Search This Blog

Loading...

Tuesday, September 06, 2016

Maukah kamu tetap berteman saat aku tidak (lagi) populer?

Setahun belakangan, saya sibuk egois. Setelah dihantam ledakan dalam kepala itu, yang saya pedulikan hanya diri sendiri. Dimulai dari mengatur makanan, pola tidur, cara bangun, sampai prosedur ngeden yang aman.
Saya jadi tidak terlalu peka dengan apa dan siapa yang sedang bergejolak di luar sana.

Lebaran kemudian tiba. Yang lain bergegas pulang kampung, saya mudik ke kota.
Tentu saja hati gegap gempita merayakan hari raya bersama keluarga.

Saya bahkan sudah menyiapkan mental buat menghadapi pertanyaan-pertanyaan tahunan lebaran yang sayangnya ternyata bukan lagi tentang kapan menikah atau kapan liposuction.

Ini adalah kompilasi pertanyaan yang saya dapetin saat nongkrong di beberapa kedai kopi ternama dan ter-instagrammable:
Kenapa gak punya Snapchat?
Kok gak ikutan Steller?
Kok gak nge-vlog?
Kan lagi rajin jogging, kok gak main Pokemon?

Jawaban saya sih selalu santai, “Belum terpanggil, nih.”

Beberapa reaksi mereka ternyata cukup serius;  “Jangan nunggu panggilan, lah. Nanti keburu gak relevan lagi.”

Tiba-tiba saya merasa di ruang persidangan agensi khusus buzzer, kembali terhadang realitas tuntutan relevansi jagad digital. Untungnya persidangan tidak berlangsung lama, karena mereka kembali sibuk dengan gadget masing-masing.

Tapi di era para fandom sibuk adu angka penjualan atau jumlah followers/viewers/subscribers, saya sesungguhnya tidak perlu terlalu terperanjat.

Jadi ngelamun, ngebayangin dulu, kalau kita suka lagu, yang kita bahas adalah liriknya, melodinya yang kena di hati, atau tampang penyanyinya yang rupawan. Sekarang juga masih kok, tapi banyak yang kayak gini. “Lagu ini viewer-nya 5 juta dalam semenit! Langsung debut no 1 di chart!"
Gak salah juga, sih. Boleh lah bangga dengan pencapaian. Tapi ujung-ujungnya, "Penyanyi favorit lo kapan kayak gitu?”
"Artis gue no 1, gak kayak artis lo yang flop (padahal nomor 2) itu!"

Bahkan dalam pertemanan rakyat sipil pun, dampaknya terciprat bucat.
Dulu kalau ngenalin sahabat, mungkin begini: “Kenalin nih, sahabat gue, dia selalu nemenin kalau gue lagi gak ada duit.”
Atau
"Dia selalu ada pas gue susah boker." Lalu kentut bareng.

Kalau sekarang, ada yang begitu: “Kenalin sahabat gue, followers-nya jutaan, hobi selfie di negara konflik, udah pernah foto bareng sama Hillary Clinton!”

Sang sahabat pun mesam mesem saat kami berjabat tangan. Tapi ia nampak tidak berkeberatan, jadi saya pun tak punya alasan untuk mempertanyakan narasi perkenalan.

Tapi kadang jadi terganggu, ketika saya nanya sang sahabat hal-hal mendasar seperti 'sekarang tinggal di mana?', si dia yang memperkenalkan itu mendadak jadi juru bicara, "Lah, emang elo gak follow IG-nya?" "Makanya, snapchat-an, dong!"
Ah maafkan atas dosa kekuperanku ini, dewa digital!

Lalu, liburan lebaran berakhir. Saya kembali menuju tempat persemayaman di desa.
Saat duduk di sebelah jendela darurat pesawat, tebersit pertanyaan konyol yang mestinya saya sembur saat mereka sibuk menginterogasi saya: "Kalian masih mau temenan gak sih, kalau aku gak (lagi*) populer? Masih mau memperkenalkan aku sebagai sahabat?"
*tsah emangnya lo populer :p

Seiring dengan turbulensi yang menggoncang lemak pantat, saya terkekeh malu, menyadari kalau virus gelisah itu menular. Kenapa saya mesti ikutan resah?

Walau saya akui pertanyaan-pertanyaan itu sempat kepikiran, ternyata saya mempunyai kehidupan mewah di kampung.
Mewah karena bisa bangun tanpa resah, gak takut apabila foto gak ada yang nge-like, gak sedih kalau tweet gak ada yang RT, tidak bimbang kalau lagu favorit saya ternyata flop di chart, juga tidak keberatan kalau saya diperkenalkan sebagai sahabat tanpa embel-embel portfolio.

Jadi, kalian masih mau temenan, kalau kentutku bau busuk?





Sunday, July 03, 2016

Kisah Mudik dari Bandara Istanbul Atatürk

Saya harusnya lebih mendengarkan ibu. Insting seorang ibu tidak pernah meleset. Kekhawatirannya seringkali jadi pertanda apa yang akan saya hadapi.

Yang masih tajam dalam ingatan, selepas libur lebaran tahun lalu, sebelum saya balik ke Ubud, Ibu melepas saya dengan tangis deras.

 “Ah, Ibu, kayak gak pernah lihat saya pergi aja. Ini kan cuma ke Ubud, gampang lah bolak-balik,” timpal saya pongah.

 “Ibu mah selalu sedih atuh kalau anaknya pergi,” Ibu saya masih terisak-isak saat saya ke luar pagar. Ibu merasa sangat berat dengan kepergian saya saat itu.

Sebulan kemudian, saya terserang stroke di Ubud. 'Gampang lah bolak-balik' itu cuma wacana saja. 
Setelah hampir setahun recovery, saya diboyong sahabat, Kevin & Dini—pasangan yang juga ikut merawat saya di Ubud, ke kota Arnhem.

Mereka akan melangsungkan pernikahan di sebuah taman di sana. Kevin juga mengadakan lokakarya yang menaungi banyak seniman bertalenta dan berhati asyik bareng anak-anak ruangrupa bertajuk transACTION di taman Sonsbeek. Saya merasa punya keluarga dan teman-teman baru. 

Saat saya di Arnhem, Ibu sering khawatir dengan satu hal, “Kalau kamu teh nanti masih mau pulang lewat Istanbul?”

Jadi, saya terbang pakai Turkish Airlines, pulang dan pergi akan transit di Istanbul. Sehari sebelum terbang, pusat kota Istanbul terkena bom bunuh diri. Tentu saja Ibu khawatir.

“Masih, Bu. Lagian kemarin kan pas pergi transit sempet keliling Istanbul. Aman-aman saja, kok!” Turkish Airlines memang memberikan fasilitas tur Istanbul gratis buat yang transit >8 jam, dan itu jadi dalih buat menenangkan hati Ibu.

Tapi Ibu tetap bertanya-tanya, menginginkan saya pindah pesawat. Tidak saya gubris, semua kan baik-baik saja.

Sampai malam terakhir di Arnhem, saat kami baru saja akan beranjak tidur, Dini berteriak, “Bandara Istanbul (Ataturk) di bom!”

Hah, lagi? Kemarin pas pergi, kotanya dibom. Sekarang pas pulang, bandaranya yang kena bom! Ledakan kali ini lebih brutal, dilakukan oleh tiga orang. Sebelum meledakkan diri, mereka melepas tembakan ke sana kemari.

Tidur pun diundur. Antara masih berharap hoax dan berharap ibu belum baca berita, saya bolak-balik memastikan status penerbangan saya esok malam di situs Turkish Airlines.

