Search This Blog

Loading...

Friday, March 13, 2015

Kehidupan Glamor di Ubud

Pada suatu masa, terdengar bisik-bisik memekakkan telinga, “Biasanya orang luar datang dan menetap di Bali karena kabur dari masalah.”

APA, seenaknya saja menghakimi!

Eits, tapi pas 2012, saya melakukannya sih; kabur dari kerusuhan emosi. Berawal dari cuma dua minggu, disusul berjuta rindu.
Akibat penasaran, apakah saya secinta itu sama Ubud atau hanya sebatas pelarian, pada Agustus 2014 akhirnya nekat hijrah dengan membawa bekal delapan potong kaus dan empat celana dalam. Coba dulu deh, ngekos sebulan saja, pikir saya saat itu.

Eh, ternyata lanjut!
Masuk bulan kedua, wah beli papan jemuran.
Bulan ketiga, oops beli perabotan.
Bulan keempat, waduh pasang tv kabel! Ini merupakan komitmen yang sungguh serius!

Akhirnya memasuki bulan delapan, saya baru berani menulis postingan tentang hal ini. Hal yang perlu dibaca perlahan tengah malam. HIHIHI!

Oh iya, tapi kenapa milih kabur ke Ubud? Ya, abis hidup di London mahal banget. Itu jawaban versi menyebalkan, walau ¼ nya benar. Tapi sungguh senangnya, di sini beberapa kali bermain bersama dan mendengarkan kisah orang dari berbagai negara, membuat saya merasa sudah keliling dunia tanpa harus keluar pulau.

Lalu, apa gak bosen tinggal di Ubud? Ah, di manapun saya tinggal, pasti akan ada bosannya. Jadi tinggal milih, mau bosan di mana?
Memang ada beberapa pekerjaan ala ibukota yang tidak lagi bisa saya raih di desa, tapi banyak kenyamanan ala desa yang tidak saya rasakan di kota.
Lagian, kalau berdisko mewah—mepet sawah sih, masih bisa kok.

Tidak banyak yang tahu, kalau kehidupan saya di Ubud pun mendadak glamor—gerak langkah tergantung motor. Seminggu pertama sih, nekat pakai sepeda. Tapi setelah mengelilingi Ubud dari Sayan-Tebongkang-Nyuh Kuning-Monkey Forest, sesampainya di supermarket Bintang malah minta jemput sopir karena mata bergelimang kunang-kunang.

Tapi ternyata tak semua sopir mau sertamerta mengantar saya!
Kisah tragis ini bermula saat saya mengenali Ubud lebih dekat, dengan cara jogging. Iya, gara-gara jalan ganteng—tengok kiri kanan, jadi bisa tahu berbagai lokasi warung enak atau sekadar rute tukang roti keliling.

Sampai suatu sore, saya kebablasan jalan kaki, tiba-tiba saja sudah malam di Penestanan. Buat yang di Bandung, bayangkan Cigadung untuk membayangkan area ini. Untuk yang di Jakarta, boleh inget-inget Jagakarsa. Untuk yang lain, lihat saja video yang saya ambil sambil naik motor ini.



Saking gelap gulitanya jalanan, sinar ponsel dan senter powerbank tidak membantu. Satu-satunya cahaya datang dari lampu kendaraan, yang sayangnya terlalu cepat untuk diikuti. Tampaknya mereka pun terburu-buru melewati jalanan berkelok-nanjak ini.

Untunglah ada seorang bapak-bapak yang sedang asyik nangkring di bale-bale.

“Pak, maaf nih, boleh minta antar melewati kelokan depan gak, abis gelap banget,” pinta saya tersipu malu.

“Waduh, lewat kuburan itu ya?” Kelopak matanya melebar.

“Iya, Pak.” JUSTRU ITU ALASAN UTAMANYA. “Saya agak... takut.” Saya makin cengengesan. 

“Iya, saya juga,” eh si Bapak cengengesan balik!

“Lah, bapak bukannya warga sini?”

“Iya, tapi tetap kalau gelap sih, seram.” Akhirnya ia mau mengantarkan saya, tapi melewati rute lain yang gak kalah seramnya. Kala melewati jembatan, pohon beringin, dan segenap area yang bikin bulu kuduk berdiri, ia selalu membunyikan klakson sebagai permohonan izin untuk segenap makhluk lain yang mendiami daerah itu, “Biar mereka tahu kita akan lewat. Kan kalau ketabrak gak cuma mereka yang sakit, kita juga bisa celaka.”

Diam-diam, saya menerka-nerka bagaimana bentuk 'mereka'.

Sampai beberapa hari kemudian ada beberapa teman yang membocorkan salah satu rupanya. Biasanya dimulai dengan percakapan, “Kamu di Ubudnya tinggal di mana?”

“Sayan.”

“Ooh, itu sih bukan Ubud.”

“Iya kan deket-deketan lah.” Saya sering lupa, kalau Ubud itu kecamatan—bukan kota atau desa, terletak di kabupaten Gianyar. Barangkali ibarat ke Jakarta, lagi di Pasar Minggu pun bilangnya Pancoran. Atau sudah tahu mantan masih anggap pacaran. Maaf ya.

“Oh ya, di Sayan itu masih banyak orang cari ilmu. Dulu pernah subuh subuh, ada kejadian suara gaduh di kos-kosan yang lokasinya tepat di sebelah sebuah resort.”

“Jangan bilang resort ANU!” Saya menyebutkan nama penginapan yang kebetulan berlokasi persis di sebelah kosan.

“Iya, itu.”

“AH TIDAK! JANGAN TERUSKAN!”

“Jadi pernah ya,” Ia tetap nyerocos,”Tamu-tamu penginapan dibuat geger sama makhluk ½ monyet yang ganggu-ganggu di kamar mandi outdoor. Setelah diusir, eh kabur ke atap kosan sebelah.”

“...1/2 monyet? ½ nya lagi apa?”

 “Gak jelas. Pokoknya ngeri.”

“..... oke. Ada lagi?”

“Pokoknya kalau kamu keluar rumah tengah malem, jangan tepat pukul 12 malam. Tunggu lah sampai lewat 10 menit. Terus kalau lihat seekor anjing hitam, bertubuh panjang, dengan kepala yang besarnya tidak proporsional, kamu lebih baik bilang permisi.”

“Hah, apa gak mending langsung ngibrit aja?”

“Yah, kalau sampai kalian bertatap mata, lebih baik bilang permisi. Takutnya nanti kamu demam tinggi.”

Alhasil gara-gara amanat ini, setiap kali saya jalan malam lihat anjing hitam dalam kegelapan—apa pun bentuknya, saya sempet-sempetin bilang permisi.

