Search This Blog

Monday, January 22, 2018

Ayah Ibu, I Just Wanna Love You!

Papah dari subuh menggigil terus. Kayaknya gula darahnya nge-drop lagi. Matanya nutup terus. Mamah ngajak ngobrol nggak dijawab-jawab.

Walau ini bukan pertama kalinya, hati saya selalu waswas membaca pesan dari Ibu seputar perkembangan kesehatan ayah—yang tak terhitung sudah berapa kali bolak-balik ke rumah sakit. Mengingat saat ini saya tinggal 1175 KM dari rumah di Bandung, pesan-pesan seperti itu membuat hati gamang.

Tapi kamu nggak perlu pulang dulu, semua masih terkontrol, kok. Lagian kemarin, kan, kamu baru dari Bandung. 

Dari hari pertama Ayah terserang strok empat tahun lalu, Ibu selalu meyakinkan kami bahwa keadaan akan baik-baik saja. Walau perangai ayah berubah; lebih sering marah-marah, Ibu selalu sabar, sigap mendampingi ayah. Tak peduli betapa pun kurangnya jam tidur semalam, Ibu rajin tersenyum—setidaknya saat kami saling bertatapan.

Walau pernah suatu malam, saat lagi mudik, saya memergoki Ibu berlinang air mata di ruang tamu. Tangannya memeluk radio yang sedang mengumandangkan lagu-lagu klasik. Saat tahu saya ada di situ, Ibu buru-buru menghapus air matanya seraya kembali mengembangkan senyum. Itu kebiasaan Ibu; tidak mau terlihat sedih.

“Kenapa, Mah? Sakit?” Saya khawatir melihat Ibu yang semakin lama semakin kurus.

“Nggak, kok. Ini mamah lagi nostalgia ke tahun 60-an! Kalau lagi cape dan kesel sama Papah, Mamah inget-inget masa-masa awal pacaran,” ujar Ibu sambil nyengir.

“Biasa, hari ini Papah lagi bawel. Mamah ke pasar sebentar saja, diteleponin terus. Makanya sekarang menghibur diri denger lagu-lagu kenangan!”

Saya lalu duduk di samping Ibu, memijat-mijat kakinya, bersiap-siap mendengarkan kisah nostalgia Ibu dan Ayah.

“Pertama kali ketemu Papah, kapan? Di mana?” Saya jadi penasaran. Seumur-umur kenal Ayah-Ibu, nggak pernah tahu kapan mereka bertemu!

“Waktu SD, Mamah anter teman yang pengin tahu rumah Papah. Terus Papah lagi nongkrong di depan rumahnya, sambil main gitar. Cakep banget, deh, kayak Elvis Presley!” Ibu membuka cerita dengan mata berbinar-binar.

“Mamah lihatin Papah, lamaaaa banget, eh Papah mergokin! Mamah langsung malu tersipu-sipu,” Ibu tertawa renyah. “Sejak itu Mamah kalau pergi jadi sering lewat rumah Papah, deh! Rumah kami, kan, nggak terlalu jauh.”

Mendengar cerita Ibu, saya jadi mikir, dulu, kalau naksir, usaha buat mencuri perhatikan ternyata makan energi.

“Terus, pas Mamah kelas 3 SMP, Papah datang ke rumah. Sejak itu, Papah rajin malam Minggu-an di rumah.” Ciyeee, stalking-nya membuahkan hasil!

“Dulu ada kata 'jadian yuk' gitu nggak, Mah?”

“28 Desember 1963, Papah ngajak jalan Mamah ke Dago atas. Di sebelah bukit Dago, ada belokan yang sekarang jadi pom bensin. Pas jalan di bawah pohon besar, Mamah ketakutan, habis pohonnya serem banget, sih! Terus, Papah meluk, lalu... nyium! Mungkin itu yang zaman sekarang dikatain jadian ya?”
Aih, Ibu! Saya jadi terkekeh malu sendiri. Tapi senang sekali, Ibu cerita ke saya seperti ke sahabat karib. Kisah-kisah kenangan manis pun bergulir dari mulut Ibu.

