Search This Blog

Sunday, August 13, 2017

5 Alasan Kenapa Perlu Baca Novel Forgotten Colors


Setelah merilis buku, penulis mendapatkan pertanyaan klasik dari pembaca: “Kenapa saya harus baca buku ini?”
Dulu sih, jawaban saya gak jauh-jauh dari:
1. “Kenapa nggak?” (males mikir)
2. “Siapa bilang harus? Bebas kok.” (biar bijak)
3. “Gak mesti baca kok, cukup beli saja. Karena saya butuh uang.” (iya kaaan)

Tapi kali ini, saya siap dengan lima alasan (berbuah pertanyaan) kenapa kamu perlu baca novel Forgotten Colors:

1. Mendaur ulang musibah
Begini kisahnya. Setelah meresmikan proyek seni melukis 1000 bangku taman, Arka terkena strok. Semenjak itu, Arka sering bermimpi aneh, melihat makhluk-makhluk seram dan ruangan penyiksaan di berbagai taman kota. Keadaan ini membuatnya sulit pulih. Dibantu dengan kekasih, Arka menelusuri jejak-jejak ingatan.
Arka mengalami musibah yang membuka mata, menerangkan hati, lambat laun mengubah bedebah menjadi berkah, menyulap lelah menjadi anugerah. Waktu beralibi, ini bukan keajaiban tapi awal sebuah penjelajahan.

2. Menjelajahi Kenangan
Ada berapa banyak kenangan buruk yang ingin kamu lupakan? 
Tapi tanpa kenangan buruk, apakah masih bisa menghargai sebuah kenangan indah? 
Lalu, sejauh apa kita mengenal ingatan yang selalu terkenang-kenang itu? 
Sekeping keresahan Arka: “Aku bekerja keras memulihkan badan dan otak, menelusuri semilyar kenangan demi kewarasan, tapi terlalu banyak ingatan yang malah melumpuhkan.” 
Forgotten Colors akan membawamu menjelajahi kenangan—yang kadang menyesatkan, namun bisa membebaskan.

3. Menguak Kerinduan
Rindu dengan orang yang salah itu membingungkan; membuatmu bertanya-tanya dalam kegilaan. Kau paham dia menyebalkan, tapi kenapa tetap dirindukan?
Tapi, pernah tidak rindu dengan seseorang atau sesuatu yang kamu tidak tahu—dia itu apa dan siapa? 
Kamu tahu ada yang hilang, membuatmu merasa tak utuh. Kamu bisa jadi menemukan jawabannya di Forgotten Colors.

4. Mengembarai Mimpi
Apakah mimpi itu cuma sekadar ulangan kenangan? Atau simbol segala ketakutan yang tak sanggup terucapkan? Atau petunjuk akan keadaan yang telah-sedang dan akan kita hadapi?
Bisakah kita terbunuh dalam tidur? Apakah tidur lelap itu sama dengan tidur bermimpi?
Bisakah kamu mengatur alur mimpimu sendiri?
Arka akan membawamu berkembara dalam mimpi.

5. Menelanjangi Inspirasi
Siapa yang paling sering memberimu inspirasi?
Kenangan? Kerinduan? Mimpi? Musibah? 
Atau ada makhluk tak kasatmata yang membisiki hati dan memercikkan ide di otakmu?

Sebelum bergentayang di toko buku, Novel Forgotten Colors bisa kamu preorder mulai 16 – 27 Agustus 2017 (daftar toko buku online ada di sudut kanan bawah image di atas). Edisi PO ini harga diskon, bertandatangan, dan berbonus Lembaran Ingatan, persediaan sangat terbatas.


Tak sabar mengajakmu menjelajahi mimpi, kenangan, dan kerinduan di #novelForgottenColors.

Friday, August 11, 2017

UBUD: YOU'RE ON THE WRONG SIDE!

One night I drove my bike North along of Hanoman st. and saw a lady strolling across the road, so I slowed down to let her cross the street. She suddenly yelled at me, "You're on the wrong side! This is a one-way street!"

Yes, Hanoman is a one-way street for cars, but it's a two-way street for bikes. I explained this to her. But she was really that angry; as she once again yelled at me, "You stubborn!"

That was alright. Maybe she was on a bad mood. Maybe her heart was broken by a man that was not on her side, so she was venting her anger towards me.

Next morning, on my 'cheating day', I walked to my favourite bakery in Pengosekan to have my chocolate cupcake and sausages. With a happy heart, I brought the cake and the sausages to the second floor.

I had just taken one bite of the cake when a woman who was sitting next to my table warned me out of the blue, "Do you know how much sugar in it? It's very dangerous for your health."

I just smiled, "I know, it's my cheating day. Don't worry, I only have this cake once a month."
She was not happy with my smile, "And how can you take both sugar and meat at the same day. Okay, this is your cheating day, but should you eat animal?"

Turned out I couldn't even savour my favourite monthly-meal in peace. Devastated, I was thinking whether she was like some vegan spy who wanted to ruin non-vegetarian restaurant's business or something. I mean, if I ate bacons in vegan restaurant, you could judge me.

But that was okay. Maybe she was on a strict diet and I noticed how lack of pleasure could make you cranky. Or maybe she was just lonely and needed a friend to talk to. So I let her ramble about veganism. While she took an effort to convert me to follow her belief, I chewed my warm sausage, slowly. Sorry, but it was delicious, and I refused to be sad that morning.

The other night, I hosted some travellers for dinner. They wanted pizza. I brought them to a little warung in Dewi Sita. One of the travellers was barking at me, "I can't eat in warung. I'm white!"

I was surprised. I didn't really comprehend what he said. I knew he's white. But what was the problem? His Instagram bio says 'love living like a local', doesn't it?

Then he explained, "White people can't go to warung! We could suffer Bali Belly!"

I laughed really hard. Probably he just read some travel warnings and blindly interpret it. He roared, "You just don't understand!" Oh no, he was really scared.

So I explained, that warung is the term for a small restaurant/cafe. It doesn't mean 'dirty food' that could destroy your 'white'--or whatever-colour--belly. Yes, there are some dirty warungs, but there are also some dirty big restaurants. In that case, even I--'the yellow people'--could also get hurt, you know. I finally succeeded in making them ate pizza in that warung. They liked it, and we were free of Bali belly.

So, in the end, I just want to tell you these:

1. There is this 'dualism' on the streets of Ubud. One-way for cars, two-way for two-wheel rides.

2. This world is already chaotic due to differences. Don't let the chaos slip into our dining room. So, can the non-vegan, vegan, lacto vegetarian, ovo vegetarian, lacto-ovo vegetarian, pollotarian, pescatarian, flexitarian sit side by side, eating their own food in peace?

3. White, yellow, black, purple, red... YOU ALL can eat in a warung.

That's all. I hope we could really be that cool person we display on our social media channels.

I believe I have said and wrote this somewhere, but let me type it again: Never believe what people say about Bali, including mine. What’s exciting for me might be boring for you. What’s romantic for you might be horrific for me.

Stop expecting, start exploring.

And please, don't yell at me.

Thursday, July 27, 2017

Pernah Marah sama Tuhan?

