Search This Blog

Loading...

Thursday, April 10, 2014

Berkelana ke Skotlandia (Part 2): Menggentayangi Kastil Edinburgh!

Kapan terakhir kali berandai-andai?

Kalau gak inget, sekarang saja, yuk:
Seandainya punya waktu luang dan uang untuk belanja sesuatu—yang belum terbayang wujudnya, bakal menjelajahi seisi toko dulu atau langsung beli begitu ada yang lucu?

Kalau saya golongan yang pertama, karena yang lucu itu kadang tak sekeren yang kita temukan setelahnya. Jadinya keranjang malah penuh dengan yang lucu-lucu gak perlu.

Pilihan ini juga saya terapkan pas mengelilingi kota Edinburgh dengan bus. Malahan sampai memutari kota 2 kali, demi menikmati sisi kiri dan sisi kanan kota secara utuh.

Segitunya! Apa gak sayang uangnya?
Justru karena pake bus City Sightseeing yang memungkinkan kita turun naik di pemberhentian mana pun (yang telah ditentukan) dan bolak balik dalam periode 24 jam (selama jam operasional bus), jadinya malah ngerasa rugi kalo gak muter-muter.
Dan, ouw! Jangan bimbang turun naik, karena setiap penumpang akan diberi peta ini:

Yang dibawah peta adalah daftar berbagai keseruan potongan harga untuk pemegang tiket bus!

Duduk di lantai 2 bus melintasi kota tua Edinburgh di antara bangunan bersejarah gothic dan bukit bebatuan cantik membuat saya... masuk angin! Matahari di musim semi ini memang cukup hangat, tapi deru angin dinginnya lumayan bikin nampar-nampar pipi. Kiat pertama: Siapkan syal tebal! Atau ya, gak perlu centil nongkrong di lantai atas bus yang terbuka itu, sih.

Bus kemudian melewati bukit bebatuan tinggi menjulang yang konon terbentuk dari magma yang mengeras ratusan juta tahun lalu. Tapi ada yang lebih menarik di atas bukit gunung berapi itu. Menarik secara misterius!

Dengan hati penuh keyakinan, saya memutuskan turun di bus stop nomor 6.
Mari kita menjelajahi kastil yang dibangun awal abad 12: Kastil Edinburgh!


Harga tiket kastil Edinburgh:
Anak-anak (5-15 tahun): £9.6
Dewasa (16-59 tahun) : £16
Jam buka musim panas: 9.30 am - 6 pm. Non musim panas, tutup sejam lebih awal.


Kastil Edinburgh ini dibangun Raja David I untuk mengenang sang ibunda; Ratu Margareth.
Duh, saya selalu terharu dengan bangunan yang berdiri karena cinta. Saya sendiri belum bisa bangun apa-apa untuk orang tua. Boro-boro kastil, ngebangun pagar rumah saja masih mikir-mikir.

Tapi sejarah tidak berhenti merekam sampai tahap pengenangan cinta, karena kastil ini juga hobi beralih fungsi, salah satunya sebagai benteng militer, yang tentu saja tidak mungkin kegiatannya hanya menjemur pakaian dan minum teh sore-sore.

Berbagai peristiwa berdarah nan misterius pun terjadi di kastil ini. Salah satu aksi horor yang sering tersebut dalam sejarah kastil Edinburgh adalah kisah pilu Janet Douglas yang dibakar hidup-hidup karena dituduh sebagai penyihir.



Kisah-kisah prajurit yang hilang secara misterius di ruang bawah tanah kastil pun kerap jadi penambah aura seram kastil Edinburgh. Ah, tapi sehoror-horonya kastil ini, banyak orang berkunjung, kok! Kalau mendadak ada arwah gentayangan pun bisa teriak ramai-ramai.



Saya lalu menaiki undakan tangga dengan hati berdebar dan jambul berkobar.
Ketika mendongakkan kepala di puncak kastil, terlihat sebuah balkon kecil yang memiliki taman indah, dipenuhi bebatuan yang ternyata... nisan kuburan anjing para tentara masa lampau. Seram-seram manis ya?



Di puncak kastil juga terdapat beberapa bangku kosong yang minta didudukin banget. Saatnya nyemil-nyemil asoy sambil menikmati angin sepoi!

Tapi acara duduk duduk ganteng tidak begitu lama, karena saya terpikat dengan meriam hitam raksasa yang berbaris elegan, seakan siap menggempur sekeliling kota.



Wah, ternyata setelah ngobrol-ngobrol dengan penjaga kastil, meriam yang bernama Mons Meg Cannon ini dibuat tahun 1449 dan bisa menembakkan peluru sebesar 200 kg sampai sejauh 3.2 km. Yang menakutkan, mereka masih menjalankan tradisi The One o'clock Gun sejak 1861; menembakkan peluru setiap pukul 1 siang setiap hari (kecuali Minggu).
Alamak, apa gak ada korban tewas ketimpuk peluru batu yang besarnya 3 kali lipat kepala kita itu?

Oh, tenang. Ternyata meriamnya beda sendiri. Semoga gak ada burung kesambit, deh!

Puas meraba-raba meriam, jiwa mulai terpancing menggentayangi berbagai ruangan kastil. Ada apa di balik jendela-jendela itu?  Siapa yang sedang melihat saya dari balik kaca itu?



Sebuah lorong berliku mengundang hasrat untuk masuk lebih dalam. Entah kenapa jantung berdegup kencang, sampai-sampai langkah melambat. Maklum, kastil ini kan sering dinobatkan sebagai tempat perkumpulan geng hantu terwahid se-Skotlandia raya!
Desas-desusnya lagi, di sini banyak terowongan rahasia bawah tanah yang bisa membuat kita tersesat selamanya. Hiih! Dan... dan di terowongan rahasia itu juga sering terdengar suara-suara seruling khas Skotlandia mengalun yang sungguh menyayat hati.