“Setahun kemudian, kami nge-band bawain lagu Untuk Dikau milik Lilis Suryani di panggung 17-an. Mamah nyanyi, Papah main gitar, Uwak (kakak Papah) main drum. Lalu Nenek (ibunya Papah) ikut menonton di barisan depan. Papah jadi grogi, pengin cepat selesai, main gitarnya mendadak keburu-buru,” Ibu tersenyum, terbuai perasaan silam. ”Ya, udah Mamah berusaha nyanyi cepat menyeimbangi kecepatan Papah, eh tapi jadinya malah balapan. Gak singkron antara suara, gitar, dan drum. Akhirnya lagu pun kacau!”

Ternyata, dulu Nenek Mertua (alm.) tidak menyetujui kalau Ayah memacari Ibu. Nenek saat itu sudah punya calon istri pilihan sendiri buat Ayah.

Tapi siapa yang bisa mengalahkan cinta yang semakin bergelora?

“Ya akhirnya kami direstui. Setelah tujuh tahun pacaran, kami menikah.” Ibu tersenyum sambil kembali berurai air mata saat menutup cerita ini.



Saya berharap, itu air mata bahagia—walaupun itu terdengar konyol; karena kalau benar berbahagia, kenapa menangis segala.
Semua akan baik-baik saja, insya Allah, Mah!

Mengenal Ibu semakin dekat, saya diam-diam berharap bisa mengenal cinta yang bisa membuat berdiri tangguh, bukan jatuh bergemuruh. Cinta yang menggelembungkan rindu, cinta yang tak membuat bola mata mendelik saat mendengar kalimat klise seputar asmara. Sekarang giliran mata saya yang becek, melihat video musik Gloria Jessica ini.



Ada cinta yang memanggil-manggil hati untuk segera pulang ke rumah dan menghabiskan waktu mendengar cerita-cerita Ibu-Ayah, atau sekadar ada di dekat mereka secara jarak.

Kalau kamu lihat video ini tiba-tiba teringat sosok yang menghadirkan kenangan indah, entah itu orangtua, nenek/kakek, saudara, sahabat, ataupun kerabat, saatnya kamu bercerita di Mini Story & Photo Competition: baca ini atau itu.

Siapa tahu kamu dan sang tersayang bisa mengukir kenangan baru di Bali!



Tuesday, September 19, 2017

The Misunderstanding Club

Most of the misunderstandings in Ubud start out with: “I think your (Indonesian) friend doesn’t like me.”

“Why would you think so?” I knew that my Indonesian friend really like her—my American friend. I set them up on a romantic dinner at a cafe in Bisma street because they were both single, and my instinct works better than Tinder. But the dinner seemed to fail. A bit.

In Ubud, people come and go. Some stay longer. Some give us quick love, then leave us with deep-feeling remains. I call it ‘the classic tale of Ubudian romance’.
But some romances were destroyed by cringe-worthy habits.

In my defense, these habits are not part of Indonesian (or any country) culture and are not necessarily entitled to a certain ethnicity or race. In case you don’t have time to check Wikipedia page about Indonesia, we live here with over 300 ethnic groups with different local languages. Culture shock doesn’t happen only to foreigners meeting ‘the locals’ here. Even between us Indonesians, culture shock happens, too.
I mentioned this to give you a bit of a background, so you could understand this and withhold judgments.

My good friend is originally from the South of Sumatera. One day, I was invited by his mother to taste her homemade pempek (savoury fishcake), together with her big family. After the last bite, they all had a burping parade! His father said, the more delicious the food, the louder the burp should be. Interesting! So, I gave them my loudest burp because their pempek was delicious indeed.

“Burping means appreciating the kindness of the host who serves you food!”

“Ah, seriously?” I was not the only one who was surprised about this. My friend was also surprised. Even he didn’t know the subliminal message of burping!

He said, “I thought we’re doing that because it's something we need to do after eating, naturally. But I know I couldn't do that outside my house.”

No, he lied. He burped in my room, too. But I don't mind, I do that, too. It's like a level of intimacy between close friends; burping (and farting) brutally in front of one another! So, we’d like to apologize when we 'accidentally' burp in front of you. Fear not, this is because we feel a deep connection with you! :p A-ha!