Selama ini, saya seringnya marah sama manusia yang mendadak jadi Tuhan, sih. 
Itu loh, yang sekonyong-konyong tahu segalanya, merasa berhak menilai, menghakimi, abai nurani.
Misalnya, saat seseorang terserang penyakit ganas, manusia mendadak Tuhan itu berseru, “Kamu ini kena azab, sudah tobat?”
Atau seseorang yang baru kena stroke (iya, itu saya), baru saja hilang hingatan, buru-buru dinasihati, “Ini pertanda kamu kurang beriman! Kamu harus sering-sering membaca kitab suci dan beribadah."
Terima kasih untuk perhatiannya, saya yakin maksudmu baik—untuk saling mengingatkan sesama saudara, agar kita sama-sama jadi penghuni surga, kan? Ah, impian indah.
Tapi, boleh gak sih, minta waktu untuk menyembuhkan ingatan dulu? Menyebutkan nama lengkap saja belum mampu.
Boleh gak, bimbing saya untuk kembali berlatih berjalan kaki dulu? Sekadar berdiri saja masih gemetaran banget, mbak masnya.
Karena sering mendapati manusia yang—anggap saja—berniat baik dengan cara kurang enak, saya jadi menyayangi mereka yang tidak senang menghakimi, menghargai mereka yang selalu memberikan harapan bahwa dunia ini masih layak ditempati, menghormati mereka yang meyakinkan saya untuk kembali semangat menggeluti hidup.
Sampai suatu ketika, Tuhan memanggil salah satu di antara mereka—meninggal di usia produktif. Lalu, salah dua. Kemudian salah tiga. Kok, satu persatu Kau panggil cepat, Tuhan?
Saya diam-diam geram, kenapa Tuhan mengambil cepat teman-teman kami—manusia muda berotak pintar berhati baik dan penyemangat hidup itu. Kenapa yang gemar adu domba dan menyebarkan fitnah Kau biarkan merajalela, Tuhan?
Di antara kegeraman, terdengar sebuah pesan mengudara, “Mereka berumur pendek, karena Tuhan sayang mereka.”
Loh, jadi Tuhan benci mereka yang berumur panjang?
Kadang demi menghibur diri, alih-alih jadi menyakiti hati.
Tapi dipikir-pikir, kemarahan ini rasanya egois sekali. Saya lupa, hidup kami ada jatah masing-masing. Ada yang senantiasa baik mendampingi sepanjang hidupmu, ada yang menyamankan hati beberapa saat namun membekas selamanya, ada yang numpang lewat tapi berkesan tiada tara.
Kita sungguh tak bisa menahan mereka untuk tetap berada dalam hidup ini, terlebih untuk selamanya.
Mumpung masih ada jatah kehidupan—yang entah berapa lama lagi ini, saya ogah jadi orang-orang yang bernapas dalam gelimang kemarahan, jangan sampai jadi duri dalam sekam—penghantar cobaan hidup orang-orang. Saya ingin jadi seperti mereka yang mampu mengembalikan kepercayaan, bahwa hidup di dunia ini bisa saling menyamankan, memudahkan.
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah tiada, senang sempat mengenalmu. Kebaikanmu sungguh berkecambah dalam ingatan dan hati.
And you, my dear pain, thank you for humanizing me.
Sampai jumpa!

Thursday, July 20, 2017

“Cuma karena gitu doang kok bunuh diri!”

Setiap ada berita bunuh diri, selalu terbaca komentar yang menyudutkan hati. Semacam “Cemen banget. Gitu doang bunuh diri!”
Tapi gimana ya, tampak 'gitu doang' karena kita (dan media) sering gegabah sok tahu menyimpulkan penyebab orang bunuh diri. Misalnya:
-Hanya karena lima ribu, siswi minum racun.
-Akibat putus cinta, mahasiswa gantung diri.
-Karena terlilit hutang, pemuda bunuh diri.
Atau judul berita khas masa kini:
Kamu tak akan menyangka, hanya karena ini siswa cantik berprestasi gantung diri!
Seakan-akan judul berita itu ikut menertawai pelaku nekad bunuh diri hanya karena 'masalah sepele'. Seakan rumus baku untuk mengetahui penyebab pelaku bunuh diri ditentukan dari curhatan-curhatan/masalah terakhirnya.
Memang, curhatan bisa jadi petunjuk awal, tapi apakah kita benar-benar paham penyebab orang yang mengakhiri hidupnya?
Lalu, katakanlah penyebabnya ternyata memang tampak 'sepele'. Tapi sepele buat kita, belum tentu sepele buat orang lain. Jangan-jangan yang cemen itu kita, karena sok piawai membaca kondisi mental seseorang.
Kita? Iya, saya sempat terjebak berkomentar serupa.
Sampai kemudian, ada peristiwa yang membuat saya berpikir ulang, ada penyebab yang jarang terucap. Barangkali terungkap, namun salah tangkap.
Dua tahun lalu pembuluh darah saya pecah di otak kiri—stroke hemoragik. Darah yang tersembur oleh pecahnya pembuluh darah itu merusak sel-sel otak di sekitarnya, jadinya fungsi otak sempat terganggu.
Saya mendadak kehilangan kosakata, tidak bisa berbicara, apalagi menulis. Ujian terberat adalah saat bangun tidur, butuh waktu untuk otak bekerja optimal. Beberapa ingatan mendadak hilang, bahkan saya tidak mengenali wajah sendiri.
Kadang pas bangun, otak cuma loading kenangan sampai tahun tertentu. Misalnya saya bangun tidur, tiba-tiba bengong melihat kamar saya, karena otak saya baru loading kenangan sampai tahun 1999, yang mana kamar saya bertempat di rumah Bandung, bukan di kamar Ubud yang saya tempati sekarang. Kadang lihat kaca juga kaget, karena saya pikir, saya masih bocah berambut belah tengah berpipi tembem. Kaget kan, kok bisa tiba-tiba jenggotan om-om gini. Kejadian ini sering berlangsung di tahun pertama pemulihan.
Hari-hari saya diwarnai kelinglungan dan patah hati. Segala yang saya sukai, kini dilarang. Setiap menghirup aroma kopi, rasanya kayak mencium parfum mantan terlarang yang masih saya cintai.
Tapi, tidak, itu tidak membuat saya ingin bunuh diri. Saya masih bertekad hidup lebih lama. Pas terserang stroke saja sudah bikin repot orang banyak, ya tahu dirilah, masa sekarang mau bunuh diri.
Sahabat-sahabat saya tahu dan membantu perjuangan saya; kembali berlatih jalan kaki, terapi menulis, makan masakan sehat.
Sampai suatu malam, ketika semua sudah terkendali, saat sedang asyik selimutan, tanpa tedeng aling-aling saya tiba-tiba merasa asing dengan lingkungan sekitar. Ada perasaan terjebak melihat tangan, badan dan wajah sendiri. Napas mendadak jadi tersengal, jantung dag-dig-dug tak keruan, keringat dingin sampai badan menggigil. Sekonyong-konyong hati diliputi perasaan takut meninggal—seakan akan ditimpa malapetaka, hingga saya berlari ke balkon kamar, dan hampir melompat ke jalanan untuk mengakhiri kegelisahan.
Konyol bukan, takut meninggal kok malah ingin loncat?
Saat lari ke balkon, perasaan saya teralihkan oleh dinginnya embusan angin dan deru suara motor yang melewati jalanan. Lambat laun, saya mulai kembali menjadi diri sendiri.
Kebayang kalau saya jadi loncat, bisa jadi akan ada berita: Seorang Pria Tambun Bunuh Diri Hanya Karena Kehabisan Terong Balado. Iya, beberapa jam sebelumnya, saya baru saja 'curhat sedih' ke pemilik warung padang karena kehabisan terong balado.
Kini, detik-detik awal serangan panik, saya segera menyetel musik favorit keras-keras, atau mengalihkan perhatian dengan mencorat-corat kertas atau membuat jemari sibuk. Eh, fidget spinner (ternyata) bisa membantu.
Serangan panik ini bisa berabe kalau terjadi di tempat umum, karena bisa membuat orang lain ikutan panik.
Maksud mereka ingin menenangkan, tapi jadi marah-marah, “KENAPA LO KAYAK GINI? NYEBUT DONG NYEBUT! PASRAH!!” Aduh, maaf. Itu gak bantu.
Kalau punya teman yang terkena serangan panik, kita bisa menjaganya agar tidak pergi ke tempat yang membahayakan diri. Tolong jauhkan dari jurang atau alat-alat tajam misalnya. Saat terserang, jangan ditanya apa penyebabnya, karena penderita tidak bisa berpikir rasional, gak punya alasan kenapa panik. Cukup dibuat nyaman. Kalau sahabatan, boleh dipeluk, sambil diajak napas teratur, sambil diajak ngobrol hal-hal kesukaan yang membuatnya senang, agar perhatian teralihkan.
Setelah berdiskusi dengan beberapa dokter, gejala serangan panik saya ini terjadi spontan; bukan aksi reaksi hasil situasi yang penuh tekanan. Bukan karena memikirkan 'hal-hal sepele', seperti ada yang menyalakan saklar korslet di otak. Diagnosa singkat gangguan ini, karena perubahan atau ketidakseimbangan zat kimia otak yang mengganggu fungsi daya pikir. Butuh waktu yang tidak sebentar agar sel-sel otak saya bisa kembali pulih seutuhnya.
Mungkin pernah lihat orang nge-drugs, lalu menjadi paranoid, berhalusinasi dan mendadak agresif? Saya bisa mendapatkan efek itu tanpa harus bernarkotika-ria. Berhubung pembuluh darah pecah di otak kiri, jadinya proses berpikir yang bersifat rasional, sistematis, logis pun ikut terganggu. Itu mengapa, saat 'korslet', kelakuan saya kadang-kadang tak ada logika.
Saya lalu mencari 'teman', tidak ingin gila sendirian. Ternyata ada beberapa kasus perubahan perilaku seseorang dengan diagnosa awal yang keliru.
Misalnya seperti yang menimpa Susannah Cahalan, seorang jurnalis muda yang baru saja memulai kehidupan impiannya. Lalu, perilakunya berubah, menjadi sering berhalusinasi, punya gangguan kepribadian, kemudian katatonia. Dia mendadak hobi menendang dan memukul orang-orang di sekitarnya.
Ia sempat didiagnosa gangguan bipolar, kemudian diganti jadi 'alcohol withdrawal syndrome'. Kebayang kan, dia jadi mesti nenggak macem-macem obat.
Diagnosa terakhir, Susannah ternyata menderita 'anti-NMDA receptor autoimmune encephalitis'. Jadi sistem imun tubuhnya menyerang jaringan otak sendiri, karena ada kemiripan struktur otak dengan struktur virus, sehingga menyebabkan peradangan akut otak. Kini dia sudah pulih kembali. Kisah penyakitnya ini dia tulis di buku yang sudah difilmkan: Brain On Fire.
Kasus ini menggemparkan hati, jadi bertanya-tanya soal kategori penyakit, apa jangan-jangan banyak pasien yang didakwa skizofrenia tapi ternyata menderita penyakit autoimun ini ya? Atau ada jenis penyakit lain yang belum terdeteksi hingga saat ini?
Apakah diagnosa penyakit dan obat yang kita konsumsi sudah tepat jitu?
Apa pelaku bunuh diri sudah mengirimkan sinyal-sinyal meminta pertolongan tapi kita tidak paham?
Tapi pertanyaan yang bisa dijawab sekarang adalah, apakah ada teman-temanmu yang mengalami perubahan perilaku; lebih agresif, jadi depresif?
Atau justru kamu merasa ada yang tak beres dengan diri sendiri, tapi tak tahu pasti apa penyebabnya? Hidup ini tampak sesuai rencana, tapi kok rasanya ingin menghancurkan dunia?
Mari, bisa mulai cerita dengan sahabat dan konsultasi dengan dokter kesayanganmu.
Atau mau cerita sama saya juga, boleh. Saya gak janji bisa balas, tapi menulis keresahan bisa membantu kelegaan hati.