Berita pun simpang siur, antara bandara akan ditutup sampai 8AM atau 8PM. Lewat situs Turkish Airlines, mereka menawari refund atau rebooking tiket pesawat selama periode penerbangan 28 Juni dan 5 Juli 2016.

Tapi saya tetap bersikeras walau hati waswas.

Keesokannya, Rabu siang, saya beranjak ke bandara Schiphol lebih awal. Saat check-in, petugas memastikan bandara Ataturk sudah beroperasi seperti biasa. Waw, hebat juga, mengingat bandara Brussels saja sempet tutup dua minggu pas kena bom.

Hanya saja, dalam boarding pass Istanbul-Jakarta saya, tidak tertera nomor kursi, hanya rentetetan huruf SBY alias stand by. Ah, gak masalah. Saya pernah dapet tiket stand by. Biasanya sang petugas di boarding room langsung ngasih nomor kursi, kok. Dan biasanya dengan boarding pass 'SBY' ini, kalau ada kursi kosong di jadwal pesawat sebelumnya, kita bisa terbang lebih awal.


Pesawat Amsterdam-Istanbul sempat menunda take off satu jam, sang pilot mengumumkan ada 'gangguan teknis'. Beberapa penumpang waswas—termasuk saya, bolak-balik memeriksa waktu boarding di penerbangan selanjutnya. Mepet-mepet tegang!

Begitu kami mendarat di bandara Ataturk, kekisruhan mulai rusuh!
Beberapa orang berlarian di sepanjang koridor, bikin hati makin blingsatan. Semoga tidak ada bom susulan. Mereka berseliweran lari di antara para penumpang yang bergelimpangan tidur di lantai. 

Saat masuk ke gate yang ditentukan, rupanya pesawat selanjutnya sudah boarding. Mereka meminta kepada penumpang yang standby untuk bersabar menunggu giliran setelah seluruh penumpang bernomor masuk.

Tapi setelah mereka semua berada dalam pesawat, sang petugas menutup pintu boarding.

“Hey, kami belum masuk!” Protes salah satu penumpang. Sang petugas sibuk utak-atik komputer dan bolak-balik menyusun potongan boarding pass penumpang yang telah masuk pesawat.

“Maaf sekali, pesawat telah penuh.” Seketika suasana gate riuh dengan teriakan panik.

“Kenapa bisa penuh?” Tanya saya. Kok berasa naik angkot saja, sih?

“Saya juga bingung. Maaf saya cuma petugas boarding,” kata salah seorang petugas dengan muka memelas. Ia sibuk menelepon—semoga sedang menghubungi orang yang tidak bingung.

“Saya kemarin sudah ditolak boarding! Masa ditolak lagi?!” Timpal seorang penumpang yang pesawatnya dibatalkan terbang. Jadi jadwal terbang dia bertepatan saat bandara dibom. Kemudian tiketnya pun diganti untuk penerbangan selanjutnya, dengan posisi 'SBY'. “Temen-temen rombongan saya dikasih nomor, saya aja yang dikasih standby.”

Oalah. Pengetahuan saya tentang 'SBY' ternyata minim sekali. Jadi para penumpang yang pesawatnya batal terbang, mereka dialihkan ke pesawat berikutnya. Atau pesawat setelahnya. Keadaan ini pun berimbas ke penumpang pesawat yang dialihkan itu.

Jadi, alih-alih dapet penerbangan yang lebih awal, tapi 'SBY' ini ibarat tiket cadangan atau lotre, tidak peduli udah beli jauh-jauh hari ataupun check in online.

Sayangnya, para petugas bandara pun tidak begitu siap dengan keadaan genting ini. Tapi, ya siapa juga yang siap ketika tempat kerjamu terkena bom ya?

Melihat mereka yang kebingungan, ada baiknya bila bandara ini tidak memaksakan beroperasi. Penumpang marah, petugas lelah. Kami bersatupadu dengan kebingungan.

Ada salah satu penumpang wanita menangis, karena ayahnya sudah berada di dalam pesawat. “Izinkan saya masuk pesawat. Ayah saya baru terkena stroke, saya pegang obatnya. Tolonglah saya,” Ia meraung-raung. Sang petugaspun tidak bisa berbuat apa-apa. Saat pesawat bersiap-siap take off, wanita itu menangis sambil gedor-gedor kaca memanggil-manggil ayahnya. Mata ini becek sekali melihat wanita itu. Juga melihat pesawat yang semestinya kami tumpangi beranjak pergi. Ternyata kami benar-benar ditinggalkan. Ini bukan guyonan belaka.

Tapi suasana teralihkan menegangkan karena beberapa penumpang Turkey teriak-teriak dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Kemudian ada petugas yang menenangkan kami, menjanjikan kompensasi.

Ia menggiring kami ke ruangan Transfer Desk, yang telah dipenuhi antrian yang mengular panjaaaang.
Benar-benar. Ternyata STANDBY ini benar-benar BERDIRI LAMA banget ya.
Yang ditolak boarding bukan hanya pesawat kami. Sebagian juga terpaksa ketinggalan pesawat karena penerbangan pertama mereka delay.

Antrian berulangkali terhiasi bentakan di meja Transfer Desk menyerukan kekecewaan, juga kekekiaan antara penumpang yang menyerobot antrian.



“Kami sudah antri 4 jam, seenaknya saja kamu menyerobot kami!” Bentak seorang bapak ke seorang penyerobot yang nyelonong ke meja.
“Saya semalam juga sudah antri 6 jam! Saya tidak mau lagi antri malam ini!” Gertak sang penyerobot.

Waduh. Berarti ada kemungkinan solusi ini bukan tahap akhir. Beberapa teriakan di meja seakan mengikis harapan kami.
Seperti, “Mengapa saya tidak bisa refund?”
“Saya sudah antri selama ini masih dapet tiket standby?”
Jawaban petugas pun ada saja yang antipati, “Anda baru antri 6 jam, itu yang di sana (menunjuk serombongan manusia yang tertidur di lantai) sudah menunggu 2 hari!”



Kami mengantri dari tengah malam sampai matahari terbit.
Pukul delapan pagi, giliran saya tiba di meja. Di meja sebelah, seorang petugas memarahi seorang mahasiswa Indonesia, “Anda harusnya bayar penalti, karena anda ketinggalan pesawat!”
“Ketinggalan pesawat?! Tanya saja petugas yang membawa kami ke sini! Kami ditolak boarding!” Balas sang mahasiswa, diiyakan saya.

Waduh kok makin pagi makin kacau. Alhasil sebelum ditekan petugas, saya duluan menekan mereka. “Tolong carikan penerbangan di mana saya bisa dapat nomor kursi. Bukan stand by.”

Akhirnya saya kebagian pesawat dengan nomor kursi. “Anda bisa meyakinkan saya gak, kalau saya bisa terbang dengan pesawat ini?”
“Saya tidak bisa berjanji. Tapi selama tidak batal terbang, anda bisa masuk pesawat.”

Ah, seandainya waktu mendarat connnecting flight tidak mepet, saya mestinya bisa mengurus si nomor kursi di Transfer Desk sebelum boarding ya. Itu pun dengan catatan kalau antriannya tidak sedahsyat ini. Barangkali solusi terbaik kalau bandara terkena bom, langsung refund, re-route, re-booking, atau cari pilihan re re lainnya!

Pesawat baru saya dijadwalkan terbang pukul 2 pagi, 19 jam lagi. Untuk mendapatkan fasilitas hotel dan makanan, saya dipersilakan untuk kembali antri ke Hotel Desk. Untuk menuju Hotel Desk, saya harus menuju Passport Control, area yang terkena ledakan bom itu. Untuk melewati Passport Control saya harus punya e-visa. Gampang kok ngurusnya. Tapi masa saya harus bayar visa lagi? Untuk mendapatkan visa gratis, saya harus antri lagi di sebuah counter.

