Search This Blog

Saturday, February 25, 2017

Novel Forgotten Colors




Saat stroke menyerang otak kiri, saya kesulitan mengolah kata saat menulis dan berbicara. Sekadar menyusun huruf-huruf jadi untaian kata untuk obrolan sederhana saja pun jadi susah banget. 
Sudahlah, karir saya sebagai penulis tamat sudah.
Tapi seiring waktu, saya tetap menjejakkan kata-kata di kertas, mengolah kalimat demi kalimat. Saya kembali belajar menulis. 
Saya menuliskan isi hati demi mengusir perih, mendepak kesedihan, mengenyahkan frustasi. Lewat menulis, saya kembali punya keyakinan dan harapan yang saya curahkan melalui tokoh-tokoh rekaan dalam novel.
Menulis jadi medium pemulihan stroke saya. Kata demi kata, terapi menulis ini jadi cikal bakal kelahiran #NovelForgottenColors.
Buku ini bukan tentang saya, tapi pembaca akan menemukan saya di dalamnya. Novel ini tentang seorang Pelukis Bangku Taman yang kehilangan warna akibat terserang stroke. Sang pelukis mendadak punya kemampuan lain, ia bisa melihat makhluk-makhluk seram di berbagai taman kota.

Berikut bab pertama Forgotten Colors. 


Bangku 1: Pareidolia

Meneduhkan, sekaligus mematikan. Banyak mata di pohon beringin itu. Mata-matanya tersebar dari akar, batang, dedaunan, sampai ranting yang menjulang ke angkasa. Akar-akar gantungnya terombang-ambing oleh embusan angin. Tapi sesungguhnya akar gantung itu tidak sepolos yang kita sangka. Akar-akar itu siap siaga mencekik siapa pun yang kebetulan lewat atau sekadar meneduhkan raga di tengah taman yang terletak di jantung Kota Ini.

Di suatu senja saat angkasa tersapu jingga, seorang yang sedang berteduh—yang akan kupanggil Si Tukang Berteduh, terperanjat melihat tetesan cairan kental di batang hidungnya. Ia sontak mengelap hidung dengan punggung tangan, lalu ia kembali terkesiap. Cairan kental berbau amis itu berwarna merah tua, menyerupai darah.

Clak! Tetesan itu kembali memercik, kali ini, di lengan si Tukang Berteduh. Ia kini yakin, itu memang darah!

Si Tukang Berteduh mendongak, memastikan sumber tetesan. Ia kaget bukan kepalang melihat sesosok perempuan berambut panjang dan bergaun putih, tergantung di antara ranting. Ratusan akar gantung meliliti leher, dada, dan kedua kaki perempuan yang berlumuran darah itu. Bahkan akar-akar itu ada yang menembus tubuhnya.

Si Tukang Berteduh histeris; meminta pertolongan. Alih-alih berlari, ia keburu tertimpa si perempuan nahas yang seperti dihempaskan akar pohon yang sudah kenyang makan manusia

Ah, omong kosong. Maaf, tapi aku tidak melihat tragedi itu dengan mata sendiri. Itu cuma sekadar kisah legenda yang tersebar dari telinga ke mulut, dari curiga ke takut. Versinya juga tersedia segala rupa. Ini salah satu versi panjangnya: setelah wanita nahas itu terhempas ke tanah, si akar-akar itu melepaskan jeratan, lalu melilit tubuh Si Tukang Berteduh. Ada juga versi yang lebih gaib: mereka berdua kembali terlilit dan lenyap tanpa bekas.

Semakin tak masuk akal, kan? Tak perlu mendengar lebih banyak lagi versi cerita itu. Bagian wanita berdarah-darah di pohon beringin dengan rambut panjang dan gaun putih itu sudah usaha yang terlalu keras untuk membangun kisah horor. Tak heran, kalau para warga yang ketakutan itu memberikan julukan taman ini Taman Setan.