Saturday, February 25, 2017

Novel Forgotten Colors




Saat stroke menyerang otak kiri, saya kesulitan mengolah kata saat menulis dan berbicara. Sekadar menyusun huruf-huruf jadi untaian kata untuk obrolan sederhana saja pun jadi susah banget. 
Sudahlah, karir saya sebagai penulis tamat sudah.
Tapi seiring waktu, saya tetap menjejakkan kata-kata di kertas, mengolah kalimat demi kalimat. Saya kembali belajar menulis. 
Saya menuliskan isi hati demi mengusir perih, mendepak kesedihan, mengenyahkan frustasi. Lewat menulis, saya kembali punya keyakinan dan harapan yang saya curahkan melalui tokoh-tokoh rekaan dalam novel.
Menulis jadi medium pemulihan stroke saya. Kata demi kata, terapi menulis ini jadi cikal bakal kelahiran #NovelForgottenColors.
Buku ini bukan tentang kisah nyata, tapi pembaca bisa menemukan saya, bahkan dirimu di dalamnya. Novel ini tentang seorang Pelukis Bangku Taman yang kehilangan warna. 
Setelah meresmikan proyek seni melukis 1000 bangku taman, Arka terkena stroke. Semenjak itu, Arka sering bermimpi aneh, melihat makhluk-makhluk seram dan ruangan penyiksaan di berbagai taman kota. Keadaan ini membuatnya sulit pulih. Dibantu dengan kekasih, Arka menelusuri jejak-jejak ingatan.

Forgotten Colors adalah sebuah novel tentang pencarian jati diri. Stroke. Masa lalu. Warna-warna pelukis. Harapan baru.

Berikut bab pertama Forgotten Colors. 


Bangku 1: Pareidolia

Meneduhkan, sekaligus mematikan. Banyak mata di pohon beringin itu. Mata-matanya tersebar dari akar, batang, dedaunan, sampai ranting yang menjulang ke angkasa. Akar-akar gantungnya terombang-ambing oleh embusan angin. Tapi sesungguhnya akar gantung itu tidak sepolos yang kita sangka. Akar-akar itu siap siaga mencekik siapa pun yang kebetulan lewat atau sekadar meneduhkan raga di tengah taman yang terletak di jantung Kota Ini.

Di suatu senja saat angkasa tersapu jingga, seorang yang sedang berteduh—yang akan kupanggil Si Tukang Berteduh, terperanjat melihat tetesan cairan kental di batang hidungnya. Ia sontak mengelap hidung dengan punggung tangan, lalu ia kembali terkesiap. Cairan kental berbau amis itu berwarna merah tua, menyerupai darah.

Clak! Tetesan itu kembali memercik, kali ini, di lengan si Tukang Berteduh. Ia kini yakin, itu memang darah!

Si Tukang Berteduh mendongak, memastikan sumber tetesan. Ia kaget bukan kepalang melihat sesosok perempuan berambut panjang dan bergaun putih, tergantung di antara ranting. Ratusan akar gantung meliliti leher, dada, dan kedua kaki perempuan yang berlumuran darah itu. Bahkan akar-akar itu ada yang menembus tubuhnya.

Si Tukang Berteduh histeris; meminta pertolongan. Alih-alih berlari, ia keburu tertimpa si perempuan nahas yang seperti dihempaskan akar pohon yang sudah kenyang makan manusia

Ah, omong kosong. Maaf, tapi aku tidak melihat tragedi itu dengan mata sendiri. Itu cuma sekadar kisah legenda yang tersebar dari telinga ke mulut, dari curiga ke takut. Versinya juga tersedia segala rupa. Ini salah satu versi panjangnya: setelah wanita nahas itu terhempas ke tanah, si akar-akar itu melepaskan jeratan, lalu melilit tubuh Si Tukang Berteduh. Ada juga versi yang lebih gaib: mereka berdua kembali terlilit dan lenyap tanpa bekas.

Semakin tak masuk akal, kan? Tak perlu mendengar lebih banyak lagi versi cerita itu. Bagian wanita berdarah-darah di pohon beringin dengan rambut panjang dan gaun putih itu sudah usaha yang terlalu keras untuk membangun kisah horor. Tak heran, kalau para warga yang ketakutan itu memberikan julukan taman ini Taman Setan.

Kisah seram legendaris itu tak sanggup membuatku hengkang. Banyak yang lebih menyeramkan, manusia-manusia rakus yang membabat habis pepohonan demi membangun pajangan kekuasaan seperti gedung-gedung yang saling berlomba tertinggi misalnya.

Namun, bualan kisah setan yang menyeruak ini tidak membuat taman ini benar-benar lengang. Tetap ada yang berlalu lalang, seperti para gelandangan atau pasangan yang kerasukan nafsu birahi; pasangan yang selalu kaget dan memalingkan muka saat berpapasan denganku. Jangan-jangan mereka menyangka akulah setannya. Kecuali jika pemahaman mereka tentang setan adalah pria kurus gondrong sebahu dan kulit sewarna bambu, ya sudah aku pasrah saja. Mereka yang berbuat keji, malah aku yang ditakuti.