Ah, apaan sih.
Toh, kalau pun di dalam ternyata mencekam, tinggal berbalik mundur kan?
Saya kembali melangkah tanpa gentar. Tapi kok, orang-orang gak ada yang masuk ya?




Ah, syukurlah, di dalam ruangan ini ternyata banyak orang.
Ruangan ini merupakan Great Hall, dibangun tahun 1488-1513, dipersembahkan untuk King James IV berseremonial ria. Great Hall ini dipercantik beberapa chandelier, yang membuat saya seketika ingin berdansa!



Di antara berbagai dekorasi di dinding ruangan, ada semacam ventilasi berterali besi bernama Laird's Lug, yang ternyata dahulu kala dipakai raja untuk memantau para tamu kastil. Andai sang raja hari ini bangkit dari kubur, pasti bahagia lihat teknologi CCTV.

Ugh! Kok bulu kuduk ini berdiri ya? Padahal (masih) banyak orang. Mungkin karena ada sesepoi angin dingin menyapa leher. Atau jangan-jangan sebenarnya ruangan ini kosong?! Hiiii!

Saya lalu menelusuri berbagai ruang lain; dari bangunan tertua di kastil sekaligus di Edinburgh: St. Margaret's Chapel, sampai ruangan yang entah kenapa membangkitkan berbagai emosi: Queen Mary's room.
Di ruangan ini Ratu Mary melahirkan James VI  tanggal 19 Juni 1566.
Kok tau, sih? Tertulis di atap ruangan soalnya!



Saya kemudian memasuki lorong-lorong bertangga melingkar, membuka pintu—yang entah ruang terlarang atau bukan. Karena kok ....


...sepi ya?!

Saya mulai celingukan, memutuskan untuk kembali ke ruangan sebelumnya, atau berjalan semakin dalam.




Saya memang pecinta chandelier sih, tapi kalau di ruangan sepi sunyi begini, agak pengen lompat jendela. Tapi ternyata uji nyali belum selesai!


Entah kenapa, di depan lukisan ini punggung saya mendadak terasa beku. Seperti ada kantong es yang menggerayangi pori-pori leher yang secara perlahan menjalar ke bawah. Rasanya seperti ada beberapa pasang mata sedang mengawasi dari balik Laird's Lug.

Pikiran pun meliak liuk di antara bayangan seram. Ah, tapi seseramnya hantu di sini, masih lebih seram kuntilanak kan?
Sambil sok tenang sok menawan, saya memutuskan ke luar ruangan.
Yang ternyata gak selancar itu. Kok, perasaan tadi gak lewat sini ya?


Bentar-bentar, ini mana patung mana pengunjung, ya?
Duh, kenapa beberapa tangan patung itu mesti gerak-gerak segala, sih? Rasanya seperti memasuki dunia lukisan.



Alhamdulillah, akhirnya saya berada di sebuah ruangan hangat dan menemukan manusia-manusia sejati. Mereka tampak asyik ngopi-ngopi dan makan di ruangan merah yang ternyata bernama Redcoat Cafe.

Ah, leganya!
Ternyata memang sebaiknya sebelum menjelajahi kastil lebih baik kenyangin perut dulu ya.
Menu Redcoat ini beragam, dari roti, sup hangat, salad, pasta, kue, dan berbagai minuman. Harganya juga gak nyekik nyekik amat. Untuk secangkir latte lezat & 1 pot teh hangat, diberi harga £5. Pilihan sandwich dan soda pun rata-rata di bawah £10. Plus ada toilet bersih di bawah cafe.

Tapi yang paling menyenangkan di cafe ini adalah....



... pemandangan menawan kota Edinburgh.

Acara menggentayangi kastil pun berakhir di sini, sambil sesekali melihat foto-foto hasil jepretan tadi. Ternyata diam-diam berharap ada penampakan! Kalau ada yang lihat, lapor ya!

Tapi mohon kali ini jangan berandai-andai ya.

Hiiiiii!


Sunday, April 06, 2014

Berkelana ke Skotlandia (Part 1)

Salah sangka itu sepupuan sama si sok tahu.

Sama seperti saat saya mengira visa UK itu cuma untuk bebas melanglang buana di Inggris raya. Ih, ternyata sok tahu, karena selain ke Inggris, kita bisa singgah ke Wales, Irlandia Utara, dan Skotlandia.
Tapi ada kemungkinan untuk negara terakhir ini cuma berlaku sampai bulan September 2014, karena Skotlandia bisa jadi melepaskan diri dari United Kingdom. Kalau jadi berpisah, berarti bila berkunjung ke sana mesti pakai visa Skotlandia, dong?
Untuk lebih jelasnya, boleh baca-baca tentang Scotland's Referendum 2014. 

Referendum ini membuat saya merasa harus ke Skotlandia sesegera mungkin, mumpung masih bisa mampir!

Jadilah benak saya dipenuhi berbagai pertanyaan standar khas sebelum bepergian: 
Ke Skotlandianya mau ke kota mana? Naek apa? Dari mana? Butuh duit berapa?

Untuk kunjungan pertama ke sebuah negara, saya hobi menjelajahi ibu kotanya terlebih dulu; ibarat masuk rumah, berbincang-bincang mesra dulu dengan sang ibunda sebelum bertemu anggota keluarga lainnya—yang berarti pilihan kota pertama saya untuk Skotlandia adalah Edinburgh. (Yang ternyata dibacanya “E-din-bra”)

Berhubung waktu berlimpah dan saya menyukai pemandangan darat, saya memilih naik kereta api, berangkat dari stasiun King's Cross – London.  Waktu yang ditempuh sekitar 4 jam. Hhm, kalau mau bolak-balik dalam sehari, cape gak ya?
Ah, berhubung sudah terbiasa nyetir pp Bandung Jakarta plus macet dalam kota sampai total belasan jam per hari, cuma duduk-duduk ganteng doang 4 jam mah cingcai lah!