Kisah seram legendaris itu tak sanggup membuatku hengkang. Banyak yang lebih menyeramkan, manusia-manusia rakus yang membabat habis pepohonan demi membangun pajangan kekuasaan seperti gedung-gedung yang saling berlomba tertinggi misalnya.

Namun, bualan kisah setan yang menyeruak ini tidak membuat taman ini benar-benar lengang. Tetap ada yang berlalu lalang, seperti para gelandangan atau pasangan yang kerasukan nafsu birahi; pasangan yang selalu kaget dan memalingkan muka saat berpapasan denganku. Jangan-jangan mereka menyangka akulah setannya. Kecuali jika pemahaman mereka tentang setan adalah pria kurus gondrong sebahu dan kulit sewarna bambu, ya sudah aku pasrah saja. Mereka yang berbuat keji, malah aku yang ditakuti.

Tapi ada kemisteriusan Taman Setan yang membuatku terbius. Ketika kemilau senja menyinari taman, aku berbaring-baring di rerumputan atau melamun di bangku reyot penuh rayap, menerka-nerka apa yang arakan awan ingin ceritakan padaku.
Beberapa kali aku menggelar tikar di bawah pohon beringin, menantang akar untuk menjamah tubuhku. Tapi bisa kaulihat, berapa kali pun aku rebahan, tidak ada bekas cekikan di leher. Mungkin pohon itu tak bernafsu padaku.

Tapi sore ini lain perkara, aku bersemayam di salah satu area rerumputan taman untuk membuktikan sesuatu. Sesuatu yang bukan hantu. Di depanku ada sebuah air mancur yang sudah tak terawat, sekujur temboknya terkelupas, pondasinya dipenuhi retakan. Saking usangnya, tak ada yang menyangka pancuran ini masih mampu menyemburkan air. Memang tidak setiap hari, tepatnya empat tahun sekali, tiga hari setelah hari ulang tahunku, tepatnya pada pukul lima lewat dua puluh.
Yang berarti tinggal beberapa detik lagi.
Tiga...
Dua...
Satu...
Pancuran itu menyemburkan airnya! Dugaanku benar! Air mancur ini selalu menyembur setiap 29 Februari! Jangan-jangan pancuran ini dibangun sebagai penanda tahun kabisat. Aku tidak tahu pasti. Yang pasti cuma aku dan lusinan burung yang menjadi saksi. Burung-burung itu seolah merayakan pancuran air, mereka beterbangan dari ranting pohon tatkala semburan air mendulang ke angkasa.

Di antara para sekawanan bersayap yang berlalu lalang itu, ada burung yang gemar menyemprotkan tahi ke segala arah, dari rumput sampai ke bangku kayu yang muat diduduki empat orang dewasa.
Salah satu gumpalan tahi itu mengundang imajinasiku. Berbekal cat akrilik, aku menggambari bangku itu serupa dua anak kecil saling berkejaran di antara bola-bola putih yang merupakan cipratan tahi burung, seakan sedang berpesta salju.

Lalu, aku ketagihan. Tak puas hanya melukisi satu bangku, aku mulai mencari-cari korban kursi berikutnya. Kucari bangku taman yang menyendiri, diam-diam kububuhkan warna-warni agar taman ini tidak terlalu suram.
Tapi di sisi lain, demi keselarasan dengan julukan Taman Setan, aku melukis rupa wajah makhluk halus seperti kuntilanak di beberapa bangku. Alih-alih menyeramkan, aku membuat wajah mereka menjadi ramah; sorot mata hangat dan senyum semringah. Hey, jiwa-jiwa gaib pun berhak untuk bahagia!

Ada pula bangku yang kupenuhi lukisan benda-benda yang dipercaya masyarakat dunia sebagai pengusir hantu dan penangkal sihir, seperti lonceng angin, tapal kuda dan favoritku—Tangan Fatima, berbentuk telapak tangan berukir yang mempunyai mata di tengah-tengah, dipakai bangsa Mesir Kuno untuk mengusir roh jahat.

