Search This Blog

Thursday, July 20, 2017

“Cuma karena gitu doang kok bunuh diri!”

Setiap ada berita bunuh diri, selalu terbaca komentar yang menyudutkan hati. Semacam “Cemen banget. Gitu doang bunuh diri!”
Tapi gimana ya, tampak 'gitu doang' karena kita (dan media) sering gegabah sok tahu menyimpulkan penyebab orang bunuh diri. Misalnya:
-Hanya karena lima ribu, siswi minum racun.
-Akibat putus cinta, mahasiswa gantung diri.
-Karena terlilit hutang, pemuda bunuh diri.
Atau judul berita khas masa kini:
Kamu tak akan menyangka, hanya karena ini siswa cantik berprestasi gantung diri!
Seakan-akan judul berita itu ikut menertawai pelaku nekad bunuh diri hanya karena 'masalah sepele'. Seakan rumus baku untuk mengetahui penyebab pelaku bunuh diri ditentukan dari curhatan-curhatan/masalah terakhirnya.
Memang, curhatan bisa jadi petunjuk awal, tapi apakah kita benar-benar paham penyebab orang yang mengakhiri hidupnya?
Lalu, katakanlah penyebabnya ternyata memang tampak 'sepele'. Tapi sepele buat kita, belum tentu sepele buat orang lain. Jangan-jangan yang cemen itu kita, karena sok piawai membaca kondisi mental seseorang.
Kita? Iya, saya sempat terjebak berkomentar serupa.
Sampai kemudian, ada peristiwa yang membuat saya berpikir ulang, ada penyebab yang jarang terucap. Barangkali terungkap, namun salah tangkap.
Dua tahun lalu pembuluh darah saya pecah di otak kiri—stroke hemoragik. Darah yang tersembur oleh pecahnya pembuluh darah itu merusak sel-sel otak di sekitarnya, jadinya fungsi otak sempat terganggu.
Saya mendadak kehilangan kosakata, tidak bisa berbicara, apalagi menulis. Ujian terberat adalah saat bangun tidur, butuh waktu untuk otak bekerja optimal. Beberapa ingatan mendadak hilang, bahkan saya tidak mengenali wajah sendiri.
Kadang pas bangun, otak cuma loading kenangan sampai tahun tertentu. Misalnya saya bangun tidur, tiba-tiba bengong melihat kamar saya, karena otak saya baru loading kenangan sampai tahun 1999, yang mana kamar saya bertempat di rumah Bandung, bukan di kamar Ubud yang saya tempati sekarang. Kadang lihat kaca juga kaget, karena saya pikir, saya masih bocah berambut belah tengah berpipi tembem. Kaget kan, kok bisa tiba-tiba jenggotan om-om gini. Kejadian ini sering berlangsung di tahun pertama pemulihan.
Hari-hari saya diwarnai kelinglungan dan patah hati. Segala yang saya sukai, kini dilarang. Setiap menghirup aroma kopi, rasanya kayak mencium parfum mantan terlarang yang masih saya cintai.
Tapi, tidak, itu tidak membuat saya ingin bunuh diri. Saya masih bertekad hidup lebih lama. Pas terserang stroke saja sudah bikin repot orang banyak, ya tahu dirilah, masa sekarang mau bunuh diri.
Sahabat-sahabat saya tahu dan membantu perjuangan saya; kembali berlatih jalan kaki, terapi menulis, makan masakan sehat.
Sampai suatu malam, ketika semua sudah terkendali, saat sedang asyik selimutan, tanpa tedeng aling-aling saya tiba-tiba merasa asing dengan lingkungan sekitar. Ada perasaan terjebak melihat tangan, badan dan wajah sendiri. Napas mendadak jadi tersengal, jantung dag-dig-dug tak keruan, keringat dingin sampai badan menggigil. Sekonyong-konyong hati diliputi perasaan takut meninggal—seakan akan ditimpa malapetaka, hingga saya berlari ke balkon kamar, dan hampir melompat ke jalanan untuk mengakhiri kegelisahan.
Konyol bukan, takut meninggal kok malah ingin loncat?
Saat lari ke balkon, perasaan saya teralihkan oleh dinginnya embusan angin dan deru suara motor yang melewati jalanan. Lambat laun, saya mulai kembali menjadi diri sendiri.
Kebayang kalau saya jadi loncat, bisa jadi akan ada berita: Seorang Pria Tambun Bunuh Diri Hanya Karena Kehabisan Terong Balado. Iya, beberapa jam sebelumnya, saya baru saja 'curhat sedih' ke pemilik warung padang karena kehabisan terong balado.
