Search This Blog

Loading...

Monday, July 21, 2014

Surat 1002: Tentang Depresi, Fitnah & Kado Persaudaraan

Dear Valiant,

Saya mulai mengenal tulisanmu melalui buku Kedai 1001 Mimpi. Teman saya yang pertama kali mengenalkan bukumu. Dia menyarankan saya untuk membaca bukumu karna dia ingin saya terinspirasi untuk menyalurkan rasa sedih dan depresi saya melalui media menulis. Agar dapat mengurangi depresi saya (saya dalam kondisi depresi dan membutuhkan perawatan dokter/psikolog saat itu atas apa yang menimpa saya saat itu, sampai berat badan pun menurun drastis 15 kg dalam 3 bulan).

Beberapa bulan setelah itu, saya mulai memberanikan diri menulis tentang perasaan saya terhadap hal2 menyakitkan dan menyedihkan yang terjadi dalam hidup saya, kemudian saya cetak (dengan bantuan teman yang kerja di percetakan) menjadi 'buku'. 'buku' tersebut saya bagikan kepada orang-orang terdekat saya. Ternyata itu sangat membantu pemulihan psikologi saya.

Saat saya membaca Kedai 1001 Mimpi, saya sangat menyukai gaya tulisan vabyo. Apa yang yang diceritakan Valiant pun membuat saya kaget dan berpikir: 'Gila' bener ni orang kisah perantauannya. Terbesit di hati, apakah memang Valiant jujur dalam menulis semua pengalamannya tersebut? Oleh karena itu, saat tau bahwa Valiant akan datang ke tempat tinggal saya, Semarang, untuk talkshow buku Kedai 1001 Mimpinya di Gramedia Amaris, saya langsung datang. Ngga peduli saat itu lagi sakit dan lemes banget. Saya ingin tau, seperti apa Valiant itu sebenarnya. Dari hasil pengamatan saya, Valiant jujur dengan apa yang ditulis, bukan orang yang senang membuat sensasi. Dan saya suka dengan personality Valiant.

Oya, saudara sepupu saya yang sebelumnya hubungan kami sangat dekat, sangat marah saat tau saya membaca dan menyukai buku Kedai 1001 Mimpi. Dia bilang bahwa buku Valiant penyebar fitnah dan menghina muslim. Yang menyakitkan saat dia bilang 'yang menyukai buku itu, hanya orang yang membenci muslim.' Whaaat? Saya  nasrani, tapi saya tidak membenci muslim, apalagi membenci sepupu saya yang muslim. Saat saya tanya 'apakah kamu sudah membaca bukunya', dia bilang ngga.'Ngapain baca buku sesat kayak gitu!'

Saya jadi sedih. Kalaupun misalnya saya muslim, saya tetep suka kok dengan buku Valiant karna ceritanya bagus dan gaya menulisnya bagus. Saya suka dengan tulisan2 Valiant, buku Valiant yang paling saya suka adalah Kedai 1001 Mimpi dan Joker. Setelah perdebatan tentang buku Kedai 1001 Mimpi, hubungan saya dengan sepupu saya jadi merenggang. Sedih, kenapa persaudaraan jadi renggang hanya karena beda kesukaan? Kenapa hal2 non agama dikait-kaitkan dengan agama? Bahkan dijadikan alasan kebencian terhadap agama lain.

Apalagi sekarang ini di masa pilpres, sepupu saya bilang, 'tuh kan, Valiant itu anti muslim walaupun dia muslim, makanya pilih Jokowi. Whaaat? *Dia juga sebel saya mendukung Jokowi... :( *

Kemarin saya memberikan kado buku Kedai 1002 Mimpi Valiant untuk dia. Saya juga menulis pesan di kado tersebut, dengan mengambil kutipan dari buku Valiant: "Aku ternyata begitu merindukan kebersamaan atas nama manusia, tanpa kecurigaan, persangkaan, atau letup amarah. Cukup atas nama manusia saja, bila ternyata embel-embel identitas lainnya hanya membuat kita meniadakan cinta"
Semoga dia mau membaca dan mengerti bahwa saya merindukan kembalinya persaudaraan kami yang hangat, tanpa melihat perbedaan.. :')

Terima kasih sudah mau membaca email saya, Valiant. 
Berkah dalem.

* ini foto saat saya ikut talkshow Valiant bersama teman saya. Saya di sebelah kanan, yang wajahnya terlihat paling mesakke. Berat badan masih 38 kg saat itu. Sekarang berat badan sudah mendekati normal dan sudah sembuh :-). Oya, terimakasih sudah berusaha membuat kami tidak terlalu pendek di foto dengan tinggi Valiant yang 180 cm ;-). Kami menunggu talkshow Kedai 1002 mimpi di Semarang.*

(Atas permintaan pengirim surat, nama tidak disertakan dalam postingan ini)


Dear Kamu,

Waduh, untung saja pas baca buku saya, kamu gak tambah depresi ya!
Senang sekali kepulihanmu bisa terbantu dengan menulis.
Ternyata menulis kayak nyuci baju ya? Baju bersih, tangan juga ikut kinclong! 
Yah, paling kulit agak-agak keriput dikit lah ya, haha!

Saya akui, menulis dengan jujur adalah tantangan terberat saya. Terkadang ada saja godaan untuk menuliskan diri menjadi seorang 'jagoan', tapi untungnya saya keburu sadar, ternyata saya lebih memuja ketenangan ketimbang kemenangan semata. 
 
Oh ya, 'tenang' di sini termasuk saat menerima tuduhan-tuduhan seperti dari sepupumu itu. Untungnya saat ini sudah bisa lebih ikhlas, baik dicinta ataupun dibenci.
Tapi yang terpenting lagi, semoga setelah menerima kado itu, kamu dan sepupu bisa kembali bergenggaman tangan, mengobrol hangat tanpa kecurigaan apa pun.