Speaking about deep connections, we—or most of us—have a special relationship with sambal (hot sauce/chili paste). You name it: sambal matah (raw), sambal hijau (green chilli), sambal bawang (onion and garlic), or sambal dabu-dabu (in Manadonese cuisine—my favorite), or just a simple hot sauce packed in plastic bottles. We pair sambal with our favorite food: fried egg, deep fried tempeh, curried noodle, grilled fish, and sometimes pizza...

I love to freak out my Italian friend as I squirted plenty of hot sauce on top of my Quattro Formaggi pizza. He calls it a violation, I call it ‘food fusion’. He said, “I tolerate your pizza, but I can’t accept it.” Ouch!

My friend’s experience was worse. He got dumped by his ex-girlfriend because he likes to eat sushi with sambal. “My ex-girlfriend is really a sushi freak! So many rules! She wants me to pick up the sushi with my hand, because if I pick it up with chopsticks, I could ruin the perfect Chef's creation! She got really angry when I picked up a nigiri maki with a fork and drowned it on sambal terasi (shrimp paste chili)!” I laughed, “Dude, you are the freak!” I mean, his ex-girlfriend is a Japanese Chef—not just 'a sushi freak'. She was the one who made that sushi!

It's mind blowing to think that some 'normal' combination here, could be truly awkward somewhere. One evening, I cooked my childhood comfort food: curried noodle with shredded supermarket's cheddar cheese. Apparently, this nostalgic moment raised the concern of my Dutch friend. “You call this cheddar? Why would you put this fake cheddar on a noodle? Or in any cakes?” OMG, arrest me!

As you might notice, some of our manufactured cheese here are scented/chemically flavored—but not made from 100% real cheese. Honestly, most of us just don't care, because they are cheaper than real cheese! However, the bright side was that now, every time he comes back from The Netherlands, he gets me different kinds of delicious cheese; saving me from a fraudulent life. Okay, if this is what it takes to have delicious free stuff, I would pour fake wine into my noodles next time!

I remember a Christmas dinner last year, when my French friend warned me as he saw my fingers crawling slowly to a cheese platter. He noticed that some of us—Indonesians—couldn't stand the 'exotic aroma' of certain cheese. Ouch, he should have met my family then! We're all cheese maniacs—either real cheese or fake ones!

I also found out that the shape of Dutch cookie; kaastengel (which is also our obligatory cookie for Moslem’s Eid / Lebaran) is originally longer than Indonesian kaastengel. 'Kaas' = cheese and ''tengel' = hand/arm. So it does look like a cheese stick. It is a cheese stick! Thus, if the Dutch kaastengel is a 'cheese-hand', the Indonesian kaastengel should be called 'kaaspinky', because it’s the size of our pinky fingers! Have you ever tasted it? It's so deliciously crispy that you can't be quiet about it!

But, ssh. Let's be silent for awhile. Let's hear about what my American friend said, the one who was dating my Indonesian friend. “Throughout dinner, he just kept quiet. He seemed more interested in the food than having a conversation with me. When the steak came to our table, I became invisible,” she said.
First, he was nervous. That was his first date after 3 years of hiatus.
Second, that cafe in Bisma has the most delicious tenderloin steak in Ubud.
Third, my Indonesian friend and me came from the same hometown—with a similar family rule: we grew up eating in silence. Well, you can call it mindful eating. But that term sounds too fancy for me.

My mama forbade me to talk a lot while I’m eating because she was scared that I would choke on a piece of meat or a fishbone. “Enjoy the food, embrace the taste, a chat can wait.” And most of the times, we had our dinner on the sofa, watching some TV series. Ah, wonderful times! Since then, I’ve also became that cool—calm—collected man while munching the main course, and only got back to my chatty-and-gossipy self while waiting for the dessert. But of course, I adjust my manner to fit in the banquet squad. I could manage to talk while eating with this rhythm: chew, chew, swallow, talk, chew, chew—hey what's in it? Onion? Chilli? Hey! Swallow, talk!

So, if we eat in silence with you, it doesn't mean we dislike you—unless you're such a douchebag. Then I said to her, “Oh, well, he likes you, and the tenderloin, too!” In the end, my Indonesian friend and my American friend live happy ever after until visa requirements do them apart. Sad.

But don't cry. I have a happy ending for you, because not all weird mixtures are blasphemous. One starry night, I waited for my dinner to come in a warung in Penestanan. Suddenly, an international traveler screaming hysterically, “I didn't know that avocado juice could be this delicious! I thought avocado was just destined to be guacamole!” Whoa, cheers, Mate!

