Search This Blog

Wednesday, May 21, 2014

Jelajah Manis Melbourne: Berburu Kue Lezat!

 Click here for English version

Diwajibkan puasa sehari sebelum mengikuti Queenie's Food Tour!
 
Sayangnya peringatan dalam brosur itu saya baca sesaat sebelum tur dimulai.
Jadi waswas, karena semalam baru saja pesta pasta di DOC Lygon St, paginya sarapan 3 croissant dan 2 chocolate muffin di Somerset.

Ah, tapi sebagai penggila manis, saya tak gentar! Bawa saya segera ke kerajaanmu, Mr Andrew Prior!


Eh, siapakah Andrew Prior? 
Dia adalah bos sekaligus pemandu tur berburu kue pagi ini. Kalau lihat potongannya, membuat saya 'Kok kayak pernah lihat di mana, ya?'

Setelah tilik punya tilik dan diam-diam googling, ternyata dia pernah nongol di kamar saya via saluran TV kabel, melalui acara Masterchef Australia 2013.

Foto dari website Masterchef Australia
"Selamat datang di Tur Mimpi Indah ala South Yarra! Saya telah menyisihkan waktu berbulan-bulan mencari kue-kue terlezat di Melbourne, dimulai dari toko yang akan kita datangi ini!

Diantara dedaunan cokelat kemerahan terombang-ambing dingin, saya diam-diam memerhatikan langkah Andrew, karena dari salah satu berita yang diam-diam saya baca, dia mengundurkan diri dari Masterchef karena cedera tulang lutut setelah syuting adegan lompat-lompat bahagia.


Langkah kami terhenti di sebuah cafe mungil di Toorak Rd bernama LuxBites. 

Wuih pandangan ini terampas oleh kue-kue yang terpampang di etalase.



Baby Let Me Love You Let Me LOVE YOU LONG TIME!

Hey, ada yang lagi berkonsentrasi penuh di dapur! Colak colek, ah!



Eits, setelah berkenalan dengan sang kreator LuxBites; Bernard Chu, ternyata ia berasal dari Malaysia. Reputasi Chu meroket saat dia berhasil menjawab tantangan produser MasterChef untuk membuat kue yang menggabungkan 6 cita rasa klasik loli khas Australia: daun mint, pisang, jaffa (aroma cokelat-jeruk), red skins, freckles dan musk sticks.

Psst, Bernard juga menceritakan rahasianya resep kuenya; contohnya saat mengganti daun spearmint (yang menggumpal kala panas) dengan krim bercita rasa mint yang terbuat dari minyak...kayu..putih! Wah, minyak tubuh favorit saya dijadiin kue!


Dan ini salah satu kue favorit saya,” Andrew menunjuk kue cokelat bernama Be My Love, berbahan mousse susu cokelat, krim rasberi, remah dark chocolate, chocolate glaze, freeze dried raspberry.

 


Setelah merem melek merasakan kenikmatan Be My Love yang hilir mudik di lidah, saya akhirnya memberanikan diri menanyakan sesuatu pada Andrew.
“Jadi gini,  saya barusan baca artikel tentang cedera lututmu,” Matanya berbinar, tampaknya ia tidak akan keberatan dengan topik ini, “Sekarang gimana keadaannya?”

Sudah membaik. Kadang-kadang masih kerasa sakit, tapi gak akan bikin saya berhenti melakukan tur ini!”


Jadi gimana sih, awalnya jadi koki dan gabung di Masterchef?”
Sebenernya, saya masih sebatas koki rumahan yang kebetulan punya hasrat besar pada makanan. Nah, kalau awal gabung dengan Masterchef, saat itu saya baru balik dari Paris dan males banget balik kerja di perusahaan asuransi. Saya pengin mengejar mimpi yang sesuai gairah saya. Saat itu saya pikir bergabung di Masterchef bisa memberikan banyak kesempatan baru, dan ternyata benar!”

Kami lantas berpamitan dengan Bernard dan segenap karyawannya, untuk kemudian menjelajahi toko berikutnya, masih di jalan yang sama; Toorak Rd, nomor 15: French Fantasies. Beberapa kursi di trotoar dipenuhi manusia penggemar sarapan. 


Begitu masuk ruangan, aroma roti menguar liar. “Selayaknya orang Prancis, kami membuat roti begitu serius,” kelakar salah seorang pegawai French Fantasies sambil menawarkan kami berbagai kue nikmat.