Akhir kata, semoga hatimu ditenangkan dan dikuatkan selalu, sehat setiap saat, amin!

Salam hangat,

Valiant


Saturday, July 05, 2014

Surat 1002: Kami Yakin Tuhan Tidak Akan Meninggalkan Kami Begitu Saja


Dear Valiant,


Saya Mayang, salah satu pembaca Kedai 1001 Mimpi yang kini tengah membaca buku lanjutannya. 
Kedai 1001 Mimpi merupakan buku pertama anda yang saya baca. Pada awalnya saya teramat kaget membaca penuturan anda tentang negara itu. Unbelievable. Tapi saya ingat betul kata-kata suami saya, "Nyatanya memang agama Islam diturunkan di sana kan? karena memang ada yang harus diluruskan di sana." Pada akhir halaman, saya justru merasa Kedai 1001 Mimpi adalah salah satu buku paling nasionalis yang pernah saya baca. It's true.


Memang saya telah mengetahui sebelumnya bahwa anda kerap mendapatkan cacian, tapi saya sungguh tidak menyangka akan sebrutal itu kejadiannya. Saya sungguh sedih membaca teror-teror yang pernah anda terima di buku Kedai 1002 Mimpi. Kok bisa ada orang yang setega itu kirim sumpah serapah bahkan ancaman. Bahkan anda tidak merugikan masyarakat (orang-orang Indonesia) dengan menceritakan pengalaman-pengalaman di sana. Hanya dengan membaca buku anda, hati saya merasa sangat berat. Orang-orang kita memang pada jago banget jadi hakim.


Sekarang giliran saya yang cerita ya. Mama saya merupakan trendsetter pedagang makanan ringan di pasar daerah saya. Awalnya kami hanya punya lapak di pinggir jalan, dengan stok yang seadanya. Berkembang dan berkembang hingga mama mampu menyewa ruko dan memperbanyak stok. Kesuksesan Mama diikuti oleh pedagang-pedagang lain hingga akhirnya terdapat tiga toko lain di pasar itu. Ya namanya juga orang dagang, ada aja naik turunnya. Mulai dari pegawai yang suka bolos, pegawai suka nyuri, terlilit hutang dengan pemasok, diseneweni pelanggan, dll. Pada tahun  pertengahan hingga akhir 2012, keadaan ekonomi Indonesia memang sedang tidak baik. Saya tidak pernah menyangka, hal ini ternyata memberikan imbas yang sangat besar di skala mikro (pasar). Inflasi mengakibatkan harga barang naik dan menurunkan daya beli masyarakat. Selain itu kondisi pasar yang sedang diperbarui juga membuat toko makin sepi pelanggan. Omzet toko turun hingga 50%. Sampai saat ini, kami masih berusaha bertahan dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Kami yakin bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kami begitu saja.


Suatu ketika Mama bercerita bahwa tokonya sedang "dijahili". Ada yang sengaja menabur tanah pemakaman di depan toko. Beberapa kali Mama juga pernah melihat pocong di seberang toko. Anehnya tak ada yang melihat selain Mama. Sungguh saya tidak habis pikir. Kenapa ada orang sebegitu siriknya dengan rejeki orang lain sampai perlu melakukan hal-hal seperti itu? 


Kenapa ada orang yang dengan mudahnya mengatakan orang lain kafir padahal ia belum tentu suci dan menjalankan syariat agama dengan setegak-tegaknya? Kenapa ada yang mengatakan sebuah karya itu sampah padahal ia sendiri tidak pernah menelurkan satu karya pun? Dan mengapa ada orang yang dengan mudahnya ikut-ikutan membenci, mencaci, menuduh, serta menatap tajam orang lain tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu? Akal seharusnya ada untuk memperjelas prasangka bukan malah memperkeruhnya, kecuali dia sudah pakai kacamata kuda.


Anyway, melalui email ini saya juga ingin menyampaikan bahwa anda termasuk penulis yang buku-bukunya akan selalu saya update di koleksi pribadi saya. Ada dua buku yang belum dibeli sih, The Journey itu, lebih karena saya ingin menikmati karya murni anda dalam satu buku utuh.


Semoga kesehatan, keselamatan, serta keberkahan senantiasa tercurah pada anda. Semoga juga kali berikutnya main ke Bandung saya sempat mampir ke Warung Ngebul. Sukses yah!


:)


Salam sayang,


Mayang Dwi Astrini







Dear Mayang,


Sampai saat ini, saya selalu bahagia dengan pembaca yang bisa menerima isi buku Kedai 1001 / 1002 Mimpi. Berhubung masih ada yang rajin menyatakan benci, jadi selalu menghargai yang bilang cinta!


Jangankan anda loh, teman-teman saya pun banyak yang tidak menyangka dengan drama pasca 1001 ini. Bisa jadi karena persona yang saya tampilkan selalu berusaha ceria dan ngebanyol. Tidak masalah sema sekali, sih. Karena justru dengan membuat orang lain senang, hati saya ikutan riang. Isi hati yang perih cukuplah diberitakan pada orang-orang terpilih.


Baca suratmu bikin saya ingin menjamu Mamamu, deh! Beliau suka kopi atau teh?

Saya mendadak menyeringai saat baca tentang kelakuan pegawai Mamamu. Memang ya, salah satu tantangan besar dalam berdagang adalah mencari pegawai yang sesuai. Sampai kami juga pernah loh, warung buka tutup semampunya cenderung seenaknya, karena hanya saya dan kakak yang bekerja.

Tantangan besar berikutnya? Ya, tertimpa jahil yang seperti Mamamu alami. Betul, itu juga masih pertanyaan saya; kalau mau maju, kenapa juga harus mematikan yang lain. Sebagai pedagang tentu saja kami juga ingin untung besar ya. Tapi apalah untung besar kalau harus menyakiti pedagang lain.


