Di bawah ini beberapa artikel saya tentang London yang dimuat di Belia - Pikiran Rakyat (edisi 30 April 2013, 7 Mei 2013, 14 Mei 2013). Kalo tulisannya kurang jelas, klik foto scan-nya untuk memperbesar ya!
Part 1: Cara membuat visa UK dan pesan kamar di Wisma Siswa Merdeka.
Part 2: Cara pakai transportasi umum di London.
Tube Map:
Part 3: Mari menjelajah London! Dari lokasi wajib, kebab nikmat, kantor pos, tur bus merah, pasar kaget.
Part 4: Museum gratis, teater seru, studio Harry Potter, berburu tiket kereta murah, pasar keren.
Bangga tak terkira diapit para wanita penuh talenta ini.
Ternyata menyenangkan sekali membaca tentang diri sendiri yang ditulis orang lain.
Dalam buku My Life As Writer ada lima penulis berbagi kisah seputar karier sebagai penulis.
"Lima latar belakang berbeda, lima
energi kreatif berbeda." My Life As Writer ditulis oleh Haqi Achmad dan Ribka Anastasia Setiawan. Kalo mau gabung jadi penulis, boleh baca buku ini. Bonus foto foto seksi. Ahey!
Hore, akhirnya dapet kesempatan nulis lagu buat segerombolan cewek cakep. Plus beneran bisa nyanyi dan joged!
Sebelum dibombardir pertanyaan kenapa gaya mereka korea banget, itu karena S.O.S (seperti juga S4) memang terbentuk dari ajang pencarian bakat yang bekerja sama dengan agensi Korea Selatan. Untuk di Indonesia mereka digawangi YS Media & Entertainment.
Mereka juga dilatih langsung oleh manajemen Korea selama hampir setahun; lebih dari 12 jam per hari buat latihan vokal dan menari.
Yang ngelatih mereka nge-dance: Jeon Hyo Jung (pelatih 4Minute dan HyunA), yang ngelatih olah vokal: Jang Sang Mi.
Genre mereka: kin-pop; Korea Indonesia Pop.
S.O.S juga kerja bareng Seo Yong Bae (komposer lagu Ailee "Heaven", Orange Caramel "Lipstick") dan Hwang Sung Jin (penulis lirik lagu Beast, Secret, Lee Seung Gi dan 4Minute).
Kalo lirik Indonesia-nya, yah kebetulan saya yang nulis :D
Selamat menikmati & selamat joged!
Ada rasa bersalah ketika begitu syahdu merayakan hari ibu di twitter, tapi pas papasan dengan mamah di dapur, saya cuma melengos planga plongo.
Tersadar ada yang tidak benar, maka saat sore menjelang malam, saya memutuskan ngibrit ke Setia Budi supermarket (Bandung) untuk membeli bahan-bahan berikut ini.
- olive oil 500 ml = 46500 (kepake 1/2 botol)
- whipping cream 500 ml = 47000
- bawang putih 500gr = 9750 (isi 12 siung, kepake 2 siung)
- keju parmesan (lupa ukurannya, tingginya 1/2 botol olive oil) = 52000
- pasta 1 kg = 21950
- daun Kemangi 1 iket = 3000
- kacang pinus 50gr = 29500
Oh ya, itu ada harga tercantum bukan mau pamer kekayaan, kok. Tapi buat siap siaga aja karena biasanya kalo nulis bahan suka pada nanya harga. Yah, kalo nemuin yang lebih murah, jangan marah.
Diitung-itung total belanja nyampe 200 ribu, tapi jangan sedih; kita bisa membahagiakan 7 orang gembul yang masing-masing dapet 2 piring atau 14 orang dalam keadaan lapar normal atau 28 orang yang lagi diet atau ... *gak abis abis*
"Hey tunggu!" Sebuah suara cempreng menghantam jiwa. "Kita mau dibikin apa?" Tanya si daun kemangi memelototi saya penuh dendam. Hih, daun kok belagu amat.
"Saos Alfredo," jawab saya singkat.
"Hah, pesto kali?" Ujar si botol olive oil dengan nada suara mengejek.
"Iya, pesto Alfredo," hardik saya sambil memutar-mutar bola mata.
"Loh, Alfredo itu pasta dingin, bukan saos!" Bentak bawang putih, tak ingin kalah tampil.