Kini tibalah saat yang menegangkan! Harga tiketnya berapa?

Kalau pesan online, bisa dapet tiket murah pp mulai £48. Dengan catatan: tentu saja selama kursi tersedia. 



Tapi sayangnya saya lagi kurang beruntung, karena tiket kereta pp yang saya dapatkan senilai £ 148. Ugh! 
Akhirnya saya memutuskan membeli tiket langsung di Evan Evans Tours (17-19 Cockspur Street, Trafalgar Square) seharga £159. LOH KOK LEBIH MAHAL?!

Tenang, harga segitu itu—selain dapet tiket PP London-Edinburgh, juga dapet tiket bus keliling kota seharian seharga £13 dan tiket masuk Edinburgh Castle seharga £16. Masih untung lah!

Tiket udah dapet, camilan udah siap, mari berangkat ke Edinburgh memakai kereta East Cost!

Please pardon my 'pura-pura gak tahu ada kamera' face!

Jalur kereta yang berfasilitas wifi ini melewati  Stevenage, Peterborough, Doncaster, York, Darlington, Newcastle, Berwick, dan Dunbar. Sepanjang perjalanan saya tidak bisa mengalihkan pandangan dari jendela, menikmati pemandangan padang rerumputan, perumahan pedesaan, perbukitan, pantai, gerombolan sapi, dan anak-anak kecil yang berlarian mengejar orang tuanya yang tampak riang gembira.

“Hello, kamu sendirian?” Sapa seorang ibu yang duduk di seberang, saat saya tak sengaja bertatap mata dengannya. Di sebelahnya duduk seorang pemuda—yang kalau boleh menuduh dari bentuk wajahnya adalah anak Ibu itu.
“Iya,” jawabku singkat, agak waswas. Jangan sampai nawarin MLM.
“Oh, tenang. Kamu tidak sendirian. Karena mulai sekarang, ada kami yang akan menemanimu!” Ujar Ibu itu sambil menawari saya berbagai makanan dan minuman asyik.


Wow! Tuh kan, salah sangka mulu, jadi malu! Tapi ternyata 'tuduhan' saya benar, mereka ibu dan anak berasal dari California, sedang asyik liburan berdua keliling UK.

Perjalanan pun semakin menyenangkan dan mengenyangkan, karena sang Ibu tak henti-hentinya mengeluarkan bekal yang wajib saya cicipi. Bahagianya!

Sampai tak terasa kereta pun melambatkan lajunya, karena ternyata kami telah tiba di stasiun Waverley, Edinburgh!

At Waverley station. Is that the famous light at the end of the tunnel?

Begitu keluar stasiun, langkah tercegat pemandangan The Scott Monument yang tinggi menjulang. Sepintas monumen ini menyerupai candi, yang membuat pikiran saya berkelana, andai Indonesia bebas gempa, mungkin akan banyak peninggalan candi indah yang masih berdiri kokoh sampai di tengah kota besar.
The Scott Monument,  a memorial to an author Sir Walter Scott
Suasana ala Skotlandia semakin terasa, seiring alunan khas seruling bagpipe yang ditiup seorang lelaki yang memakai kilt; pakaian tradisional Skotlandia.


Tak berapa lama, bus untuk keliling kota pun berhenti tepat di depan monumen. Saya pun menyiapkan tiket sakti yang memungkinkan saya bisa naik dan turun bus sesuka hati sepanjang hari!

Yuk, siap keliling Edinburgh?




Duh, kota Edinburgh ini seperti sebuah museum raksasa yang menawarkan karya seni bersejarah yang menawan hati saya.

Princes Street, salah satu jalan utama di tengah kota
Statue of David Livingstone. Saya selalu curiga dengan patung yang sedang menunjuk.
Jadi ada apa di pohon itu, Om David?


The statue of David Hume
A black dog is a campaign to promote understanding of depression and anxiety in the workplace. 
"Black dog" has been a metaphor for depression since Roman times. 

Yang paling menyenangkan, banyak pemandu berbaik budi yang menawarkan Free Walking Tour dan memotret kita dengan senang hati.
Ah, jalan-jalan sendirian ke Edinburgh ternyata gak perlu tongsis!



Hei, jalan-jalan belum berakhir!
Di postingan berikutnya, saya mau mengajakmu menelusuri sebuah kastil legendaris yang menjadi situs warisan dunia: Edinburgh Castle!



Sampai jumpa!

PS:
Kalau berencana ke Edinburgh naik pesawat, bisa coba ke sini atau ke sana. Tiket promonya juga seru-seru!
Kalau lebih senang naik bus (sekitar 10 jam dari London), bisa coba naik ini atau itu.
Nanti bagi-bagi cerita ya!

Thursday, March 27, 2014

Keliling London mending naik bus atau kereta bawah tanah?

Itu pertanyaan saya saat masih buta London. Rata-rata teman yang sudah pernah ke sana menjawab;
“Mesti coba dua-duanya, dong!” Lalu pertanyaan berikutnya, “Tiketnya semahal apa ya?”

Maklum, nilai tukar poundsterling yang tinggi bikin hati ketar-ketir, jangan-jangan duit habis di ongkos doang. Kan ogah juga kalau selama di London makan mi instan mulu. Atau mungkin sanggup lah ya sepiring-tiga piring fish & chips, tapi jangan sampai juga seporsi untuk pagi siang malam.

Ternyata jawaban asyiknya: “Semahal salah pilih cara bayarnya!”

Setelah ditilik-tilik, harga tiket ini pengaruh banget dengan pilihan kita; akan keliling di zona berapa saja? Apakah akan keliling London sehari-semalaman selama seminggu penuh atau cuma 3 hari saja? 