Ngomong-ngomong usaha Mamamu masih sering dijahili, gak?

Semoga dikuatkan jiwa dan raganya!


Oh ya, jadi pengin cerita dikit ah, jadi di kamarku yang di Bandung, sering ada penampakan dan suara-suara aneh. Lucunya keanehan ini sering kumat kalau teman-teman saya datang. Jadinya mereka yang heboh, karena saya jarang bercerita kelakuan makhluk-makhluk mungkin halus itu. (Ya saya masih berharap itu efek halusinasi atau kecoak jahil)

Dulu sempat terganggu, tapi kini saya suka sapa-sapa mereka kalau pergi / pulang dari bepergian lama;“Teman-teman gaib, saya pergi dulu yaa! Selamat berpesta ria! Jangan lupa beres-beres setelahnya!” (Saya pernah menemukan tumpukan rambut panjang di bawah kasur-mungkin mereka baru maen kepang rambut)

Kalau ada kejadian aneh, saya tanya-tanya, “Kenapa sih? Lagi sedih ya?”

Padahal saya gak bisa lihat mereka, jadi meracau sendirian saja di kamar. Anehnya, setelah 'diajak ngobrol' kamar kembali adem!
Saya yakin, seandainya memang mereka benar-benar ada (bukan halusinasi kami), mereka ternyata seperti anak kecil sekadar minta perhatian dan akan berkurang level caper-nya kalau kita ajak ngobrol.

Kesimpulan: coba kamu ajak ngobrol pocong yang ganggu Mamamu ya, haha!


Sekarang memang masih ada saja pembenci yang membabi buta, yang bahkan babi buta pun kalau saya perhatikan di saluran tipi hewan tidak serta merta melabrak rusak injak-injak. Tapi ya, melihat gerak-gerik mereka mencaci & bahasa yang dipakai, membuat saya bertanya-tanya, apakah justru yang mereka benci itu diri sendiri? Dan kita hanya jadi korban pelampiasan?

Terima kasih Mayang untuk dukungan dan doanya, semoga ada kesempatan bertatap muka, tanpa keterlibatan pocong atau makhluk jahil lainnya ya!

Salam hangat

Valiant

Sunday, June 29, 2014

Dari Maleficent ke Purbararang

Kapan terakhir kali terpukau nonton film?
Sampai-sampai setelah 7 hari 7 malam setelahnya, kamu masih saja membicarakannya, bahkan meniru ucapan karakter utamanya?

Well well...





Maleficent adalah salah satu film yang membuat saya geregetan, sampai ngubek-ngubek berbagai potongan adegan & kisah balik layarnya di Youtube, bahkan membandingkannya dengan versi film kartun Sleeping Beauty.

Disney semacam membuat pengadilan baru yang mana sang 'pengacara' berhasil meringankan hukuman karakter antagonis. Sang pengacara untuk Maleficent ini tak hanya terdiri dari sang sutradara Robert Stromberg, tapi juga Angelina Jolie yang tampak merayakan karakter ini dari berbagai aspek, dari gestur sampai tutur. Jarang-jarang terkesima tokoh jahat wanita berpakaian longgar dan tertutup. Tinggal pake syal di leher kalau lagi santai di hutan, Maleficent sudah menutup aurat dengan sempurna, loh! Tinggal tunggu lapak hijab maleficent di instagram.

Jadi kebayang, Jolie kecil pas nonton Sleeping Beauty, punya firasat gak ya kalau suatu saat dia bakal memerankan Maleficent?

Kalau saya sih pas bocah boro-boro punya firasat, yang ada bawel amat; kenapa Maleficent bertanduk? Kenapa memilih pemintal sebagai alat pelumpuh aurora? Kenapa harus dengan ciuman agar siuman? Kalo ciuman di fim bakal langsung hamil gak sih?

Lalu sebagai pengikut rezim Disney ajaran lama, saya jadi terbiasa dengan harapan true love kiss mesti dari pacar berwajah menawan dan happy ever after mesti menikah. Sampai remaja pun terbombardir berbagai karakter di TV—entah masih film kartun atau sinetron: yang jahat, jahat banget. Yang baik, baik bingits.

Nah, gara-gara nonton Maleficent, jadi kepikiran cerita rakyat Nusantara yang dulu sering nongol di majalah atau kaset sanggar cerita. Banyak pertanyaan bawel masa kecil yang belum terjawab hingga kini, karena menurut saya banyak yang 'masih disembunyikan'.

Salah satunya kisah Lutung Kasarung. Masih inget ceritanya?

Jadi gini, pada zaman *tentu saja* dahulu kala, ada sebuah kerajaan di tanah Pasundan yang memiliki raja bernama Prabu Tapak Agung. 

Si raja yang konon bijaksana ini punya dua putri cantik: Purbararang & Purbasari.

Pas raja sepuh dan sakit-sakitan, ia menunjuk si putri bungsu; Purbasari sebagai pengganti raja, semerta-merta begitu saja, tanpa alasan. Kalau memang bijaksana, pasti ada alasannya dong, kenapa yang ditunjuk bukan Purbararang?

Purbararang tentu berang! 
“Gue kan putri sulung ya, bok! Masa yang jadi raja adik gue?” Itu status kemarahannya di Path zaman dulu alias mahat di batu. Ia pun kongkalikong sama nenek sihir buat ngeguna-guna si Purbasari biar kulitnya totol-totol polkadot hitam.

Stop dulu! 
Pertanyaannya, kemana ya istri Prabu Tapak Agung?
Apa jangan-jangan Purbararang & Purbasari beda ibu?
Atau Purbararang bukan anak kandung? Kalau iya, kan bisa jadi alasan kuat kenapa Raja milih Purbasari sebagai pengganti.