Selama ini di kosan Sayan belum nemu sesuatu yang aneh-aneh banget. Kalau agak-agak aneh sih, pernah suatu malam, saya lagi ngobrol di kamar dengan teman yang baru datang dari ibu kota. Pintu saya biarkan terbuka biar ruangan tersambangi angin segar.

Ternyata yang menyambang tak hanya angin, tapi juga seekor kucing totol-totol mirip harimau. Secepat kilat si kucing totol melesat ke bawah tempat tidur! Kami berdua segera menundukkan kepala, ingin menyapa si kucing. Tapi, kok, gak ada?!

Saya langsung meluncur ke dapur, gak ada juga! Cek-cek kamar mandi, hiii, kosong! Kamar saya gak gede-gede amat, semua ruangan terjamahi dengan beberapa langkah saja.

Saat saya dan si teman ibu kota masih sibuk membolak-balikkan pandangan antara bawah kasur, dapur dan kamar mandi, tau-tau si kucing totol sudah asyik mejeng di depan pintu kamar dengan mimik sombongnya, seakan menertawai kami yang lantas kebingungan.

Setelah puas bersombong ria, si kucing totol pun berjalan bak peragawati ke kebun sebelah. Oke deh, dadah.

Sejujurnya saya gemas, ingin lebih dalam menggali seribu alasan dibalik kejadian. Sama seperti larangan “Jangan berpayung di dalam ruangan!”, apa memang ada alasan lain selain terlihat bodoh? 



Kemudian beberapa minggu menetap di Ubud, saya mulai menyambangi pesta kecil ala ubudian di malam temaram penuh lampion, dihiasi gelak canda, camilan, musik berdentam dan minuman pusing.

Sesaat setelah bubar, salah seorang teman pesta terjatuh dari motor di area Campuhan. Lukanya parah. Wajahnya berdarah-darah. Alhasil dari tengah malam sampai subuh kami berkumpul di sebuah ruangan mencekam Rumah Sakit, terhiasi jeritan kesakitan saat penjahitan. Sayangnya obat bius tak begitu mempan, terkalahkan efek minuman pusing.

Sehari setelah kecelakaan, si teman yang celaka berceloteh bahwa ia beberapa kali telah terjatuh di lokasi yang sama. Mendengar itu, seorang teman lain yang kebetulan warga asli Bali segera membuat banten (sesajian) berupa sepasang tumpeng, sebutir telur dan pengeplugan berbentuk tapak dara. Tentu saya bertanya, “Buat apa?”

“Ya, kalau di sini kan kami percaya dengan dunia sekala (nyata) dan juga niskala (tak nyata), juga keseimbangan di antaranya, agar damai antara bhuana agung (makrokosmos) melalui bhuana alit (mikrokosmos). Karena itu pas seseorang mengalami kecelakaan, apalagi sampai berulang kali di tempat yang sama, perlu diadakan upacara ngulapin. Ngulapin ini untuk membersihkan dunia batin dari negatif seperti rasa trauma setelah kecelakaan.”

Saya mengangguk-angguk dengan pandangan yang masih ingin banyak penjelasan.

“Ngulapin berfungsi untuk mengembalikan keutuhan vayu manusia. Dalam sanskerta, vayu itu prana; energi. Sebagai energi, vayu ini sangat penting, menjadi penggerak kehidupan kita. Jadi saat kita kecelakaan, misalnya, vayu bisa terlepas. Nah, upacara ngulapin akan mengembalikan vayu ini.”

Lalu ia menjelaskan, upacara ngulapin akan dilakukan di lokasi kecelakaan untuk memanggil bagian roh yang tertinggal di sana, agar teman saya tidak 'terpanggil kembali; saat melewati lokasi tersebut, dan bisa kembali tentram melanjutkan hidup pasca kecelakaan.

“Mungkin kamu pernah melihat orang yang pasca kecelakaan jadi banyak ngelamun atau gamang? Jadi inti ngulapin ini untuk menyeimbangkan jiwa agar benar-benar pulih dari trauma berkepanjangan. ”

 Waduh, upacara ngulapin ini bisa buat patah hati juga gak ya, biar gak keingetan terus? Iya, maaf. 

“Ngulapin ini juga dilakukan buat yang meninggal di tempat saat kecelakaan, agar roh yang bersangkutan bisa kembali ke alam sunya, gak kejebak di sana. Sekali lagi, ini kepercayaan kami. Kami gak maksa orang lain buat melakukan atau mempercayai hal yang sama.”



Ah, terima kasih. Kepercayaan bisa berbeda-beda, tapi kehangatan antar manusia selalu terasa nyaman.

Membayangkan celaka di pulau orang, lalu mendapatkan bantuan dan doa sedemikian rupa dari warga sekitar, siapa yang ingin ingkar?

Sebagai pendatang yang ikut membuat Ubud tambah ramai, saya tak ingin mencemari rasa damai. Memang ada yang tak perlu diekori, tapi saya ingin lebih memahami, agar tak sekadar menghormati. 

Masih ada semilyar teka-teki yang ingin saya kuak, maka izinkan menyudahi sejenak tulisan ini, mari berkelana kembali!





Sunday, February 15, 2015

Mengantar Kacamata Ke Atambua

Saya tidak mudah terbuai janji manis. 
Tapi keteguhan hati ini goyah saat melihat sebuah janji dari Astra International melalui akun twitter Satu Indonesia melalui program #generAKSISEHATIndonesia ini:


Sebagai mantan bocah bolor yang sangat mengerti rasanya hobi baca tapi pandangan mengabur, saya terpancing sekali mendukung janji ini. Lagian caranya gampang kan, kalau biasanya selfie pegang sisir, cangkir, atau pacar orang, kini tinggal selfie sambil pegang janji, dan ….tring! Ada 1 kacamata baca untuk anak yang membutuhkan di setiap 1 janji!



Alhasil selama kurang lebih 2 bulan, saya memantau program ini, memastikan agar kacamata-kacamata itu sampai ke para mata yang ingin melihat dunia lebih jelas. Iya, saya tak ingin lalai setelah terbuai!





Ternyata, pemantauan ini terbalas indah, karena Astra International mengajak saya ikut terjun langsung membagikan kacamata... ke Atambua!
Wuah, berhubung saya belum pernah ke Nusa Tenggara Timur, deg-degannya sebelas rupa! Kenapa sebelas? Karena kami akan terbang tanggal 11 Februari 2015 dari Jakarta via Kupang!