Tak semua bangku taman kugambari, beberapa hanya kuwarna saja. Alhasil aku punya profesi baru rahasia; si pelukis bangku taman. Jadi kalau ada yang berdesas-desus karierku bermula dari tahi burung, aku tak akan menampiknya.

Profesi baru ini terdengar lebih terhormat dari julukan yang diberikan pacarku si Gelia itu; tukang bongkar (lupa) pasang. Aku memang senang utak-atik dan membongkar barang. Aku ingin tahu bagaimana bentuk bagian dalam radio, tabung televisi, sampai isi kasur pegas. Tapi ya itu, setelah aku bongkar, aku sering kali malas memasangnya. Kecuali, jika ada teman yang memintaku untuk mereparasi barangnya. Beberapa kali aku mendapat pesanan untuk menyulap lemari menjadi kursi, atau yang paling absurd; radio kaset jadi pot bunga.

Kadang, pretelan-pretelan yang kutemukan dari barang-barang yang kubongkar itu aku rangkai jadi pernak-pernik yang kuusahakan berfungsi—setidaknya jadi kalung untuk Gelia.
Walaupun Gelia jarang berterima kasih untuk 'kebaikanku' itu. “Kamu bilang ini kalung? Ini sih rantai anjing!” Gitu pekiknya.

Setelah mengubrak-abrik semua bangku di Taman Setan, aku kini mulai melirik bangku-bangku yang terdapat di taman lain yang ramai didatangi warga Kota Ini. Letaknya hanya terpaut satu pertokoan dari Taman Setan. Taman ini bernama Taman Asmara, dengan patung terkenal berbentuk dua sejoli saling berpelukan di tengah taman.

Taman yang berlokasi di sebelah balai kota ini masih terbilang baru. Lima belas tahun lalu, pemerintah menggali tanah untuk membangun gorong-gorong air dan menanam kabel listrik. Saat penggalian dilakukan di lapangan bola, mereka menemukan dua tengkorak yang saling berangkulan. 

Konon, kedua tengkorak itu milik bendara putra yang sedang melindungi bendara putri saat terkena gempa dahsyat, saat mereka melarikan diri dari kerajaan yang pernah menguasai sebelum Kota Ini berdiri pada abad keempat belas. Semenjak itulah mereka merombak lapangan bola menjadi Taman Asmara.

Tak jauh dari patung dua sejoli, ada sebuah bangku kayu besar yang mengundang hasrat mewarnaku. Bangku itu selalu diduduki seekor anjing liar dan seorang tunawisma.
Setelah mengawasi Taman Asmara sehari semalaman, kuputuskan akan beroperasi setiap pukul dua pagi, waktu ketika tak ada seorang pun berlalu lalang. Tentu tidak mudah melukis dalam kegelapan, tapi justru itu tantangan yang kusukai.

Satu kendala terbesarku adalah, setiap lewat tengah malam, ada seorang penjaga malam yang berpatroli di Taman Asmara. Berhubung mereka sering membunyikan tiang listrik seperti kentungan saat berpatroli, aku pun bisa leluasa sembunyi dengan posisi telungkup, jaga-jaga saja untuk berkilah pura-pura tidur bila ketahuan.

Tapi aku selalu senang saat hampir ketahuan, ada ledakan gairah menyeruak di dada yang membuatku ketagihan. Ledakan yang selalu terulang saat melakukan perbuatan terlarang.
Segenap amplas, kaleng cat akrilik, kuas akan siap menari-nari di tubuhmu, bangku! Besok, akan kupastikan dirimu jadi rebutan pantat-pantat para pengunjung taman!

***
Berbekal senter yang kuikat di kepala, kubersihkan bangku yang penuh dengan tahi anjing itu. Aku berjanji, bangku yang bermuram durja ini akan berseri-seri.
Korban bangku pertama di Taman Asmara kugambari berbagai alat tulis; mulai dari pena jarum, pena bulu, pensil, pulpen sampai stilus digital. Karena saat kita jatuh cinta, kita jadi rajin menulis, bukan?