Jangan-jangan si nenek sihir ini ibu kandung Purbararang yang dihamili Prabu Tapak Agung pas ABG sampai-sampai tega memantrai Purbasari demi ikut membayar dendam?


Lalu-lalu, ingat kan kalo Purbasari ini dijaga Lutung Kasarung di hutan, sampai akhirnya Purbasari nyemplung danau ajaib dan kulitnya cantik lagi?

Lalu Purbararang & Purbasari kembali ketemu di hutan, dan tiba-tiba berlomba-lomba siapa rambut paling panjang dan adu tampan tunangan, lalu mendadak Lutung Kasarung jadi *tadaaaa* pria tampan!


Kenapa Lutung Kasarung jadi gantengnya mesti nunggu ditantang Purbararang?

Apa ada hubungannya dengan penyebab kenapa dia dulu berubah jadi lutung?

AH TOLONG SAYA DENGAN BERIBU PERTANYAAN INI!


Hey, ini baru Lutung Kasarung loh. Masih ada Sangkuriang, Malin Kundang, Joko Seger & Roro Anteng, Aji Saka, Dayang Bandir, ....


Akhir kata, semoga ada 'pengacara' Indonesia yang mau mengutak-atik sejuta kisah tersembunyi cerita rakyat Nusantara dan melayarlebarkannya dengan kemasan baru yang lebih tepercaya agar anak-anak hari gini gak dibikin ngawang-ngawang dengan harapan hampa, terbodohi cinta, dan adu rupawan semata.



... kini Purbararang & Purbasari kembali tinggal di istana dengan segala drama dan prahara.
Lupakan saja berbahagia selamanya, setidaknya kini mereka selalu berusaha tangguh bersama-sama ....

WELL WELL!



Saturday, June 28, 2014

Surat 1002: Please Don't Commit Suicide!

Setelah menerbitkan buku Kedai 1002 Mimpi, saya banyak menerima e-mail pembaca yang menggairahkan, mengharukan, menggembirakan, dan mengcampuradukkan semua rasa. Ini salah satunya! Semoga turut memberimu berjuta warna!

Hi Bang, this writing is not about the review of K1002M. It'll be just my thought. I'm not that clever to write a book review. 

So I hope it doesn't waste your time yah. I promise it won't be a long one.

I wish that 'your story' was just a really bad nightmare for you. You'd wake up and those bad things would be gone. 
Too bad, that wasn't only a bad dream. 

I do feel sorry for all bad things that had happened to you. I do really want to send you a glass of hot choc & a long warm hug. 

Please don't go insane. You're not that genius to go crazy. Please stay sane. 

Saya cuma baca bukunya aja, pas tidur malem saya mimpi buruk kerja di coffee shop. When I woke up, I promise myself to write an encouragement email for you. 

Please don't commit suicide. Don't even think about it. You have, I don't know, hundred reasons to stay alive. I know you won't do that. But, if one day that pressure comes. Please remember these few things.

1. You live in Bandung. 
Well, I want to live in Bandung. I wanna eat cuankie, batagor, good cireng, molen, stick keju every single day. I don't even visit Bandung once a year. :"(( so please be grateful for that. Don't kill yourself. 

2. You have brilliant mind. 
The way you tell your story on your twitter account at THAT time. I stayed awake just to read your story, sambil berharap nothing bad happened to you dan menunggu nunggu kamu bakal cerita apa lagi. 
Your books before your best sellers are quite impressive. My fave ( selain 1001 & 1002 ) itu Joker. Yah walau ditengah buku saya bisa nebak dengan benar. *lah akirnya memuji diri sendiri* 
Dann I love how you play with words. Bisa bikin kalimat yang berakhiran vokal yang sama dan menarik sih. Ga bosenin. 
Ok. Let's try mine. Err wait let me think.
.... kukuku bau ... 
See, not everyone can play with words as good as you. 

3. Your family. I know this one need no explanation.

4. Malu sama haterzzzz kali. 

Hater 1 : "Eh si penulis yang kafir itu akirnya mati loh!! Mati bunuh diri lagi!!" 
Hater 2 : "Iya kan bener kan, dia sih berani beraninya ngatain Arab kaya begitu. Kena azab kan. Pasti abis ini fansnya kena azab juga.." 

Hater X : "eh si penulis yang nulis kisah bohong tentang Arab itu bunuh diri masa...." 
Hater Y : "yaiyalah!!! Pasti ngrasa dosa sendiri!! Masa iya di Arab ada kaya bgitu. Kalo disana dia tertekan masa iya balik jadi gembil gitu!!" 

Sorry for the lame joke. Abis ini beli bang alat setrum yang kaya punya polisi polisi luar negri. Kalo ada yang ngejorokin lagi kejar setrum kepalanya yah. 

Wait, at former I wrote hundred reasons and I only have 4. Eerr okay, will write rest in my next email yah. :) 

I want to be just liked you. I wanna own your brain, your luck, your bravery to go to a new place alone. I wanna be as loveable as you. 

Thank you for being a good inspiration of mine. 

Saya mendoakan kamu semoga hari harimu dipenuhi hal hal menyenangkan, mendapat banyak kebaikan dan cinta yah. God bless you, Aa' Valiant. 

Hope can visit Bandung soon biar dapet cap jempol bukunya. 

Xoxo, Anita MR 
amellyfika@gmail.com
twitter: @amellyfika


Dear Anita,

Your e-mail made my day! It tastes like glasses of hot choco extra 3 pumps of hazelnut & caramel drizzle on whipped cream!

Well well If you're not clever to write a book review, i bet you're proficient at giving encouragement! Because those few things you wrote are oxygen cylinders for my crowded thoughts!