Jujur saja, saat pertama kali mendengar Atambua yang merupakan ibu kota Kabupaten Belu juga terletak di perbatasan Indonesia & Timor Leste ini, yang terbayang adalah jalan bebatuan dikelilingi hutan. Ternyata dugaan saya keliru! Walau bagian hutannya tidak salah, tapi perjalanan kami dari bandara sampai ke SD Fatubenuo melalui jalan aspal yang relatif mulus!
Horeee, berarti aksi sehat ini akan berlangsung lancar, semoga!

Sesampainya di halaman SD, kami disambut para penari cilik, melakukan tarian tradisional asli Belu untuk penyembutan: likurai. Waah, cuaca panas seketika sejuk lihat senyum dan binar mata jenaka mereka!



Ternyata saya baru tahu, akan ada 4.005 kacamata baca yang dibagikan untuk anak-anak Indonesia. Waah,  terima kasih untuk semua yang sudah asyik selfie dan pamer janji! Dari 4.005 itu, 958 kacamata sudah dibagikan kepada anak-anak SD-SMP yang kurang mampu di Jakarta Utara, dan ada 1.500 kacamata untuk anak-anak dari 30 sekolah di Atambua ini. Yang menyenangkan, di sini juga akan diserahkan 1.000 buku! Waah, pas banget! Setelah mata bisa melihat jelas, bisa baca buku sampai puas!




Di ruang pemeriksaan refraksi mata, saya sempat mengobrol dengan Ipi, siswa kelas 6 yang mempunyai gangguan penglihatan di mata kiri. Ia memilih kacamata bergagang biru. Kalau sudah besar, Ipi ingin menjadi guru Bahasa Inggris. Wah, amin! Semoga setelah bisa membaca dengan jelas, Ipi bisa baca buku pelajaran tanpa waswas. Diam-diam saya memperhatikan Ipi kala sedang mengaca sambil mencoba kacamata barunya. Tiba-tiba ia tertunduk sambil menutup kelopak matanya, kemudian kembali bercermin sambil tersenyum. Seolah ingin meyakinkan diri kalau Ipi sedang tidak bermimpi.




“Kalau kamu gimana, udah jelas belum bacanya?” Tanya saya pada gadis manis yang sedang menjalani pemeriksaan refraksi.
“Bisa kak, asal tidak ketutupan badan kakak,” jawabnya polos.
Oops, maafkan badan bongsor kakak ya, adek-adek sayang!



Ternyata kegiatan #generAKSISEHATIndonesia ini bukan asal gaya, tapi dilatarbelakangi data riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan tahun 2013: 4,6% dari total populasi Indonesia memakai kacamata koreksi refraksi dan lensa mata. Data WHO juga menyebutkan kalau 80% kasus gangguan penglihatan bisa dicegah & 90% dari kasus gangguan penglihatan diderita oleh masyarakat dari keluarga berpenghasilan rendah. Kalau dihubungkan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, apabila gangguan refraksi tidak ditangani sungguh-sungguh, bisa perkembangan kecerdasan anak terganggu, deh!

Nah, di Atambua sendiri, pemeriksaan tahap pertama dilaksanakan di 30 SD di tiga kecamatan. Kalau belum mencapai 1.500 anak, bakal lanjut di berbagai kecamatan lain, mulai dari pinggiran Atambua sampai kabupaten tetangga.



Eh sebentar, tadi katanya total ada 4005 kacamata kan ya, 958 di Jakarta Utara + 1500 di Atambua, sisanya buat siapa? Ternyata Astra akan membagikan kacamata lagi di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara!



Ah, semoga akan banyak Ipi-ipi lain yang segera happy, ya! Terima kasih Satu Indonesia sudah menepati janji dan berbagi, Semoga akan lebih banyak anak Indonesia bisa melihat lebih jelas & cerdas!
Terima kasih, Astra International!

NAH, sekarang mari menari gembira bersama geng Atambua!

A video posted by Vabyo (@vabyo) on


A video posted by Vabyo (@vabyo) on

Saturday, January 31, 2015

Biar Bisa Punya Visa Amerika

“Kenapa telat, Pak? Saya kan kemarin sudah bilang, kita bakal pergi 4 pagi—teng. Yang antri visa itu sudah bejibun dari subuh,” Ceracau saya; ngomelin pak sopir yang datang terlambat ½ jam. Ia cuma manggut-manggut dengan sorot mata kebingungan. Kayaknya dia heran kenapa sepagi buta ini saya sudah punya energi misuh-misuh. Padahal malam sebelumnya baru terbang dari Bali ke rumah ortu di Bandung. 

Yah, abis kalau dengar dan baca pengalaman teman-teman yang wawancara visa Amerika bikin jiper! Masa ada yang sampai ditolak empat kali, padahal ada yang dapat beasiswa atau menang undian. Dengan biaya $160 dan akan hangus bila ditolak, sulit rasanya membayangkan diri akan sesetia itu apply visa yang sama berulang-ulang. Mending buat beli tiket pesawat ke negara lain. 

Tapi kalau permohonan disetujui, visa turis Amerika ini berlaku untuk 5 tahun! Jadi jauh lebih ekonomis ketimbang visa lainnya.

Sebelum ceracau semakin berkilau, berikut tahapan permohonan visa US: 
1. Isi formulir Aplikasi Visa Elektronik Non-Immigrant DS-160 di sini.
Setelah kelar, sebuah konfirmasi dalam file PDF akan bertandang ke e-mail, siap di-print di kertas A4. 
Kiat: dalam setiap mengisi halaman visa, selalu screenshot. Berbeda dengan permohonan visa UK, setelah tekan 'submit' jawaban-jawaban kita gak bisa diintip lagi. Ya, memang sih, kalau jujur ngapain mesti ngapalin jawaban. Tapi percayalah, ini bisa berguna. Siapa tau typo nulis tahun lulus kuliah keburu submitted, jadi hapalkanlah kekeliruannya!

2. Print halaman untuk bekal bayar visa di sana untuk mengetahui kurs yang sedang berlaku. Perhatikan tanggal kedaluwarsanya. Memang sih, kalau kelewat bisa cetak lagi. Tapi kalau dolar dalam semalam mendadak naik bisa dongkol juga, kan! 
Bayar visa US cuma bisa di bank Permata atau Standard Chartered. Jangan lupa bawa fotokopi paspor. Lalu mari jaga baik-baik bukti pembayarannya! 

3. Minimal 4 jam dalam hitungan hari kerja setelah pembayaran, bikin jadwal wawancara di sono. Jadi kalau bayarnya Jum'at sore, baru bisa bikin jadwal Senin siang. Karena pada saat penjadwalan, mereka butuh 8 digit terakhir nomor resit (setelah abjad "US") untuk memastikan pembayaran sudah masuk database mereka. 