Now I'm wondering, is there any food, beverage—or 'local habits' that baffles or amazes you, but you’re too shy to ask, or too cool to tell? Don't worry, I heard some experts say that our brain judges others, naturally. But we have the option to understand and discuss about what baffles us. Don't let stereotypes fool us.

Because in the end, love conquers all.
But better hide that sambal. *burping*


Kritik Klasik

Tanpa Menolong Cuma Melolong


Friday, August 25, 2017

Kagum Yang Berlebihan

Tinggal di pulau para pelancong membuat saya terbiasa dengan ungkapan-ungkapan kekaguman yang terdengar berlebihan.

Misalnya, "Aku merasakan banyak keajaiban semenjak tinggal di sini, pesona Bali telah memanggil  batin saya sejak lama. Aku dan energi Bali benar-benar bersatu padu dalam harmoni indah menyanyikan lagu merdu di hati nurani." Lalu ia pun berpose yoga menantang sinar senja, menunggu saya memotret untuk stok foto instagramnya.

Tapi terkadang, saya diingatkan untuk bersyukur atas 'kelebayan' mereka. Suatu sore, seorang pelancong asing bertandang ke kamar saya. Kamar saya ini bentuknya loteng toko, sederhana sekali, jauh bangetlah kalau dibandingin sama rumah bos First Travel yang memukau itu.

Begitu pintu terbuka, si pelancong asing mendadak terkesima, "Astaga, ini apartemen impian saya! Lihat langit-langit itu! Ukiran pintunya indah sekali, sungguh keajaiban Bali!" Ia lalu membuka 'pintu keajaiban Bali' itu. "Waah, lihat balkoni ini! Kamu bisa menikmati senja di sini setiap hari?! Kamu beruntung sekali!"

Saya terkekeh geli mendengar racauannya, "Kamu mabuk ya?"

"Tidak, saya bersungguh-sungguh. Kelak kalau pensiun, saya mau tinggal di apartemen seperti ini, di Ubud! Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?"

"Tinggal di 'apartemen' ini maksudnya?" Saya malu sendiri menyebut loteng ini dengan sebutan apartemen. "Hampir 3 tahun."

"Apa?! TIGA GITUAN TAHUN?!" (Ini terjemahan kasar dari "What? Three fucking years?!") Apa kabarnya kalau dia dengar ada teman sudah tinggal 30 tahun di sini, ya!

Tapi walau tersipu-sipu geli, dalam hati saya diam-diam bersyukur, betapa kehidupan yang kadang kita sia-siakan ini, bisa jadi impian buat seseorang.

Dan kalau mau 'fair-fairan', saya pun melakukan 'kelebayan' yang kurang lebih sama saat pertama kali berkunjung ke negeri mereka.
"Astaga, trotoar kota ini lebar sekali! Gak ada sampah! Gak ada motor yang ambil hak pejalan kaki!! Ini zungguh keajaiban!" lalu berpose jalan kaki dengan tangan merapikan manset lengan kemeja, memasang raut wajah orang penting yang akan berjibaku dengan jadwal padat. Padahal mah cuma mau cari toilet gratisan aja, sih. Ya masa mau pipis mesti bayar 20 ribuan. Di instagram boleh sok tajir, kehidupan sehari-hari mah perlu ngirit! Mungkin mereka pun heran kenapa saya (kamu juga kan?! *nyari teman*) begitu mengagumi trotoar 'biasa', dan memakainya bagai jalur catwalk.

Itu belum termasuk foto sok candid di bus, stasiun kereta, jembatan tua, atau menara besi--yang bisa jadi membuat mereka bertanya-tanya "Memangnya di negerimu tidak ada beginian, ya?"

Jadi, mungkin saat ini kamu sedang bercermin dan berkeluh kesah dalam hati, "Anjir gue jelek amat." Tapi entah malam ini atau besok pagi, seseorang bakal memandangmu penuh kekaguman, bagai melihat keajaiban alam.
Karena mata sama-sama bulat, cara pandangnya bisa berbeda-beda.

Aah, lihat awan itu, kawan! Bagai gulali surga!!

Monday, August 21, 2017

IGOR : NYAAMM!!