No 4 ngehe abis bikin aku ngakak! 

Terima kasih ya, Anita! Doaku untukmu juga, semoga kebaikanmu ini dibalas ganjaran berkah melimpah dan hati riang, amin!

Kalau gak sempat ke Bandung, semoga aku yang ke Semarang!


Cheers,

Val

Monday, June 02, 2014

Fobia Pecah Belah

Kalau dipaksa banget harus punya fobia, saya akan memilih fobia terhadap barang pecah belah. Lebih ke fobia bayar ganti ruginya, sih.

Entah kenapa, ada saja bagian tubuh ini yang gak sengaja nyenggol, entah pas bertamu ke rumah orang atau saat menelusuri lorong supermarket. Sampai-sampai sempat curiga jangan-jangan saya punya buntut misterius yang hobi kibas-kibas.

Jadi, jangan pernah jebak saya ke toko keramik antik yang dipenuhi guci-guci itu, lebih baik mari dansa telanjang saja tengah kota!

Tapi Tuhan menciptakan umatnya maha seimbang ya, karena justru ada yang kebalikan dari saya, betah menari-nari dengan cantiknya di antara ribuan pernak-pernik pecah belah dari gelas kristal sampai karya seni yang nilainya tentu aduhai!

Eits tunggu, “menari'nya itu pakai mini excavator—Cat® 301.7 CR lagi! Ampun banget deh!

Dan.. dan... tau gak sih, sebelum syuting, sang operator 301.7 CR ini minta kru menyempitkan lorong biar lebih menantang! Wow, benar-benar tak gentar, mengingat harga total barang pecah belah di toko ini bernilai $40,000.00 USD!
Nah loh, ada yang pecah gak ya? Intip yuk video-nya di sini!

Sunday, June 01, 2014

Nge-London di Bandung!


Apa yang kamu lakukan saat diserang seribu rindu?
Melamun sendu tak tentu? Mencipta lagu? Menulis buku?

Atau membuat tempat perjamuan?
Seperti yang dilakukan oleh 5 saudara dari Bandung ini, mereka mengolah kerinduannya pada kota London dengan membuat bistro berkonsep Inggris kuno: Royal Stag.

Tak hanya pernak-pernik dan suasana vintage, hidangan mereka pun terinspirasi dari resep tradisional Inggris.

Setelah bolak-balik mencoba menu-menu mereka, inilah menu favorit saya—yang kebetulan lagi kangen berat sama London dan sekitarnya!


Golden Scotch Egg, ada kejutan telur rebus berpadu padan daging cincang lezat!




Beef Wellington, pie hangat berisi irisan sirloin panggang dan tumis jamur, uuh lezatnya! Kalau maniak sirloin, coba juga Saint Gothard's Steak!


Shepherd's Pie, potongan daging domba dikelilingi wortel dalam balutan kentang tumbuk.



Bread & Butter Pudding, sobekan roti panggang hangat dalam balutan mentega & susu, dilumuri saus karamel & taburan kismis.

Oh ya, mesti coba juga Fried Chocolate Bar alias cokelat tepung goreng! Dan yang lebih menyenangkan lagi, saat ini kalau kita pesen dessert sore-sore, bisa pilih 1 pot teh gratis!

 

Jadi kalau mau menikmati suasana London di Bandung, mari melipir ke Royal Stag di Bukit Dago Utara 2 Bandung 



... dan selamat memadu rindu!

Friday, May 23, 2014

Anti Ribet!

“Fotonya sudah sampai mana, sih?!”
“Masih di depan barisan ke dua, tuh!”
“Lama amat sih, liatnya?!”

Anak-anak hari gini akan mengernyitkan dahi baca percakapan di atas. Anak-anak lama juga mungkin lupa, betapa dulu kalau lihat cetakan foto acara sekolahan / ulang tahunan mesti sabar menunggu giliran. Paling apes kalau duduk di belakang, barisan terujung pula; bisa-bisa kebagian besoknya atau malah terlupakan selamanya. HIKS!

Hari demi hari, teknologi demi teknologi, lihat foto pun tak perlu lagi antri. Tinggal upload ke situs pertemanan, bebas pandang berbulan-bulan! Tapi, sejujurnya saya masih rindu sentuhan. Ibarat seasyik-asyiknya ngobrol dengan sahabat via Skype, masih lebih nikmat ketemu langsung. Semudah-mudahnya baca e-book, masih suka wangi kertas (maaf pohon). Dan seasyik-asyiknya melototin foto di layar, lebih suka menyentuhnya langsung tanpa prasyarat listrik atau pulsa. Lagian dengan adanya cetakan, bisa jadi cadangan kalau tempat penyimpanan file seperti ponsel atau laptop hilang, atau jaga-jaga ketika situs jejaring berubah jadi online game seperti friendster masa silam.

Jadinya saya sampai sekarang masih memelihara kebiasaan mencetak foto dengan berbagai ukuran. Untungnya lagi-lagi teknologi andal pun mendukung kenikmatan lama ini. Ada printer ngasih janji anti ribet: cetak foto langsung dari gadget!

Kebetulan sang printer buka booth di FX, jadi langsung saya satronin! Disambut dua cewek kece, saya dipandu mereka beberapa langkah sebelum cetak-cetak happy!
1. Download aplikasi HP ePrint
2. Sambungkan ke wifi Printer HP 2545
3. Pilah-pilih foto deh! Udah? Segitu aja?



IYA! Gak sabar pengen lihat hasilnya!


Niatnya cuma ngeprint 1 foto.
Malah jadi 2...
3.....



Jadinya 6 foto!
Dan masih ada beberapa lainnya dalam antrian! Ternyata anti ribetnya HP 2545 gak ngibul! Dan yang terpenting, kualitas cetaknya gak bikin malu buat majangin foto! Kabar menenangkan lainnya: tinta asli HP berharga terjangkau, jadi makin semangat pilah-pilih foto kece lainnya!