Akhirnya yang saya lakukan adalah meminum Xanax dan bobo di gate. Saya memilih sebuah gate yang sepi.



Tapi rupanya ada alasan kenapa gate itu sepi penidur. Karena setiap beberapa jam, petugas membangunkan saya untuk security check. Di antara bangun itu, teringat sesuatu; hampir saja lupa memberi kabar ibu! Memberi kabar kalau saya terlambat pulang dan insting ibu selalu jitu!

Sayangnya bandara ataturk kurang wifi-friendly; gak bisa sekali tersambung langsung bersenandung. Yang paling 'mudah' itu, kami harus menggentayangi wifi di area restoran, lalu memindai boarding pass yang harus diulang setiap dua jam untuk mendapatkan nomor pin untuk akses internet. Yang penting, ibu sudah saya kabari. Lalu tidur lagi. 


***



Pukul 1 pagi. Saya lupa ini hari apa. Kamis? Jum'at?

Boarding gate pesawat saya telah dibuka. Kami jadi terbang gak, sih? Kami boleh masuk pesawat, kan? 

Baru kali ini saya kena imbas langsung kasus bom. Rasanya lebih enak sibuk takut atau sok berani di media sosial ketimbang hilir mudik panik di area yang baru diledakkan.

Kami bergembira sekali saat boleh masuk pesawat—bergegap gempita saat pesawat take off—bersorak sorai saat pesawat landing—tersenyum semringah saat melihat langit sore Jakarta.

Beberapa saat setelah mendarat, gerombolan pelajar bertepuk tangan sambil berpelukan. “Ini mudik yang tak akan terlupakan!”

Dan ah, Jakarta belum pernah semenenangkan ini!



Semoga para keluarga korban dan para petugas bandara dikuatkan, para penumpang yang masih terdampar segera bisa terbang ke tujuan masing-masing.
Semoga Turkey akan segera membaik!

Thursday, February 11, 2016

Surat Terbuka dari Si Pencuri Kata

Saat itu, tiada yang lebih mengerikan dari tolah-toleh di kelas sementara yang lain sibuk menyelesaikan tugas. Ibu guru memberikan tugas menulis puisi. Beliau memberikan petunjuk, untuk memudahkan menulis puisi, bisa dimulai dari sesuatu yang saya sukai.

Baik, mari kita coba. 

Oh Sate kulit 
Ke mana ati ampela? 
Juga kau Jus alpukat!
Maukah pakai es krim? 

Waduh, alih-alih puisi, malah tampak jadi menu warung untuk pelanggan plin-plan.

 “Lima... menit... lagi!” Ibu guru memberikan peringatan yang membuat kepanikan saya kian meningkat.

Satu per satu teman mengumpulkan puisinya dengan gagah berani, membuat saya gelap mata; akhirnya menuliskan rangkaian kata yang akhir-akhir itu merajai benak saya.

Mungkin hanya jiwa yang tak terjaga jua 
Dalam doa 
Hingga khilaf menyentuh terasa bergetar 
Ku berlalu 
Saat terasa waktu telah hilang 
Ku terdiam, oh! 
Saat hanya gundah yang bertentangan 
Ku bernyanyi 
Cinta 
Cita 
Harapan 
Dan ku terbawa dalam kisah lama 

Tepat setelah waktu dinyatakan habis, saya sudah menaruh kertas isi 'puisi' Tentang Aku itu di meja Ibu Guru.

Beberapa hari kemudian, nilai puisi dibagikan, saya mendapatkan nilai 85 bonus pujian. “Kamu berbakat menjadi penulis.”
Aduh, mendadak tidak enak. Menjadi penulis plagiat, tepatnya, Bu! Puisi itu, kan, saya curi dari lirik lagu Tentang Aku milik Jingga yang saat itu baru saja menjadi lagu baru. Tapi saya tidak lantas terus terang. Terhanyut pujian, walau hati dilumuri rasa berdosa.

Hari demi hari, lagu Tentang Aku semakin sering mengalun, baik di radio maupun televisi. Membuatku gentar, bagaimana jika Ibu Guru tahu?

Sesaat sebelum pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, selalu ada dialog imajinatif dalam kepala: “Kenapa puisimu sama dengan lirik lagu Jingga?”

“Hah? Jingga? Band apa itu, Bu? Eh, oops Saya tidak tahu itu Band, kok?! Saya tidak pernah dengar? Sumpah Bu, saya tidak mencontek! Kebetulan saja itu, Bu!”

Iya, kebetulan ketahuan. Ini, sih, mengaku pura-pura tak bersalah. Haduh, tidak. Saya berjanji, jika sampai ketahuan Ibu Guru, saya akan mengaku!

Namun, beliau tidak pernah menanyakan 'puisi' itu kepada saya sama sekali. Tahun demi tahun, dekade demi dekade, setiap mendengar lagu Tentang Aku, rasa bersalah itu kembali melumuri hati. 

Hingga tibalah suatu hari saya menerbitkan karya sendiri. Lalu terkena getahnya, getah pembalasan pencurian kata. Beberapa bulan setelah novel pertama saya terbit, saya mendapatkan laporan dari seorang pembaca tentang seorang 'blogger ternama'—julukan ini saya kutip dari header blognya, yang mengutip satu puisi utuh saya dari novel Joker. Saya sempat mengira ia lupa menaruh sumber buku saya. Tapi saat melihat beberapa komentar yang memuji-muji si blogger berikut balasannya, membuat hatiku mendidih.

Komentar pembaca: Wah, puisi lo keren! Lo mesti bikin buku! 
Balasan si blogger: Ah masa? Puisi gue masih jelek lah!

Hey, pujian itu harusnya untuk saya! Dan sudah dicuri, kaubilang jelek pula? Peler kuda banget! Seakan lupa dosa masa lalu, saya yang saat itu mudah murka, segera menanyai si blogger ternama. “Kenapa kamu copy paste puisi saya di novel Joker?”

Sungguh tak terduga—atau barangkali terduga tapi masih tak menyangka, si blogger ternama balik memarahi saya: “Novel Joker apa? Saya tidak pernah baca dan tidak tahu ada novel itu! Kalau misalnya sama, itu hanya kebetulan! Kamu pikir yang suka nulis puisi itu kamu saja? Kalau sama itu lumrah kali! Lagipula kamu siapa?”

Sebentar, jadi kalau lebih ternama boleh mencuri karya cipta semena-mena? Saya mendadak dramatis. 'Puisi jelek' yang ia curi itu saya tulis dengan susah hati. Iya memang, saat itu, novel saya belum pernah bertengger di deretan buku laku, tapi saya berani mempertanggungjawabkan kerja keras saya sampai novel itu berhasil terbit.

Beberapa hari setelah saling nyolot, postingan itu ia hapus. Itu pun dengan embel-embel menyebalkan, “Saya tidak mau ribut. Ada penulis tidak laku ingin tampil!”

Saya semakin geram! Saya ingin dia minta maaf! Lalu, lagu Tentang Aku pun mengalun dalam benak. Saya mendadak agak jinak. Tapi kan? Tapi kan! Ah, ya sudahlah.

Ketika era sosial media merajai ruang berekspresi, orang yang tertangkap basah mencuri kata-kata pun semakin banyak, entah itu lelucon ber-hashtag di Twitter, status kehidupan dan kematian di Facebook, sampai caption puitis di Instagram. Sedihnya, 10 dari 10 orang yang diduga (mari mencoba ber-khusnudzon) plagiat itu tak pernah terus terang, malah tiba-tiba marah dan menghina karya yang diduga dicuri.