"Lah, itu di internet ada resep saos alfredo?" Tangkisku begitu sengit,
"Yah, itu maksudnya saos pesto buat pasta alfredo," kali ini kacang pinus menjegal tangkisanku. "Sama saja kayak saos tomat versus saos barbekyu," sambungnya dengan nada intimidatif.
"Loh, tapi bukannya alfredo itu versi creamy-nya pesto?" Saya mulai menggulung lengan baju dengan tangan bergemetaran.
"Sudah sudah, ini hanya perbedaan istilah saja," Tiba-tiba si keju parmesan melerai kami dengan suara halus lembut. "Di Italia sendiri gak ada istilah 'saos Alfredo', ini sih resep buatan Amerika."
"Hah? Tapi perasaan pas saya ke Roma pernah nemu saos ini di salah satu cafe?" Tanya saya dengan suara tenang tapi tentu tetap angkuh, dong.
"Itu pasti restoran khusus turis! Mungkin juga yang punyanya keturunan Amerika!" timpal si bawang putih kembali menggusarkan suasana.
AH SUDAH SUDAH! Mau masak aja kok migren gini!
Tanpa basa basi busuk langsung saja saya masukkan 1 iket daun kemangi tanpa batang + kacang pinus + 2 siung bawang putih ke blender + 1/2 botol olive oil sampai melebur penuh cinta.. diikuti 1/2 batang keju parmesan, dan 2 kotak whipping cream.
Ooops, kalo ngintip resep orang (Amerika) sih, cream ini harusnya dipake pas masak pasta. Tapi saya khilaf.
Jadi ya maaf, kalo pesto yang biasanya berwarna kayak sambel ijo jadi tampak bagai jus alpukat.
Lalu guyur saos creamy yang sungguh lezat aduhai ini ke pasta dan perangkat penggembira seperti baso, daging asap, sosis, atau apa pun yang kausuka. Jangan lupa taburi dengan serutan keju parmesan!
Saya pribadi sih lebih suka saosnya membanjiri piring dan mengguyur dada kalo tidak ada yang jijik. Tapi buat yang gampang eneg, masaknya ampe agak kering-lembab dikit lah ya. (?)
Untuk kejutan tambahan setelah makan, belah alpukat mentega dan serut gula merah di atasnya.
(Kalo ini sih gak perlu diperdebatkan apakah resep Italia atau Amerika; udah dapet turun temurun dari uyut di Garut)
SELAMAT MAKAN, MAMAH!
Suka gak suka, semoga tetep sayang ya!
XOXO vabyo!
budi!
Eh, dan ini bonus video buat kamu, semoga bermanfaat.
Cerita lebih lanjut tentang Misteri Saos Alfredo, bisa baca di sini.
Dedaunan terombang ambing angin
sepanjang jalan Hegarmanah. Beberapa diantaranya terhempas memenuhi halaman
Garasi Opa.
Kaki saya bergegas memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi
piringan hitam tempo doeloe aseli boeatan Indonesia.
Mata saya tercekat sebuah sampul
piringan hitam yang begitu menggugah jiwa. Tertulis JACARTA RAYA.
Kondisi sampul masih mulus.
Sayangnya tidak ada keterangan tahun produksi. Tapi foto
'jacarta' pada cover cukup memberikan petunjuk.
Lalu jemari ini mendadak tremor saat
mengeluarkan si piringan hitam dari sampul hitamnya.
Ketika memegang benda masa lalu, selalu terbayang rekaan rupa sang pembeli pertama, siapa saja yang
sudah memegangnya, ke mana saja benda ini sudah melanglang buana,
atau jadi saksi bisu peristiwa apa sajakah si piringan hitam ini?
“Mau coba dulu?” Tanya Budi, salah
satu penggagas Kineruku-Garasi Opa sambil menunjuk turn table
berwarna abu-abu. AH TENTU!
Tak lama kemudian mengalunlah nada-nada
merdu itu. Saya terkesima dengan kualitas suaranya yang jernih. Sang
pemilik piringan hitam ini pasti menjaganya sepenuh hati.
Lalu terdengar lagu yang begitu akrab di
telinga dan penuh kenangan di hati: CHA CHA MARITJA. Demikian judul itu tertulis di sampul album. Saya sempat bingung kenapa cara penulisannya tidak serempak menggunakan ejaan lama menjadi TJHA TJHA MARITJA.
Namun kebingungan itu terkalahkan rasa takjub saat mendengarkan syair lagu.
Di masa kecil saya mengenal lagu Cha
Cha Maricha cuma sebatas: “Mana di mana, anak kambing saya?”