Tapi ada kemisteriusan Taman Setan yang membuatku terbius. Ketika kemilau senja menyinari taman, aku berbaring-baring di rerumputan atau melamun di bangku reyot penuh rayap, menerka-nerka apa yang arakan awan ingin ceritakan padaku.
Beberapa kali aku menggelar tikar di bawah pohon beringin, menantang akar untuk menjamah tubuhku. Tapi bisa kaulihat, berapa kali pun aku rebahan, tidak ada bekas cekikan di leher. Mungkin pohon itu tak bernafsu padaku.

Tapi sore ini lain perkara, aku bersemayam di salah satu area rerumputan taman untuk membuktikan sesuatu. Sesuatu yang bukan hantu. Di depanku ada sebuah air mancur yang sudah tak terawat, sekujur temboknya terkelupas, pondasinya dipenuhi retakan. Saking usangnya, tak ada yang menyangka pancuran ini masih mampu menyemburkan air. Memang tidak setiap hari, tepatnya empat tahun sekali, tiga hari setelah hari ulang tahunku, tepatnya pada pukul lima lewat dua puluh.
Yang berarti tinggal beberapa detik lagi.
Tiga...
Dua...
Satu...
Pancuran itu menyemburkan airnya! Dugaanku benar! Air mancur ini selalu menyembur setiap 29 Februari! Jangan-jangan pancuran ini dibangun sebagai penanda tahun kabisat. Aku tidak tahu pasti. Yang pasti cuma aku dan lusinan burung yang menjadi saksi. Burung-burung itu seolah merayakan pancuran air, mereka beterbangan dari ranting pohon tatkala semburan air mendulang ke angkasa.

Di antara para sekawanan bersayap yang berlalu lalang itu, ada burung yang gemar menyemprotkan tahi ke segala arah, dari rumput sampai ke bangku kayu yang muat diduduki empat orang dewasa.
Salah satu gumpalan tahi itu mengundang imajinasiku. Berbekal cat akrilik, aku menggambari bangku itu serupa dua anak kecil saling berkejaran di antara bola-bola putih yang merupakan cipratan tahi burung, seakan sedang berpesta salju.

Lalu, aku ketagihan. Tak puas hanya melukisi satu bangku, aku mulai mencari-cari korban kursi berikutnya. Kucari bangku taman yang menyendiri, diam-diam kububuhkan warna-warni agar taman ini tidak terlalu suram.
Tapi di sisi lain, demi keselarasan dengan julukan Taman Setan, aku melukis rupa wajah makhluk halus seperti kuntilanak di beberapa bangku. Alih-alih menyeramkan, aku membuat wajah mereka menjadi ramah; sorot mata hangat dan senyum semringah. Hey, jiwa-jiwa gaib pun berhak untuk bahagia!

Ada pula bangku yang kupenuhi lukisan benda-benda yang dipercaya masyarakat dunia sebagai pengusir hantu dan penangkal sihir, seperti lonceng angin, tapal kuda dan favoritku—Tangan Fatima, berbentuk telapak tangan berukir yang mempunyai mata di tengah-tengah, dipakai bangsa Mesir Kuno untuk mengusir roh jahat.

Tak semua bangku taman kugambari, beberapa hanya kuwarna saja. Alhasil aku punya profesi baru rahasia; si pelukis bangku taman. Jadi kalau ada yang berdesas-desus karierku bermula dari tahi burung, aku tak akan menampiknya.

Profesi baru ini terdengar lebih terhormat dari julukan yang diberikan pacarku si Gelia itu; tukang bongkar (lupa) pasang. Aku memang senang utak-atik dan membongkar barang. Aku ingin tahu bagaimana bentuk bagian dalam radio, tabung televisi, sampai isi kasur pegas. Tapi ya itu, setelah aku bongkar, aku sering kali malas memasangnya. Kecuali, jika ada teman yang memintaku untuk mereparasi barangnya. Beberapa kali aku mendapat pesanan untuk menyulap lemari menjadi kursi, atau yang paling absurd; radio kaset jadi pot bunga.

Kadang, pretelan-pretelan yang kutemukan dari barang-barang yang kubongkar itu aku rangkai jadi pernak-pernik yang kuusahakan berfungsi—setidaknya jadi kalung untuk Gelia.
Walaupun Gelia jarang berterima kasih untuk 'kebaikanku' itu. “Kamu bilang ini kalung? Ini sih rantai anjing!” Gitu pekiknya.

Setelah mengubrak-abrik semua bangku di Taman Setan, aku kini mulai melirik bangku-bangku yang terdapat di taman lain yang ramai didatangi warga Kota Ini. Letaknya hanya terpaut satu pertokoan dari Taman Setan. Taman ini bernama Taman Asmara, dengan patung terkenal berbentuk dua sejoli saling berpelukan di tengah taman.

Taman yang berlokasi di sebelah balai kota ini masih terbilang baru. Lima belas tahun lalu, pemerintah menggali tanah untuk membangun gorong-gorong air dan menanam kabel listrik. Saat penggalian dilakukan di lapangan bola, mereka menemukan dua tengkorak yang saling berangkulan. 

Konon, kedua tengkorak itu milik bendara putra yang sedang melindungi bendara putri saat terkena gempa dahsyat, saat mereka melarikan diri dari kerajaan yang pernah menguasai sebelum Kota Ini berdiri pada abad keempat belas. Semenjak itulah mereka merombak lapangan bola menjadi Taman Asmara.

Tak jauh dari patung dua sejoli, ada sebuah bangku kayu besar yang mengundang hasrat mewarnaku. Bangku itu selalu diduduki seekor anjing liar dan seorang tunawisma.
Setelah mengawasi Taman Asmara sehari semalaman, kuputuskan akan beroperasi setiap pukul dua pagi, waktu ketika tak ada seorang pun berlalu lalang. Tentu tidak mudah melukis dalam kegelapan, tapi justru itu tantangan yang kusukai.

Satu kendala terbesarku adalah, setiap lewat tengah malam, ada seorang penjaga malam yang berpatroli di Taman Asmara. Berhubung mereka sering membunyikan tiang listrik seperti kentungan saat berpatroli, aku pun bisa leluasa sembunyi dengan posisi telungkup, jaga-jaga saja untuk berkilah pura-pura tidur bila ketahuan.

Tapi aku selalu senang saat hampir ketahuan, ada ledakan gairah menyeruak di dada yang membuatku ketagihan. Ledakan yang selalu terulang saat melakukan perbuatan terlarang.
Segenap amplas, kaleng cat akrilik, kuas akan siap menari-nari di tubuhmu, bangku! Besok, akan kupastikan dirimu jadi rebutan pantat-pantat para pengunjung taman!

***
Berbekal senter yang kuikat di kepala, kubersihkan bangku yang penuh dengan tahi anjing itu. Aku berjanji, bangku yang bermuram durja ini akan berseri-seri.
Korban bangku pertama di Taman Asmara kugambari berbagai alat tulis; mulai dari pena jarum, pena bulu, pensil, pulpen sampai stilus digital. Karena saat kita jatuh cinta, kita jadi rajin menulis, bukan?

Tentu, tidak semua bangku bisa berubah seperti yang kuharapkan. Kadang waktu hanya habis untuk mengamplas saja, saking kotornya. Yang paling sering membuatku dongkol, ketika bangku telah selesai kulukis, tiba-tiba hujan turun semena-mena.
Ah, tapi ya siapa suruh mengeluh? Toh, aku lakukan ini semua karena aku suka duduk-duduk di taman—yang sayangnya makin tak terawat. Kebahagiaan warga sepertinya bukan prioritas para penguasa, hanya sebatas janji firdaus belaka.

Setidaknya kami masih bisa berteduh. Untungnya pohon-pohon rindang masih menghiasi Kota Ini, walau banyak ranting menerjang warga kala hujan badai tiba.
Setelah selesai melukisi senderan bangku, aku masih ingin mewarnai kaki bangku, tapi matahari sebentar lagi akan terbit. Kuputuskan untuk mulai membereskan peralatanku.
Tiba-tiba terdengar ranting yang terinjak, aku segera mematung dan mematikan lampu senter. 