Jadi... jadi... kalau kamu nanti bertandang ke Warung Ngebul, jangan eneg ya kalau dindingnya foto saya semua!

SALAM ANTI RIBET!

Wednesday, May 21, 2014

Jelajah Manis Melbourne: Berburu Kue Lezat!

 
Diwajibkan puasa sehari sebelum mengikuti Queenie's Food Tour!
 
Sayangnya peringatan dalam brosur itu saya baca sesaat sebelum tur dimulai.
Jadi waswas, karena semalam baru saja pesta pasta di DOC Lygon St, paginya sarapan 3 croissant dan 2 chocolate muffin di Somerset.

Ah, tapi sebagai penggila manis, saya tak gentar! Bawa saya segera ke kerajaanmu, Mr Andrew Prior!


Eh, siapakah Andrew Prior? 
Dia adalah bos sekaligus pemandu tur berburu kue pagi ini. Kalau lihat potongannya, membuat saya 'Kok kayak pernah lihat di mana, ya?'

Setelah tilik punya tilik dan diam-diam googling, ternyata dia pernah nongol di kamar saya via saluran TV kabel, melalui acara Masterchef Australia 2013.

Foto dari website Masterchef Australia
"Selamat datang di Tur Mimpi Indah ala South Yarra! Saya telah menyisihkan waktu berbulan-bulan mencari kue-kue terlezat di Melbourne, dimulai dari toko yang akan kita datangi ini!

Diantara dedaunan cokelat kemerahan terombang-ambing dingin, saya diam-diam memerhatikan langkah Andrew, karena dari salah satu berita yang diam-diam saya baca, dia mengundurkan diri dari Masterchef karena cedera tulang lutut setelah syuting adegan lompat-lompat bahagia.


Langkah kami terhenti di sebuah cafe mungil di Toorak Rd bernama LuxBites. 

Wuih pandangan ini terampas oleh kue-kue yang terpampang di etalase.



Baby Let Me Love You Let Me LOVE YOU LONG TIME!

Hey, ada yang lagi berkonsentrasi penuh di dapur! Colak colek, ah!



Eits, setelah berkenalan dengan sang kreator LuxBites; Bernard Chu, ternyata ia berasal dari Malaysia. Reputasi Chu meroket saat dia berhasil menjawab tantangan produser MasterChef untuk membuat kue yang menggabungkan 6 cita rasa klasik loli khas Australia: daun mint, pisang, jaffa (aroma cokelat-jeruk), red skins, freckles dan musk sticks.

Psst, Bernard juga menceritakan rahasianya resep kuenya; contohnya saat mengganti daun spearmint (yang menggumpal kala panas) dengan krim bercita rasa mint yang terbuat dari minyak...kayu..putih! Wah, minyak tubuh favorit saya dijadiin kue!


Dan ini salah satu kue favorit saya,” Andrew menunjuk kue cokelat bernama Be My Love, berbahan mousse susu cokelat, krim rasberi, remah dark chocolate, chocolate glaze, freeze dried raspberry.

 


Setelah merem melek merasakan kenikmatan Be My Love yang hilir mudik di lidah, saya akhirnya memberanikan diri menanyakan sesuatu pada Andrew.
“Jadi gini,  saya barusan baca artikel tentang cedera lututmu,” Matanya berbinar, tampaknya ia tidak akan keberatan dengan topik ini, “Sekarang gimana keadaannya?”

Sudah membaik. Kadang-kadang masih kerasa sakit, tapi gak akan bikin saya berhenti melakukan tur ini!”


Jadi gimana sih, awalnya jadi koki dan gabung di Masterchef?”
Sebenernya, saya masih sebatas koki rumahan yang kebetulan punya hasrat besar pada makanan. Nah, kalau awal gabung dengan Masterchef, saat itu saya baru balik dari Paris dan males banget balik kerja di perusahaan asuransi. Saya pengin mengejar mimpi yang sesuai gairah saya. Saat itu saya pikir bergabung di Masterchef bisa memberikan banyak kesempatan baru, dan ternyata benar!”

Kami lantas berpamitan dengan Bernard dan segenap karyawannya, untuk kemudian menjelajahi toko berikutnya, masih di jalan yang sama; Toorak Rd, nomor 15: French Fantasies. Beberapa kursi di trotoar dipenuhi manusia penggemar sarapan. 


Begitu masuk ruangan, aroma roti menguar liar. “Selayaknya orang Prancis, kami membuat roti begitu serius,” kelakar salah seorang pegawai French Fantasies sambil menawarkan kami berbagai kue nikmat.


Selesai ngobrol-ngobrol sekejap dengan pemilik cafe, saya meneruskan rangkaian keingintahuan. 
"Kalau buat anda pribadi, seberat apa tantangan di Masterchef? Mereka ngasih petunjuk atau resep sebelum acara gak, sih?” 
"Nggak sama sekali, kita tidak mendapat kisi-kisi apapun, dan seperti kamu lihat, beberapa tantangan mereka sungguh gila. Tapi sekaligus menyenangkan!” 

"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, apa yang terjadi ketika kamera mati? Kelakuan orang-orang (seperti juri & kontestan) sama pas di TV, gak?”
"Sama saja, kok. Bisa jadi mereka tidak seliar di balik layar, tapi tidak ada yang dibuat-buat.”


Dari Toorak Rd, kami menelusuri jejalanan yang diseraki daun mapple yang terkenal dengan 5 sudutnya itu: kekuatan, kesederhanaan, kehangatan, keromantisan, dan kesetiaan. Dan saya mendadak ingin menanyakan kesetiaan Andrew pada acara yang membesarkan namanya.