Konon, monster paling mengerikan itu bersemayam dalam benak sendiri. Dia bisa menguasai alam pikir, bahkan mampu membuatmu tak mengenali diri.

Tapi, monster tak perlu berwajah seram, bertubuh gigantis, bersuara gemuruh. Ia bisa jadi berwujud sesuatu yang sering kau impi-impikan, kau dambakan, sesuatu yang sering kau seruput dalam kedinginan, atau kerinduan.

Seperti pengalaman Alam Taslim saat melahap mi telur goreng. Mendadak, helaian demi helaian mi itu memberontak, ingin melepaskan diri dari cengkeraman sumpit, sampai-sampai mangkuk pun jungkir balik.

Telur ceplok menjelma jadi mata, sementara beberapa helaian berlagak bagai kaki dan tangan. Si tangan meraih mangkuk, menjadikannya sebagai topi.

Tapi Alam tak melarikan diri, ia alih-alih menamai monster itu dengan panggilan sayang, Igor. Igor lambat laun mengubah langkah Alam Taslim—meninggalkan kehidupan sebagai Art Director di Jakarta menjadi Papa Igor berdomisili di Bali.

Igor dan sang Papa Alam saling tarik menarik ke dunia masing-masing, dunia realitas dan dunia monster. Sebagaimana layaknya monster, Igor tak kasat mata, namun Alam mengizinkan dunia untuk melihatnya melalui jemari terampilnya.



Di antara dua dunia itu, tercipta sosok ilustrasi surealis yang membawa Alam ke PAMERAN SENI RUPA tunggal berikutnya bertajuk “IGOR : NYAAMM!!” di Senimart, 25 Agustus-9 September 2017 di Paviliun 28.




Melalui Igor, Alam akan mentransformasikan buah pikirannya tentang betapa serba instan kehidupan masyarakat modern saat ini.

Kumpulan karya sketsa, ilustrasi, lukis dengan media-media yang beragam akan mempersilakan penikmat seni rupa untuk bercengkerama dengan Igor, sambil saling memahami diri dan dunia—termasuk 'realitas' yang kita ciptakan sendiri.

Monster tak perlu dilumpuhkan, ia bisa diajak bersahabat dan berkolaborasi demi dunia yang lebih baik. Setidaknya tidak menyakiti.

Sunday, August 13, 2017

5 Alasan Kenapa Perlu Baca Novel Forgotten Colors


Setelah merilis buku, penulis mendapatkan pertanyaan klasik dari pembaca: “Kenapa saya harus baca buku ini?”
Dulu sih, jawaban saya gak jauh-jauh dari:
1. “Kenapa nggak?” (males mikir)
2. “Siapa bilang harus? Bebas kok.” (biar bijak)
3. “Gak mesti baca kok, cukup beli saja. Karena saya butuh uang.” (iya kaaan)

Tapi kali ini, saya siap dengan lima alasan (berbuah pertanyaan) kenapa kamu perlu baca novel Forgotten Colors:

1. Mendaur ulang musibah
Begini kisahnya. Setelah meresmikan proyek seni melukis 1000 bangku taman, Arka terkena strok. Semenjak itu, Arka sering bermimpi aneh, melihat makhluk-makhluk seram dan ruangan penyiksaan di berbagai taman kota. Keadaan ini membuatnya sulit pulih. Dibantu dengan kekasih, Arka menelusuri jejak-jejak ingatan.
Arka mengalami musibah yang membuka mata, menerangkan hati, lambat laun mengubah bedebah menjadi berkah, menyulap lelah menjadi anugerah. Waktu beralibi, ini bukan keajaiban tapi awal sebuah penjelajahan.

2. Menjelajahi Kenangan
Ada berapa banyak kenangan buruk yang ingin kamu lupakan? 
Tapi tanpa kenangan buruk, apakah masih bisa menghargai sebuah kenangan indah? 
Lalu, sejauh apa kita mengenal ingatan yang selalu terkenang-kenang itu? 
Sekeping keresahan Arka: “Aku bekerja keras memulihkan badan dan otak, menelusuri semilyar kenangan demi kewarasan, tapi terlalu banyak ingatan yang malah melumpuhkan.” 
Forgotten Colors akan membawamu menjelajahi kenangan—yang kadang menyesatkan, namun bisa membebaskan.