Beberapa minggu lalu, aku sempat dikejar orang setelah melukis bangku. Untungnya aku berhasil kabur menaiki motor. Saat itu, aku berada di bagian taman yang berpenerangan memadai, sinarnya cukup membimbingku untuk melarikan diri.

Sementara, saat ini posisiku dalam keadaan gelap gulita. Aku berjalan perlahan, sesekali mengingat rute jalan keluar. Kalau tidak salah, di depan ada selokan besar berjembatan kecil. Waduh, kalau terpeleset sedikit, bisa-bisa basah kuyup.

Tanganku meraba-raba, sampai tak terasa menyentuh lapisan menyerupai kulit bersisik. Aku tersentak. Masa di taman ini ada buaya? Aku sontak teringat berita tentang sekawanan buaya kelaparan bermigrasi ke selokan.

Aku segera menyalakan lampu senter, siap-siap lari tunggang langgang.
Betapa terkejutnya, lampuku tiba-tiba menyorot sosok manusia! Wajahnya hanya terlihat sekilas karena dia menutup matanya secepat kilat akibat silau oleh lampu senterku.
“Halo, Arka!”

Aku segera berbalik, berlari, sekaligus bertanya-tanya kenapa dia tahu namaku. Sialnya lampu senterku meredup, aku tak bisa leluasa mengamati jalan. Tak lama, kakiku terjegal, lalu aku tercebur ke selokan! Beberapa catku keluar dari kaleng, ikut menggenangi selokan.

Kemudian empat orang lelaki mengarahkan senter ke arah wajahnya masing-masing sambil tertawa terbahak-bahak di sisi selokan. Salah satunya mengulurkan tangan, “Anda tidak perlu lari, Arka. Kami tidak akan menangkapmu!”

***
Memang, mereka tidak menangkapku, tapi menggiring paksa ke mobil mereka. Apa bedanya?
Mereka ternyata tidak hanya tahu namaku. Tanpa panduan, mereka mengarahkan mobilnya menuju rumahku. Aku celangak-celinguk, mengawasi salah seorang dari mereka yang membawa motorku di belakang mobil.

“Kalau memang tidak ingin menangkapku, kenapa kalian tidak datang baik-baik saja ke rumah?” ujarku sambil membuka dan meniup baterai dari telepon yang ikut basah kuyup. Semoga kiat mengeringkan ponsel dengan membenamkannya ke dalam beras agar bisa kembali dipakai itu bukan hoax!

“Sama seperti kau, kami juga senang kerja tengah malam,” timpal lelaki berkumis, terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk jaket kulit buayanya.
Empat lelaki itu mengaku dari dinas pertamanan kota. Mereka memperkenalkan nama masing-masing, tapi aku terlalu lelah untuk mengingatnya. Mereka 'menangkapku' atas instruksi Pak Wali Kota, untuk menawarkan proyek ambisius, melukis seribu bangku taman kota.

Aku tidak begitu mendengar penawaran mereka, karena yang ingin kulakukan adalah… “Sebelum membahas lebih lanjut, saya boleh mandi dulu?”

“Tak perlu. Tidak bau, kok.”

Aku menyeringai, “Bukan masalah bau atau tidak, setidaknya saya perlu bersih dan kering.”

“Kami juga tidak akan lama-lama,” si Lelaki Buaya itu mengambil map proposal dari tasnya. “Ini sesuatu yang bisa Anda pertimbangkan.”

Mereka menurunkan persis di depan pagar rumahku.
“Sampai jumpa makan siang. Kita bertemu di Kaleng Kerupuk?” tanya si Lelaki Buaya sambil terkekeh jail.

Wow, mereka bahkan hafal warung favoritku. Aku mengangguk saja biar cepat. Perutku susah menolak semur daging yang empuk lezat di warung favoritku itu!

***

Monday, December 26, 2016

Surat Untuk Teman Yang Gemar Marah

Teman, ada masa lalu yang perlu aku ungkit.

Masih inget gak sih, waktu aku sering dimaki-maki kafir gara-gara buku yang aku tulis itu? 
Sampai-sampai ada teror horor membuat rencanaku porak poranda?
Kamu sempat bertanya, kenapa ada yang sampai sebegitu bencinya dengan seseorang yang tidak benar-benar dikenal?

Kamu juga sempat mengira, mereka yang maki-maki aku bagai tai pedut ini tidak benar-benar membaca bukuku.

Kamu menduga, mereka terbius bisik-bisik busuk belaka. Aku sangat berterima kasih, kamu sudah menenangkan hatiku.

Makian itu kadang masih kudengar, tapi aku sudah tidak peduli. Anggap saja, aku sudah terbiasa. Aku kini sibuk bercengkerama dengan beberapa sahabat di desa 'pelarian' ini. Tidak banyak, tapi hati sungguh hangat.

Sayangnya, hati hangat ini sempat tergores. Makian kafir itu semakin menggelegar. Bukan, bukan untukku. Tapi keluar dari mulutmu.

Kini, kamu menjadi golongan orang-orang yang sering kita pertanyakan. Kemarahanmu meletup-letup pada orang yang (aku asumsikan) tidak begitu kamu kenal. Mereka yang tak sepaham, kamu ingin tiadakan. Bahkan sebuah ras yang juga ikut mengalir dalam darahku kamu samakan dengan binatang yang (kamu anggap) hina.

Bila Tuhan terpuji kamu yakini satu, mengapa ciptaanNya kau hina-hina juga?
Apakah ada bisik-bisik busuk yang juga membiusmu?
Apakah kebencian itu sepadan dengan kebenaran yang kamu perjuangkan?

Aku berharap kamu akan menemukan genggaman hangat yang menenangkan hati seperti yang kamu lakukan padaku lima tahun lalu, teman.

Tuesday, September 06, 2016

Maukah kamu tetap berteman saat aku tidak (lagi) populer?

Setahun belakangan, saya sibuk egois. Setelah dihantam ledakan dalam kepala itu, yang saya pedulikan hanya diri sendiri. Dimulai dari mengatur makanan, pola tidur, cara bangun, sampai prosedur ngeden yang aman.
Saya jadi tidak terlalu peka dengan apa dan siapa yang sedang bergejolak di luar sana.

Lebaran kemudian tiba. Yang lain bergegas pulang kampung, saya mudik ke kota.
Tentu saja hati gegap gempita merayakan hari raya bersama keluarga.

Saya bahkan sudah menyiapkan mental buat menghadapi pertanyaan-pertanyaan tahunan lebaran yang sayangnya ternyata bukan lagi tentang kapan menikah atau kapan liposuction.

Ini adalah kompilasi pertanyaan yang saya dapetin saat nongkrong di beberapa kedai kopi ternama dan ter-instagrammable:
Kenapa gak punya Snapchat?
Kok gak ikutan Steller?
Kok gak nge-vlog?
Kan lagi rajin jogging, kok gak main Pokemon?

Jawaban saya sih selalu santai, “Belum terpanggil, nih.”

Beberapa reaksi mereka ternyata cukup serius;  “Jangan nunggu panggilan, lah. Nanti keburu gak relevan lagi.”

Tiba-tiba saya merasa di ruang persidangan agensi khusus buzzer, kembali terhadang realitas tuntutan relevansi jagad digital. Untungnya persidangan tidak berlangsung lama, karena mereka kembali sibuk dengan gadget masing-masing.

Tapi di era para fandom sibuk adu angka penjualan atau jumlah followers/viewers/subscribers, saya sesungguhnya tidak perlu terlalu terperanjat.

Jadi ngelamun, ngebayangin dulu, kalau kita suka lagu, yang kita bahas adalah liriknya, melodinya yang kena di hati, atau tampang penyanyinya yang rupawan. Sekarang juga masih kok, tapi banyak yang kayak gini. “Lagu ini viewer-nya 5 juta dalam semenit! Langsung debut no 1 di chart!"
Gak salah juga, sih. Boleh lah bangga dengan pencapaian. Tapi ujung-ujungnya, "Penyanyi favorit lo kapan kayak gitu?”
"Artis gue no 1, gak kayak artis lo yang flop (padahal nomor 2) itu!"