Tentu, tidak semua bangku bisa berubah seperti yang kuharapkan. Kadang waktu hanya habis untuk mengamplas saja, saking kotornya. Yang paling sering membuatku dongkol, ketika bangku telah selesai kulukis, tiba-tiba hujan turun semena-mena.
Ah, tapi ya siapa suruh mengeluh? Toh, aku lakukan ini semua karena aku suka duduk-duduk di taman—yang sayangnya makin tak terawat. Kebahagiaan warga sepertinya bukan prioritas para penguasa, hanya sebatas janji firdaus belaka.

Setidaknya kami masih bisa berteduh. Untungnya pohon-pohon rindang masih menghiasi Kota Ini, walau banyak ranting menerjang warga kala hujan badai tiba.
Setelah selesai melukisi senderan bangku, aku masih ingin mewarnai kaki bangku, tapi matahari sebentar lagi akan terbit. Kuputuskan untuk mulai membereskan peralatanku.
Tiba-tiba terdengar ranting yang terinjak, aku segera mematung dan mematikan lampu senter. 

Beberapa minggu lalu, aku sempat dikejar orang setelah melukis bangku. Untungnya aku berhasil kabur menaiki motor. Saat itu, aku berada di bagian taman yang berpenerangan memadai, sinarnya cukup membimbingku untuk melarikan diri.

Sementara, saat ini posisiku dalam keadaan gelap gulita. Aku berjalan perlahan, sesekali mengingat rute jalan keluar. Kalau tidak salah, di depan ada selokan besar berjembatan kecil. Waduh, kalau terpeleset sedikit, bisa-bisa basah kuyup.

Tanganku meraba-raba, sampai tak terasa menyentuh lapisan menyerupai kulit bersisik. Aku tersentak. Masa di taman ini ada buaya? Aku sontak teringat berita tentang sekawanan buaya kelaparan bermigrasi ke selokan.

Aku segera menyalakan lampu senter, siap-siap lari tunggang langgang.
Betapa terkejutnya, lampuku tiba-tiba menyorot sosok manusia! Wajahnya hanya terlihat sekilas karena dia menutup matanya secepat kilat akibat silau oleh lampu senterku.
“Halo, Arka!”

Aku segera berbalik, berlari, sekaligus bertanya-tanya kenapa dia tahu namaku. Sialnya lampu senterku meredup, aku tak bisa leluasa mengamati jalan. Tak lama, kakiku terjegal, lalu aku tercebur ke selokan! Beberapa catku keluar dari kaleng, ikut menggenangi selokan.

Kemudian empat orang lelaki mengarahkan senter ke arah wajahnya masing-masing sambil tertawa terbahak-bahak di sisi selokan. Salah satunya mengulurkan tangan, “Anda tidak perlu lari, Arka. Kami tidak akan menangkapmu!”

***
Memang, mereka tidak menangkapku, tapi menggiring paksa ke mobil mereka. Apa bedanya?
Mereka ternyata tidak hanya tahu namaku. Tanpa panduan, mereka mengarahkan mobilnya menuju rumahku. Aku celangak-celinguk, mengawasi salah seorang dari mereka yang membawa motorku di belakang mobil.

“Kalau memang tidak ingin menangkapku, kenapa kalian tidak datang baik-baik saja ke rumah?” ujarku sambil membuka dan meniup baterai dari telepon yang ikut basah kuyup. Semoga kiat mengeringkan ponsel dengan membenamkannya ke dalam beras agar bisa kembali dipakai itu bukan hoax!