“Anak kambing tuan di pohon waru.” “Mana di mana jantung hati
saya.” “Jantung hati tuan ada di kampung baru.” Lalu tentu saja
“Cha cha maricha hei hei 2X ada di kampung baru”--sampai matahari
terbenam.
Tapi di edisi album ini, lirik yang
ditampilkan begitu SERU PENUH KEJUTAN:
Mana di
mana, anak kambing saya?
Anak kambing si Adek, ada di pasar
baru!
Mana di mana, jantung hati saya?
Jantung hati si ade, yang pake kemeja
biru!
Cha Cha Maritja hey hey 2X
Cha Cha Maritja ada di pasar baru!
Mana di mana, anak kambing saya?
Anak kambing si Adek, yang lagi
garukin aspal!
Mana di mana, jantung hati saya?
Jantung hati si ade, yang idungnya
gede kayak semprong kapal!
Cha Cha Maritja hey hey 2X
Cha Cha Maritja ketipung ketipung
balung!
Mana di mana, anak kambing saya?
Anak kambing si Adek, ada di pinggir
kali!
Mana di mana, jantung hati saya?
Jantung hati si ade, itu die si mata
jeli!
Cha Cha Maritja hey hey 2X
Cha Cha Maritja ada di pinggir kali!
Mana di mana, anak kambing saya?
Anak kambing si Adek, yang lagi gadoin
kucai!
Mana di mana, jantung hati saya?
Jantung hati si ade, yang mulutnya
lebar kayak barongsai!
Cha Cha Maritja hey hey 2X
Cha Cha Maritja ketipung ketipung
balung!
Manelah mane dek, anak kambing abang?
Anak kambing abang, diiket di samping
pager!
Manelah mane dek, jantung hati abang?
Jantung hati abang yang buntet
kepalanya lebar!
Cha Cha Maritja hey hey 2X
Cha Cha Maritja ada di samping pager!
Penasaran dengan album ini, saya mulai melacak dokumentasi di internet dengan keyword “jacarta raya” lalu nama penyanyi “Enny
Kusrini” “Suhaeri” sayangnya info yang ditampilkan sungguh
minim cenderung nihil. (Update: dapet kabar menyedihkan via twitter
tentang Enny Kusrini)
Akhirnya ketimbang bermuram durja, akhirnya saya membulatkan tekad membuat video klip sendiri untuk lagu-lagu keroncong lawas nan asoy ini. Yah,
gak sendiri-sendiri amat sih, ada Maradilla sebagai teman duet dan
kru Erpedana yang bertugas membuat video.
Oh ya, biar gak dikatain “arteis
lipsync”, dalam video ini saya dan Maradilla ikut bernyanyi (di
speaker kiri), tapi suara penyanyi aseli bisa dinikmati terpisah di
speaker kanan.
Jangan khawatir, dalam video Cha Cha
Maricha ini tidak ada hidden agenda;bukan untuk promo buku, bukan
pemilihan presiden dan tidak ada agenda iluminati— kami hanya ingin
merayakan masa laloe!
Dan inilah video perdana kami untuk
merayakan harmoni indah di masa laloe!
Selamat berdansa Cha Cha Maritja!
Bonus: Lirik versi Inggris! Kali aja Pitbull tertarik bikin versi remix.
Where oh where is my baby goat?
Her baby goat, is on the new market!
Where oh where is my sweety pie?
Her sweety pie, is wearing a blue
shirt!
Cha Cha Maricha hey hey 2X
Cha Cha Maricha is on the new market!
Where oh where is my baby goat?
Her baby goat is now scratching the
asphalt!
Where oh where is my sweety pie?
Her sweety pie has a huge nose like a
ship's lamp funnel!
Cha Cha Maricha hey hey 2X
Cha Cha
Maricha drums-drums cockscomb!
Where oh where is my baby goat?
Her baby goat, is on the side of the
creek.
Where oh where is my sweety pie?
Her sweetie pie, the one with the sharp
eyes!
Cha Cha Maricha hey hey 2X
Cha Cha Maricha is on the side of the
creek!
Where oh where is my baby goat?
Her baby goat is munching the chives!
Where oh where is my sweety pie?
Her sweety pie, the one with the
gigantic mouth like a chinese lion's
Cha Cha Maricha hey hey 2X
Cha Cha
Maricha Drums-drums cockscomb!
Where oh where is my baby goat?