Bahkan dalam pertemanan rakyat sipil pun, dampaknya terciprat bucat.
Dulu kalau ngenalin sahabat, mungkin begini: “Kenalin nih, sahabat gue, dia selalu nemenin kalau gue lagi gak ada duit.”
Atau
"Dia selalu ada pas gue susah boker." Lalu kentut bareng.

Kalau sekarang, ada yang begitu: “Kenalin sahabat gue, followers-nya jutaan, hobi selfie di negara konflik, udah pernah foto bareng sama Hillary Clinton!”

Sang sahabat pun mesam mesem saat kami berjabat tangan. Tapi ia nampak tidak berkeberatan, jadi saya pun tak punya alasan untuk mempertanyakan narasi perkenalan.

Tapi kadang jadi terganggu, ketika saya nanya sang sahabat hal-hal mendasar seperti 'sekarang tinggal di mana?', si dia yang memperkenalkan itu mendadak jadi juru bicara, "Lah, emang elo gak follow IG-nya?" "Makanya, snapchat-an, dong!"
Ah maafkan atas dosa kekuperanku ini, dewa digital!

Lalu, liburan lebaran berakhir. Saya kembali menuju tempat persemayaman di desa.
Saat duduk di sebelah jendela darurat pesawat, tebersit pertanyaan konyol yang mestinya saya sembur saat mereka sibuk menginterogasi saya: "Kalian masih mau temenan gak sih, kalau aku gak (lagi*) populer? Masih mau memperkenalkan aku sebagai sahabat?"
*tsah emangnya lo populer :p

Seiring dengan turbulensi yang menggoncang lemak pantat, saya terkekeh malu, menyadari kalau virus gelisah itu menular. Kenapa saya mesti ikutan resah?

Walau saya akui pertanyaan-pertanyaan itu sempat kepikiran, ternyata saya mempunyai kehidupan mewah di kampung.
Mewah karena bisa bangun tanpa resah, gak takut apabila foto gak ada yang nge-like, gak sedih kalau tweet gak ada yang RT, tidak bimbang kalau lagu favorit saya ternyata flop di chart, juga tidak keberatan kalau saya diperkenalkan sebagai sahabat tanpa embel-embel portfolio.

Jadi, kalian masih mau temenan, kalau kentutku bau busuk?





Sunday, July 03, 2016

Kisah Mudik dari Bandara Istanbul Atatürk

Saya harusnya lebih mendengarkan ibu. Insting seorang ibu tidak pernah meleset. Kekhawatirannya seringkali jadi pertanda apa yang akan saya hadapi.

Yang masih tajam dalam ingatan, selepas libur lebaran tahun lalu, sebelum saya balik ke Ubud, Ibu melepas saya dengan tangis deras.

 “Ah, Ibu, kayak gak pernah lihat saya pergi aja. Ini kan cuma ke Ubud, gampang lah bolak-balik,” timpal saya pongah.

 “Ibu mah selalu sedih atuh kalau anaknya pergi,” Ibu saya masih terisak-isak saat saya ke luar pagar. Ibu merasa sangat berat dengan kepergian saya saat itu.

Sebulan kemudian, saya terserang stroke di Ubud. 'Gampang lah bolak-balik' itu cuma wacana saja. 
Setelah hampir setahun recovery, saya diboyong sahabat, Kevin & Dini—pasangan yang juga ikut merawat saya di Ubud, ke kota Arnhem.

Mereka akan melangsungkan pernikahan di sebuah taman di sana. Kevin juga mengadakan lokakarya yang menaungi banyak seniman bertalenta dan berhati asyik bareng anak-anak ruangrupa bertajuk transACTION di taman Sonsbeek. Saya merasa punya keluarga dan teman-teman baru. 

Saat saya di Arnhem, Ibu sering khawatir dengan satu hal, “Kalau kamu teh nanti masih mau pulang lewat Istanbul?”

Jadi, saya terbang pakai Turkish Airlines, pulang dan pergi akan transit di Istanbul. Sehari sebelum terbang, pusat kota Istanbul terkena bom bunuh diri. Tentu saja Ibu khawatir.

“Masih, Bu. Lagian kemarin kan pas pergi transit sempet keliling Istanbul. Aman-aman saja, kok!” Turkish Airlines memang memberikan fasilitas tur Istanbul gratis buat yang transit >8 jam, dan itu jadi dalih buat menenangkan hati Ibu.

Tapi Ibu tetap bertanya-tanya, menginginkan saya pindah pesawat. Tidak saya gubris, semua kan baik-baik saja.

Sampai malam terakhir di Arnhem, saat kami baru saja akan beranjak tidur, Dini berteriak, “Bandara Istanbul (Ataturk) di bom!”

Hah, lagi? Kemarin pas pergi, kotanya dibom. Sekarang pas pulang, bandaranya yang kena bom! Ledakan kali ini lebih brutal, dilakukan oleh tiga orang. Sebelum meledakkan diri, mereka melepas tembakan ke sana kemari.

Tidur pun diundur. Antara masih berharap hoax dan berharap ibu belum baca berita, saya bolak-balik memastikan status penerbangan saya esok malam di situs Turkish Airlines.

Berita pun simpang siur, antara bandara akan ditutup sampai 8AM atau 8PM. Lewat situs Turkish Airlines, mereka menawari refund atau rebooking tiket pesawat selama periode penerbangan 28 Juni dan 5 Juli 2016.

Tapi saya tetap bersikeras walau hati waswas.

Keesokannya, Rabu siang, saya beranjak ke bandara Schiphol lebih awal. Saat check-in, petugas memastikan bandara Ataturk sudah beroperasi seperti biasa. Waw, hebat juga, mengingat bandara Brussels saja sempet tutup dua minggu pas kena bom.

Hanya saja, dalam boarding pass Istanbul-Jakarta saya, tidak tertera nomor kursi, hanya rentetetan huruf SBY alias stand by. Ah, gak masalah. Saya pernah dapet tiket stand by. Biasanya sang petugas di boarding room langsung ngasih nomor kursi, kok. Dan biasanya dengan boarding pass 'SBY' ini, kalau ada kursi kosong di jadwal pesawat sebelumnya, kita bisa terbang lebih awal.


Pesawat Amsterdam-Istanbul sempat menunda take off satu jam, sang pilot mengumumkan ada 'gangguan teknis'. Beberapa penumpang waswas—termasuk saya, bolak-balik memeriksa waktu boarding di penerbangan selanjutnya. Mepet-mepet tegang!

Begitu kami mendarat di bandara Ataturk, kekisruhan mulai rusuh!
Beberapa orang berlarian di sepanjang koridor, bikin hati makin blingsatan. Semoga tidak ada bom susulan. Mereka berseliweran lari di antara para penumpang yang bergelimpangan tidur di lantai. 

Saat masuk ke gate yang ditentukan, rupanya pesawat selanjutnya sudah boarding. Mereka meminta kepada penumpang yang standby untuk bersabar menunggu giliran setelah seluruh penumpang bernomor masuk.

Tapi setelah mereka semua berada dalam pesawat, sang petugas menutup pintu boarding.

“Hey, kami belum masuk!” Protes salah satu penumpang. Sang petugas sibuk utak-atik komputer dan bolak-balik menyusun potongan boarding pass penumpang yang telah masuk pesawat.

“Maaf sekali, pesawat telah penuh.” Seketika suasana gate riuh dengan teriakan panik.

“Kenapa bisa penuh?” Tanya saya. Kok berasa naik angkot saja, sih?

“Saya juga bingung. Maaf saya cuma petugas boarding,” kata salah seorang petugas dengan muka memelas. Ia sibuk menelepon—semoga sedang menghubungi orang yang tidak bingung.

“Saya kemarin sudah ditolak boarding! Masa ditolak lagi?!” Timpal seorang penumpang yang pesawatnya dibatalkan terbang. Jadi jadwal terbang dia bertepatan saat bandara dibom. Kemudian tiketnya pun diganti untuk penerbangan selanjutnya, dengan posisi 'SBY'. “Temen-temen rombongan saya dikasih nomor, saya aja yang dikasih standby.”

Oalah. Pengetahuan saya tentang 'SBY' ternyata minim sekali. Jadi para penumpang yang pesawatnya batal terbang, mereka dialihkan ke pesawat berikutnya. Atau pesawat setelahnya. Keadaan ini pun berimbas ke penumpang pesawat yang dialihkan itu.