Selesai ngobrol-ngobrol sekejap dengan pemilik cafe, saya meneruskan rangkaian keingintahuan. 
"Kalau buat anda pribadi, seberat apa tantangan di Masterchef? Mereka ngasih petunjuk atau resep sebelum acara gak, sih?” 
"Nggak sama sekali, kita tidak mendapat kisi-kisi apapun, dan seperti kamu lihat, beberapa tantangan mereka sungguh gila. Tapi sekaligus menyenangkan!” 

"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, apa yang terjadi ketika kamera mati? Kelakuan orang-orang (seperti juri & kontestan) sama pas di TV, gak?”
"Sama saja, kok. Bisa jadi mereka tidak seliar di balik layar, tapi tidak ada yang dibuat-buat.”


Dari Toorak Rd, kami menelusuri jejalanan yang diseraki daun mapple yang terkenal dengan 5 sudutnya itu: kekuatan, kesederhanaan, kehangatan, keromantisan, dan kesetiaan. Dan saya mendadak ingin menanyakan kesetiaan Andrew pada acara yang membesarkan namanya.

Bakal balik lagi ke acara Masterchef gak sih, atau mungkin mau ikut audisi di acara lain?"Gak, gak akan sekarang. Selain sibuk mengurus bisnis tur makanan ini, saya juga lagi bahagia-bahagianya menikmati perubahan hidup. Tapi kalau mereka menginginkan saya kembali untuk peran khusus—seperti amal atau bantuan tantangan untuk para kontestan, saya tentu akan mempertimbangkannya. Saya rindu dapur mereka yang keren itu!"

Tepat saat Andrew menyebutkan dapur keren, tibalah kami di sebuah dapur yang memukau, beralamat di Claremont St; Zumbo. Neonnya mengingatkan saya pada sampul album Miley Cyrus.




Andrew menceritakan, Adriano Zumbo adalah seorang patissier dan koki yang hobi menantang para kontestan Masterchef dengan kreasi gilanya seperti: croquembouche tower ( semacam bola-bola sus tersusun dalam bentuk kerucut dan terikat benang dari sous karamel), V8 cake (kue yang mempunyai 8 lapisan vanilla lezat: Vanilla macaron, vanilla chantilly, toasted vanilla brulee, vanilla water gel, vanilla almond crunch, vanilla dacquoise, vanilla glaze, vanilla ganache), dan fairytale gingerbread house.

Foto dari website Zumbo



Aduh, kalau saya yang jadi kontestannya, tampak sudah mundur teratur dan mari kita santap kue carrot ini saja.

Secret Carrot's Business Cake!

 
Setiap melihat sesuatu yang berhubungan dengan wortel, saya selalu teringat masa kecil. Mungkin karena ibu gemar menyambut saya selepas pulang sekolah dengan semangkuk sayur sop yang penuh dengan potongan wortel, atau karena bacaan masa kecil saya: si Bobo yang gemar ngunyah wortel.


Eh, punya makanan tak terlupakan pas masa kecil, gak sih?”
Daging domba panggang buatan nenek dengan kacang yang ia tanam di halaman belakang rumahnya.”

Wah, sejenak saya rasakan kehangatan masakan dan senyum seorang nenek yang ingin membahagiakan cucu.


Jadi penasaran, ada makanan yang anda benci gak, sih?”
Saya akan mencoba semua makanan setidaknya sekali waktu, kecuali makanan yang melibatkan hewan-hewan yang tidak diperlakukan layak.”


Menurutmu, apa makanan yang saking nikmatnya harusnya diharamkan?”
Cokelat & custard!”

Uh, apalagi custard berlumuran cokelat meleleh ya, membayangkannya saja membuatku menelan air liur!


Tur kami lanjutkan dengan menembus angin yang kian dingin. Jangan-jangan matahari juga lagi asyik jelajah galaksi lain.

Andrew melambatkan langkah di Chapel St, membelok ke Burch and Purchese.




Memasuki toko ini membuat tangan gatal sekaligus waswas. Gimana gak gatal, bawaannya pengen nyomot dekorasi dinding yang terbuat dari cokelat. Waswas takut gak sengaja nyenggol toples-toples selai lezat.
 