His baby goat
is tied up beside a fence.
Where oh where is my sweety pie?
His sweety pie, the one with a short
body and a big head!
Hidup tanpa masalah sama saja kayak
masakan sunda tanpa lalapan.
Ketika bermasalah dan punya teman yang
menolong bagaikan masakan sunda dan lalapan dikasih bonus ikan gurame
bakar saos asam manis.
Tapi saat bermasalah direcokin teman
yang ikut campur dan kepo (ingin tahu ini itu), seakan makan masakan
sunda disuapin paksa cabe gendot plus dicucukin duri ikan gurame.
Sebagai ilustrasi, ada beberapa contoh
kasus yang disertai perbedaan antara menolong, ikut campur, atau
kepo—versi saya.
Kasus 1: Temen putus pacaran.
Menolong: Menghiburnya sambil
menawarkan traktiran makan atau malah pacar baru.
Ikut campur: Menelpon diam-diam
mantannya menyarankan jadian kembali. Lalu menyuruh teman agar
berhenti bersedih dan harus mau kalau mantannya minta balikan. * what
*
Kepo: Nanya-nanya tentang putusnya
kenapa-kapan-di mana-selama pacaran udah ngapain aja.
Kasus 2: Temen kehilangan dompet.
Menolong: Menawarkan menemaninya ke
kantor polisi untuk bikin surat laporan kehilangan dan ke kelurahan
demi pergantian KTP. Kalo ada duit lebih, ngasih dompet baru!
Ikut campur: Menasihati si teman agar
beramal, karena dompet yang hilang itu pasti kurang amal. Lalu
memaksa membeli barang dagangan dengan dalih setengah hasil penjualan
akan disumbangkan.
Kepo: Menyelidiki kenapa bisa ilang
dompet-mereknya apa-belinya kapan-isi uangnya ada berapa-dompetnya
beli sendiri atau dikasih orang.
Kasus 3: Seorang nenek kebingungan saat akan menyeberang jalan.
Menolong: Menggandeng tangan Nenek
sambil menuntunnya melintasi jalan.
Ikut campur: Menasihati setengah
memaksa nenek untuk mengganti model sepatu, dengan dalih agar
menyeberang lebih mudah. (Lebih menyebalkan, setelah itu menawarkan
brosur dagangan sepatu).
Kepo: Interogasi nenek dari mana-mau
kemana-suami kemana-cucu berapa-posisi tidurnya gimana.
Jangan manyun, catatan ini sekadar
pengingat hati, karena saya pun sering lupa diri.
Bisa jadi agar lebih aman, dalam
situasi yang bukan darurat (seperti kecebur di laut) ada kalanya
pertolongan perlu ditawarkan terlebih dahulu, agar tidak mengganggu
yang sekiranya perlu ditolong.
Dan bila kita yang menerima pertolongan
yang justru terasa mengganggu, ada baiknya diobrolin sambil
ngopi-ngopi ganteng dan tetap berterima kasih, mungkin maksudnya
memang benar-benar ingin menolong—yang sayangnya malah bikin kita
melolong.
Mari kembali ke kota Alkhobar di tahun
2009, di sebuah sudut Al Rashed Mal, ketika saya menemani teman yang sedang bekerja di cafe-nya.
Euh. Tepatnya menumpang internetan,
sih. Wifi cafe-nya superkencang, dan saya haus pergaulan di sosial media. Plus teman saya itu sering ngasih segelas cokelat hangat gratis, sih.
Tiba-tiba seorang perempuan bercadar
nyelonong masuk ruangan, langsung duduk. Dari perawakan dan bahasa tubuhnya
seperti orang asia.
Perempuan itu melepas cadarnya. Dan tebakan saya benar.
Matanya merah sekali. Senyumnya mengembang saat tatapan kami beradu.
Setelah sapa-sapa singkat, ternyata ia TKW asal Kupang.
Saya lalu menawarkan minuman, kemudian tersibaklah sebuah curhatan; “Saya gak punya uang, mau ikut duduk
saja sambil nunggu majikan belanja."
Lalu curhatan menggelinding liar ke sebuah ironi yang tak pernah usai. Seperti lagu pilu menyayat hati yang selalu diputar radio di jam-jam primetime, sampai kita muak lalu berhenti me-request, tapi menunggu lagu serupa dalam balutan nada berbeda.