Sebelum hitung-hitungan, mari beli salah satu travel kit wajib selama di London: kartu sakti Oyster!
Kenapa sakti? Karena Oyster Card ini kartu prabayar tap-and-go yang bisa dipakai di berbagai alat transportasi di London: kereta bawah & atas tanah (London Underground / Tube Station & London Overground), si bus merah double decker yang legendaris itu, juga DLR (Docklands Light Railway). Kartu ini juga bisa digunakan untuk diskon kereta ke luar kota. Plus bisa dipake di beberapa cafe tertentu; kembalian koin-koin bisa ditukar kredit kartu.

Dari semua alasan sakti itu, yang paling menyenangkan karena kartu Oyster memberikan pilihan diskon lebih dari 50% dibanding membeli tiket transportasi secara tunai.

Di mana membeli kartu Oyster?
Ada di semua loket Tube Station! Begitu sampai di Heathrow Airport misalnya, ikuti petunjuk keberadaan London Underground (ada di semua terminal), cari loket atau hubungi petugas terdekat.
Harga 1 kartu Oyster: £5 sebagai deposit. Jadi kalau kelak kartunya dikembalikan, uangnya ya balik lagi. Tapi lucu juga kan koleksi kartu Oyster limited edition?

Nah, sekarang hitung-hitungannya gimana ya?
Ini contoh perhitungan dari situs Transport For London:

How much credit do I need?
Sample Tube fares:

Zones 1 to 2
Oyster £2.80 peak, £2.20 off-peak

Zones 1 to 6
Oyster £5.00 peak, £3.00 off-peak

Single bus journey
£1.45


Pusing? Tenang, cukup inget ini aja kalau gitu:

Unlimited journeys in one day in zones 1 and 2: £7.00 

Jadi kalau mau jalan-jalan kenyang - bolak balik - ke sana kemari di Zona 1 & 2: sisihkan £7 perhari.

Bilang saja sama petugas loketnya: “Please top up my oyster card for 3 days unlimited journeys,” sambil senyum manja.

Kalau udah gak canggung, bisa langsung top up juga di mesin tiket otomatis, bahkan online.

Buat yang pengin unlimited journeys untuk seminggu di zona 1-2, bakal lebih seru lagi, karena harganya lebih irit dari £7 X 7 = £ 31.40.

Buat sebulan juga gak kalah hemat = £120.60

Kalau ternyata mau menggila di tujuh Zona London dalam seminggu juga silahkeun, siapkan £55.60. Pasti kenyangnya kebangetan.

Jangan lupa sesekali cek sisa kredit di mesin tiket otomatis. Kalau kartu tidak bisa digunakan, bisa jadi sempet gak sadar keasyikan melipir ke luar zona, jadinya ngutang. Kalau kayak gini, cek aja ada berapa negative balance-nya di loket, dan siapkan koin koin penny-nya.

Oh ya, ini sih sekedar gambaran saja kalau datang ke London via Heathrow Airport.
Bandara ini kan ada di zona 6, sedangkan tempat bobo saya ada di zona 2, lalu niat jalan-jalan pake undergroundnya akan ada di seputar zona 1 & 2. 
Jadi dari Heathrow saya bayar tiket sekali jalan / single fare: antara £3 - £5 tergantung jam sibuk atau sepi sepi asoy. Pas nyampe di zona 2, baru deh top up sesuai kebutuhan—mau 3 hari atau seminggu misalnya.

Sekarang, saatnya memberikan kabar gembira! Kalau naik si double decker, oyster card unlimited journeys ini bisa dipakai lintas zona mana pun!

Kalau gak ngerasa pinter baca peta kota, gimana? Jangan waswas, download aja citymapper  di ponsel pintarmu. Panduannya ekstra lengkap, dari nomor rute bus / stasiun bus yang bisa diambil, sampai waktu kedatangan yang cukup akurat.

Sekarang, gimana cara pake kartunya ya?
Tenang, saya sudah bikin video panduannya!


Intinya sih, tempelin aja bagian belakang Oyster ke si bulet kuning di mesin pembaca kedatangan (Tap in!). 
Bisa dilihat di detik 0.10 video di atas, palangnya sempet gak mau kebuka, itu karena kredit saya habis! Dengan penuh rasa malu, maafkan ya!

Setelah tap in, pilih deh platform keretanya, mau turun di mana?
Di dalam kereta, bakal ada pengumuman kok stasiun yang akan dilewati berikutnya, dan yang akan menjadi tujuan terakhir.

Kalau ternyata salah kereta, keluar saja di stasiun berikutnya, langsung naik kereta yang berbalik arah tanpa harus “tap in” lagi. Tapi kalau waktumu melimpah, sekalian saja menyesatkan diri, yuk!


Setelah sampai di stasiun tujuan, jangan lupa menempelkan kartu kembali ke mesin pembaca (Tap Out) saat hendak ke luar (Way Out), karena kalau kelupaan, jumlah kredit bakal berkurang dengan biaya perjalanan terjauh.



Sekarang, gimana kalau naik si double decker?
Prinsipnya hampir sama, cuma kalo di bus cuma perlu “tap in”, gak perlu “tap out”. Mesin pembacanya ada di kaca dekat sopir, masuk dari pintu paling depan.

Nah, kalo di double decker edisi terbaru, mesin pembacanya ada di 3 pintu masuk. Yang di pintu tengah & belakang malah gak perlu ditempel lagi, tinggal lambai-lambai manja aja depan mesin pembaca.

Ini penampakan double decker yang futuristik itu. Yuk siap-siap naik!



Gimana, sudah siap keliling London dong ya?

Untuk postingan berikutnya, saya mau bagi-bagi tempat tongkrongan seru! Salah satunya toko ini:


Cherioo!



Eits, ada bonus! 
Dapet link kuis ini dari Claudia Lengkey
Do You Know How To Take The Underground Like A Londoner?
Dan hasil ujian saya sungguh membanggakan, haha!