Jadi, alih-alih dapet penerbangan yang lebih awal, tapi 'SBY' ini ibarat tiket cadangan atau lotre, tidak peduli udah beli jauh-jauh hari ataupun check in online.

Sayangnya, para petugas bandara pun tidak begitu siap dengan keadaan genting ini. Tapi, ya siapa juga yang siap ketika tempat kerjamu terkena bom ya?

Melihat mereka yang kebingungan, ada baiknya bila bandara ini tidak memaksakan beroperasi. Penumpang marah, petugas lelah. Kami bersatupadu dengan kebingungan.

Ada salah satu penumpang wanita menangis, karena ayahnya sudah berada di dalam pesawat. “Izinkan saya masuk pesawat. Ayah saya baru terkena stroke, saya pegang obatnya. Tolonglah saya,” Ia meraung-raung. Sang petugaspun tidak bisa berbuat apa-apa. Saat pesawat bersiap-siap take off, wanita itu menangis sambil gedor-gedor kaca memanggil-manggil ayahnya. Mata ini becek sekali melihat wanita itu. Juga melihat pesawat yang semestinya kami tumpangi beranjak pergi. Ternyata kami benar-benar ditinggalkan. Ini bukan guyonan belaka.

Tapi suasana teralihkan menegangkan karena beberapa penumpang Turkey teriak-teriak dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Kemudian ada petugas yang menenangkan kami, menjanjikan kompensasi.

Ia menggiring kami ke ruangan Transfer Desk, yang telah dipenuhi antrian yang mengular panjaaaang.
Benar-benar. Ternyata STANDBY ini benar-benar BERDIRI LAMA banget ya.
Yang ditolak boarding bukan hanya pesawat kami. Sebagian juga terpaksa ketinggalan pesawat karena penerbangan pertama mereka delay.

Antrian berulangkali terhiasi bentakan di meja Transfer Desk menyerukan kekecewaan, juga kekekiaan antara penumpang yang menyerobot antrian.



“Kami sudah antri 4 jam, seenaknya saja kamu menyerobot kami!” Bentak seorang bapak ke seorang penyerobot yang nyelonong ke meja.
“Saya semalam juga sudah antri 6 jam! Saya tidak mau lagi antri malam ini!” Gertak sang penyerobot.

Waduh. Berarti ada kemungkinan solusi ini bukan tahap akhir. Beberapa teriakan di meja seakan mengikis harapan kami.
Seperti, “Mengapa saya tidak bisa refund?”
“Saya sudah antri selama ini masih dapet tiket standby?”
Jawaban petugas pun ada saja yang antipati, “Anda baru antri 6 jam, itu yang di sana (menunjuk serombongan manusia yang tertidur di lantai) sudah menunggu 2 hari!”



Kami mengantri dari tengah malam sampai matahari terbit.
Pukul delapan pagi, giliran saya tiba di meja. Di meja sebelah, seorang petugas memarahi seorang mahasiswa Indonesia, “Anda harusnya bayar penalti, karena anda ketinggalan pesawat!”
“Ketinggalan pesawat?! Tanya saja petugas yang membawa kami ke sini! Kami ditolak boarding!” Balas sang mahasiswa, diiyakan saya.

Waduh kok makin pagi makin kacau. Alhasil sebelum ditekan petugas, saya duluan menekan mereka. “Tolong carikan penerbangan di mana saya bisa dapat nomor kursi. Bukan stand by.”

Akhirnya saya kebagian pesawat dengan nomor kursi. “Anda bisa meyakinkan saya gak, kalau saya bisa terbang dengan pesawat ini?”
“Saya tidak bisa berjanji. Tapi selama tidak batal terbang, anda bisa masuk pesawat.”

Ah, seandainya waktu mendarat connnecting flight tidak mepet, saya mestinya bisa mengurus si nomor kursi di Transfer Desk sebelum boarding ya. Itu pun dengan catatan kalau antriannya tidak sedahsyat ini. Barangkali solusi terbaik kalau bandara terkena bom, langsung refund, re-route, re-booking, atau cari pilihan re re lainnya!

Pesawat baru saya dijadwalkan terbang pukul 2 pagi, 19 jam lagi. Untuk mendapatkan fasilitas hotel dan makanan, saya dipersilakan untuk kembali antri ke Hotel Desk. Untuk menuju Hotel Desk, saya harus menuju Passport Control, area yang terkena ledakan bom itu. Untuk melewati Passport Control saya harus punya e-visa. Gampang kok ngurusnya. Tapi masa saya harus bayar visa lagi? Untuk mendapatkan visa gratis, saya harus antri lagi di sebuah counter.

Akhirnya yang saya lakukan adalah meminum Xanax dan bobo di gate. Saya memilih sebuah gate yang sepi.



Tapi rupanya ada alasan kenapa gate itu sepi penidur. Karena setiap beberapa jam, petugas membangunkan saya untuk security check. Di antara bangun itu, teringat sesuatu; hampir saja lupa memberi kabar ibu! Memberi kabar kalau saya terlambat pulang dan insting ibu selalu jitu!

Sayangnya bandara ataturk kurang wifi-friendly; gak bisa sekali tersambung langsung bersenandung. Yang paling 'mudah' itu, kami harus menggentayangi wifi di area restoran, lalu memindai boarding pass yang harus diulang setiap dua jam untuk mendapatkan nomor pin untuk akses internet. Yang penting, ibu sudah saya kabari. Lalu tidur lagi. 


***



Pukul 1 pagi. Saya lupa ini hari apa. Kamis? Jum'at?

Boarding gate pesawat saya telah dibuka. Kami jadi terbang gak, sih? Kami boleh masuk pesawat, kan? 

Baru kali ini saya kena imbas langsung kasus bom. Rasanya lebih enak sibuk takut atau sok berani di media sosial ketimbang hilir mudik panik di area yang baru diledakkan.

Kami bergembira sekali saat boleh masuk pesawat—bergegap gempita saat pesawat take off—bersorak sorai saat pesawat landing—tersenyum semringah saat melihat langit sore Jakarta.

Beberapa saat setelah mendarat, gerombolan pelajar bertepuk tangan sambil berpelukan. “Ini mudik yang tak akan terlupakan!”

Dan ah, Jakarta belum pernah semenenangkan ini!



Semoga para keluarga korban dan para petugas bandara dikuatkan, para penumpang yang masih terdampar segera bisa terbang ke tujuan masing-masing.
Semoga Turkey akan segera membaik!

Thursday, February 11, 2016

Surat Terbuka dari Si Pencuri Kata

Saat itu, tiada yang lebih mengerikan dari tolah-toleh di kelas sementara yang lain sibuk menyelesaikan tugas. Ibu guru memberikan tugas menulis puisi. Beliau memberikan petunjuk, untuk memudahkan menulis puisi, bisa dimulai dari sesuatu yang saya sukai.

Baik, mari kita coba. 

Oh Sate kulit 
Ke mana ati ampela? 
Juga kau Jus alpukat!
Maukah pakai es krim? 

Waduh, alih-alih puisi, malah tampak jadi menu warung untuk pelanggan plin-plan.

 “Lima... menit... lagi!” Ibu guru memberikan peringatan yang membuat kepanikan saya kian meningkat.

Satu per satu teman mengumpulkan puisinya dengan gagah berani, membuat saya gelap mata; akhirnya menuliskan rangkaian kata yang akhir-akhir itu merajai benak saya.

Mungkin hanya jiwa yang tak terjaga jua 
Dalam doa 
Hingga khilaf menyentuh terasa bergetar 
Ku berlalu 
Saat terasa waktu telah hilang 
Ku terdiam, oh! 
Saat hanya gundah yang bertentangan 
Ku bernyanyi 
Cinta 
Cita 
Harapan 
Dan ku terbawa dalam kisah lama 

Tepat setelah waktu dinyatakan habis, saya sudah menaruh kertas isi 'puisi' Tentang Aku itu di meja Ibu Guru.