Sebetulnya pengisian formulir online visa US ini lebih ringkas dibanding permohonan visa UK. Kalau visa UK, dalam menjawab pertanyaan kita sudah ke mana saja, perlu dicantumkan juga tanggal-tanggalnya. Kalau visa US cukup nama negaranya saja. 

Tapi visa US butuh wawancara dan bisa langsung dapat kepastian saat itu juga. Keunikan lainnya, sebelum masuk gedung, mesti antri di luar pagar dulu. Ada polisi di bawah fly over yang siap mengawasi kita antri di atas trotoar. 
Kiat: Yang gampang pegel tapi waswas kena taik kering, bolehlah bawa alas pantat biar nyaman. 

Untungnya, sesampainya saya di halaman Kedutaan Amerika, antrian baru terisi 3 orang! Wah, beruntung sekali! 

"Kok udah pukul ½ 7, yang antri cuma kita doang ya?” Tanya saya ke dua orang itu. 
“Lah, ini masih jam ½ 6, Mas?” Jawab salah satu dari mereka, sambil lirik jam tangan.

YA AMPUN. Saya khilaf! Jam tangan masih setelan zona GMT +8. Aduh, selesai wawancara mesti minta maaf sama pak sopir, nih! Ternyata saya termasuk golongan orang yang marah-marah tau tau salah! Tapi ini kesalahan yang menyenangkan; terbukti saat pukul 6 pagi antrian mulai memanjang sampai tak terlihat ekornya. 
Kiat: malam sebelum tidur, aturlah jam 60 menit lebih cepat! 

Pukul 06.45 kami digiring ke depan pintu masuk, antrian dibagi dua, sang petugas memeriksa formulir jadwal konfirmasi kedatangan “Appointment Confirmation” dan paspor. Yang lupa bawa formulir, diharapkan tunggang langgang ke warnet terdekat buat nge-print. 
Kiat: bawalah print portable yang terhubung wifi untuk jaga-jaga! 

Di ruangan pertama, badan dan bawaan diperiksa; kayak di bandara. Benda tajam, gadget, perkabelan termasuk earphone, makanan, gak boleh masuk ruangan kedua. Tapi tenang, mereka membolehkan kami menghabiskan makanan dulu. Tapi saya sudah kebelet mau visa! Dadah roti gandum isi selai cokelat 2 cm! 

Masuk ruangan kedua, sang petugas memilah dokumen utama: 
→ Paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan 
→ Paspor lama 
→ Formulir konfirmasi pengisian Aplikasi Visa Elektronik Non-Immigrant DS-160 
→ Formulir konfirmasi jadwal wawancara “Appointment Confirmation” 
→ Foto 5×5 latar belakang putih 
→ Resit pembayaran visa. 

Lalu kami memijit tombol untuk nomor antrian. Ada 4 loket yang bersiap memanggil. Saya sudah menyiapkan segala macam jawaban atas kemungkinan pertanyaan. Ternyata di sini cuma ditanya 2 hal: 
1. Apakah pernah ganti nama? 
2. SMA di mana? 
Kiat: Saya sering baca testimoni kalau petugas kedutaan US jutek-jutek. Tapi setelah saya sapa-sapa gembira bonus senyum manja, mereka membalas dengan hangat kok. 
Yang mau pipis, di sinilah toilet berada! 
Dokumen utama pun diambil, lalu kami masuk ruangan ketiga. Oh, kirain tadi itu wawancara final! 

Masuk ruangan tiga dikasih nomor grup. Saya kebagian grup 1 dong—terima kasih GMT +8! Di ruangan ini kami menunggu giliran untuk scan semua jari. Kelar tempel-tempel jemari, kami bergeser ke ruang sebelah alias RUANG PENENTUAN! Rasanya kayak mau sidang skripsi, deh. Menebak-nebak apa yang akan ditanyakan, mengulang-ulang apa yang akan dijawab. 

“For group 1, please come to window 8!” 

Kami pun berbaris menuju loket 8, yang menyerupai tempat pembayaran tiket kereta. Tanpa kursi dan terhalang kaca, ada wanita kaukasia berwajah dingin siap mewawancarai kami. Saya kebagian nomor dua! 
Ah, tenang-tenang. Saya mengingat pengalaman birokrasi rumit selama tinggal di Saudi, berusaha meyakinkan diri kalau wawancara ini masih level biasa saja. Tapi tetap dongkol kan, kalau ditolak. Ah, kamu bisa! Bisa e-ek di celana! AH, DIAM! 

Pemohon pertama, seorang pria parlente, menjawab pertanyaan dengan tenang. Saya tentu saja nguping demi bocoran! 
“Mau apa ke Amerika?” 
“Liburan.” 
“Ke mana saja?” 
“West Coast.” 
“Sama siapa?” 
“Tunangan dan calon mertua.” 
“Kerja di mana? Boleh lihat buku tabungannya?” 

Seakan latah, saya ikut melantunkan setiap jawaban pribadi dalam hati, plus buru-buru melihat isi map yang saya peluk segenap grogi, memastikan semua dokumen pelengkap ada di sana. 

“Maaf, anda belum bisa ke Amerika sekarang.” Wanita itu memberikan selembar kertas berwarna merah ke pria parlente itu! 
Ya ampun, serius? Obrolan yang tampak tenang dan meyakinkan itu ternyata berakhir sedih. Saya mengharapkan adanya konflik sebelum penolakan, agar bisa menerka-nerka apa yang tidak boleh saya katakan. 

Rasanya ingin bertukar tempat dengan dua orang di belakang saya, ingin menguping lebih banyak pertanyaan lagi. Tapi wanita itu keburu menatap mata saya. Ya udah deh, ayo tancap, Cuy! 

“Good morning!” Sapa saya mencoba ringan tanpa beban. 

“Good morning. What's your name? Why do you want to travel to the USA?” 

Saya ingat petuah sahabat saya yang selalu lolos saat memohon visa; Bang Ben, untuk langsung menjawab detil pertanyaan ini, jangan cuma “mau liburan” saja. 
Jadilah saya menjawab seperti ini: “Saya berencana nonton konser band di Los Angeles akhir Mei. Selain itu, saya juga ingin menulis tentang Los Angeles, San Francisco, New York; mulai dari pagelaran seni sampai kuliner, karena saya suka makan.” 

“Jadi, anda penulis? Sudah berapa buku yang diterbitkan?” Tanyanya lagi, dengan kelopak mata yang  menyipit.

