Search This Blog

Friday, July 24, 2015

Beneran ingin bahagia atau sekadar bikin orang iri?

Seringkali sih, saya tidak ingin ada sekadar; mau bahagia sekaligus bikin orang-orang iri. Karena iri—baik mengiri atau diirikan adalah amunisi untuk mengejar impian berikutnya! Iya, iri adalah mampu yang tertunda!

Tapi tunggu, sebelum berlomba iri, kamu percaya nggak, saat ini kita sedang menjalani kehidupan yang pernah kita idam-idamkan?

Kamu dan pasangan.
Kamu dan anak-anak idaman.
Kamu dan segerombolan kucing-kucing di taman.
Kamu dan segenap kota baru untuk berjalan-jalan.

Sayangnya, rumput tetangga yang kini menjelma jadi akun media sosial teman-teman membutakan ingatan akan idaman. Hidup teman-teman—yang bahkan nggak dekat-dekat amat pun tampak lebih menggembirakan hati. Beribu wajah berubah di layar beauty camera, kehidupan maya pun terasa lebih layak diperbincangkan. Bila toh ternyata di dunia nyata buruk rupa dan obrolan kikuk garing semata ya bisa jadi bahan olok-olok seru kembali di ruang obrolan maya. Begitulah siklusnya. 

Sebelum lebih jauh menuduh, pemikiran ini datang saat teman lama memberikan komen-komen senada di foto-foto pameran kebahagiaan saya. Nada-nada itu berbunyi sedih: “Enak ya jadi penulis, hidup gue mah gini-gini doang.”

Sampai kemudian di sebuah kesempatan ngopi bersama, saya mengajaknya bertanya-tanya, “Memangnya kamu pernah bercita-cita jadi penulis?”

Saya benar-benar ingat, kehidupan si teman yang kini merasa 'gini-gini doang' adalah impiannya sejak masih perawan: menikah dengan lelaki tampan dan anak-anak sehat rupawan. Dia juga tak kalah gesit dalam 'memamerkan' kebahagiaanya. Ketika saya pamer rilis buku baru, dia juga pamer saat bayi di pangkuan. Saat saya pamer buku sedang dipajang di rak laris, dia juga pamer foto Si Sulung juara lomba renang.

Kalau toh sekarang punya impian baru, berarti kan bisa mengubah keluhannya dari “hidup gue kok gue gini-gini doang” jadi “hidup lo asyik, gue mau nyoba juga ah!”

Si teman pun terkekeh riang, tersadarkan impian yang kini jadi kenyataan, “Nah, biar gue makin enakan, elo iri juga dong sama kehidupan rumah tangga gue?!”

Tentu saja ini cuma senda gurau belaka, tapi diam-diam bikin hati menduga-duga pertanyaan seperti judul di atas, “Jadi elo beneran pengin bahagia atau sekadar bikin orang iri?"

Yah, kalau pun cuma untuk sekadar bikin orang iri atau demi puja-puji, semoga gak mesti sampai nyusahin orang, apalagi ibu sendiri. Seperti begini kejadiannya: saat itu saya lagi di Bandara Ngurah Rai, seorang gadis belia minta tolong emaknya buat motretin dengan gaya 'pura-pura candid'.

Rupanya Sang Emak belum paham konsep ini, sehingga setelah Si Belia membengkokkan sebelah kaki sambil kepala menunduk dan jemari memainkan kancing baju, terjadi sedikit kericuhan.

“Udah belum, Mah?” Tanya Si Belia.

“Hah, emang sekarang motretnya?”

“Iya, Mah!! Ayo buruan pencet kameranya!” Pinta Si Belia sambil tetap konsisten dalam gaya kaki bengkok dan kepala nunduknya.

“Loh, emang gayanya mesti begitu??” Sang Emak tak juga memencet tombol kamera.

“Aduh gimana, sih!?” Si Belia akhirnya menyerah dalam gaya. Sang Emak pun cemberut tak berdaya.

Akhirnya saya menjadi sok pahlawan menawarkan bantuan, demi kedamaian dunia ibu dan anak. “Zaman tante dulu sih, kalau foto ya gayanya bener-bener manis lihat kamera atau lihat agak ke samping. Ini kok gaya anak sekarang malah seneng kayak lagi encok gitu ya?” Curhat Sang Emak saat saya memotret Si Belia.

Saya cuma cekakak cekikik saja sambil mengingat-ingat, jangan-jangan saya juga sering melakukan hal yang sama: demi 1000 like orang asing malah meniadakan 1 senyum orang tersayang. 

Saya gak bisa mencela apa yang membuat orang bahagia. Kita punya porsi bahagia (dan iri) masing-masing. Tak semua bahagia dengan sejuta. Tak semua sedih dengan sepuluh ribu.

Jauh di lubuk hati, saya masih berharap, semoga kebahagiaan yang kita pamerkan, benar-benar bahagia dari hati, tak peduli berapa & betapa yang iri.

Tampak keren memang mengasyikkan, dipuja-puji juga memabukkan, tapi yakinkan si hati agar benar-benar senang dan tidak sampai menyakiti tersayang.

UDAH DIPOTRET BELUM, SIH? 

6 comments:

  1. Nice bang... Keren...

    ReplyDelete
  2. Komen di fotonya bikin ngakak..

    ReplyDelete
  3. Nicely written... Keren!

    ReplyDelete
  4. Ini bener banget, sering kejadian.

    ReplyDelete
  5. Bikin iri aja fotonya *ngikik*

    salam kenal

    ReplyDelete
  6. Saya ngakak² pas baca gaya foto anak zaman sekarang kayak lagi encok gitu, hahaha! Seneng banget punya penulis yang keren kayak gini. Bisa nyadarin dan ingetin. Salam kenal ya kak! *Tos sesama blogger*

    ReplyDelete

Bebas komentar apa saja, asal damai. Terima kasih banyak :*