitu kuat, namun berbaur manis dengan krim yang terasa lembut.





Saya masih ingat saat pertama kali menjalankan bisnis ini, entah berapa lusin macaron terpaksa saya buang karena rasanya tidak sesuai ekspektasi.” 
Duh, andai saat itu saya di sebelah Mercédé, pasti tidak keberatan menampung (baca: lahap brutal) macaron gagal itu!

Lidah belum selesai melumat renyah-lembut dan ledakan rasa krimnya, jemari sudah asyik mengambil varian Matcha & Redcurrant. Lagi-lagi saya terpukau dengan rasa yang saling melengkapi, bukan saling menyingkirkan! Seperti dua diva yang saling memberi sinar di atas panggung, bukan saling mendominasi ingin silau sendirian.

Mercédé pun permisi ke belakang meja bar, hendak melayani pelanggan lain.


Masih siap dengan serbuan cokelat istimewa?” Goda Andrew sambil memakai sweaternya, pertanda saatnya kembali hijrah.
 
Kami pun digiring ke sebuah cafe yang berbau semerbak kebahagiaan; Gànache Chocolate di 250 Toorak Rd!
Aroma cokelat menyeruak di setiap langkah, membuat kami seakan terhipnotis, seperti kucing-kucing kelaparan dalam film kartun yang terhuyung sampai ke lantai dua!


Di atas, seorang lelaki berseri-seri menyambut kami, “Ada yang mau bola cokelat?”




Ouw! Sirami aku dengan adonanmu, Mas!


Di samping dapur beberapa orang sedang asyik dengan adonan cokelatnya masing-masing. Ternyata mereka juga membuka Sekolah Cokelat! Ya ampun, kalau ada program beasiswanya, saya pasti daftar—dan kemungkinan besar ditolak karena saya pasti menghabiskan sepanci cokelat cair itu!

Sehabis ngalor ngidul ngobrolin cokelat, kami pun disuguhi berbagai minuman dan hidangan-hidangan gurih yang terasa begitu lezat, salah satunya croque monsieur. Selain memang enak, kenikmatannya berkali lipat karena sepagian ini kami dicekoki yang manis-manis; selayaknya senang dan sedih yang silih berganti, demi kehidupan ternikmati gurih. Yo'i.

Andrew pun tampak sangat menikmati kudapannya, mungkin karena ini memang perjamuan terakhir pada rangkaian tur pagi ini. 
Tapi pertanyaanku belum berakhir!

Apa yang menurutmu Melbourne adalah tempat yang hebat untuk berburu kuliner?”

Melbourne merupakan salah satu kota bermulti-budaya dunia dan memiliki setiap jenis masakan yang bisa anda bayangkan. Kota ini perpaduan budaya dengan jangkauan terluas dan berbagai pilihan harga yang fantastis untuk seorang pecinta makanan seperti saya.”


Kalau anda cuma boleh makan satu kue seumur hidup, mau pilih kue apa?”

Lolli Cake dari LuxBites! Cuma Bernard yang bisa membuatnya lebih enak daripada buatan saya—dan oh kontestan seangkatan saya di Masterchef: Christina!
Bernard Chu & Andrew Prior
Punya prediksi gak, kue apa yang bakal booming tahun ini?”

Saya rasa Petit Choux bakal jadi jagoan!”


Satu pertanyaan lagi, kalau Melbourne adalah kue, bakal jadi kue apa dan kenapa?”

Pertanyaan bagus! Jawabannya: Opera Cake, karena punya banyak lapisan lezat di setiap gigitan.”


Oke, saye berbohong! Karena punya satu pertanyaan terkahir untukmu! Kalau Andrew yang sekarang ketemu Andrew 10 tahun lalu, kira-kira bakal saling ngatain apa?
“Andrew tua akan sirik sama rambut si Andrew muda. Si Andrew muda bakal nasihatin Si Andrew tua untuk gak pakai kaus di TV karena ketuaan!”


Oops, saya mendadak memegangi rambut. Akankah saya 10 tahun ke depan menginginkan jambul asoy ini?




Hey, giliram saya yang nanya dong!”
Gleg. “Boleh!”



Apa yang paling kamu sukai dari Melbourne?"

Saya menyesap double shot sampai tak bersisa. Diam-diam saya meringkas cepat segala hal yang menarik sejak pertama kali menjejakkan kaki di Melbourne.



Saya suka bagaimana para Melbournians benar-benar menikmati apa yang mereka punya dan apa yang mereka lakukan. Kota ini semakin terasa berenergi oleh hasrat menggelegar para warganya.”



Saya tidak beromong kosong. Diam-diam saya asyik mengintip apa yang sedang mereka di balik dinding dapur kafe atau studio seni. Tertangkap gairah yang ingin saya rebut saat mereka sedang melukis dinding, memasak kopi, atau saat mengendarai segway di perkebunan anggur.



Dan salah satu dari para Melbournians penuh hasrat yang saya kagumi itu, salah satunya adalah Andrew Prior, karena dia berhasil membuat jelajah pagi ini begitu manis, baik di lidah maupun dalam kenangan.



Sebagai hadiah, ini lagu Kylie Minogue favoritmu, Andrew!





Oh ya, sebelum mengakhiri, ada satu dari tur pagi ini yang membuat saya iri. Para pelaku bisnis yang saya temui tampak sibuk saling bantu dan berkolaborasi; membuat saya teringat pesan orang tua; kalau bisa bekerja sama demi kesejahteraan bersama, kenapa harus sibuk saling menjatuhkan? 
 
Iya ya, apalagi kalau sudah saling sikut gitu sama-sama miskin juga. Ugh!


Eits, Jelajah Melbourne belum berakhir, saya akan membawamu keliling kota & mengendarai segway keliling perkebunan anggur!

Foto by Alex