Aha, untungnya saya mengikuti kiat teman baik saya, Wine; yang sampai harus mengajukan permohonan visa US ini tiga kali; bawa hasil karya kita untuk menguatkan bukti pekerjaan / hobi! 

“Ini buku terbaru saya, salah satu setting-nya di London,” Saya menempelkan Kedai 1002 Mimpi ke kaca, agar wanita itu bisa melihat jelas, “Nah untuk setting buku berikutnya, saya akan menulis tentang kota-kota di Amerika.” 

Hey, sebuah senyum manis tersungging di bibirnya! Aih, semoga pertanda baik! 

“Apakah buku kamu yang terbaru nanti sudah pasti akan diterbitkan? Apakah sudah menandatangani kontrak untuk buku selanjutnya?” O-ow, terdengar seperti pertanyaan jebakan. Semoga gak salah jawab! 

“Not yet. I work as an editor, but I write books for my pleasure.” 

“Bagus, karena kalau sudah ada kontraknya, anda membutuhkan visa yang lain. Congratulations, your visa is approved!” 

Haa, serius? Segitu aja? Tabungan, surat referensi bank, ijazah kuliah, surat rekomendasi kantor, bookingan pesawat dan hotel gak dilihat?!! Ih jadi ngapain kemaren nyusahin orang banyak? Eh, Alhamdulillah kali! Kok tetep protes udah dikasih kemudahan, ya! 
Alhasil saya keluar ruangan membawa kertas putih dengan hati tenang dan bahagia!


Di luar gedung, saya mengintip orang-orang yang mendapatkan kertas merah, rata-rata alasan visa tidak disetujui karena “Anda belum dapat menunjukkan bukti ikatan keluarga yang kuat, ikatan sosial atau ekonomi yang cukup untuk menunjang kehidupan di luar AS.” 

Alasan lain ditolak adalah: 
“Anda tidak dapat menunjukkan bahwa anda memenuhi syarat atau dan/atau rencana pendidikan anda memenuhi syarat untuk mendapakan visa non imigran sesuai dengan yang anda ajukan."   

“Anda telah menyalahgunakan penggunaan visa non imigran sebelumnya.” 

Oh ya, selain lembar merah dan putih, ada juga lembar hijau apabila mereka butuh informasi tambahan dan kuning kalau permohonan dikenakan proses tambahan. 

Nah, kalau mengambil intisari semua kiat teman-teman yang telah saya buktikan, yakinkan pewawancara kalau kita akan 'berfoya-foya' di sebuah tempat di Amerika tapi pasti akan kembali ke tanah air karena kita punya & bangga dengan pekerjaan di Indonesia! Kecuali kalau lamar visa kerja ya, tentu beda perkara. 

Misalnya: “Karena saya seorang arsitek, jadinya ingin berkelana ke Washington, Philadelphia, Denver, karena kota-kota itu termasuk Top 10 Cities for Design in America.” Jangan lupa sambil pamerin blue print arsitektur terkece yang pernah dibuat!

Atau, "Saya pengin jalan-jalan ke San Francisco, Boston, Nashville, Austin dan kota-kota yang dinobatkan Forbes sebagai America's most creative cities. Jadi pulang-pulang saya bawa banyak inspirasi dan bisa kembali kerja dengan menyenangkan di kantor advertising agency saya," sambil pamerin print-ad terinovatifnya!

Bila perlu, googling jadwal konser band dan restoran terbaik di kota yang akan kita datangi buat bahan obrolan kalau terasa ada jeda. Anggap saja ini kencan menuju jadian! 

Oh ya, kalau merasa nyaman jawab pakai bahasa Indonesia juga mereka gak masalah, kok. Kita kan mau jadi turis, bukan lamar jadi warga negara!

Agar hati lebih terang benderang, berikut ada pertanyaan-pertanyaan yang sempat menggelayuti hati dan diberikan langsung jawabannya oleh Kedutaan Amerika





Yang masih misterius adalah jawaban untuk pertanyaan "Berapa minimal uang di rekening?" 
Ada yang menyarankan $5000, ada yang bilang $10000, ada juga yang cukup menenangkan; “Yang penting bisa bikin yakin si pewawancara kalau elo gak akan jadi gelandangan di Amerika.” 
Jadi siapkan jumlah tabungan minimal bisa buat bayar tiket pp pesawat + hotel + makan + transportasi selama di Amerika. 

Ah, semoga yang baca postingan ini dikasih rezeki berlimpah dan kemudahan wawancara visa, AMIN!



Tuesday, January 20, 2015

Asyik Di Balik Klik

Temen nongkrong yang asyik ternyata belum tentu seru dibawa jalan-jalan ya. Tapi temen jalan yang seru biasanya asyik dibawa nongkrong.

Bisa jadi rahasia dibalik misteri ini sederhana saja; bergerak ke sana kemari lebih banyak ujiannya ketimbang duduk-duduk anteng. Itu kenapa yang tadinya sahabat erat bisa renggang setelah traveling bareng. Ada yang sudah pacaran—hampir nikah, eh mendadak “kita break dulu ya” setelah naik gunung berdua. Ada juga yang berhasil sabar saling nahan keki, tapi diam-diam berjanji gak akan mau hunting tiket bareng lagi. Aih, sedih!

Gak beda jauh kayak kamera; ada yang asyik buat sekadar foto cangkir—bonus muka sok candid, tapi mendadak “loh kok gini?!” pas dibawa motret jauh atau motret yang jauh-jauh. Dari yang asalnya “ah yang penting keliatan ada bulan purnama” sampai akhirnya lama-lama “kok gak ketangkep ya permukaan bulan yang kayak komedoan itu!”

Untungnya tiga tahun belakangan, saya sudah betah jalan-jalan sama Canon, jadi rasa penasaran akan permukaan bulan terjawab sudah! Lebih tepatnya penasaran pamer ke orang-orang sih.


Terus dulu sering blingsatan kalau foto makanan, nunduk-nunduk sampai tiarap di atas meja segala, kadang sampai keringet netes ke makanan! Sekarang sih motret kue meja di seberang, bisa sambil duduk-duduk ganteng. 



AH, MASA? Ternyata 'duduk ganteng' itu halusinasi saya doang. karena pas temen diem-diem motretception; motret saya yang lagi asyik motret, lah kok tetap ada aksi-aksi yang mengernyitkan kening; entah bibir manyun atau bokong nungging semi twerking. Yah, terus terang saja, seringkali saya motret gak sekali jepret langsung dipamerin di instagram. Ada saat-saat jantung berdegup kencang plus tremor sebadan-badan, kayak pas motret si doi ini!