Di era yang mana maling yang tertangkap basah pun bisa berteriak-teriak mengaku sebagai pihak teraniaya atau korban rundung massal, saya semakin susah berharap. Saat ini, seolah ada kiat sesat yang berlaku umum; bila tertangkap basah melanggar hukum, halaulah dengan pencemaran nama baik.

Dari media sosial pula, saya dikabarkan pendengar; ada sebait lirik lagu baru yang serupa dengan lagu yang saya tulis lima tahun lalu. Saya mencari tahu siapa penulisnya. Ia rupanya sudah 'diserang' para netizen berkaitan dengan kemiripan lirik lagunya dengan lirik lagu ciptaan saya.

Andai yang kembar hanya beberapa kata—atau bahkan satu kalimat, tentu kita tak akan mudah untuk berburuk sangka. Saya diam-diam butuh kejutan. Sayangnya, respons sang penulis seperti yang sudah-sudah; “Itu hanya kebetulan semata” ditambah “Saya tidak pernah dengar lagu yang Anda tuduhkan!”. Ia juga memberikan polesan “penyanyi saya lebih populer ketimbang penyanyi lagu lama yang tidak terkenal itu!” pada alasan yang dilontarkannya.

Rata-rata mereka yang tertangkap basah atau katakanlah terduga basah selalu menyebutkan alasan yang serupa. Apakah ada perjanjian di antara para pencuri kata untuk menggunakan alasan yang sama? Atau itu lagi-lagi cuma kebetulan semata?

Kalau saya jadi penulis yang diduga mencuri kata, saya ingin sekali mempelajari karya yang diduga dicuri. Siapa tahu secara tak sadar saya memang pernah terinspirasi, atau jangan-jangan kami memang memiliki ide yang identik—ini pun bisa diperdebatkan, sebab ide bisa sama tetapi penerjemahan dalam bentuk karya tak akan sama.

Dan bila memungkinkan, bila ada kesempatan rilis/terbit ulang, saya akan mengubah karya saya demi menghindari kemungkinan pelanggaran hukum dan terlebih menghormati karya yang sudah ada.

Ibarat saya membuat merek baru—yang asli ide sendiri tapi sama dengan merek yang sudah terdaftar, ini bukan lagi sekadar keaslian ide, tetapi mengalah pada nama yang sudah eksis lebih dulu.

Ah, lagi-lagi, lagu Tentang Aku kembali tersenandung dalam benak. Lagu itu menyindir hati, seraya diingatkan kalau saya pernah memakai mekanisme primitif saat ketahuan bersalah: marah-marah. 

Ibarat menabrak mobil teman, mekanisme pembelaan dirinya seperti ini:

Tertabrak : “Elo nabrak mobil gue, ya?” 
Penabrak : “Hah? Nggak lah! Mobil lo yang mana aja gue gak tahu!” 
Tertabrak : “Lah ini belakang mobil gue penyok, bumper mobil lo juga penyok. Ada cat mobil gue pula! Ngaku aja lo!” 
Penabrak : “Jangan nuduh! Ini cuma kebetulan semata! Lagian, mobil gue, kan, lebih mahal dari lo!”

Kita sungguh mudah berpura-pura; dengan mudah menjelma perkasa dan meremehkan yang lain. Detik berikutnya, kita menjelma korban, bahkan seolah-olah orang yang paling teraniaya. Namun, soal isi hati adalah lain perkara. Akan selalu ada ruang waswas dengan tenggat waktu tak terbatas. Apalagi bila karya curianmu ternyata menjadi besar dan selalu dipertanyakan.

Seorang sahabat; Windy pernah bilang, ‘Pujian itu candu. Plagiat itu, sih, tabiat.’
Sekali nggak ketahuan, pelaku akan keenakan dan melakukannya lagi. Lantas mau pura-pura sampai kapan? Atau mau menjadi kreator yang berkarya dengan ‘mencuri’ sampai kapan?

Maafkan saya, Ibu guru & Jingga. Hati kacau ternyata hukuman yang setimpal. Semoga mengaku dan meminta maaf adalah penawar kebebasan.



Thursday, December 24, 2015

Explosion in My Head: I'm a Writer Who Lost Words From a Stroke

I was the guy who was smoking while jogging, who drank beers while eating salad, who stayed awake at night but slept soundly during the day, who thought healthy is whatever food that makes me happy, who assumed that a balanced life meant doing whatever I wanted to do. 
Then I had a hemorrhagic stroke.


It was a bright day in Ubud, Bali. I was just coming back from my summer holiday in the US. It was one of my prodigious trips; attending a U2 concert in LA, celebrating my 35th birthday in Sausalito, having sweet and savory food tours in New York. I was busy making myself happy. I declared prematurely, it turns out 2015 was my greatest year ever.

The morning started with a vibrant sunrise. I woke up energized, brewed Sumatran coffee in my french press, danced to whatever music happened to be streaming. I opened my notebook to continue writing my next novel. I also wrote some ideas about my future projects ambitions that made my heart beat faster. Between the writings, I played air guitar while head-banging. Then suddenly I felt pain in my upper-neck, radiating to my eyes as my vision blurred and my hearing faded.

I felt like Neville Longbottom when he was thrown the spell 'petrificus totalus' by Hermione. I couldn't move my body. All my muscles suddenly lost the ability to move. I didn't think it could get any scarier, but then my capability to think also vanished. And that, it turns out, was not even the scariest part, as I discovered when the torturous pain propagated through my head and it began to feel as if the brain was being chopped by millions of razors.

I tried to close my eyes to lose my consciousness. I still hoped that everything was going to be okay during my sleep. I didn't know precisely how long I slept. When I finally woke up, my vision was twisted. I saw everything double. My brain still hurt. Those million razors were now shredding the left side of my head. I tried to reach my cellphone, typing intermittently to ask my good friends for help. I pushed my self to stand and to walk, but hell, the anguish was real.

As soon as I arrived at the hospital, the nurses took my blood and urine, checked my heartbeat,
then the bad news came with my blood pressure charts: around 200/100. The terrifying moment began with my CT scan report: there's internal bleeding in my head. My blood vessel leaked in my left brain.

The torment became ruthless. I kept asking the doctors to add dosages of pain killers through any way possible: orally, intravenously, even via my butt. But pain killers have limitation.
A doctor suggested that I lay down, keep my head horizontal to avoid the leaking blood in my brain from spreading. I ate, I peed, I pooped all with my head facing the rooftop. If there was still blood in my brain on my next CT scan reading which would be held in two weeks, they would conduct a brain surgery to alleviate the swelling and bleeding.

Because of my lack of medical knowledge and the unbearable pain, I requested the doctor to do brain surgery as soon as possible. But I went silent when I was told that one of the risks of brain surgery is having another stroke. Wait, what? Is this some kind of a stroke parade?


The doctor also reminded me to not stress. How can you tell people not to stress while their brain is bleeding?!


Blood in my brain 


I was in denial.
When I saw my CT scan, I hoped it was other patient's result. But then when I suddenly lost my memories, it was hard to deny the truth.

I was angry.
When the doctor diagnosed me with a hemorrhagic stroke, I wanted to change my hospital. The doctor concluded that the cause of my hypertention is genetic because I told him my grandma and my dad both had strokes. Well, I don't know which one is more genetic; our blood pressure or our passion for the fatty foods.