Lumayan, jadi merasa terakreditasi menulis postingan ini! Nanti kamu coba isi juga ya!

Cheers,


Vabyo

Saturday, March 22, 2014

Pasca Senja di London

I see London's always beautiful, even on cloudy days.
But then I find it prettiest at twilight.
Well, probably.


Location: Victoria Embankment
Tube Station: Westminster

Friday, January 31, 2014

Menatap Jomblo Masa Lalu dan Masa Kini

Lagi-lagi keringat dingin. Lagi-lagi lihat jam dinding.

Saat itu hari Minggu sore di Oz Radio lantai 2, saya memeriksa materi siaran berulang-ulang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan; saat itu tahun ke tujuh saya siaran, masa masih gemetaran?

Masih kok, apalagi karena petang itu saya akan mewawancarai sang penulis idola: Ninit Yunita yang datang ditemani sang suami: Adhitia Mulya! Duh, sekali grogi, dapat dua!

Sampai akhirnya terdengar suara langkah di tangga, seiring detak jantung yang kian berlomba. Ah, syukurlah, senyum hangat dan obrolan mereka meniadakan kikuk, malahan saya mendapatkan banyak bonus wejangan mutakhir untuk menjalankan profesi sebagai penulis.

Kini, 6 tahun kemudian, semangat senyum hangat dan ngobrol enak itu tidak hilang. Bahkan kali ini, saya tidak akan merahasiakan obrolan dengan salah satu dari 2 idola tadi: Bang Adhit. Semua bebas nguping!

Halo Bang! Selamat untuk 10 Tahun Jomblo-nya! Kalau dilihat-lihat, cover-cover buku lo kan identiik dengan warna kuning, ada alasan khusus gak kenapa Jomblo (dan Gege Mengejar Cinta) edisi revisi ini ber-background putih?





>> Jadi dulu gue stick dengan warna kuning karena yang gue pelajari warna kuning itu identik dengan tawa/komedi, seperti halnya biru identik dengan ketenangan. Tapi setelah 10 tahun, gue memilih untuk ganti warna karena memang sudah saatnya saja. Bosen juga lama-lama kuning terus.

Bang Adhit kan pernah nge-tweet kalau dalam menulis fiksi itu selalu ingin pembaca bisa relate ke cerita atau tokohnya. Di buku Jomblo ini, ada bagian yang merupakan kisah nyata gak, sih? Selain masa jomblo tentunya ya 8)) 

>> Hehe, sebenarnya nggak. Tapi memang waktu kuliah itu entah kenapa gue gampang dicurhatin orang. Muka curhat kali ya. Nah, yang curhat itu dari laki-laki berotot menangis tersedu-sedu di pundak gue (yang mana abis itu gue mandi wajib) sampe cewek cakep. Curhat doang, jadian gak pernah. Anyway, 4 cerita di dalam jomblo adalah hasil observasi gue terhadap banyak kisah cinta yang gue temui di kehidupan nyata teman-teman.

Pas ngebaca ulang Jomblo edisi perdana, apa yang membuat Bang Adhit mengernyitkan dahi? Ada dialog atau adegan yang udah gak sreg dibaca saat ini? 

>> Iya, itu ada. Beberapa bagian membuat gue berpikir "Hmmm, masih zaman ga ya bagian cerita ini?"
Apa perbedaan manusia jomblo hari gini & 10 tahun lalu? 

>> 10 tahun yang lalu, internet masih mahal. Sekarang, jangankan internet, smartphone pun udah murah. Jadi dulu itu, jadi jomblo itu benar-benar hampa; getirnya gak ketulungan. Zaman sekarang sih, se-ancur-ancurnya jomblo, masih bisa menemukan kedamaian dalam stalking instagramnya Dian Sastro. Jaman dulu, kalo elo jomblo, siang-malem manyun.

Bisa nebak gak 3 hal yang terlintas pertama kali di benak Mas Hanung pas memutuskan bakal memfilmkan Jomblo?

>> Dia pernah cerita awal dia mengambil film ini. Jadi Mas Hanung itu ditawari oleh Pak Leo Sutanto dari Sinemart untuk menyutradari Jomblo. Sebelum baca bukunya, dia akui dia under-estimate. Tapi setelah dia selesai baca bukunya, Alhamdulillah dia suka dan memutuskan ikut dalam project kami ini.

Seandainya film Jomblo remake, dan dikasih pilihan alternative ending, mau kayak gimana? 

>> Hmm, rasanya gue tidak ingin mengubah getirnya ending Jomblo. Kisah cinta itu harus ada yang berakhir getir. Not everyone can win. Buktinya, untuk 1 Olla Ramlan yang menikah, ada ratusan jomblo yang nangis di shower. Sama juga dengan kehidupan kita; ketika 2 orang pria mengejar 1 wanita, wanita itu hanya dapat memilih 1 dari 2. Yang terpilih happy ending. Yang tidak terpilih, getun getir maki-maki amsyong ke dukun.

Kalau dapet kesempatan reinkarnasi ke dunia Jomblo, mau terlahir sebagai karakter siapa? 

>> Agus lah. Karena gue memang banyak mengimplant karakter diri yang sebenarnya pada karakter Agus. Contohnya, Agus itu orang yang over-complicate things. Orang yang socially awkward. Orang yang suka salah tingkah.

Bakal ngebolehin sang anak—Alde baca Jomblo di umur berapa?

>> Pertanyaan yang bagus. Singkatnya, 18 tahun. Jomblo saya tulis di saat saya belum menikah dan punya anak. Setelah punya anak, saya jadi mikir, wah, saya menyesal memiliki 4 adegan seks pranikah di dalam Jomblo. Akhirnya dalam edisi revisi ini, saya cut semua dan saya sisakan hanya satu. Menjadi seorang bapak, berarti menjadi orang yang mampu memberi influence yang baik pada minimal 1 orang di dunia ini, yaitu anak kita. Jika memberi influence baik saja tidak bisa (karena jomblo ada adegan seksnya) saya tidak dapat berkaca di cermin dan berkata bahwa saya bapak yang baik.