Bakal balik lagi ke acara Masterchef gak sih, atau mungkin mau ikut audisi di acara lain?"Gak, gak akan sekarang. Selain sibuk mengurus bisnis tur makanan ini, saya juga lagi bahagia-bahagianya menikmati perubahan hidup. Tapi kalau mereka menginginkan saya kembali untuk peran khusus—seperti amal atau bantuan tantangan untuk para kontestan, saya tentu akan mempertimbangkannya. Saya rindu dapur mereka yang keren itu!"

Tepat saat Andrew menyebutkan dapur keren, tibalah kami di sebuah dapur yang memukau, beralamat di Claremont St; Zumbo. Neonnya mengingatkan saya pada sampul album Miley Cyrus.




Andrew menceritakan, Adriano Zumbo adalah seorang patissier dan koki yang hobi menantang para kontestan Masterchef dengan kreasi gilanya seperti: croquembouche tower ( semacam bola-bola sus tersusun dalam bentuk kerucut dan terikat benang dari sous karamel), V8 cake (kue yang mempunyai 8 lapisan vanilla lezat: Vanilla macaron, vanilla chantilly, toasted vanilla brulee, vanilla water gel, vanilla almond crunch, vanilla dacquoise, vanilla glaze, vanilla ganache), dan fairytale gingerbread house.

Foto dari website Zumbo



Aduh, kalau saya yang jadi kontestannya, tampak sudah mundur teratur dan mari kita santap kue carrot ini saja.

Secret Carrot's Business Cake!

 
Setiap melihat sesuatu yang berhubungan dengan wortel, saya selalu teringat masa kecil. Mungkin karena ibu gemar menyambut saya selepas pulang sekolah dengan semangkuk sayur sop yang penuh dengan potongan wortel, atau karena bacaan masa kecil saya: si Bobo yang gemar ngunyah wortel.


Eh, punya makanan tak terlupakan pas masa kecil, gak sih?”
Daging domba panggang buatan nenek dengan kacang yang ia tanam di halaman belakang rumahnya.”

Wah, sejenak saya rasakan kehangatan masakan dan senyum seorang nenek yang ingin membahagiakan cucu.


Jadi penasaran, ada makanan yang anda benci gak, sih?”
Saya akan mencoba semua makanan setidaknya sekali waktu, kecuali makanan yang melibatkan hewan-hewan yang tidak diperlakukan layak.”


Menurutmu, apa makanan yang saking nikmatnya harusnya diharamkan?”
Cokelat & custard!”

Uh, apalagi custard berlumuran cokelat meleleh ya, membayangkannya saja membuatku menelan air liur!


Tur kami lanjutkan dengan menembus angin yang kian dingin. Jangan-jangan matahari juga lagi asyik jelajah galaksi lain.

Andrew melambatkan langkah di Chapel St, membelok ke Burch and Purchese.




Memasuki toko ini membuat tangan gatal sekaligus waswas. Gimana gak gatal, bawaannya pengen nyomot dekorasi dinding yang terbuat dari cokelat. Waswas takut gak sengaja nyenggol toples-toples selai lezat.
 
Di antara toples lezat itu, saya tergoda membawa pulang salted caramel, sudah terbayang akan mengoleskannya pada setangkup roti gandum, memakannya bersama secangkir kopi panas.



Sang pemilik, Darren Purchese rupanya juga sering tampil di berbagai episode acara memasak TV Australia seperti Masterchef, The Circle, dan berbagai acara lainnya. Tiba-tiba saya merasa beruntung, bisa bertemu langsung para pemilik supersibuk ini!


Diam-diam, saya jadi iri dengan pekerjaan Andrew. Dan saya ingin mengetahui apakah Andrew menyadarinya, “Apa yang paling nikmat dari menjalankan bisnis tur ini?”

Yang pasti, saya menikmati jadi bos untuk diri sendiri, bekerja dengan partner, dan bertemu para pebisnis makanan hebat di Victoria!”
Ah, iya. Tentu saja Andrew tahu bahwa ia sedang berjalan di atas roda impian. Siapa yang tidak ingin tergila-gila dengan pekerjaannya sendiri?


Kalau orang Prancis bilang; A La Foile! Sebuah ekspresi yang menyatakan kegilaan dalam rasa jatuh cinta. Mabuk cinta. Cinta mati. Cinta bingits. Seperti kecintaan Mercédé Coubard—pemilik cafe berikutnya yang kami tandangi, untuk berbagai kreasi penganan dan kue ala Prancis yang ia buat sendiri.
 

Jadi, kalau siap tergila-gila dengan macaron & petits choux, mari bertandang ke A La Foile di 589 Chapel St dan siap-siap disergap suasana Paris, dari lagu dan wallpaper.
Dan—ow, pegawainya pun asli Prancis!






Mercédé Coubard tersenyum sumringah menyambut kami sambil menyuguhkan berbagai macaron warna warni. Dengan mata berbinar, ia menceritakan sepak terjangnya membuka usaha A La Foile, dari sekadar bikin kue yang disukai keluarga, sampai akhirnya nekat menjualnya pada orang lain.
Dan yang mengejutkan, tak jarang 'orang lain'nya itu adalah pesohor yang begitu ia kagumi, salah satunya:


Diambil dari instagram A La Foile

ichael Buble sudah datang dua kali ke sini, terakhir kemarin sore!” MMata Mercédé berbinar ceria saat mengucapkan nama idolanya, sedangkan saya diam-diam mengawasi pintu masuk. Siap siaga kalau Buble datang lagi!


Sambil mendengarkan obrolan renyah, jemari sibuk mengambil macaron Pistachio; yang ternyata berbahan kacang berkualitas tinggi dari Iran. Rasa kacangnya begitu kuat, namun berbaur manis dengan krim yang terasa lembut.