Di antara toples lezat itu, saya tergoda membawa pulang salted caramel, sudah terbayang akan mengoleskannya pada setangkup roti gandum, memakannya bersama secangkir kopi panas.



Sang pemilik, Darren Purchese rupanya juga sering tampil di berbagai episode acara memasak TV Australia seperti Masterchef, The Circle, dan berbagai acara lainnya. Tiba-tiba saya merasa beruntung, bisa bertemu langsung para pemilik supersibuk ini!


Diam-diam, saya jadi iri dengan pekerjaan Andrew. Dan saya ingin mengetahui apakah Andrew menyadarinya, “Apa yang paling nikmat dari menjalankan bisnis tur ini?”

Yang pasti, saya menikmati jadi bos untuk diri sendiri, bekerja dengan partner, dan bertemu para pebisnis makanan hebat di Victoria!”
Ah, iya. Tentu saja Andrew tahu bahwa ia sedang berjalan di atas roda impian. Siapa yang tidak ingin tergila-gila dengan pekerjaannya sendiri?


Kalau orang Prancis bilang; A La Foile! Sebuah ekspresi yang menyatakan kegilaan dalam rasa jatuh cinta. Mabuk cinta. Cinta mati. Cinta bingits. Seperti kecintaan Mercédé Coubard—pemilik cafe berikutnya yang kami tandangi, untuk berbagai kreasi penganan dan kue ala Prancis yang ia buat sendiri.
 

Jadi, kalau siap tergila-gila dengan macaron & petits choux, mari bertandang ke A La Foile di 589 Chapel St dan siap-siap disergap suasana Paris, dari lagu dan wallpaper.
Dan—ow, pegawainya pun asli Prancis!






Mercédé Coubard tersenyum sumringah menyambut kami sambil menyuguhkan berbagai macaron warna warni. Dengan mata berbinar, ia menceritakan sepak terjangnya membuka usaha A La Foile, dari sekadar bikin kue yang disukai keluarga, sampai akhirnya nekat menjualnya pada orang lain.
Dan yang mengejutkan, tak jarang 'orang lain'nya itu adalah pesohor yang begitu ia kagumi, salah satunya:


Diambil dari instagram A La Foile

ichael Buble sudah datang dua kali ke sini, terakhir kemarin sore!” MMata Mercédé berbinar ceria saat mengucapkan nama idolanya, sedangkan saya diam-diam mengawasi pintu masuk. Siap siaga kalau Buble datang lagi!


Sambil mendengarkan obrolan renyah, jemari sibuk mengambil macaron Pistachio; yang ternyata berbahan kacang berkualitas tinggi dari Iran. Rasa kacangnya begitu kuat, namun berbaur manis dengan krim yang terasa lembut.





Saya masih ingat saat pertama kali menjalankan bisnis ini, entah berapa lusin macaron terpaksa saya buang karena rasanya tidak sesuai ekspektasi.” 
Duh, andai saat itu saya di sebelah Mercédé, pasti tidak keberatan menampung (baca: lahap brutal) macaron gagal itu!

Lidah belum selesai melumat renyah-lembut dan ledakan rasa krimnya, jemari sudah asyik mengambil varian Matcha & Redcurrant. Lagi-lagi saya terpukau dengan rasa yang saling melengkapi, bukan saling menyingkirkan! Seperti dua diva yang saling memberi sinar di atas panggung, bukan saling mendominasi ingin silau sendirian.

Mercédé pun permisi ke belakang meja bar, hendak melayani pelanggan lain.


Masih siap dengan serbuan cokelat istimewa?” Goda Andrew sambil memakai sweaternya, pertanda saatnya kembali hijrah.
 
Kami pun digiring ke sebuah cafe yang berbau semerbak kebahagiaan; Gànache Chocolate di 250 Toorak Rd!
Aroma cokelat menyeruak di setiap langkah, membuat kami seakan terhipnotis, seperti kucing-kucing kelaparan dalam film kartun yang terhuyung sampai ke lantai dua!


Di atas, seorang lelaki berseri-seri menyambut kami, “Ada yang mau bola cokelat?”




Ouw! Sirami aku dengan adonanmu, Mas!


Di samping dapur beberapa orang sedang asyik dengan adonan cokelatnya masing-masing. Ternyata mereka juga membuka Sekolah Cokelat! Ya ampun, kalau ada program beasiswanya, saya pasti daftar—dan kemungkinan besar ditolak karena saya pasti menghabiskan sepanci cokelat cair itu!