I was disappointed.
When someone said "After a brain injury, you’re lucky to be alive." But 'lucky' for me is when you live your life without any brain injury at all. In the darkest night on my hospital bed, I secretly did not feel very lucky to be alive. 


Every time someone says, “You've been given a second chance to start your life over" I feel like I've been handed a big burden. I actually appreciate all kinds of supports and positive-looking on the bright side, kind of thinking, I just have to stop thinking too much. Overthinking is like zooming in on an ant. The bigger it is, the scarier it looks. I tried harder to 'zooming out'. I learned to acknowledge the pain, to become aware of my feelings without getting carried away.

I was feeling confused and selfish. What I worried most about at that time was my career as a writer.
There were several moments when I woke up, feeling blank and empty. I lost my vocabulary. I couldn't say nor could I write what I wanted to express. I couldn't even say my name. I still remembered who I was, but I was hardly able to describe it. I felt alienated.
I easily to confused excitement with happiness. I was restlessness in highs and lows. I often let my emotions be overly affected by my outside circumstances.

I didn't care what my body really needed. My 'I-can-do-whatever-I-wanna-do-to-my-body' attitude had the consequence of making my loved ones worry and busy themselves taking care of me.

Afterward, the most terrifying question of all popped into my minds, “Will I be paralyzed?”
My doctor then gradually explained that each stroke sufferer may have a different effect from their stroke, depending on which type you have; clogged arteries (ischemic) or ruptures (hemorrhagic—my case). Its location; whether on left or right brain and how much the blood leaks.

I had no choice but to wait in agony. But my vision was getting clearer, I supposed that was a good sign. And it was! The uplifting news flowed into my ears. My second CT scan showed no more blood in my brain. I could go home. Even though my insurance claim was unfairly rejected (oh well, that's for another post), the fact that I could freely move my head was pure exuberance.


Another bliss came from a woman with a heart of gold, Ibu Robin Lim, founder of Yayasan Bumi Sehat Ubud (Healthy Mother Earth Foundation).


Me & my hero, Ibu Robin
She let me stay in her cozy house. She provided me with healthy foods that made all kinds of dishes I like the most off limits! I technically become a pescatarian with less salt and less sugar in my diet. Every time I miss sirloin steak, I remember the suffering. Probably the notion that people are motivated more by pain than pleasure is right, at least for me. I somehow have to learn to appreciate the pain as a compassionate teacher.

At Ibu Robin's clinic, I'm given acupuncture and cupping therapies and all the things that I need to recover. Every time I feel a bit of pain when needles punctured my skin, I celebrate the feeling.


I just noticed that I tend to hold my breath when I feel pain. But I've been told that deep breathing is the body’s natural pain killer. Then I keep breathing & instagramming while going through the pains!



Need more needle
Finally I began to move around again. But I walked like a drunken gorilla, I feared falling with every step I took. I didn't have enough strength to improve my physical mobility until my best friend held my hand to walk me across the Monkey Forest. I was very much enjoying the feeling of energy growings to fill my entire body. How can I live without my best buddies?

When I do the walking, my memories sometimes flicker like a remix music video. It's bewildering, I lost in my own beats, but I put my effort into enjoying this new rhythm.

The memories and the moods occasionally re-play my past self awareness. I woke up as an eight year old, thinking about geting ready for school. The other day I woke up looking for my barista apron, a re-run of what happened when I worked at Saudi Arabia six years ago.


Suck the blood out
When I suddenly remember the painful memories, I struggle to remember the happy moments. But when I finally remember, it makes me feel worse. I have to accept all of those pains are now part of who I am. I embrace bad memories as I'm given the ability to remember.

I also could remember vividly what I did in my sleep! I suddenly started to have lucid dreams.
I was amazed by green clouds above my head.
"I must be dreaming!" I realized I could control my dreams. After I was mesmerized by a weird sky, I tried to 'create' a beach with a silver sunset and pink neon sand, and it worked! I also had desired to meet my friends; they appeared in the middle of my dream!

I later found out that this is the effect of 'brain strengthening' pills that I got from my doctor.


I also had a series of awkward moments. When I need to sign documents in the bank, I fail many times to imitate my own signature on my ID card. The bank officer stare at me suspiciously, as if I'm going to forge somebody's signature.
I'm beginning to get used to that suspicious staring. The other day, I was interviewed by a magazine and I totally forgot the books that I wrote. Yes I remember the covers, but I forgot the titles. It's like you remember the faces, not the names, but in this case it's your kids you forget, not just random acquaintances. Forgive me, my books.

I'm still in denial, angry, disappointed and confused but I'm willing to get well.
I still have hard times speaking and writing well, but I want to re-learn everything, starting from zero or even minus ten.
Not all my losses is a loss, I lost 20 kg of weight in 5 months just by changing my lifestyle. More water, more walking, more vegetables.




From 128 kg, through 118 kg, to 108 kg

Everyday I watch my own numbers to beat my silent killer. No, not the number of followers, likes or other popularity figures, but my blood pressure numbers. Just forget all the new gadgets, all I care about is my tensimeter. When I'm too excited, my blood pressure rises high, and it's time for deep breathing and drinking water. 


A device to defeat the silent killer


I've been facing many challenges but I will continue to heal, to write, to love, to try and understand this new perspective.
 Exploring my own memories perhaps one of the best travel experiences I've ever had.
A brain hemorrhage gave me nightmares, but I was woken up by kindhearted people.



My year 2015 was like a whitewater rafting trip, sailing through a tranquil river to a precipitous waterfalls. I really wish to float along in a river surrounded by beautiful islands with shady trees.

***
Looking through the pain

Wednesday, November 04, 2015

Bertandang ke Rumah Niang

Diam-diam saya merengut setiap mendengar pertanyaan berbalut keluhan: “Uh, Ubud kok semakin ramai?”
Merengut pertama akibat merasa bersalah. Sebagai pendatang, saya ikut serta meramaikan Ubud. Merengut kedua karena justru 'ramai'nya Ubud itulah yang membuat saya betah; ramai dengan orang-orang hangat.

Kalau sudah berkumpul dengan mereka yang hangat di akhir minggu, kami hobi mencari tempat yang nyaman, sejuk, hening, entah itu sekadar bercengkerama atau rebah-rebah manja di rerumputan.



Salah satu tempat nyaman yang kami tinggali kali ini bernama Rumah Niang; berbentuk bungalow dengan gaya khas Jepang; lapang, bersih dan dekat dengan alam. Dekatnya tuh, deket bener!

Memasuki halaman Rumah Niang, kami disambut rerumputan luas dan aneka tanaman jelita. Dapur lega dan tempat makan terbukanya membuat hasrat masak dan makan menggelora!







Kamar tidurnya juga tak kalah nyaman. Kasur dan bantal empuk, berkelambu romantis.



Saat pagi tiba, sinar matahari menjelajah berbagai sudut ruangan. Pemandangan hijau asri melegakan hati.







Kami tak pernah bosan leyeh-leyeh menikmati langit biru. Kalau ingin sedikit bertualang,  mari langkahkan kaki menuruni tangga rahasia sebelah bungalow, menelusuri mata air atau sekadar kecipak kecibung di sungai!





Yang lebih menyenangkan, bungalow ini sangat dekat dari jalan utama Ubud Raya! Kalau jogging dari Pasar Ubud, butuh 1-2 lagu untuk menemukan Rumah Niang.
Untuk cari tahu lokasi dan booking Rumah Niang, mari ke mari!

Selamat bersantai sejuk di Rumah Niang!

Wednesday, July 29, 2015

Jadi Sok Jagoan Gara-Gara Serial TV

Saya pikir, hakim dan pengacara adalah profesi menggiurkan. Saya kemudian sadar, menggiurkan karena tercekoki serial-serial TV berlatar belakang pengadilan yang saya tonton sejak SD. 