3. Menguak Kerinduan
Rindu dengan orang yang salah itu membingungkan; membuatmu bertanya-tanya dalam kegilaan. Kau paham dia menyebalkan, tapi kenapa tetap dirindukan?
Tapi, pernah tidak rindu dengan seseorang atau sesuatu yang kamu tidak tahu—dia itu apa dan siapa? 
Kamu tahu ada yang hilang, membuatmu merasa tak utuh. Kamu bisa jadi menemukan jawabannya di Forgotten Colors.

4. Mengembarai Mimpi
Apakah mimpi itu cuma sekadar ulangan kenangan? Atau simbol segala ketakutan yang tak sanggup terucapkan? Atau petunjuk akan keadaan yang telah-sedang dan akan kita hadapi?
Bisakah kita terbunuh dalam tidur? Apakah tidur lelap itu sama dengan tidur bermimpi?
Bisakah kamu mengatur alur mimpimu sendiri?
Arka akan membawamu berkembara dalam mimpi.

5. Menelanjangi Inspirasi
Siapa yang paling sering memberimu inspirasi?
Kenangan? Kerinduan? Mimpi? Musibah? 
Atau ada makhluk tak kasatmata yang membisiki hati dan memercikkan ide di otakmu?

Sebelum bergentayang di toko buku, Novel Forgotten Colors bisa kamu preorder mulai 16 – 27 Agustus 2017 (daftar toko buku online ada di sudut kanan bawah image di atas). Edisi PO ini harga diskon, bertandatangan, dan berbonus Lembaran Ingatan, persediaan sangat terbatas.


Tak sabar mengajakmu menjelajahi mimpi, kenangan, dan kerinduan di #novelForgottenColors.

Friday, August 11, 2017

UBUD: YOU'RE ON THE WRONG SIDE!

One night I drove my bike North along of Hanoman st. and saw a lady strolling across the road, so I slowed down to let her cross the street. She suddenly yelled at me, "You're on the wrong side! This is a one-way street!"

Yes, Hanoman is a one-way street for cars, but it's a two-way street for bikes. I explained this to her. But she was really that angry; as she once again yelled at me, "You stubborn!"

That was alright. Maybe she was on a bad mood. Maybe her heart was broken by a man that was not on her side, so she was venting her anger towards me.

Next morning, on my 'cheating day', I walked to my favourite bakery in Pengosekan to have my chocolate cupcake and sausages. With a happy heart, I brought the cake and the sausages to the second floor.

I had just taken one bite of the cake when a woman who was sitting next to my table warned me out of the blue, "Do you know how much sugar in it? It's very dangerous for your health."

I just smiled, "I know, it's my cheating day. Don't worry, I only have this cake once a month."
She was not happy with my smile, "And how can you take both sugar and meat at the same day. Okay, this is your cheating day, but should you eat animal?"

Turned out I couldn't even savour my favourite monthly-meal in peace. Devastated, I was thinking whether she was like some vegan spy who wanted to ruin non-vegetarian restaurant's business or something. I mean, if I ate bacons in vegan restaurant, you could judge me.

But that was okay. Maybe she was on a strict diet and I noticed how lack of pleasure could make you cranky. Or maybe she was just lonely and needed a friend to talk to. So I let her ramble about veganism. While she took an effort to convert me to follow her belief, I chewed my warm sausage, slowly. Sorry, but it was delicious, and I refused to be sad that morning.

The other night, I hosted some travellers for dinner. They wanted pizza. I brought them to a little warung in Dewi Sita. One of the travellers was barking at me, "I can't eat in warung. I'm white!"

I was surprised. I didn't really comprehend what he said. I knew he's white. But what was the problem? His Instagram bio says 'love living like a local', doesn't it?

Then he explained, "White people can't go to warung! We could suffer Bali Belly!"

I laughed really hard. Probably he just read some travel warnings and blindly interpret it. He roared, "You just don't understand!" Oh no, he was really scared.

So I explained, that warung is the term for a small restaurant/cafe. It doesn't mean 'dirty food' that could destroy your 'white'--or whatever-colour--belly. Yes, there are some dirty warungs, but there are also some dirty big restaurants. In that case, even I--'the yellow people'--could also get hurt, you know. I finally succeeded in making them ate pizza in that warung. They liked it, and we were free of Bali belly.