"Enam bulan terakhir ini (gaji) saya gak dibayar. Makan juga kadang dikasih malem aja. Kalo sakit cuma dikasih jus jeruk. Saya akhirnya minta tiket pulang, malah dipukulin. Yah, saya cuma pengen pulang. Gaji gak dibayar gak apa-apa. Setidaknya kalo mati, saya pengen di sebelah ibu.”
Mungkin ada yang menguap baca ini, atau ada
yang sekadar “Ah, udah biasa itu mah. Yah mau gimana lagi”, atau
“salah sendiri jadi TKW,” atau bla bla bla..
Saya pun sempat berhenti meracau
tentang TKI di twitter, karena merasa heboh sendiri, dan sebagian
orang menyangka saya sedang promo buku.
Yang menyakitkan, ketika saya nge-tweet
tentang TKI, ada saja yang bertanya, “Memangnya ada yang mati
lagi?” Saya tanya balik, “Memangnya kalo mau peduli TKI harus nunggu dari kami ada
yang dipenggal dulu ya?”
Yah, terserah. Walau kerasa nyesek, ya itu pilihan anda
bila tak peduli atau sudah bosan dengan berita TKI. Tapi kini, ada
sebuah berita di tanah air membuat saya deja vu. Dan saya mohon anda peduli.
"Saya tidak ada uang. Saya
ingin tiket pulang. Saya tidak mau mati di sini (Indonesia). Saya
ingin dekat dengan mamah," itulah yang diucapkan pemain Persis
Solo Diego Mendieta, satu hari sebelum ajal menjemputnya.
Saya mendadak merasa menjadi majikan
Saudi (atau mana pun) yang menelantarkan TKI.
Masih dari REPUBLIKA.CO.ID: Ironisnya,
disaat sedang berjuang keras melawan penyakitnya, Mendieta tak
mendapatkan perhatian dari Persis Solo. Ia pun tak mampu membeli obat
lantaran empat bulan gajinya belum dibayarkan oleh klub divisi utama
yang bernaung di bawah Pt Liga Indonesia ini.
... Akibat tak memiliki dana, Mendieta
harus keluar masuk rumah sakit sebanyak tiga kali. Pertama kali, ia
dirawat di RS Islam Surakarta Yarsis pada awal November selama
sepekan. Ia terpaksa keluar dari rumah sakit tersebut karena sudah
tak mampu membayar biaya perawatan.
There he lay, helpless. Alone. Dying. There were no news stories. There was no #prayforMendieta
hashtag, not even a line on the internet.
Iya, saya tertampar mengingat status
sebagai penduduk di negeri yang sering menyumbang TT teratas di
twitter, ternyata lebih mementingkan hashtag ucapan selamat ulang
tahun artis-yang tanpa TT pun masih bisa makan senang bersama
keluarganya.
Baiklah, mungkin saya terlalu perasa
atau berlebihan atau terlalu emosional dengan 'trauma' masa lalu atau apalah
itu.
Tapi apakah masih berlebihan jika saya—dan siapa pun
yang waras berharap agar tragedi Diego Mendieta tidak terulang kembali?
Terus terang saya sangat waswas
campur su'udzon, setelah semua kembali sibuk dengan permasalahan dan
kepentingan masing-masing, akan muncul lagi kasus serupa. Lagi, dan lagi.
Atau yang terburuk adalah ketika berita
kematian dipolitisasi demi kepentingan masing-masing.
Atau apakah memang sudah sepatutnya
kita cuma boleh heboh setelah ada korban berikutnya—yang diliput
media?
Karena terus terang saya terpukul dan
malu dan tidak mau membiasakan “Ah, udah biasa itu mah—Yah mau
gimana lagi.”
Kalo ada Tol Cipularang Award,
sepertinya saya berhak menjadi nominator untuk kategori
Mondar-Mandir.
Bolak balik Bandung-Jakarta kadang saya
tempuh seperti menelan antibiotik; Sehari 2 kali.
Tapi... ada yang berbeda dengan
perjalanan saat ini. Sedalam apa pun gas saya injak, mobil tidak
melaju sebagaimana mestinya. Mentok di 60 km! Mobil pun bergetar
seperti kucing masuk angin bersiap muntah. Saya mendadak frustasi.
Mobil masih berusaha melaju di km 86,
sementara meeting di Jakarta Pusat akan berlangsung 2 jam lagi.
BAH, seharusnya saya bisa lebih ngebut
lagi!