“Sama seperti kau, kami juga senang kerja tengah malam,” timpal lelaki berkumis, terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk jaket kulit buayanya.
Empat lelaki itu mengaku dari dinas pertamanan kota. Mereka memperkenalkan nama masing-masing, tapi aku terlalu lelah untuk mengingatnya. Mereka 'menangkapku' atas instruksi Pak Wali Kota, untuk menawarkan proyek ambisius, melukis seribu bangku taman kota.

Aku tidak begitu mendengar penawaran mereka, karena yang ingin kulakukan adalah… “Sebelum membahas lebih lanjut, saya boleh mandi dulu?”

“Tak perlu. Tidak bau, kok.”

Aku menyeringai, “Bukan masalah bau atau tidak, setidaknya saya perlu bersih dan kering.”

“Kami juga tidak akan lama-lama,” si Lelaki Buaya itu mengambil map proposal dari tasnya. “Ini sesuatu yang bisa Anda pertimbangkan.”

Mereka menurunkan persis di depan pagar rumahku.
“Sampai jumpa makan siang. Kita bertemu di Kaleng Kerupuk?” tanya si Lelaki Buaya sambil terkekeh jail.

Wow, mereka bahkan hafal warung favoritku. Aku mengangguk saja biar cepat. Perutku susah menolak semur daging yang empuk lezat di warung favoritku itu!

***

2 comments:

  1. Dear Vabyo,

    Aku anto, ngak sabar mau baca buku ini, dan tentunya sekalian belajar mengenai proses kamu dulu terkena stroke.

    jadi seminggu yg lalu, keponakanku, Sofialita (biasa dipanggil Lita), 8 tahun, ditabrak oleh taksi lalu dia melarikan diri. Beberapa yang lalu, Lita sudah mengalami operasi di kepala, dikarenakan adanya pendarahan di otaknya yang masih rapuh. Hingga beberapa hari, keluarga cemas belum juga ada tanda atau respon dari Lita.

    Tepatnya kemarin, aku dan istriku masuk ke dalam ruang ICU dan membawa Maira (anakku, yg seumuran jg dengan Lita), sengaja Maira aku bawa untuk berbicara singkat di telinganya Lita, karena Maira dan Lita seperti anak kembar yang tidak dapat dipisahkan, ya, mereka lari hanya dipisahkan oleh 2 minggu.

    Aku angkat Maira pelan, mendekati kuping mba Lita. Maira pun mulai berbisik dengan suara tangisan yang ditahan sekuat tenaga, karena ia tidak tega melihat sepupu tercintanya terkapar tidak berdaya.

    "Mba Lita, apa kabar? Aku kangen, cepat sembuh ya! Aku sayang mba Lita" begitu kata Maira pelan di telinga Lita.

    Aku dan istri pun segera berdoa semoga Lita mendengar suara Maira, tapi sayang, Lita tidak merespon apa pun. Akhirnya dengan sedih, aku dan istri pun minta izin dengan suster penjaga utk keluar kamar.

    Belum lama, kaki kami keluar dari kamar ICU, kami dipanggil mendadak oleh suster tadi. Dengan gerakan tangan ia memanggil kami. Wajahnya terlihat shock, seakan baru melihat hantu. Kami pun bergesa mendekati Lita.

    Telunjuk suster itu tiba-tiba menunjuk ke arah matanya, "Lihat mata Lita, pak Anto." katanya sedikit berbisik.

    Kami melihat ada air mata yang keluar dari ujung kedua matanya. Indah sekali.

    Oleh karena itu, aku menulis di sini dan sangat menunggu buku baru mu ini, semoga bisa memberikan kami pelajaran dan bisa mengembalikan ingatan Lita dan sehat kembali.

    Terima kasih, Vabyo.

    Anto Nugroho / Antopinguin.
    Muah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Anto,

      Terima kasih mau bercerita tentang keponakanmu. Aku terhenyak bacanya. Semoga Lita segera pulih dan bisa bermain kembali bareng Maira dan keluarga, Amin!

      Delete

Bebas komentar apa saja, asal damai. Terima kasih banyak :*