So, in the end, I just want to tell you these:

1. There is this 'dualism' on the streets of Ubud. One-way for cars, two-way for two-wheel rides.

2. This world is already chaotic due to differences. Don't let the chaos slip into our dining room. So, can the non-vegan, vegan, lacto vegetarian, ovo vegetarian, lacto-ovo vegetarian, pollotarian, pescatarian, flexitarian sit side by side, eating their own food in peace?

3. White, yellow, black, purple, red... YOU ALL can eat in a warung.

That's all. I hope we could really be that cool person we display on our social media channels.

I believe I have said and wrote this somewhere, but let me type it again: Never believe what people say about Bali, including mine. What’s exciting for me might be boring for you. What’s romantic for you might be horrific for me.

Stop expecting, start exploring.

And please, don't yell at me.

Thursday, July 27, 2017

Pernah Marah sama Tuhan?

Selama ini, saya seringnya marah sama manusia yang mendadak jadi Tuhan, sih. 
Itu loh, yang sekonyong-konyong tahu segalanya, merasa berhak menilai, menghakimi, abai nurani.
Misalnya, saat seseorang terserang penyakit ganas, manusia mendadak Tuhan itu berseru, “Kamu ini kena azab, sudah tobat?”
Atau seseorang yang baru kena stroke (iya, itu saya), baru saja hilang hingatan, buru-buru dinasihati, “Ini pertanda kamu kurang beriman! Kamu harus sering-sering membaca kitab suci dan beribadah."
Terima kasih untuk perhatiannya, saya yakin maksudmu baik—untuk saling mengingatkan sesama saudara, agar kita sama-sama jadi penghuni surga, kan? Ah, impian indah.
Tapi, boleh gak sih, minta waktu untuk menyembuhkan ingatan dulu? Menyebutkan nama lengkap saja belum mampu.
Boleh gak, bimbing saya untuk kembali berlatih berjalan kaki dulu? Sekadar berdiri saja masih gemetaran banget, mbak masnya.
Karena sering mendapati manusia yang—anggap saja—berniat baik dengan cara kurang enak, saya jadi menyayangi mereka yang tidak senang menghakimi, menghargai mereka yang selalu memberikan harapan bahwa dunia ini masih layak ditempati, menghormati mereka yang meyakinkan saya untuk kembali semangat menggeluti hidup.
Sampai suatu ketika, Tuhan memanggil salah satu di antara mereka—meninggal di usia produktif. Lalu, salah dua. Kemudian salah tiga. Kok, satu persatu Kau panggil cepat, Tuhan?
Saya diam-diam geram, kenapa Tuhan mengambil cepat teman-teman kami—manusia muda berotak pintar berhati baik dan penyemangat hidup itu. Kenapa yang gemar adu domba dan menyebarkan fitnah Kau biarkan merajalela, Tuhan?
Di antara kegeraman, terdengar sebuah pesan mengudara, “Mereka berumur pendek, karena Tuhan sayang mereka.”
Loh, jadi Tuhan benci mereka yang berumur panjang?
Kadang demi menghibur diri, alih-alih jadi menyakiti hati.
Tapi dipikir-pikir, kemarahan ini rasanya egois sekali. Saya lupa, hidup kami ada jatah masing-masing. Ada yang senantiasa baik mendampingi sepanjang hidupmu, ada yang menyamankan hati beberapa saat namun membekas selamanya, ada yang numpang lewat tapi berkesan tiada tara.
Kita sungguh tak bisa menahan mereka untuk tetap berada dalam hidup ini, terlebih untuk selamanya.
Mumpung masih ada jatah kehidupan—yang entah berapa lama lagi ini, saya ogah jadi orang-orang yang bernapas dalam gelimang kemarahan, jangan sampai jadi duri dalam sekam—penghantar cobaan hidup orang-orang. Saya ingin jadi seperti mereka yang mampu mengembalikan kepercayaan, bahwa hidup di dunia ini bisa saling menyamankan, memudahkan.
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah tiada, senang sempat mengenalmu. Kebaikanmu sungguh berkecambah dalam ingatan dan hati.
And you, my dear pain, thank you for humanizing me.
Sampai jumpa!