Ah, untungnya ternyata yang saking-asyiknya-motret-sampai-gak-sadar-diri-berpose-aneh ini gak cuma saya doang. Coba intip video kumpulan aksi para fotografer ini; dari yang ngendap-ngendap kayak maling sampai panjat genteng—semua lengkap!


Tapi sememalukan apa pun pose kita saat motret, semuanya sepadan dengan memori indah yang berhasil ditangkap kamera, ya? 

Jadi, selamat memotret dan berpose aneh!

Monday, January 12, 2015

Makan Enak Diskon Banyak

Ini adalah pertanyaan terpopuler dalam hidup saya, 6 bulan belakangan ini: “Apa yang bikin betah di Ubud?”

Salah satunya: tempat makan! Gak sekadar bikin perut kenyang, tapi hati riang. Kan kalau mood asyik, mau ngapain aja jadi seru. Kerjaan banyak juga hajar!

Asyiknya Ubud, banyak tempat nongkrong standar internasional dengan harga relatif terjangkau. Ya, yang mahal gila juga ada, pilah pilih saja sesuai kesanggupan dan kenyamanan.

Serunya Ubud, selain banyak tempat nongkrong, bisa dapet diskon pula dengan satu kartu VIP dari Best Trip Advice. Sejujurnya saya jarang-jarang naksir kartu diskon, karena seringkali yang didiskon bukan toko-toko favorit. Misalnya diskon 20% beli gayung di toko besi X. Ya kali, bakal beli gayung tiap minggu. Atau diskon 10% setiap beli susu kuda liar di pulau seberang setiap Rabu malam. Udah mah gak doyan susu kuda, ya masa harus nyeberang pulau dengan syarat hari tertentu pula.

Nah, kalau VIP card ini ngasih diskon di tempat-tempat yang kebetulan sering saya kunjungin selama tinggal di Ubud!
Beberapa di antaranya:
- Bali Buda Cafe
- Cafe Des Artistes
- Clear Cafe
- Kafe
- Cafe Vespa
- XL Sisha Lounge
- Sari Organik
- Kebun Bistro
- Seniman
- Warung Citta Pizza
- Bintang Supermarket (lt 2)

Dan masih BANYAK lagi!

Berhubung sedang tinggal untuk jangka lama di Ubud, saya pilih kartu pemakaian setahun seharga $89.00. Sebelum teriak “kok mahal”, bayangkan, dalam sehari saja ternyata VIP card ini sudah bikin saya berhemat > $100, karena diskonnya gak cuma di tempat makan doang.
Nih, catet bocorannya, pasti berguna kalau suatu hari ke Ubud:

- Makan malam di Fivelements with 20% off – Hemat Rp.280.000
- Gratis raw or cooked sweet treat of the day pas belanja di Buda Mart
- Gratis smoothie pas makan di Clear Cafe
- Dua jam hot stone massage + Tea + Lunch & Dinner + Dessert + all day swimming pool, cukup bayar Rp 425.000 = hemat 70% dari harga asli Rp 1.600.000
- Pita Maha Spa, dapet: 1 jam Balancing Balinese Massage + Afternoon Tea & Balinese Cake (3-5PM) + all day swimming pool,  cukup bayar Rp 250.000 = hemat 60 % dari harga asli Rp 631.350 - Tjampuhan Spa:  facial + 1 hour Balinese massage + natural hot & cold inside gratto swimming pool + sauna + steamer all day, cukup bayar Rp. 350.000 = hemat 45% dari harga asli Rp 633.937 *plus 20% off for F & B at the restaurant
- Tjampuhan Spa Half Day, cuma Rp 60.000 bisa dapet:  natural hot & cold inside gratto swimming pool + sauna + steamer all day!

Hey, hematnya ini juga berlaku buat beli kartu untuk pilihan 1/15/30 hari, loh! Cocok buat yang mau liburan di Ubud. Kartunya bakal diantar langsung ke tempat kita menginap!

Asyiknya lagi, VIP card ini bisa dipakai di restoran untuk 2-4 orang. Bisa bikin happy satu geng, tuh!
Nah, khusus buat kamu yang sudah menyempatkan baca ini bisa beli kartu VIP card dengan kode kupon VABYO, langsung dapet diskon 10%! Woaw, diskon berganda!

Kalau sudah beli bolehlah kabar-kabari, siapa tau bisa ngopi bareng di Ubud!


Wednesday, January 07, 2015

Gak Sabar 50an!

Gonta ganti pasangan bikin penyakit. Gonta-ganti channel TV juga bikin terlilit! Terlilit kenangan indah. Bah!

Seperti malam ini, tiba-tiba benak terhisap saat saluran bercokol di stasiun HITS. Mereka menayangkan serial lawas yang dulu bikin gue termangu lugu; Moonlighting. Termangu karena kagum dengan profil Bruce Willis & Cybill Shepherd yang sedang ranum dan cakep-cakepnya.



Lugu karena saat itu otak belum mampu mencerna utuh percakapan mereka. Jadi kadang cuma ngeh mereka sedang sibuk hilir mudik memecahkan kasus rumit.

Sambil menikmati aksi rupawan karakter Madelyn Hayes & David Addison Jr. ini, jadi terbayang suasana tv lokal zaman pertengahan 80-90an awal, masih bisa dihitung jari sebelah tangan, tapi acaranya begitu beragam. Baru sadar, tokoh-tokoh jagoan yang saya kagumi saat bocah rata-rata berumur >30 tahunan.

Memang ada juga idola berumur remaja, tapi cukup sampai tahap menghibur, tidak jadi angan yang akan dibawa ke alam kubur.




Sekalinya nemu jagoan muda pun, sayangnya terlalu mengawang-awang. Lupakanlah angan-angan terbang!




Bisa jadi, inilah kenapa saat beberapa teman khawatir menginjak umur 20-an plus mendadak stres kena The Quarter Life Crisis, saya masih adem ayem lenggak lenggok maskulin. Wong. saya saat itu menaruh beban harapan saat berumur kepala 3, seperti kebanyakan para bogalakon idola yang tampak begitu bahari, mandiri dan percaya diri!



Untungnya, saat umur ini benar-benar masuk kelompok kepala 3—walau gak sekeren Bruce Willis di Moonlighting, saya masih bisa menikmati dan nyaman berjalan-jalan, yah setidaknya pas asam urat lagi gak kumat lah ya.