Sehabis ngalor ngidul ngobrolin cokelat, kami pun disuguhi berbagai minuman dan hidangan-hidangan gurih yang terasa begitu lezat, salah satunya croque monsieur. Selain memang enak, kenikmatannya berkali lipat karena sepagian ini kami dicekoki yang manis-manis; selayaknya senang dan sedih yang silih berganti, demi kehidupan ternikmati gurih. Yo'i.

Andrew pun tampak sangat menikmati kudapannya, mungkin karena ini memang perjamuan terakhir pada rangkaian tur pagi ini. 
Tapi pertanyaanku belum berakhir!

Apa yang menurutmu Melbourne adalah tempat yang hebat untuk berburu kuliner?”

Melbourne merupakan salah satu kota bermulti-budaya dunia dan memiliki setiap jenis masakan yang bisa anda bayangkan. Kota ini perpaduan budaya dengan jangkauan terluas dan berbagai pilihan harga yang fantastis untuk seorang pecinta makanan seperti saya.”


Kalau anda cuma boleh makan satu kue seumur hidup, mau pilih kue apa?”

Lolli Cake dari LuxBites! Cuma Bernard yang bisa membuatnya lebih enak daripada buatan saya—dan oh kontestan seangkatan saya di Masterchef: Christina!
Bernard Chu & Andrew Prior
Punya prediksi gak, kue apa yang bakal booming tahun ini?”

Saya rasa Petit Choux bakal jadi jagoan!”


Satu pertanyaan lagi, kalau Melbourne adalah kue, bakal jadi kue apa dan kenapa?”

Pertanyaan bagus! Jawabannya: Opera Cake, karena punya banyak lapisan lezat di setiap gigitan.”


Oke, saye berbohong! Karena punya satu pertanyaan terkahir untukmu! Kalau Andrew yang sekarang ketemu Andrew 10 tahun lalu, kira-kira bakal saling ngatain apa?
“Andrew tua akan sirik sama rambut si Andrew muda. Si Andrew muda bakal nasihatin Si Andrew tua untuk gak pakai kaus di TV karena ketuaan!”


Oops, saya mendadak memegangi rambut. Akankah saya 10 tahun ke depan menginginkan jambul asoy ini?




Hey, giliram saya yang nanya dong!”
Gleg. “Boleh!”



Apa yang paling kamu sukai dari Melbourne?"

Saya menyesap double shot sampai tak bersisa. Diam-diam saya meringkas cepat segala hal yang menarik sejak pertama kali menjejakkan kaki di Melbourne.



Saya suka bagaimana para Melbournians benar-benar menikmati apa yang mereka punya dan apa yang mereka lakukan. Kota ini semakin terasa berenergi oleh hasrat menggelegar para warganya.”



Saya tidak beromong kosong. Diam-diam saya asyik mengintip apa yang sedang mereka di balik dinding dapur kafe atau studio seni. Tertangkap gairah yang ingin saya rebut saat mereka sedang melukis dinding, memasak kopi, atau saat mengendarai segway di perkebunan anggur.



Dan salah satu dari para Melbournians penuh hasrat yang saya kagumi itu, salah satunya adalah Andrew Prior, karena dia berhasil membuat jelajah pagi ini begitu manis, baik di lidah maupun dalam kenangan.



Sebagai hadiah, ini lagu Kylie Minogue favoritmu, Andrew!





Oh ya, sebelum mengakhiri, ada satu dari tur pagi ini yang membuat saya iri. Para pelaku bisnis yang saya temui tampak sibuk saling bantu dan berkolaborasi; membuat saya teringat pesan orang tua; kalau bisa bekerja sama demi kesejahteraan bersama, kenapa harus sibuk saling menjatuhkan? 
 
Iya ya, apalagi kalau sudah saling sikut gitu sama-sama miskin juga. Ugh!


Eits, Jelajah Melbourne belum berakhir, saya akan membawamu keliling kota & mengendarai segway keliling perkebunan anggur!

Foto by Alex

1 comment:

  1. baca postingan yg ini cuma bikin bolak-balik nelen liur :9

    ReplyDelete

Bebas komentar apa saja, asal damai. Terima kasih banyak :*