Dimulai dari serial Dark Justice. Saya terpikat pekerjaan hakim yang saat malam hobi menyamar demi menemukan kebenaran dari kasus yang sedang ditanganinya. Walau cara menyamarnya hanya semudah mengurai rambut gondrongnya, sih.



'Racun' berikutnya menyebar dari serial Ally McBeal, kali ini saya kepincut pengacara-pengacara yang tampak tangguh saat membela klien, tapi begitu rapuh cenderung delusional saat di luar ruang pengadilan. 



Ironisnya, ambisi menjadi hakim & pengacara terkikis saat saya kuliah hukum—terlebih saat kuliah praktek peradilan. Selain sistem peradilan Indonesia bukan Anglo Saxon yang dilengkapi sistem juri (lah kemana aja), ruangannya pun tentu saja tidak seglamor settingan TV (lah kemana aja-bag 2). 
Di lorong-lorong gelap pengadilan, saya semakin menyadari kalau suap menyuap bukan hanya sekadar memasukkan makanan ke mulut seseorang. 

Ah ya, siapa suruh termakan ilusi fiksi? 

Sialnya, kebiasaan menjadi jagoan dadakan terbawa sampai sekarang. Sumber serialnya masih berbau-bau pengadilan menyerempet kriminal, dengan penelaahan ruang lingkup psikologi manusia secara mendalam. Sedalam Amerika ingin kita meyakininya. 

Mari mulai dari serial Lie To Me. Kali ini sang jagoan, Carl Lightman yang merasuki jiwa, membuat saya ikut menjelma jadi ahli pendeteksi kebohongan. Saya mendadak menjadi penyimak ekspresi, entah itu teman yang sedang curhat atau para selebritas di infotainment. 


Setiap si pembicara menggaruk-garuk hidung atau melilipkan kelopak mata, saya serta-merta berpikir, “PASTI LAGI BOHONG!” 

Saat si pembicara menundukkan kepalanya, saya otomatis menuduh,”DIA PASTI SEDANG MENYEMBUNYIKAN SESUATU!” 

Ironisnya, gara-gara terlalu melahap serial ini, saya jadi waswas disangka berbohong. Jadi ya, kebiasaan saya kalau lagi grogi, saya sering mengusap-usap leher bagian belakang; yang menurut Carl Lightman adalah salah satu ciri orang berbohong. 
Padahal percakapannya hanya sesederhana ini, 
 “Mau ke mana?” ditanya kecengan. 
“Ke toko buku,” jawab saya pegang leher belakang. 
Sadar itu hal 'salah', saya buru-buru memasukkan lengan ke saku. Malah makin aneh kan gesturnya? 

Lalu saat lagi flu atau kebelet pipis pun saya menghindari ngobrol, takut gak sengaja garuk-garuk hidung atau kelilipan! Ah, kok jadi ribet amat. 


'Untungnya' yang ribet bukan saya doang. 
Kali ini saya lagi menonton berita tentang kasus aktris yang meninggal pasca operasi plastik, penyebabnya masih belum diketahui.  Adik temen saya yang masih muda belia berceloteh, “Pasti dia kebiasaan minum obat penenang Nadril deh. Terus dokternya ngasih Emerol. Jadi aja mati!” 
“Kok bisa tahu sih?” Tanya saya takjub. 
“Dia kan aktris ya, pasti suka minum obat penenang, kan? Pernah ada kasusnya di Law & Order.” 
Takjub saya menguap perlahan. 

Selain jadi pelaku, dengan bangga saya katakan: saya juga sempat jadi korban, loh! 

Mungkin ada yang ingat waktu saya dapet berbagai teror akibat buku saya tahun 2011, saya lumayan kan sering curhat di social media. Beberapa orang berspekulasi kalau itu cuma rekayasa agar penjualan buku naik. Malah saat ban mobil gembos ada yang yakin itu upaya saya sendiri untuk menarik perhatian. Ya iya sih, saat saya memamerkan foto ban gembos, memang betul buat narik perhatian. Tapi saya belum sedepresi itu sampai menggembosi ban sendiri.
Teori-teori ala Hollywood yang mereka utarakan pun cukup cadas, secadas batu yang pengin saya lempar ke mereka.  Mumpung lagi kena batunya.

Tanpa bermaksud ingin mencari teman, para ahli dadakan pun kini bertebaran di media sosial, entah ahli medis atau ahli forensik. Mereka akan ramai berkicau kala-kala kasus panas mendidih di timeline. 

Jadi karena dikeroyok atau kecelakaan?
Cepat sembuh dan banyak berkah ya, Bu!

Menduga-duga memang menyenangkan, tapi memaksakan dugaan agar jadi kebenaran itu memuakkan.

Dunia nyata tak berlayar, luasnya tak mampu dikekang kotak TV, rumitnya tak sebanding skenario fiksi.

Saya dan para ahli dadakan lainnya harus lebih memahami lagi kalau perkembangan manusia progresif—bahkan secara organisme saja sudah kompleks, belum lagi ditempa berbagai pengalaman psikologis masing-masing. 

Eh bentar bentar, kata-kata ini dari serial TV apa ya??

Friday, July 24, 2015

Beneran ingin bahagia atau sekadar bikin orang iri?

Seringkali sih, saya tidak ingin ada sekadar; mau bahagia sekaligus bikin orang-orang iri. Karena iri—baik mengiri atau diirikan adalah amunisi untuk mengejar impian berikutnya! Iya, iri adalah mampu yang tertunda!

Tapi tunggu, sebelum berlomba iri, kamu percaya nggak, saat ini kita sedang menjalani kehidupan yang pernah kita idam-idamkan?

Kamu dan pasangan.
Kamu dan anak-anak idaman.
Kamu dan segerombolan kucing-kucing di taman.
Kamu dan segenap kota baru untuk berjalan-jalan.

Sayangnya, rumput tetangga yang kini menjelma jadi akun media sosial teman-teman membutakan ingatan akan idaman. Hidup teman-teman—yang bahkan nggak dekat-dekat amat pun tampak lebih menggembirakan hati. Beribu wajah berubah di layar beauty camera, kehidupan maya pun terasa lebih layak diperbincangkan. Bila toh ternyata di dunia nyata buruk rupa dan obrolan kikuk garing semata ya bisa jadi bahan olok-olok seru kembali di ruang obrolan maya. Begitulah siklusnya. 

Sebelum lebih jauh menuduh, pemikiran ini datang saat teman lama memberikan komen-komen senada di foto-foto pameran kebahagiaan saya. Nada-nada itu berbunyi sedih: “Enak ya jadi penulis, hidup gue mah gini-gini doang.”

Sampai kemudian di sebuah kesempatan ngopi bersama, saya mengajaknya bertanya-tanya, “Memangnya kamu pernah bercita-cita jadi penulis?”

Saya benar-benar ingat, kehidupan si teman yang kini merasa 'gini-gini doang' adalah impiannya sejak masih perawan: menikah dengan lelaki tampan dan anak-anak sehat rupawan. Dia juga tak kalah gesit dalam 'memamerkan' kebahagiaanya. Ketika saya pamer rilis buku baru, dia juga pamer saat bayi di pangkuan. Saat saya pamer buku sedang dipajang di rak laris, dia juga pamer foto Si Sulung juara lomba renang.

Kalau toh sekarang punya impian baru, berarti kan bisa mengubah keluhannya dari “hidup gue kok gue gini-gini doang” jadi “hidup lo asyik, gue mau nyoba juga ah!”