Itu juga yang menjelaskan, kenapa saya gak malu buat 'terjebak umur' atau 'ih ketahuan umurnya'. Helooo, siapa yang nyembunyiin, cobak? Jadi maaf, kalau ada berondong ngehina-hina umur, cukup tersenyum simpul, karena “Ah, belum tentu lo di umur segini sekeren gue.” Gak apa-apa lah sesekali pura-pura sombong, ketimbang beneran songong. (?)

Tapi kini saya jadi waswas, jangan-jangan saya kena giliran The Half Life Crisis di umur 50—kalau panjang umur!

Oke, berarti saatnya mencari jagoan baru, nih!

Hey Mr. Clooney. Can I be you someday?
Ah, berapapun umurmu, kapan pun masa kejayaanmu, semoga selalu sehat dan nyaman, hari ini sampai akhir hayat dikandung badan!

Tuesday, January 06, 2015

Berburu Lezat di Seoul: Si Wha Dam—Korean Fine Dining

Apa saat paling menghibur saat naik pesawat terbang?
Ah, tentu saja: makan!

Tak terkecuali saat di Korean Air, menu makan malam yang disajikan adalah Bibimbap, terdiri dari cincang sapi, berbagai sayuran segar, minyak wijen dan gochujang; pasta pedas. Mangkuk sebelahnya berisi cauliflower cream soup & nasi.



Tanpa pikir panjang, saya memasukkan daging & sayuran ke dalam sup, lalu makan dengan lahap. Ternyata salah langkah.

“Oh, maaf, saya tadi tidak bilang cara makan Bibimbap ini, ya! Tunggu akan saya ambilkan menu baru!” Sang pramugari yang melewati kursi tampak panik melihat isi mangkuk saya.

“Gak masalah, kok. Lagian sudah mau habis,” Saya lantas menelaah mangkuk, menerka apa yang salah. Tapi dia secepat kilat melengos ke balik gorden.

“Jadi begini, campurkan daging sayuran ini dengan nasi, lalu bubuhkan gochujang sebanyak anda suka,” Sang pramugrasi berparas cantik itu kembali memberikan saya menu utuh, alhasil makan 1.5 porsi deh!

Kiat sesat: jadi kalau mau nambah makan bibimbap di Korean Air, pura-pura salah campur saja, yuk!



Semendaratnya di Seoul, saya tidak berharap banyak, alhasil sering terhenyak!
Mulai dari para nona aduhai yang jajan-jajan cantik tengah malam, sepasang romantis yang saling bergenggaman dalam gerimis manis, atau sekadar bos muda yang sedang sengit mempertaruhkan karir di telepon. Berasa terjun langsung ke layar drama korea.











Lalu, apa saat paling menghibur saat kaki memijak daratan?
Ah, masih sama, kok: makan!



Di darat pun saya berkesempatan mencoba beberapa versi bibimbap; yang ternyata masuk jajaran makanan terlezat dunia versi CNN travel!
Jadi ya, setelah ngobrol sama tukang masak andal di Seoul, bibim berarti campur, bap berarti nasi. Oh, jadi nasi campur!



Bibimbap ini fleksibel banget; bisa disajikan dingin saat musim panas dan disajikan panas saat musim dingin. Dalam satu porsi bibimbap setidaknya bakal punya 5 sajian warna yang masing-masing berbeda nutrisi dan punya lambang arah mata angin & bagian tubuh; hitam untuk utara & ginjal (contoh: jamur shitake), merah untuk selatan & jantung (contoh: cabai), hijau untuk timur & hati (contoh: bayam), putih untuk barat & tenggorokan (nasi), kuning untuk pusat & perut (contoh: telur).

Berhubung jadi penasaran nyicip sajian ala Korea lainnya. akhirnya nanya sana sini restoran paling enak di Seoul. Terlontarlah nama paling sering disebut: Si Wha Dam.

Si Wha Dam berkonsep fine dining; jadi menawarkan menu Korea bergaya barat. Karena kalau menu 'korea beneran' kan konon 'sekali dateng langsung banyak mangkuk'. Ya udah gak perlu ribet, karena Si Wha Dam mengenalkan diri sebagai Modern Korean Restaurant.

Oh ya, tenang, ke sini gak perlu dandan ala kawinan, kok. Saya pakai kemeja flanel, celana jeans dan sepatu keds, bisa melenggang memasuki ruangan berdinding pastel dan berpenerangan nyaman.

Terus, setiap meja tertutup sekat, jadi bisa heboh melototin racikan cantik (baca:  “aduh sayang banget dimakan”) mereka secara saksama.
Tapi kalau ditilik-tilik dari arti Si = puisi, Hwa = bunga, Dam = cerita, jadi mengerti kenapa mereka menyajikan berbagai menu Korea secara artistik.

Dimulai dari tatakan piring dari tembikar pedesaan sampai bentuk sayuran bermotif bunga yang dikemas menawan, jadi berasa melahap bulat bulat galeri seni! Sudah gitu ya, kita makan diiringi musik petikan gayageum, semua panca indera dimanjain!







Nama menu-menunya sungguh puitis, salah satunya: 'bowls of blowing wind from salt ponds, the flower of salt’.  Efek pitanya berhasil bikin berasa berangin-angin, sih.



Ada juga menu yang kalau ditelaah mirip taman. Sungguh ya, daging dan jamur di atas batu panas itu beradu pamer kenikmatan di lidah!




Nah, ini menu favorit saya: Kimchi Meets Pasta: tart kimchi lembut berpadu dengan spaghetti tinta cumi!




Kalau mau booking Si Wha Dam, bolehlah telepon ke 02-738-8855. Buka 11am–3pm & 6pm–10pm.
 Alamatnya di 152 Insa-dong, Jongno-gu, Seoul. Kalau naek subway bisa ngincer Jongno 3-ga Station (Line 1, 3, 5) + exit 5.


Laporan makan belum kelar, ngider dulu ya!

Wednesday, December 31, 2014

Obrolan Turbulensi

Jus apel dalam gelas plastik itu beriak tak keruan.  Saya buru-buru menenggaknya sampai habis, waswas tumpah.

Bohong. Ada waswas yang lain.

Jemari kembali sibuk mengutak-atik layar di kursi, memeriksa keberadaan pesawat London – Kuala Lumpur yang saya tumpangi saat itu. 
Biasanya saya selalu berusaha keras cuek saat pesawat mengalami turbulensi. Yah, sambil diam-diam berjanji akan menjadi orang yang lebih baik bila mendarat selamat. Dan sayangnya janji itu selalu terlupakan saat kelamaan di darat.

Saya punya alasan kenapa begitu grogi saat pesawat terombang-ambing; saat itu baru saja ada kejadian hilangnya pesawat dari maskapai penerbangan yang kebetulan saya tumpangi saat itu. 