Kini, detik-detik awal serangan panik, saya segera menyetel musik favorit keras-keras, atau mengalihkan perhatian dengan mencorat-corat kertas atau membuat jemari sibuk. Eh, fidget spinner (ternyata) bisa membantu.
Serangan panik ini bisa berabe kalau terjadi di tempat umum, karena bisa membuat orang lain ikutan panik.
Maksud mereka ingin menenangkan, tapi jadi marah-marah, “KENAPA LO KAYAK GINI? NYEBUT DONG NYEBUT! PASRAH!!” Aduh, maaf. Itu gak bantu.
Kalau punya teman yang terkena serangan panik, kita bisa menjaganya agar tidak pergi ke tempat yang membahayakan diri. Tolong jauhkan dari jurang atau alat-alat tajam misalnya. Saat terserang, jangan ditanya apa penyebabnya, karena penderita tidak bisa berpikir rasional, gak punya alasan kenapa panik. Cukup dibuat nyaman. Kalau sahabatan, boleh dipeluk, sambil diajak napas teratur, sambil diajak ngobrol hal-hal kesukaan yang membuatnya senang, agar perhatian teralihkan.
Setelah berdiskusi dengan beberapa dokter, gejala serangan panik saya ini terjadi spontan; bukan aksi reaksi hasil situasi yang penuh tekanan. Bukan karena memikirkan 'hal-hal sepele', seperti ada yang menyalakan saklar korslet di otak. Diagnosa singkat gangguan ini, karena perubahan atau ketidakseimbangan zat kimia otak yang mengganggu fungsi daya pikir. Butuh waktu yang tidak sebentar agar sel-sel otak saya bisa kembali pulih seutuhnya.
Mungkin pernah lihat orang nge-drugs, lalu menjadi paranoid, berhalusinasi dan mendadak agresif? Saya bisa mendapatkan efek itu tanpa harus bernarkotika-ria. Berhubung pembuluh darah pecah di otak kiri, jadinya proses berpikir yang bersifat rasional, sistematis, logis pun ikut terganggu. Itu mengapa, saat 'korslet', kelakuan saya kadang-kadang tak ada logika.
Saya lalu mencari 'teman', tidak ingin gila sendirian. Ternyata ada beberapa kasus perubahan perilaku seseorang dengan diagnosa awal yang keliru.
Misalnya seperti yang menimpa Susannah Cahalan, seorang jurnalis muda yang baru saja memulai kehidupan impiannya. Lalu, perilakunya berubah, menjadi sering berhalusinasi, punya gangguan kepribadian, kemudian katatonia. Dia mendadak hobi menendang dan memukul orang-orang di sekitarnya.
Ia sempat didiagnosa gangguan bipolar, kemudian diganti jadi 'alcohol withdrawal syndrome'. Kebayang kan, dia jadi mesti nenggak macem-macem obat.
Diagnosa terakhir, Susannah ternyata menderita 'anti-NMDA receptor autoimmune encephalitis'. Jadi sistem imun tubuhnya menyerang jaringan otak sendiri, karena ada kemiripan struktur otak dengan struktur virus, sehingga menyebabkan peradangan akut otak. Kini dia sudah pulih kembali. Kisah penyakitnya ini dia tulis di buku yang sudah difilmkan: Brain On Fire.
Kasus ini menggemparkan hati, jadi bertanya-tanya soal kategori penyakit, apa jangan-jangan banyak pasien yang didakwa skizofrenia tapi ternyata menderita penyakit autoimun ini ya? Atau ada jenis penyakit lain yang belum terdeteksi hingga saat ini?
Apakah diagnosa penyakit dan obat yang kita konsumsi sudah tepat jitu?
Apa pelaku bunuh diri sudah mengirimkan sinyal-sinyal meminta pertolongan tapi kita tidak paham?
Tapi pertanyaan yang bisa dijawab sekarang adalah, apakah ada teman-temanmu yang mengalami perubahan perilaku; lebih agresif, jadi depresif?
Atau justru kamu merasa ada yang tak beres dengan diri sendiri, tapi tak tahu pasti apa penyebabnya? Hidup ini tampak sesuai rencana, tapi kok rasanya ingin menghancurkan dunia?
Mari, bisa mulai cerita dengan sahabat dan konsultasi dengan dokter kesayanganmu.
Atau mau cerita sama saya juga, boleh. Saya gak janji bisa balas, tapi menulis keresahan bisa membantu kelegaan hati.

No comments:

Post a Comment

Bebas komentar apa saja, asal damai. Terima kasih banyak :*