Seandainya Alde tiba-tiba mencanangkan diri jadi penulis, apa saran terbaik dari Bang Adhit? 

>> Jika situasi industri kreatif di masa depan, sama dengan hari ini, maka saran gue adalah: keep it as a money-making hobby.

For Adhitya Mulya, writer's block is ...... ?

>> a sign that we need to check our premis and synopsis again. Karena kalo premis dan sinopsisnya udah bener, Insya Allah nulis lebih lancar.


Seiring dengan jawaban penuh tamparan itu, percakapan kami tercukupi di 10 pertanyaan saja, karena kalau 20, kita perlu menunggu tahun 2023!

Sambil menunggu, kalau sampai saat ini ada yang masih sibuk harus memilih seorang yang baik atau yang cocok..
.. atau antara seorang perempuan atau sahabat..
.. juga kebingungan antara lebih baik diam saja selamanya atau menyatakan cinta..
.. atau terus mencoba atau tidak sama sekali,
jawabannya memang ada di sini:



Monday, January 06, 2014

Ikut Campur Tetangga

Biasanya saya tidak tertarik kabar tetangga. Gorden mereka warna apa, sikat gigi pakai pasta apa, kentutnya sebau apa, saya tidak mau tahu.
Tapi dipikir-pikir, ini bisa jadi karena tetangga saya rata-rata adem ayem, jarang bertikai atau beradu drama, membuat saya segan untuk lebih dari sekadar bertegur sapa. 'Halo, apa kabar' saja sudah cukup, bukan?

Karena ternyata ketika ada tetangga yang biasanya tampak santai elegan tiba-tiba ricuh, saya jadi sangat tertarik ikut campur.

Tetangga itu tetangga kita semua: Singapura.

Saya mengenal Singapura sebagai tetangga yang adem. Yah, tampak rungsing kalau kena bencana asap. Tapi, siapa yang tidak?

Kericuhan kali ini masih sebatas online, tidak sampai terjadi amuk massa, dan bisa jadi hanya ada di lingkungan (baca: timeline) sekitar saya saja, tapi cukup membuat saya kepo.

Bermula dari sebuah acara malam tahun baru di sebuah acara televisi Singapura.

 

Rupanya beberapa penonton mempermasalahkan kenapa acara perhitungan mundur di saluran nasional itu memakai bahasa Mandarin, disertai keheranan lainnya: “I’m sorry to say this, but it was so “cheena”. Where were the Malays, Indians, Peranakans and Eurasians?"

Asal mulanya saya mencium aroma kecemburuan, seperti kemarahan anak yang merasa tersisih. Tapi setelah membaca kolom komentar lebih jauh, seperti:
"Sad that the TV does not seem to comprehend the "One Nation" concept!"
"So whenever one race is being given extra highlight, or is it limelight, i ask myself, what for! Why?"
Ternyata anak yang terpilih juga menyuarakan ketidaksetujuannya, justru menyatakan perdampingan dengan anak tersisih.

Ah, lupakan. Ini bukan masalah anak terpilih atau anak tersisih.

Tapi itu kan masih asumsi saya saja.

Lalu dengan niatnya, saya mengobrol dengan seorang sahabat yang telah tinggal lama di Singapura
—sebut saja Dia, demi mendapatkan pengertian lain.

Saya: Sebenernya yang terganggu tayangan Tahun Baru itu mayoritas penduduk mana? Chinese atau non-chinese? 

Dia: Dua-duanya, karena gak sudi disamain sama Cina RRC, mungkin merasa superior.

Saya: Kalau misalnya ada pengucapan Selamat Lebaran pakai Mandarin, bakal kayak gini juga gak ya?

Dia: Gak kayaknya, melayu di sini kan minoritas. Ringkasnya, mereka gak suka saja diasosiasikan dengan Cina daratan. Karena Singapura bukan kayak Hong Kong yang perpanjangan Cina RRC. 

Saya: Apa jangan-jangan mereka yang merasa superior ini juga merasa berbeda nenek moyang dengan warga Cina daratan?

Jawaban Dia membuat saya tertampar: Yah tetaplah mengakui, tapi ya gak mau disamakan; karena Singapura dengan adanya berbagai percampuran ras termasuk foreigner, lebih dari sekadar “Cina saja di Asia Tenggara”.

Tertampar karena teringat pada temen bule yang sering bingung setiap ada perseteruan antara Indonesia dan Malaysia, “Sama-sama melayu, kok ribut?”

Jawaban superiornya? “DIH, KITA BEDA!!” Boro-boro memikirkan asal muasal nenek moyang, kan?

Sambil masih mencoba memahami tetangga, saya pun menelusuri berita kerusuhan  mereka yang tampak mengejutkan, tapi dengan kejamnya jadi terdengar biasa saja kalau terjadi di sini.

Akhirnya saya mundur teratur dari ikut campur ini, dengan hati yang sungguh iri; kapan kita bisa melihat berita kerusuhan di Indonesia dan terkejut, “Kok bisa?!”

Saturday, January 04, 2014

Pentingkah Buku Laku?

“Ah, penjualan gak penting, yang penting berkarya.”

Bisa jadi itu ucapan penghiburan diri saya sekitar tujuh tahun lalu, ketika novel pertama jeblok di pasaran. Terlebih ketika novel itu masuk nominasi sebuah penghargaan bergengsi, saya diam-diam arogan, “Tuh kan, yang penting kualitas.”