Si teman pun terkekeh riang, tersadarkan impian yang kini jadi kenyataan, “Nah, biar gue makin enakan, elo iri juga dong sama kehidupan rumah tangga gue?!”

Tentu saja ini cuma senda gurau belaka, tapi diam-diam bikin hati menduga-duga pertanyaan seperti judul di atas, “Jadi elo beneran pengin bahagia atau sekadar bikin orang iri?"

Yah, kalau pun cuma untuk sekadar bikin orang iri atau demi puja-puji, semoga gak mesti sampai nyusahin orang, apalagi ibu sendiri. Seperti begini kejadiannya: saat itu saya lagi di Bandara Ngurah Rai, seorang gadis belia minta tolong emaknya buat motretin dengan gaya 'pura-pura candid'.

Rupanya Sang Emak belum paham konsep ini, sehingga setelah Si Belia membengkokkan sebelah kaki sambil kepala menunduk dan jemari memainkan kancing baju, terjadi sedikit kericuhan.

“Udah belum, Mah?” Tanya Si Belia.

“Hah, emang sekarang motretnya?”

“Iya, Mah!! Ayo buruan pencet kameranya!” Pinta Si Belia sambil tetap konsisten dalam gaya kaki bengkok dan kepala nunduknya.

“Loh, emang gayanya mesti begitu??” Sang Emak tak juga memencet tombol kamera.

“Aduh gimana, sih!?” Si Belia akhirnya menyerah dalam gaya. Sang Emak pun cemberut tak berdaya.

Akhirnya saya menjadi sok pahlawan menawarkan bantuan, demi kedamaian dunia ibu dan anak. “Zaman tante dulu sih, kalau foto ya gayanya bener-bener manis lihat kamera atau lihat agak ke samping. Ini kok gaya anak sekarang malah seneng kayak lagi encok gitu ya?” Curhat Sang Emak saat saya memotret Si Belia.

Saya cuma cekakak cekikik saja sambil mengingat-ingat, jangan-jangan saya juga sering melakukan hal yang sama: demi 1000 like orang asing malah meniadakan 1 senyum orang tersayang. 

Saya gak bisa mencela apa yang membuat orang bahagia. Kita punya porsi bahagia (dan iri) masing-masing. Tak semua bahagia dengan sejuta. Tak semua sedih dengan sepuluh ribu.

Jauh di lubuk hati, saya masih berharap, semoga kebahagiaan yang kita pamerkan, benar-benar bahagia dari hati, tak peduli berapa & betapa yang iri.

Tampak keren memang mengasyikkan, dipuja-puji juga memabukkan, tapi yakinkan si hati agar benar-benar senang dan tidak sampai menyakiti tersayang.

UDAH DIPOTRET BELUM, SIH? 

Friday, July 17, 2015

My 7 Hopes On This Eid al-Fitr Day

Eid Mubarak, 


I hope you guys find your own happiness so you won't have time to destroy people's lives.


I hope you guys get lost so you could find the best route to come home.


I hope you guys know & remember how it feels to be small, so when you're big you don't necessarily need to be an asshole.


I hope you guys find someone who truly believes in you; who likes to lie on the grass half-naked with you.


I hope you guys get a room with a beautiful view; a view of open minded & non-judgemental people.


I hope you guys will always remember how to hum merrily as your feet have the right to dance, no matter how much fear & pain you are in.


I hope you guys recognize the difference between frankly speaking and maliciously gossiping as sometimes sunset & sunrise on pictures look the same.


Amin.



Friday, March 13, 2015

Kehidupan Glamor di Ubud

Pada suatu masa, terdengar bisik-bisik memekakkan telinga, “Biasanya orang luar datang dan menetap di Bali karena kabur dari masalah.”

APA, seenaknya saja menghakimi!

Eits, tapi pas 2012, saya melakukannya sih; kabur dari kerusuhan emosi. Berawal dari cuma dua minggu, disusul berjuta rindu.
Akibat penasaran, apakah saya secinta itu sama Ubud atau hanya sebatas pelarian, pada Agustus 2014 akhirnya nekat hijrah dengan membawa bekal delapan potong kaus dan empat celana dalam. Coba dulu deh, ngekos sebulan saja, pikir saya saat itu.

Eh, ternyata lanjut!
Masuk bulan kedua, wah beli papan jemuran.
Bulan ketiga, oops beli perabotan.
Bulan keempat, waduh pasang tv kabel! Ini merupakan komitmen yang sungguh serius!

Akhirnya memasuki bulan delapan, saya baru berani menulis postingan tentang hal ini. Hal yang perlu dibaca perlahan tengah malam. HIHIHI!

Oh iya, tapi kenapa milih kabur ke Ubud? Ya, abis hidup di London mahal banget. Itu jawaban versi menyebalkan, walau ¼ nya benar. Tapi sungguh senangnya, di sini beberapa kali bermain bersama dan mendengarkan kisah orang dari berbagai negara, membuat saya merasa sudah keliling dunia tanpa harus keluar pulau.

Lalu, apa gak bosen tinggal di Ubud? Ah, di manapun saya tinggal, pasti akan ada bosannya. Jadi tinggal milih, mau bosan di mana?
Memang ada beberapa pekerjaan ala ibukota yang tidak lagi bisa saya raih di desa, tapi banyak kenyamanan ala desa yang tidak saya rasakan di kota.
Lagian, kalau berdisko mewah—mepet sawah sih, masih bisa kok.

Tidak banyak yang tahu, kalau kehidupan saya di Ubud pun mendadak glamor—gerak langkah tergantung motor. Seminggu pertama sih, nekat pakai sepeda. Tapi setelah mengelilingi Ubud dari Sayan-Tebongkang-Nyuh Kuning-Monkey Forest, sesampainya di supermarket Bintang malah minta jemput sopir karena mata bergelimang kunang-kunang.

Tapi ternyata tak semua sopir mau sertamerta mengantar saya!
Kisah tragis ini bermula saat saya mengenali Ubud lebih dekat, dengan cara jogging. Iya, gara-gara jalan ganteng—tengok kiri kanan, jadi bisa tahu berbagai lokasi warung enak atau sekadar rute tukang roti keliling.

Sampai suatu sore, saya kebablasan jalan kaki, tiba-tiba saja sudah malam di Penestanan. Buat yang di Bandung, bayangkan Cigadung untuk membayangkan area ini. Untuk yang di Jakarta, boleh inget-inget Jagakarsa. Untuk yang lain, lihat saja video yang saya ambil sambil naik motor ini.



Saking gelap gulitanya jalanan, sinar ponsel dan senter powerbank tidak membantu. Satu-satunya cahaya datang dari lampu kendaraan, yang sayangnya terlalu cepat untuk diikuti. Tampaknya mereka pun terburu-buru melewati jalanan berkelok-nanjak ini.

Untunglah ada seorang bapak-bapak yang sedang asyik nangkring di bale-bale.

“Pak, maaf nih, boleh minta antar melewati kelokan depan gak, abis gelap banget,” pinta saya tersipu malu.

“Waduh, lewat kuburan itu ya?” Kelopak matanya melebar.

“Iya, Pak.” JUSTRU ITU ALASAN UTAMANYA. “Saya agak... takut.” Saya makin cengengesan. 

“Iya, saya juga,” eh si Bapak cengengesan balik!

“Lah, bapak bukannya warga sini?”