Saya injak gas dalam-dalam, dan hati
semakin perih kala mobil-mobil lain melesat kencang meninggalkan saya dalam
kenestapaan.
Tiba-tiba... saya teringat
papah.
Sebulan terakhir, papah kehilangan
sebagian kekuatannya. Sebuah pembuluh darahnya tersumbat, membuatnya tidak
bisa berjalan—bahkan berdiri pun butuh bantuan.
Kini, kurang lebih, saya tau rasanya
bagaimana ketika kita merasa bisa berpacu lebih, tapi terhambat letih.
Di era digital membrutal, masih ada
klise yang kekal: Ada anugerah di setiap musibah.
Saya ini anak mamih. Kurang dekat
dengan papah. Saya tidak tahu papah lagi buat apa saja. Dan papah
juga tampaknya tau saya sekadar anak yang hobi begadang melototin
laptop.
Tapi semenjak sore kejutan itu, saat
papa tiba-tiba lunglai di proyek, (hampir) semua berubah.
Iya pah, saya masih begadang melototin
laptop, tapi ternyata hikmahnya saya bisa jadi satpam jagain papa
tengah malam sampai subuh di kamar rumah sakit.
Saya tidak pamrih kok Pah. Ini bukan
pamer 'anak yang berbakti'.
Bukan. Jauh sekali.
Tapi saya tertegun dengan kejagoan
Tuhan.
Tuhan maha pembolak-balik.
Papah, inget gak sih, waktu papah
dateng ke sekolah dipanggil wali kelas SMP karena "kelakuan aneh" saya,
dan beberapa 'teman' mengolok-olok, “Oh itu papa si gembrot!”
Papah mungkin menyesal menyekolahkan
saya di salah satu sekolah borju di Bandung, karena ternyata masih
saja ada siswa kampungan. Dan sikap saya juga jauh dari bangsawan.
Tapi Papah seolah tak peduli. Dengan
hanya menggenggam lengan saya, seolah ada kekuatan ekstra untuk
mengheningkan segala resah.
Olok-olok pun terdengar bagai angin
kentut.
Ingatan itu tertayang ulang dalam
benak, pas di tempat terapi, Pah.
Inget kan, pernah ada bapak-bapak-entah
siapa “mengolok-olok” papah: “Lah, umur 67 kok sudah ripuh
begini? Saya dong umur 75 masih sehat!”
Mungkin ia bermaksud menyemangati, tapi
intonasi dan cara tertawanya bikin saya dongkol setengah mati.
Tapi saya berhasil untuk tidak
memedulikannya, dan saya bangga kita tetap bergandengan sampai masuk
kamar terapi, Pah.
Setelah puluhan hari terapi,
bergandengan dalam hujan berusaha melewati lubang-lubang jalanan,
rasanya benar-benar menggelora liat langkah kaki papah lebih cepat
kala berjalan. Tangan pun lebih kokoh saat memegang alat bantu. Papah
bisa leluasa ke sana kemari tanpa gandengan.
Apakah ini perasaan papah dulu pas saya
baru bisa jalan—walau selalu menuju tempat cemilan?
Maaf ya Pah, seumur hidup jadi orang
sombong, baru kali ini mengenal papah lebih dekat.
Selama ini album foto kamera saya
dipenuhi gedung-gedung tua peninggalan roma, pantai berpasir putih,
makanan-makanan porno, atau foto bareng para bintang untuk
meninggikan status sosial.
Tapi kini, saya ingin slot memori-baik
di kamera dan hati penuh dengan papah
Papah mungkin bukan ayah terbaik di dunia, tapi saya juga bukan anak tersoleh yang bisa papah
banggakan. Dan bisa jadi justru itu kita dipasangkan.
Tetap melangkah, papah!
Tapi kalo lelah, mari duduk, dan ini secangkir
teh hangat buat kebersamaan kita!
Pujian ini akan terdengar subjektif, mengingat saya terlibat dalam pembuatan lirik lagu mereka.
Tapi video penampilan S4 di Indosiar di bawah ini mungkin bisa membantumu mengerti kalo saya bilang boyband ini punya harapan besar di industri hiburan Indonesia. Semoga Asia. AMIN!
]
Sambil menunggu kejutan berikutnya, mari intip sekelompok cewek kece Indonesia yang lagi asyik latihan di Korea demi membuat hidup kita lebih seru!
Kalo abis liat video di atas terus ada yang, "Beneran bisa nyanyi gak, sih?"
Silahkeun intip video berikutnya, yuk!