Saya lantas tetap menulis dan berhasil kembali merilis novel, setahun berikutnya. Bagaimana peruntungannya? Hanya beberapa bulan mejeng di toko buku, setelah itu kembali bersemayam di gudang penerbit, karena penjualan tidak juga memuaskan.

Saya kembali menghibur hati: ibarat ajang pencarian idola, mungkin Indonesia belum memilih saya. Beuh. Tanpa kapok, saya tetap menulis sambil berkelana ke sana kemari, hingga akhirnya bisa merilis kembali buku ketiga, yang siapa sangka akan mengubah cara pandang saya.

Bulan pertama penjualan buku terbaru ini meroket, membuat saya tentu sangat bersyukur, tapi masih pura-pura adem ayem, seolah menjaga ucapan kala penghibur hati selama ini. Saya tidak ingin kalau buku selanjutnya kembali gagal di pasaran, saya tiba-tiba hilang semangat dan sibuk mencari perhatian yang tidak berhubungan dengan karya tulisan.

Sampai suatu ketika seorang staf penjualan yang mengantarkan buku-buku ke rumah berkata, “Terima kasih ya, bukunya bagus banget!”

“Wah, terima kasih banyak mau baca ya!” Jawabku semringah; salut di antara kesibukannya berjualan, masih menyempatkan baca.

“Euh, sebenarnya belum baca, maksud saya (yang bagus) penjualannya.”

Untuk beberapa saat, saya tercengang—merasa ganjil dengan jawabannya. Tapi raut wajah bahagianya saat mengucapkan terima kasih itu membuat saya tersadar, selama ini saya penulis yang egois, asyik-asyik sendiri saja. Asyik sekadar nampang di toko buku, gak laku yah bodo amat.
Jadi terbayang, apa jadinya kalau saat kegagalan tempo hari itu, saya malah mencak-mencak penerbit atau toko buku atau malah pembaca?

Dan ternyata ketika sebuah buku laku, yang senang tidak cuma saya sendiri. Penerbit, toko buku dan segenap stafnya pun bahagia ternafkahi, bukan? Ternyata banyak yang bisa makan dari sebuah buku. Bahagia bersama ternyata lebih menyenangkan dari (sok) bahagia sendiri.

Jadinya saat ini, setiap menerbitkan buku baru, saya ikut merasa bertanggung jawab untuk mempromosikannya.
Penerbit dan toko buku pun sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu penulis menerbitkan karyanya, membuat saya tidak enak hati kalau cuma ongkang kaki menunggu hasil penjualan.

Kalau toh ternyata gagal, saya akan kembali menghibur hati; menghargai perjuangan bersama—tanpa perlu berputus asa.
Dan untuk janji selanjutnya: selama saya menerbitkan buku dengan ikut melibatkan banyak pihak, saya tidak akan lagi berkoar-koar: Buku gak laku? Bodo amat.
Kan bebas menghibur hati, asal yang tidak saling menyakiti.

Selamat menulis dan berjuang!

From The Journeys 3

Friday, January 03, 2014

Penulis Cuma Ngetik Di Kamar Doang?

Ketika mencanangkan diri sebagai penulis, beberapa orang memberikan pertanyaan berisi tuduhan: “Gak bosen, cuma ngetik di kamar doang?”

Iya pasti bosan lah, kalau memang benar cuma ngetik di kamar doang.

Mungkin ini akan mengejutkanmu, karena menjadi seorang penulis itu lebih dari sekadar cuma ngetik. Stop; gak perlu pake 'di kamar doang' dulu. Saya kadang menjelma bak detektif demi mengetahui sebuah organisasi yang akan saya tulis, menjadi pelancong dadakan untuk meresapi lokasi yang akan dijadikan setting buku, bahkan tak segan menjadi psikopat demi mendalami karakter tokoh yang akan saya pakai di buku. Yang terakhir ini kayaknya keterusan, sih.

Nah, justru dari menulis, kami (karena gak cuma saya) malah mendapatkan banyak kesempatan jalan-jalan yang membuat kami *siap-siap ya* tentu gak cuma di kamar doang. Itu baru dari proses penulisan saja, karena pada saat mempromosikan buku, kami bisa mendatangi kota-kota yang belum pernah sempat terjamahi.

Ah, jadi ingat! Dari kunjungan masa promo, salah satu kota favorit saya adalah Medan; kelezatan kepiting renyah saus telur asinnya menghantui terus. Belum termasuk bolu gulung keju dan pancake durian.
Wiiih! Saya juga tidak keberatan datang berkali-kali ke kota idaman seperti Jogjakarta, yang suasana seni khas Jawa-nya senantiasa membuat hati damai. Bahkan ketika menulis nama kotanya saja, bibir saya tersenyum-senyum sendiri.

Dan tanpa bermaksud ingin membuat iri, karena hobi menulis pula, saya pernah mendapatkan bonus tiket ke sebuah tempat yang kini menjadi salah satu kota idaman saya.

 

Di London, saya juga menulis buku nonfiksi yang akan diterbitkan sesaat lagi. Mohon doa kelancarannya, ya! Jadilah saat ini saya menemukan siklus kehidupan yang tak terputus: menulis untuk jalan-jalan dan jalan-jalan untuk menulis, juga menulis kala jalan-jalan dan jalan-jalan saat menulis. 

Agar pembelaan diri kali ini gak berakhir (makin) sombong, sebenarnya apa pun profesimu saat ini—atau malah sedang gak berprofesi apa pun, kamu juga bisa menemukan kota impianmu!. Tentukan saja dulu, kira-kira mau ngider di benua mana, dan coba intip ini.

Eits, plus bisa ditemenin sama yang cakep-cakep, lagi!

 

 Selamat berbebas liburan!

Friday, December 27, 2013

Camilan Senja



Beberapa senja terakhir di penghujung tahun ini, mata dimanjakan arakan awan menggemaskan. Hiasan angkasa sang penghapus lelah, membuat saya rela merebahkan tubuh di rerumputan.