“Iya, tapi tetap kalau gelap sih, seram.” Akhirnya ia mau mengantarkan saya, tapi melewati rute lain yang gak kalah seramnya. Kala melewati jembatan, pohon beringin, dan segenap area yang bikin bulu kuduk berdiri, ia selalu membunyikan klakson sebagai permohonan izin untuk segenap makhluk lain yang mendiami daerah itu, “Biar mereka tahu kita akan lewat. Kan kalau ketabrak gak cuma mereka yang sakit, kita juga bisa celaka.”

Diam-diam, saya menerka-nerka bagaimana bentuk 'mereka'.

Sampai beberapa hari kemudian ada beberapa teman yang membocorkan salah satu rupanya. Biasanya dimulai dengan percakapan, “Kamu di Ubudnya tinggal di mana?”

“Sayan.”

“Ooh, itu sih bukan Ubud.”

“Iya kan deket-deketan lah.” Saya sering lupa, kalau Ubud itu kecamatan—bukan kota atau desa, terletak di kabupaten Gianyar. Barangkali ibarat ke Jakarta, lagi di Pasar Minggu pun bilangnya Pancoran. Atau sudah tahu mantan masih anggap pacaran. Maaf ya.

“Oh ya, di Sayan itu masih banyak orang cari ilmu. Dulu pernah subuh subuh, ada kejadian suara gaduh di kos-kosan yang lokasinya tepat di sebelah sebuah resort.”

“Jangan bilang resort ANU!” Saya menyebutkan nama penginapan yang kebetulan berlokasi persis di sebelah kosan.

“Iya, itu.”

“AH TIDAK! JANGAN TERUSKAN!”

“Jadi pernah ya,” Ia tetap nyerocos,”Tamu-tamu penginapan dibuat geger sama makhluk ½ monyet yang ganggu-ganggu di kamar mandi outdoor. Setelah diusir, eh kabur ke atap kosan sebelah.”

“...1/2 monyet? ½ nya lagi apa?”

 “Gak jelas. Pokoknya ngeri.”

“..... oke. Ada lagi?”

“Pokoknya kalau kamu keluar rumah tengah malem, jangan tepat pukul 12 malam. Tunggu lah sampai lewat 10 menit. Terus kalau lihat seekor anjing hitam, bertubuh panjang, dengan kepala yang besarnya tidak proporsional, kamu lebih baik bilang permisi.”

“Hah, apa gak mending langsung ngibrit aja?”

“Yah, kalau sampai kalian bertatap mata, lebih baik bilang permisi. Takutnya nanti kamu demam tinggi.”

Alhasil gara-gara amanat ini, setiap kali saya jalan malam lihat anjing hitam dalam kegelapan—apa pun bentuknya, saya sempet-sempetin bilang permisi.

Selama ini di kosan Sayan belum nemu sesuatu yang aneh-aneh banget. Kalau agak-agak aneh sih, pernah suatu malam, saya lagi ngobrol di kamar dengan teman yang baru datang dari ibu kota. Pintu saya biarkan terbuka biar ruangan tersambangi angin segar.

Ternyata yang menyambang tak hanya angin, tapi juga seekor kucing totol-totol mirip harimau. Secepat kilat si kucing totol melesat ke bawah tempat tidur! Kami berdua segera menundukkan kepala, ingin menyapa si kucing. Tapi, kok, gak ada?!

Saya langsung meluncur ke dapur, gak ada juga! Cek-cek kamar mandi, hiii, kosong! Kamar saya gak gede-gede amat, semua ruangan terjamahi dengan beberapa langkah saja.

Saat saya dan si teman ibu kota masih sibuk membolak-balikkan pandangan antara bawah kasur, dapur dan kamar mandi, tau-tau si kucing totol sudah asyik mejeng di depan pintu kamar dengan mimik sombongnya, seakan menertawai kami yang lantas kebingungan.

Setelah puas bersombong ria, si kucing totol pun berjalan bak peragawati ke kebun sebelah. Oke deh, dadah.

Sejujurnya saya gemas, ingin lebih dalam menggali seribu alasan dibalik kejadian. Sama seperti larangan “Jangan berpayung di dalam ruangan!”, apa memang ada alasan lain selain terlihat bodoh? 



Kemudian beberapa minggu menetap di Ubud, saya mulai menyambangi pesta kecil ala ubudian di malam temaram penuh lampion, dihiasi gelak canda, camilan, musik berdentam dan minuman pusing.

Sesaat setelah bubar, salah seorang teman pesta terjatuh dari motor di area Campuhan. Lukanya parah. Wajahnya berdarah-darah. Alhasil dari tengah malam sampai subuh kami berkumpul di sebuah ruangan mencekam Rumah Sakit, terhiasi jeritan kesakitan saat penjahitan. Sayangnya obat bius tak begitu mempan, terkalahkan efek minuman pusing.

Sehari setelah kecelakaan, si teman yang celaka berceloteh bahwa ia beberapa kali telah terjatuh di lokasi yang sama. Mendengar itu, seorang teman lain yang kebetulan warga asli Bali segera membuat banten (sesajian) berupa sepasang tumpeng, sebutir telur dan pengeplugan berbentuk tapak dara. Tentu saya bertanya, “Buat apa?”

“Ya, kalau di sini kan kami percaya dengan dunia sekala (nyata) dan juga niskala (tak nyata), juga keseimbangan di antaranya, agar damai antara bhuana agung (makrokosmos) melalui bhuana alit (mikrokosmos). Karena itu pas seseorang mengalami kecelakaan, apalagi sampai berulang kali di tempat yang sama, perlu diadakan upacara ngulapin. Ngulapin ini untuk membersihkan dunia batin dari negatif seperti rasa trauma setelah kecelakaan.”

Saya mengangguk-angguk dengan pandangan yang masih ingin banyak penjelasan.

“Ngulapin berfungsi untuk mengembalikan keutuhan vayu manusia. Dalam sanskerta, vayu itu prana; energi. Sebagai energi, vayu ini sangat penting, menjadi penggerak kehidupan kita. Jadi saat kita kecelakaan, misalnya, vayu bisa terlepas. Nah, upacara ngulapin akan mengembalikan vayu ini.”

Lalu ia menjelaskan, upacara ngulapin akan dilakukan di lokasi kecelakaan untuk memanggil bagian roh yang tertinggal di sana, agar teman saya tidak 'terpanggil kembali; saat melewati lokasi tersebut, dan bisa kembali tentram melanjutkan hidup pasca kecelakaan.

“Mungkin kamu pernah melihat orang yang pasca kecelakaan jadi banyak ngelamun atau gamang? Jadi inti ngulapin ini untuk menyeimbangkan jiwa agar benar-benar pulih dari trauma berkepanjangan. ”

 Waduh, upacara ngulapin ini bisa buat patah hati juga gak ya, biar gak keingetan terus? Iya, maaf. 

“Ngulapin ini juga dilakukan buat yang meninggal di tempat saat kecelakaan, agar roh yang bersangkutan bisa kembali ke alam sunya, gak kejebak di sana. Sekali lagi, ini kepercayaan kami. Kami gak maksa orang lain buat melakukan atau mempercayai hal yang sama.”



Ah, terima kasih. Kepercayaan bisa berbeda-beda, tapi kehangatan antar manusia selalu terasa nyaman.

Membayangkan celaka di pulau orang, lalu mendapatkan bantuan dan doa sedemikian rupa dari warga sekitar, siapa yang ingin ingkar?

Sebagai pendatang yang ikut membuat Ubud tambah ramai, saya tak ingin mencemari rasa damai. Memang ada yang tak perlu diekori, tapi saya ingin lebih memahami, agar tak sekadar menghormati. 

Masih ada semilyar teka-teki yang ingin saya kuak, maka izinkan menyudahi sejenak tulisan ini, mari berkelana kembali!