Saya masih ingat saat pertama kali menjalankan bisnis ini, entah berapa lusin macaron terpaksa saya buang karena rasanya tidak sesuai ekspektasi.” 
Duh, andai saat itu saya di sebelah Mercédé, pasti tidak keberatan menampung (baca: lahap brutal) macaron gagal itu!

Lidah belum selesai melumat renyah-lembut dan ledakan rasa krimnya, jemari sudah asyik mengambil varian Matcha & Redcurrant. Lagi-lagi saya terpukau dengan rasa yang saling melengkapi, bukan saling menyingkirkan! Seperti dua diva yang saling memberi sinar di atas panggung, bukan saling mendominasi ingin silau sendirian.

Mercédé pun permisi ke belakang meja bar, hendak melayani pelanggan lain.


Masih siap dengan serbuan cokelat istimewa?” Goda Andrew sambil memakai sweaternya, pertanda saatnya kembali hijrah.
 
Kami pun digiring ke sebuah cafe yang berbau semerbak kebahagiaan; Gànache Chocolate di 250 Toorak Rd!
Aroma cokelat menyeruak di setiap langkah, membuat kami seakan terhipnotis, seperti kucing-kucing kelaparan dalam film kartun yang terhuyung sampai ke lantai dua!


Di atas, seorang lelaki berseri-seri menyambut kami, “Ada yang mau bola cokelat?”




Ouw! Sirami aku dengan adonanmu, Mas!


Di samping dapur beberapa orang sedang asyik dengan adonan cokelatnya masing-masing. Ternyata mereka juga membuka Sekolah Cokelat! Ya ampun, kalau ada program beasiswanya, saya pasti daftar—dan kemungkinan besar ditolak karena saya pasti menghabiskan sepanci cokelat cair itu!

Sehabis ngalor ngidul ngobrolin cokelat, kami pun disuguhi berbagai minuman dan hidangan-hidangan gurih yang terasa begitu lezat, salah satunya croque monsieur. Selain memang enak, kenikmatannya berkali lipat karena sepagian ini kami dicekoki yang manis-manis; selayaknya senang dan sedih yang silih berganti, demi kehidupan ternikmati gurih. Yo'i.

Andrew pun tampak sangat menikmati kudapannya, mungkin karena ini memang perjamuan terakhir pada rangkaian tur pagi ini. 
Tapi pertanyaanku belum berakhir!

Apa yang menurutmu Melbourne adalah tempat yang hebat untuk berburu kuliner?”

Melbourne merupakan salah satu kota bermulti-budaya dunia dan memiliki setiap jenis masakan yang bisa anda bayangkan. Kota ini perpaduan budaya dengan jangkauan terluas dan berbagai pilihan harga yang fantastis untuk seorang pecinta makanan seperti saya.”


Kalau anda cuma boleh makan satu kue seumur hidup, mau pilih kue apa?”

Lolli Cake dari LuxBites! Cuma Bernard yang bisa membuatnya lebih enak daripada buatan saya—dan oh kontestan seangkatan saya di Masterchef: Christina!
Bernard Chu & Andrew Prior
Punya prediksi gak, kue apa yang bakal booming tahun ini?”

Saya rasa Petit Choux bakal jadi jagoan!”


Satu pertanyaan lagi, kalau Melbourne adalah kue, bakal jadi kue apa dan kenapa?”

Pertanyaan bagus! Jawabannya: Opera Cake, karena punya banyak lapisan lezat di setiap gigitan.”


Oke, saye berbohong! Karena punya satu pertanyaan terkahir untukmu! Kalau Andrew yang sekarang ketemu Andrew 10 tahun lalu, kira-kira bakal saling ngatain apa?
“Andrew tua akan sirik sama rambut si Andrew muda. Si Andrew muda bakal nasihatin Si Andrew tua untuk gak pakai kaus di TV karena ketuaan!”


Oops, saya mendadak memegangi rambut. Akankah saya 10 tahun ke depan menginginkan jambul asoy ini?




Hey, giliram saya yang nanya dong!”
Gleg. “Boleh!”



Apa yang paling kamu sukai dari Melbourne?"

Saya menyesap double shot sampai tak bersisa. Diam-diam saya meringkas cepat segala hal yang menarik sejak pertama kali menjejakkan kaki di Melbourne.



Saya suka bagaimana para Melbournians benar-benar menikmati apa yang mereka punya dan apa yang mereka lakukan. Kota ini semakin terasa berenergi oleh hasrat menggelegar para warganya.”



Saya tidak beromong kosong. Diam-diam saya asyik mengintip apa yang sedang mereka di balik dinding dapur kafe atau studio seni. Tertangkap gairah yang ingin saya rebut saat mereka sedang melukis dinding, memasak kopi, atau saat mengendarai segway di perkebunan anggur.



Dan salah satu dari para Melbournians penuh hasrat yang saya kagumi itu, salah satunya adalah Andrew Prior, karena dia berhasil membuat jelajah pagi ini begitu manis, baik di lidah maupun dalam kenangan.



Sebagai hadiah, ini lagu Kylie Minogue favoritmu, Andrew!





Oh ya, sebelum mengakhiri, ada satu dari tur pagi ini yang membuat saya iri. Para pelaku bisnis yang saya temui tampak sibuk saling bantu dan berkolaborasi; membuat saya teringat pesan orang tua; kalau bisa bekerja sama demi kesejahteraan bersama, kenapa harus sibuk saling menjatuhkan? 
 
Iya ya, apalagi kalau sudah saling sikut gitu sama-sama miskin juga. Ugh!


Eits, Jelajah Melbourne belum berakhir, saya akan membawamu keliling kota & mengendarai segway keliling perkebunan anggur!


Sambil menunggu, nikmatilah foto saya di antara dedaunan yang berguguran ini!
Foto by Alex