“Tenang, gak mungkin maskapai pesawat yang sama jatuh 2 kali dalam waktu berdekatan!” Seloroh penumpang lelaki sebelah yang ternyata menyimak kegundahan saya yang sedikit-sedikit memonitori layar. 

“Kamu takut pilot membawa kabur pesawat kita ini ya?” Tanyanya lagi sambil melesatkan telapak tangan, menyapu poni keriting pirang yang menyimpangi jidat. 

Saya tertawa kecut, tentu saja lebih takut pesawat terjun bebas. Tapi saya jawab, “Iya.” 

“I don't buy that theory!" Ia menyipitkan mata, sambil mendekatkan wajah ke bahu saya, berancang-ancang memberikan sebuah rahasia. Ia membisikkan sesuatu, cukup panjang. Sayangnya yang saya tangkap cuma, “You got it?” 

“Sorry, can you repeat?” Habis, logatnya british medok, sih! Untung dia mau mengulang dengan volume segaris lebih kencang dan kecepatan yang berkurang. 

“Jadi menurut saya, pesawat itu ditembak rudal! Dan semua korban sudah dievakuasi secepat kilat oleh pihak penembak! Makanya tidak ditemukan bangkai sedikitpun! Sungguh tak bisa dipercaya, bukan?” 

“Yang nembak siapa? Kejam amat!” 

“Banyak orang penting di pesawat itu, membawa barang dan dokumen yang bisa membahayakan banyak pihak!” Sinar matanya melejit-lejit. Tidak menjawab pertanyaan, malah menambah banyak spekulasi.

“Semoga gak ada orang penting di pesawat ini!” Entah kenapa harapan bodoh ini bisa keluar dari mulut saya. “Mendadak kemungkinan pilot membawa kabur penumpang adalah opsi yang lebih menyenangkan ketimbang ditembak rudal!” 

Turbulensi berakhir, tanda kenakan sabuk pengaman tak lagi menyala. Saya mengembuskan napas lega. 

“Ingat, ditembak rudal itu tak perlu turbulensi!” Kekeh si penumpang sebelah dengan wajah jahil, dengan jemari tangan menguncup-merenggang seketika, menggambarkan sesuatu yang meledak. 

"I don't buy your sense of humor!" Pekik saya sambil memakai headphone. Tetep sih, nyengir dikit.

Sekitar 3.5 bulan kemudian, terjadi peristiwa pilu yang membuktikan ½ teori si penumpang sebelah itu salah: pesawat dari maskapai yang sama ternyata bisa celaka dua kali di waktu berdekatan! 
½ teorinya lagi memang belum tentu benar, tapi kali ini pesawat nahas berikutnya diberitakan pecah di udara akibat ditembak di angkasa, area konflik Ukraina. 

Sungguh hati ngilu, sampai-sampai sempat bertekad ingin cuti naik pesawat, yang tentu saja gagal. 

Imbasnya, sampai saat ini, saya selalu melihat boarding pass dengan getaran hati yang berbeda. Tidak ada yang bisa menjamin tujuan terakhir kota yang kita tuju. Bisa jadi Jawa, atau pulau lain. Daratan lain. Lautan lain.




Juga tidak ada yang tahu pasti, kita akan terselamatkan, atau terpindahkan ke sebuah pulau impian.

Iya, atas nama penghiburan atas kesedihan, setiap kehilangan orang yang saya cintai, saya selalu membayangkan mereka sedang bersenang-senang di pulau impian, termasuk mereka yang tidak mendarat di kota yang mereka kehendaki. 

Hari Minggu kemarin, angkasa raya kembali meniupkan angin nestapa.
Turut berduka sedalam-dalamnya untuk para keluarga dan sahabat yang ditinggalkan para penumpang Air Asia QZ8501, semoga suatu saat bisa berkumpul dan bersenang-senang kembali di pulau impian. 

Monday, November 24, 2014

Stay Smart When On Holiday!

“Kalau memang sesenang ini sama pantai, kenapa milih tinggal di Ubud?”

Begitu biasanya pertanyaan mereka setelah mendengar jati diri saya saat kami bermain-main di berbagai pantai pulau Bali. Kalau memang benar-benar ingin tahu jawabannya; “Saya masih butuh merasakan sedikit perjuangan untuk mendapatkan apa yang saya mau.”

Lagian jarak Ubud ke pantai terasa relatif dekat, apalagi bila terbiasa macet-macetan di Jakarta.
Dalam sebulan, saya pastikan akan selalu ada acara kabur ke 'selatan', terserah saja mau di pantai mana, yang penting tempat bobo-nya nyaman buat kerja dan istirahat.

Nyaman versi saya gak bikin repot kok, cukup ada sofa dan bantal empuk, temperatur sejuk, dan tentu wi-fi kencang!

Nah, untuk akomodasi setiap kabur, saya bobo di Holiday Inn Express. Selain lokasinya strategis (baca: dekat dari pantai), harganya terjangkau. terlebih bisa memberikan kenyamanan yang benar-benar saya butuhkan, bahkan lebih.





Lebihnya adalah pas sarapan pagi, mereka punya layanan Grab & Go. Jadi buat yang lapar dan buru-buru, bisa bawa sarapan keluar hotel.



Mmh, saya sebenarnya punya banyak waktu sih, jadi selain makan di hotel, diam-diam tetap ngerampok croissant buat camilan teman nulis tepi pantai!
Terus gak perlu waswas kalau bawa baju dikit, ada laundry room sekaligus bisa setrika-setrika lucu!



Pas giliran mau pemanasan di ruang dingin sebelum jogging tepi pantai, eh ada fitness room!



Kala kolega datang untuk rapat proyek-proyek asyik pun, Holiday Inn Express sigap dengan meeting room-nya!



Jadinya selama bobo di Holiday Inn Express bebas waswas dan sesuai dengan brand value mereka yang “Wow Smart Banget” ini. Bahkan kampanye ini juga menampilkan Comedy Night di Eatology Jakarta, 19 November kemarin dengan tema ‘Gak Smart Banget!’, menampilkan enam komika Indonesia yang berbagi guyonan kocak yang Gak Smart Banget!’ saat berpergian & perbandingannya yang Wow Smart Banget!’

  

Kalau masih penasaran bisa intip video kompilasinya di sini.

Wah, bakal makin seru tuh kalau acara ini digelar di berbagai kota Indonesia ya! Saya pasti gak akan berkeberatan buat menggelinding bobo-bobo ganteng di Holiday Inn Express terdekat! Abisnya mereka punya semua yang benar-benar saya butuhkan.

Misi ah, mau nyebur dulu!