Andai senja menguasai hari, ia akan tetap istimewa dan dinanti gak ya? Seperti menikmati wajah sang idaman yang hanya muncul sesaat.

Ah, nikmati saja dan mari membuat camilan senja!

   

Biskuit rumput laut + keju iris, hangatkan dalam microwave sekitar 3-4 menit. Hidangkan dengan secangkir teh hitam. Renyah, gurih, lumer di lidah!

Selamat menikmati senja!


Thursday, December 26, 2013

Kamu Benar Benar Bahagia?

Sesaat sebelum menduduki panggung sebuah talkshow peluncuran buku, otak saya terbiasa menyiapkan berbagai jawaban untuk setiap pertanyaan standar, seperti  “Kenapa memilih judul buku itu?”  atau  “Darimana dapat inspirasi?” sampai “Kok gak nikah-nikah?” sekalipun.

Begitu pun ketika duduk bareng beberapa penulis lainnya di Galeri 678 – Kemang, Jakarta untuk launching buku The Journeys 3, saya sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan sebangsa, “Apa makna perjalanan dalam hidupmu?” dan semua hal yang berbau jalan-jalan.

Pertanyaan demi pertanyaan menggiliri kami tanpa jeda sesekali berbalut canda, hingga tibalah sebuah pertanyaan klasik yang justru saya lupa siapkan jawabannya: “Apakah anda bahagia ketika berjalan-jalan?”

Yang pertama terlontar di benak, sih: Bahagia? Ya, harus lah! 
Tapi kan itu tidak menjawab pertanyaan, karena bukan iya atau tidak.

Jawaban spontan saya saat itu sih, kurang lebih: “Iya, bahagia. Tapi bahagia itu kan seperti kenyang, karena (saya) biarpun sudah kenyang, gampang lapar kalau melihat makanan lagi. Ibarat bahagia saat atau setelah melakukan sebuah perjalanan, tapi selalu gampang iri kalau melihat orang lain yang melakukan perjalanan (yang saya belum pernah datangi). Tapi saya gak keberatan iri, karena iri adalah mampu yang tertunda.” 

Sementara rekan penulis lainnya menjawab dengan versi masing-masing, diam-diam saya tidak bahagia dengan jawaban sendiri.

Tapi, sebenarnya bahagia itu sendiri apa ya? Kenapa semakin berumur malah semakin canggung menjawab pertanyaan ini?
Untuk jawaban paling standar, ngintip kamus dulu, yuk!
Menurut KBBI dalam jaringan:

ba·ha·gia = keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).  
Bebas dari segala yang menyusahkan? Waduh, sanggup gak ya? Mengingat mati pun pasti menyusahkan orang banyak.

Coba kita lirik petikan dari Mahatma Gandhi:

“Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.”  

 Waduh, jadi tertampar. Karena makin ke sini, berarti makin susah bahagia, karena kadang apa yang di tweet dan yang dilakukan saja bisa berbeda. Yang di-mention sama yang di DM saja seringkali gak singkron.

Tapi sebelum ngintip dan larak-lirik lebih jauh lagi, sepenting apa memaknai bahagia? Untuk bersyukur? Tapi saat terpuruk pun boleh kan, mengucapkan segala pujian?

Contohnya, ketika gagal mendapatkan sesuatu atau seseorang, ada keyakinan kalau saya sedang diselamatkan dari drama ribet masa depan. Kalau sering “coba dulu gak begini-begitu”, bisa coba dibalik “barangkali ini terjadi biar nanti gak ber- 'coba dulu gak begini-begitu' “

Memang, pengalaman dan pembelajaran itu perlu, tapi kan bisa pilah-pilih yang bukan pengulangan derita, kecuali kalau memang penggemar tragedi ya. Karena tidak sedikit teman-teman yang menyambut kesedihan penuh ceria: memborong serial drama korea sambil menyiapkan gulungan tisyu, misalnya.

Kembali mengutak-atik bahagia, ternyata pemaknaannya pun berubah-ubah sesuai masa kehidupan. Pernah gak sih, tiba-tiba merasa jijik sendiri ketika menelaah bahagia masa lampau? Bahagia saat bergerombol dan lupa diri misalnya: memelonco adik kelas, mencorat-coret tembok rumah orang, atau bullying anak culun. Seru saat itu, tidak enak hati saat ini.

Atau mungkin pernah begitu dimabuk asmara saat menduakan pasangan? Saat 'takut ketahuan' menjadi amunisi kenikmatan saat beringkar janji. Seakan lupa bila tidak ada perselingkuhan yang tidak terbongkar, yang cuma berujung derita hati.

Sebaliknya, ada juga rentetan kesedihan yang kini membuat saya tersenyum. Contohnya, saat saya disunat ketika berumur 6 tahun. Masih jelas teringat, saat terasa lagi perih-perihnya, semua tamu malah memberikan selamat dan beberapa diantaranya asyik heboh memotret penis yang sedang terluka itu. Bahagia? Boro-boro, yang ada sedih campur sakit hati. Sampai akhirnya ketika luka mengering, ternyata bentuk si anu pun berubah menjadi menggemaskan dan terasa bersih mewangi.

Mungkin kita perlu sesekali menggunakan teropong bahagia untuk memahami secara utuh kisah kasih sedih masa lalu. Karena bisa tetap bersahaja saat menderita; sedih seperlunya tanpa drama adalah suatu kebahagiaan tersendiri buat saya.

Bukankah melihat kepingan sedih yang ternyata telah berhasil kita lewati merupakan sebuah kesenangan jiwa?
Dan, memangnya bisa bahagia kalau tidak pernah merasa sedih?



Terima kasih mau membaca, semoga bahagia membaca postingan ini.
Seandainya tidak, mohon kembali dengan teropong bahagia di masa depan.