Beberapa hari kemudian, nilai puisi dibagikan, saya mendapatkan nilai 85 bonus pujian. “Kamu berbakat menjadi penulis.”
Aduh, mendadak tidak enak. Menjadi penulis plagiat, tepatnya, Bu! Puisi itu, kan, saya curi dari lirik lagu Tentang Aku milik Jingga yang saat itu baru saja menjadi lagu baru. Tapi saya tidak lantas terus terang. Terhanyut pujian, walau hati dilumuri rasa berdosa.

Hari demi hari, lagu Tentang Aku semakin sering mengalun, baik di radio maupun televisi. Membuatku gentar, bagaimana jika Ibu Guru tahu?

Sesaat sebelum pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, selalu ada dialog imajinatif dalam kepala: “Kenapa puisimu sama dengan lirik lagu Jingga?”

“Hah? Jingga? Band apa itu, Bu? Eh, oops Saya tidak tahu itu Band, kok?! Saya tidak pernah dengar? Sumpah Bu, saya tidak mencontek! Kebetulan saja itu, Bu!”

Iya, kebetulan ketahuan. Ini, sih, mengaku pura-pura tak bersalah. Haduh, tidak. Saya berjanji, jika sampai ketahuan Ibu Guru, saya akan mengaku!

Namun, beliau tidak pernah menanyakan 'puisi' itu kepada saya sama sekali. Tahun demi tahun, dekade demi dekade, setiap mendengar lagu Tentang Aku, rasa bersalah itu kembali melumuri hati. 

Hingga tibalah suatu hari saya menerbitkan karya sendiri. Lalu terkena getahnya, getah pembalasan pencurian kata. Beberapa bulan setelah novel pertama saya terbit, saya mendapatkan laporan dari seorang pembaca tentang seorang 'blogger ternama'—julukan ini saya kutip dari header blognya, yang mengutip satu puisi utuh saya dari novel Joker. Saya sempat mengira ia lupa menaruh sumber buku saya. Tapi saat melihat beberapa komentar yang memuji-muji si blogger berikut balasannya, membuat hatiku mendidih.

Komentar pembaca: Wah, puisi lo keren! Lo mesti bikin buku! 
Balasan si blogger: Ah masa? Puisi gue masih jelek lah!

Hey, pujian itu harusnya untuk saya! Dan sudah dicuri, kaubilang jelek pula? Peler kuda banget! Seakan lupa dosa masa lalu, saya yang saat itu mudah murka, segera menanyai si blogger ternama. “Kenapa kamu copy paste puisi saya di novel Joker?”

Sungguh tak terduga—atau barangkali terduga tapi masih tak menyangka, si blogger ternama balik memarahi saya: “Novel Joker apa? Saya tidak pernah baca dan tidak tahu ada novel itu! Kalau misalnya sama, itu hanya kebetulan! Kamu pikir yang suka nulis puisi itu kamu saja? Kalau sama itu lumrah kali! Lagipula kamu siapa?”

Sebentar, jadi kalau lebih ternama boleh mencuri karya cipta semena-mena? Saya mendadak dramatis. 'Puisi jelek' yang ia curi itu saya tulis dengan susah hati. Iya memang, saat itu, novel saya belum pernah bertengger di deretan buku laku, tapi saya berani mempertanggungjawabkan kerja keras saya sampai novel itu berhasil terbit.

Beberapa hari setelah saling nyolot, postingan itu ia hapus. Itu pun dengan embel-embel menyebalkan, “Saya tidak mau ribut. Ada penulis tidak laku ingin tampil!”

Saya semakin geram! Saya ingin dia minta maaf! Lalu, lagu Tentang Aku pun mengalun dalam benak. Saya mendadak agak jinak. Tapi kan? Tapi kan! Ah, ya sudahlah.

Ketika era sosial media merajai ruang berekspresi, orang yang tertangkap basah mencuri kata-kata pun semakin banyak, entah itu lelucon ber-hashtag di Twitter, status kehidupan dan kematian di Facebook, sampai caption puitis di Instagram. Sedihnya, 10 dari 10 orang yang diduga (mari mencoba ber-khusnudzon) plagiat itu tak pernah terus terang, malah tiba-tiba marah dan menghina karya yang diduga dicuri.

Di era yang mana maling yang tertangkap basah pun bisa berteriak-teriak mengaku sebagai pihak teraniaya atau korban rundung massal, saya semakin susah berharap. Saat ini, seolah ada kiat sesat yang berlaku umum; bila tertangkap basah melanggar hukum, halaulah dengan pencemaran nama baik.

Dari media sosial pula, saya dikabarkan pendengar; ada sebait lirik lagu baru yang serupa dengan lagu yang saya tulis lima tahun lalu. Saya mencari tahu siapa penulisnya. Ia rupanya sudah 'diserang' para netizen berkaitan dengan kemiripan lirik lagunya dengan lirik lagu ciptaan saya.

Andai yang kembar hanya beberapa kata—atau bahkan satu kalimat, tentu kita tak akan mudah untuk berburuk sangka. Saya diam-diam butuh kejutan. Sayangnya, respons sang penulis seperti yang sudah-sudah; “Itu hanya kebetulan semata” ditambah “Saya tidak pernah dengar lagu yang Anda tuduhkan!”. Ia juga memberikan polesan “penyanyi saya lebih populer ketimbang penyanyi lagu lama yang tidak terkenal itu!” pada alasan yang dilontarkannya.

Rata-rata mereka yang tertangkap basah atau katakanlah terduga basah selalu menyebutkan alasan yang serupa. Apakah ada perjanjian di antara para pencuri kata untuk menggunakan alasan yang sama? Atau itu lagi-lagi cuma kebetulan semata?

Kalau saya jadi penulis yang diduga mencuri kata, saya ingin sekali mempelajari karya yang diduga dicuri. Siapa tahu secara tak sadar saya memang pernah terinspirasi, atau jangan-jangan kami memang memiliki ide yang identik—ini pun bisa diperdebatkan, sebab ide bisa sama tetapi penerjemahan dalam bentuk karya tak akan sama.

Dan bila memungkinkan, bila ada kesempatan rilis/terbit ulang, saya akan mengubah karya saya demi menghindari kemungkinan pelanggaran hukum dan terlebih menghormati karya yang sudah ada.

Ibarat saya membuat merek baru—yang asli ide sendiri tapi sama dengan merek yang sudah terdaftar, ini bukan lagi sekadar keaslian ide, tetapi mengalah pada nama yang sudah eksis lebih dulu.

Ah, lagi-lagi, lagu Tentang Aku kembali tersenandung dalam benak. Lagu itu menyindir hati, seraya diingatkan kalau saya pernah memakai mekanisme primitif saat ketahuan bersalah: marah-marah. 

Ibarat menabrak mobil teman, mekanisme pembelaan dirinya seperti ini:

Tertabrak : “Elo nabrak mobil gue, ya?” 
Penabrak : “Hah? Nggak lah! Mobil lo yang mana aja gue gak tahu!” 
Tertabrak : “Lah ini belakang mobil gue penyok, bumper mobil lo juga penyok. Ada cat mobil gue pula! Ngaku aja lo!” 
Penabrak : “Jangan nuduh! Ini cuma kebetulan semata! Lagian, mobil gue, kan, lebih mahal dari lo!”

Kita sungguh mudah berpura-pura; dengan mudah menjelma perkasa dan meremehkan yang lain. Detik berikutnya, kita menjelma korban, bahkan seolah-olah orang yang paling teraniaya. Namun, soal isi hati adalah lain perkara. Akan selalu ada ruang waswas dengan tenggat waktu tak terbatas. Apalagi bila karya curianmu ternyata menjadi besar dan selalu dipertanyakan.

Seorang sahabat; Windy pernah bilang, ‘Pujian itu candu. Plagiat itu, sih, tabiat.’
Sekali nggak ketahuan, pelaku akan keenakan dan melakukannya lagi. Lantas mau pura-pura sampai kapan? Atau mau menjadi kreator yang berkarya dengan ‘mencuri’ sampai kapan?

Maafkan saya, Ibu guru & Jingga. Hati kacau ternyata hukuman yang setimpal. Semoga mengaku dan meminta maaf adalah penawar kebebasan.